Mata Lucas terbuka perlahan, sinar mentari pagi yang masuk melalui jendela kamar mengusik tidurnya.
"Di mana ini...?" gumam Lucas dalam kebingungan, mencoba mencerna situasi di sekitarnya.
Namun, sebelum dia sempat menyerap lebih jauh, pelukan erat dari Marina menghampirinya dengan tiba-tiba.
"LUCASSS...!!!!" teriak Marina dengan suara yang tersedu-sedu, matanya memerah karena air mata yang mengalir tanpa henti.
Mata merahnya terpenuhi air mata, mencerminkan kegelisahan dan kebahagiaan yang berkecamuk di dalam dirinya.
"Marina..?" sahut Lucas dengan suara lemah, terkejut dengan reaksi emosional yang tiba-tiba dari tunangannya itu.
Marina hanya bisa mengangguk berkali-kali, kesedihan dan kebahagiaan yang bertabrakan di dalam dirinya.
Lucas bangkit dari tidurnya, duduk di kasur dengan pandangan penuh perhatian kepada Marina yang masih memeluknya dengan erat.
Arthur, yang berada di dekat mereka, langsung bersiap-siap mendekati Lucas dengan wajah khawatir. "Yang mulia," ucapnya panik, ingin memastikan keadaan Lucas.
Namun, Lucas dengan lembut mengangkat tangannya, memberi isyarat bahwa dia baik-baik saja.
Arthur merasa lega melihat tanda kesadaran dari Pangerannya itu, meskipun kekhawatirannya masih menyelimuti pikirannya.
Saat matanya melirik ke arah Jorge, Lucas sedikit terkejut melihat bekas luka baru di wajah Jorge.
"Sir Jorge," panggilnya dengan penuh perhatian.
Jorge tersenyum, mencoba memberikan rasa tenang kepada Lucas. "Saya di sini, Yang Mulia," jawabnya dengan hormat.
Lucas kemudian mengalihkan perhatiannya kembali ke Marina. "Marina, bisakah kau dan Arthur keluar sebentar?" pinta Lucas dengan lembut. "Aku ingin berbicara empat mata dengan Sir Jorge."
Marina terlihat enggan, Dia melirik Jorge yang hanya tersenyum dengan penuh pengertian.
Lucas melirik Arthur, seperti memberikan kode menggunakan matanya.
Arthur langsung mengerti. "Nona muda, mari keluar," ujarnya dengan lembut, mencoba membujuk Marina yang sedang diliputi perasaan yang rumit.
Dengan perasaan berat, Marina mengangguk dan meninggalkan kamar bersama Arthur, meninggalkan Lucas dan Jorge berdua.
"Sebelumnya, terima kasih telah menyelamatkan nyawaku," ucap Lucas dengan tulus begitu Marina dan Arthur meninggalkan ruangan.
"Aku akan memberimu satu permintaan" Ujar Lucas dengan percaya diri. "Katakanlah, apa yang kau inginkan," tambahnya, menatap Jorge dengan serius.
Jorge menatap Lucas dengan serius sejenak sebelum akhirnya tersenyum. "Yang Mulia," ucapnya dengan penuh hormat, menghormati kedudukan Lucas sebagai pangeran.
Namun, senyum Jorge segera berubah menjadi ekspresi yang lebih serius.
"Sebelumnya, Saya pikir saya tidak menginginkan apapun," lanjutnya dengan penuh kejujuran. "Namun, setelah saya pikirkan kembali, saya memiliki satu permintaan."
"Hmm" gumam Lucas menunggu. "apa itu?" tanyanya, menunggu jawaban dari Jorge.
Jorge menundukkan bungkuknya dengan hormat sebelum bertanya hal lain.
"Apakah Anda sudah mendengar tentang beberapa iblis yang baru-baru ini membuat keributan di Kekaisaran Valorian?" tanya Jorge dengan serius.
Lucas merenung sejenak, mencoba mengingat kembali informasi dari Novel 'The greatest war against the devil'.
"Iblis yang membuat keributan di kekaisaran Valorian?" gumam Lucas, meraba-raba ingatannya.
Jorge yang melihat kebingungan di wajah Lucas segera menyadari bahwa Lucas belum mengetahui berita terbaru.
