"Kita harus tolongin Kak Gavin." Ujar Echa sambil berdiri. Namun saat melangkahkan kakinya tangan Echa langsung dicekal oleh Bara
"Kamu kuat?" tanya Bara yang langsung diangguki oleh Echa.
"Tunggu yang lain, Kakak juga belum nelpon Azka, tadi Gavin pergi sama Azka." ucap Bara yang masih mencekal tangan Echa, menahan gadis itu untuk tidak pergi.
"Tapi waktu kita gak banyak Kak." ujar Echa panik.
Dia mengetahui hal yang akan terjadi kepada Gavin jika tidak cepat, Echa baru saja mendapat visual tentang Gavin yang mungkin nyawanya akan ikut melayang.
"Teman-teman kamu lagi dipanggil. Nanti kalau kamu kesana, mereka bakal susah lagi nyari kita." ucap Bara dengan nada tenang.
Ada benarnya juga apa yang baru saja dikatakan oleh Bara, jika nanti Echa pergi kesana, malah memperkeruh keadaan, sekarang yang dia butuhkan adalah teman-temannya.
tok..tok..tok..
Tiba-tiba saja suara ketukan pintu itu membuat Bara melepaskan cekalan tangannya pada Echa, melangkahkan kaki untuk membuka pintu.
"Echa mana Kak?" tanya Hanin ketika Bara membuka pintu ruangan OSIS.
Bara melihat Ivy, Hanin, Nathan dan Azka yang berada di depan pintu sedang menatap kearahnya. Seolah ada sesuatu diantara Echa dan Dirinya.
"Ada di dalam." jawab Bara, mereka langsung menerobos masuk melihat keadaan Echa
"Ca, gak apa-apa kan?" tanya Ivy melihat Echa sedang duduk di sofa.
"Kak Gavin.." jawab Echa ketika merasakan kepalanya kembali pusing, dia melihat beberapa kejadian yang mungkin akan terjadi selanjutnya, itu pengaruh dari luka yang diberikan oleh mahluk tak kasat mata tadi.
"Kak Gavin kenapa?" tanya Hanin panik ketika Echa memejamkan mata dan memegang kepalanya.
"Biar Vivi aja Nin." jawab Ivy sambil menggenggam tangan Echa.
Ivy memejamkan mata nya sambil menggenggam tangan Echa untuk melihat apa yang sebenarnya Echa lihat.
"Toilet, mayat, Kak Gavin, tali, mati." ujar Ivy ketika melihat urutan dari visual yang ada di pikiran Echa.
"Gavin kenapa?" tanya Namira yang baru saja datang membawa kotak P3K.
"Kita gak punya banyak waktu kak." jawab Ivy.
"Dimana Kak Gavin?" Tanya Ivy.
"Toilet." Jawab Bara.
"Kak Gavin lagi kerasukan dia bakal gantung dirinya di toilet." ucap Ivy shio menatap satu persatu kakak kelasnya itu.
Echa langsung berlari menuju toilet, dia tidak memperdulikan kepalanya yang masih terasa pening, dia hanya tak ingin kakak kelasnya itu meninggal sia-sia.
"Caca!" teriak Hanin dan Ivy. mereka langsung mengikuti Echa berlari. Mereka semua melangkahkan kakinya pergi dari ruang OSIS untuk menghampiri Gavin dan menyusul Echa.
Sesampainya disana Echa melihat Gavin yang sedang memasang tali diatas kaki mayat itu. Dengan tatapan kosong, seperti sedang dikendalikan oleh sesuatu.
"Gavin!" teriak Kakak kelasnya kompak ketika melihat Gavin yang ingin bunuh diri dihadapan mereka semua.
Gavin langsung melihat kearah Echa dan yang lainnya ketika mendengar teriakan tersebut dengan senyum yang mengerikan.
"Kamu kembali, terimakasih energimu membuatku bisa leluasa mengendalikan siapapun." ujar sosok itu degan suara khas lelaki yang menggelegar di seluruh ruangan.
"Pergi dari tubuh itu!" teriak Echa geram dengan tingkah sosok yang masuk kedalam tubuh Gavin.
"Aku tidak akan pergi! sebelum kamu memberi jiwamu sendiri." teriak sosok itu dengan lantang dan menggelegar.
Kakak kelasnya itu hanya diam tak berkutik ketika melihat Gavin yang sedang kerasukan. Ini sungguh mengerikan, menyangkut nyawa seseorang, dan ini pertama kalinya mereka menghadapi semua ini dengan mata telanjang. Kecuali Azka, Nathan dan Bara, mereka sudah kedua kalinya melihat hal mengerikan seperti ini seumur hidupnya, namun tetap saja mereka takut. Ini soal Gavin.
"Baik aku akan berikan, turun dari sana!" bentak Echa sambil meraih tangan Ivy. Ivy yang mengerti itu langsung memegang tangan Echa.
"Echa, jangan bodoh!" teriak Hanin geram dengan apa yang Echa lakukan.
"Bilang ke Kak Vero saat Kak gavin turun Kak vero harus memegang tangan Kak Gavin, bilang juga sama semua Kakak senior buat lingkaran dan Caca minta tolong agar Kak Rara berada di belakang Echa." jelas Ivy yang diberikan penjelasan dari Echa.
"Tapi itu bakal bahaya buat dirinya sendiri Vi." ujar Hanin khawatir dengan ide yang Echa berikan.
"Dia bisa mengatasinya sendiri." ucap Ivy sambil menenangkan Hanin.
Hanin langsung memberitahu rencana Echa pada Kakak seniornya itu dan langsung diangguki oleh mereka semua.
Semoga saja tidak terjadi apa-apa kepada Echa, jika sampai Echa tidak kembali, dia akan mengeluarkan semua energinya untuk melawan mahluk mengerikan itu.
Hanin geram dengan kelakuan mahluk aneh yang berada di dalam tubuh Gavin, dia memanfaatkan teman Echa, untuk membawa jiwa Echa pergi, Ini sebabnya Echa tidak ingin terlalu dekat dengan manusia yang lain, takutnya ada sesuatu yang lebih mengerikan dari ini.
"Aku tidak akan turun!" teriak sosok itu dengan suara menggema.
"Turun! atau tidak aku berikan!" bentak Echa yang geram dengan kelakuan mahluk tak kasat mata satu ini.
"Kau sedang membuat rencana untukku!" bentak sosok tersebut dapat merasakan rencana yang Echa buat.
Echa yang dipenuhi amarah langsung melangkah maju untuk menarik tangan Gavin, sedangkan tubuh si pemilik tangan itu langsung turun ke bawah.
Tanpa berpikir panjang lagi, Alvero langsung memegang tangan Gavin, kakak seniornya langsung membuat lingkaran dan Namira berada di belakang Echa. Mereka menjalankan rencana sesuai dengan yang Ivy katakan.
Echa dan hantu itu berada di tengah lingkaran, diantara aura yang mampu membuat mahluk tak kasat mata merasa tidak berdaya.
"Apa yang akan kau lakukan padaku!" teriak Gavin yang masih dikendalikan oleh sosok yang sangat mengerikan.
"Hanya sedikit permainan saja." kata Echa sambil tersenyum sinis, dia benar-benar geram dengan sosok seperti ini, menyebalkan.
"Pergi dari sini manusia aneh!" teriak sosok tersebut.
"Bukan kah seharus kami yang memanggil mu aneh!" bentak Echa.
Echa mengulurkan tangannya pada sosok itu dan dia juga mengulurkan tangannya pada Namira, untuk menyerap energi dari semua kakak seniornya itu, Namira hanya perantara agar energi dari seniornya itu bisa mengalir dengan sempurna. Namun Echa tidak memikirkan akibat dari semua ini.
"Apa yang kamu lakukan?!" tanya sosok itu dengan suara yang melengking memenuhi telinga.
"Bukan kah tadi kau memintaku untuk pergi bersamamu?" tanya Echa.
"Hanya kau saja!" teriak sosok itu mulai tidak berdaya.
"Pegang tangan ku." perintah Echa.
Sosok itu masih berada dalam tubuh Gavin, dia langsung memegang tangan Echa untuk dibawa pergi.
"Hentikan semua ini!" teriak sosok tersebut.
"Bawa aku!" teriak Echa.
"Tidak! Kau panas sekali" Teriak Gavin yang masih dikendalikan oleh sosok mengerikan, sosok itu masih tidak mau pergi dari tubuh Gavin.
"Kenapa?" tanya Echa sosok tersebut.
"Lepaska! Panas!" teriak sosok tersebut.
"Lepaskan aku! Berhenti! Ini sangat panas!" teriak sosok tersebut ketika tubuhnya merasakan sensasi terbakar yang sangat hebat.
Akibat dari kuat nya energi yang mereka salurkan, semua kaca yang ada di toilet retak secara tiba-tiba sampai ada beberapa kaca yang pecah dan lampu di toilet itu mulai berkedip tak beraturan.
Echa terus menggenggam erat tangan Namira dan Gavin. Sambil menatap mata Gavin tajam, menyalurkan energi yang diberikan Namira.
WOSHHH.
Sosok itu langsung menjadi abu diterpa oleh angin yang berhembus karena energi dari kakak seniornya.
Echa langsung jatuh terduduk ketika tubuhnya tidak kuat menahan antara dirinya yang akan dibawa pergi dan energi yang disalurkan oleh Namira yang terlalu kuat.
"Ca gak apa-apa?" tanya Hanin panik ketika Echa hanya menundukkan kepalanya.
Saat ini Echa merasakan kepalanya sangat pening, bahkan telinganya mulai berdengung sangat kencang bersamaan dengan tatapannya yang mulai kabur.
"Biar kakak yang bawa Caca." ucap Bara sambil menggendong tubuh Echa yang lemas.
Hanin dan Ivy langsung memberi jalan untuk Bara ketika membawa Echa menuju ke UKS.
Masalah Gavin? Dia sudah sadar namun, karena energinya terlalu lama di gunakan mahluk itu, dia pingsan. Mungkin terlalu lelah melawan mahluk yang auranya sebesar dan sekuat itu.
Bara menggendong Echa menuju UKS, banyak pasang mata yang menatap kearah Echa dengan tatapan iri. Pasalnya banyak adik kelas yang menyukai Bara dan ingin berada diposisi Echa.
Siapa yang tidak meleleh jika mendengar sifat Bara yang katanya cuek, tidak peduli, bodo amat, dingin dan sampai saat ini belum ada wanita yang mampu meluluhkan kerasnya es dalam diri Bara.
Sesampainya di UKS, Bara langsung menidurkan Echa dengan hati-hati dan Bara melihat darah keluar dari hidung Echa mengotori seragamnya.
Bara tidak perduli.dengan seragamnya yang terkena darah Echa.yang dia khawatirkan saat ini adalah gadis cantik yang sudah pucat dihadapannya ini.
"Caa!" teriak Ivy dan Hanin ketika masuk ke dalam UKS.
"Ambil kapas di laci. Siapkan air hangat dan kain." kata Bara dengan tenang.
"Baik kak." ucap Hanin dan Ivy kompak.
Hanin langsung mencari kapas di laci sedangkan Ivy meminta air hangat ke kantin dan membawa kain yang dia bawa didalam tasnya.
"Kak kotak P3K nya gak ada." ujar Hanin.
"Di ruang OSIS. Tanya Kak Rara." ucap Bara yang melihat Echa mulai memejamkan matanya.
Hanin langsung berlari menuju ruang OSIS. Sekarang tinggal Bara dan Echa di ruang UKS.
"Kak, kepala Caca sakit." kata Echa sambil memegang kepalanya yang berdenyut hebat.
"Kamu kuat, tunggu sebentar, tetep buka matanya." ujar Bara sambil menggenggam tangan Echa untuk memberikannya kehangatan dan kekuatan.
Bara melihat kearah Echa dengan tatapan tidak tega, bibirnya sudah sangat pucat, tangan yang terasa dingin, darah masih keluar dari hidungnya dan mata yang sudah melemah.
"Kak, Caca gak kuat." ujar Echa dengan suara lemah dan mata yang sedikit demi sedikit akan terpejam namun dia menggenggam erat tangan Bara, berusaha untuk tidak memejamkan matanya.
"Liat Kakak. Buka mata kamu. kamu boleh tanya apa aja sama Kakak. Kamu boleh cerita apa aja sama kakak." ucap Bara terus menggenggam tangan Echa sambil mengelus lembut rambut Echa.
Sedangkan Echa yang diperlakukan seperti itu hanya bisa menatap mata Bara, melihat wajah dengan pahatan yang sempurna berada dihadapannya.
"Kak Gavin gak apa-apa kan? gimana keadaannya?" tanya Echa dengan senyuman manisnya namun matanya sebentar lagi akan terpejam.
"Dia baik-baik aja, gausah khawatir." jawab Bara panik ketika genggaman tangan Echa yang awalnya erat menjadi melemah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 177 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝓒𝓪𝓬𝓪 𝓳𝓷𝓰𝓷 𝓼𝓪𝓶𝓹𝓮 𝓭𝓲 𝓪𝓶𝓫𝓲𝓵 𝓭𝓸𝓷𝓴 𝓼𝓪𝓶𝓪 𝓶𝓪𝓴𝓱𝓵𝓾𝓴 𝓽𝓪𝓴 𝓴𝓪𝓼𝓪𝓽 𝓶𝓪𝓽𝓪😞😞😞😞
2022-09-27
0
Muhamad Fahri hidayat
bagus cerita nya🙃🙃
2022-08-08
1
sumardani yati ori
thor....maaf mo nanya....😇🤫waktu ngetik ini ngerasa ada yang dampingi ga?
2022-02-06
3