"Sepertinya Anda belum mengetahuinya," kata Jorge, siap memberikan penjelasan yang diperlukan kepada Lucas.
"Jelaskan lebih lanjut," desak Lucas kepada Jorge, matanya terlihat serius ketika mendengar kata iblis.
Jorge mengangguk sopan, menyadari pentingnya memberikan penjelasan yang komprehensif kepada Pangerannya.
"Belakangan ini, beberapa iblis telah muncul dari neraka dan mengacau di beberapa wilayah di Kekaisaran Valorian," jelas Jorge dengan serius. "Dan yang lebih aneh lagi, setiap kali mereka mati, mereka semua mengucapkan sebuah kalimat."
Mendengar hal tersebut, mata Lucas terbuka lebar. "Mengucapkan sebuah kalimat?" kata Lucas serentak, keheranan tergambar jelas di wajahnya.
"Apakah mereka semua mengucapkan kalimat yang sama?" tanya Lucas, penasaran untuk mengetahui lebih lanjut tentang pola yang mungkin ada di balik fenomena tersebut.
"Ya, tepat sekali," jawab Jorge, sebelum langsung bertanya dengan heran, "tapi bagaimana Anda tahu tentang itu?"
Lucas menggelengkan kepalanya, dan memotong ucapan Jorge. "Lupakan itu," menghentikan rasa penasaran Jorge.
"Apa kalimat yang mereka ucapkan?" tanya Lucas, menunjukkan ketertarikannya pada inti dari masalah tersebut.
Jorge mengangguk serius sebelum menjawab, "Mereka mengucapkan, 'Raja iblis yang agung, Derolus Vartioald, akan datang dan membasmi kalian semua...'"
Mendengar nama itu, Lucas langsung berdiri dari kasurnya, ekspresinya berubah menjadi kesal yang nyata.
"Derolus Vartioald..." gumam Lucas dengan penuh ketidaksenangan, suaranya serak.
Jorge memperhatikan reaksi keras Lucas dengan bingung. "Yang Mulia?" panggil Jorge dengan khawatir.
"Huuftt," Lucas menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya dari gelombang emosi yang menerpanya.
"Lalu, apa keinginanmu?" tanya Lucas dengan serius, kembali memfokuskan perhatiannya pada Jorge.
"Baru-baru ini saya diberi pandangan tentang masa depan oleh dewa," jelas Jorge, mencoba menjelaskan latar belakang permintaannya. "Dan apa yang saya lihat adalah hari kematian saya, hari di mana saya mati ketika melawan seorang iblis yang menyebut dirinya Raja iblis agung, Derolus Vartioald..." lanjutnya dengan nada yang sedikit sedih.
Mendengar pengakuan itu, Lucas terdiam, membiarkan kata-kata Jorge meresapi pikirannya.
"Pandangan masa depan dari dewa, ya...?" batin Lucas, mencoba memahami implikasi dari visi yang diberikan kepada Jorge.
Dalam keheningan yang memenuhi kamar, Lucas teringat akan akhir hidup Jorge dalam novel 'The Greatest War Against the Devil'.
"Spear of the Golden Sun, Jorge," pikirnya, mencoba mengaitkan peristiwa di depan matanya dengan narasi novel The greatest war against the devil. "Seseorang yang sangat kuat dan terhormat. namun, mati dengan menyedihkan ketika melawan raja iblis," tambahnya.
Jorge kemudian bersujud di hadapan Lucas, mengungkapkan rasa hormat dan kepercayaannya kepada Pangeran.
"Pangeran ketujuh, Lucas de Valorian," panggilnya dengan penuh penghormatan. "Jika saya akhirnya mati di masa depan, kumohon lindungilah nona Marina," lanjutnya, mengungkapkan permintaan yang mungkin menjadi permohonan terakhirnya.
Lucas berjongkok, memegang punggung Jorge dengan halus. "Kau adalah ksatria yang sangat setia, Jorge." puji Lucas kepada Jorge.
Lucas berdiri kembali, dia menawarkan tangannya untuk membantu Jorge kembali berdiri.
"Baiklah, aku bersumpah untuk melindunginya." jawabnya dengan tegas kepada Jorge. "Aku bersumpah atas nama dewa tertinggi, Azzas."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments