Dengan gerakan yang lincah, Jorge mengepalkan tangannya pada gagang tombaknya, mempersiapkan diri untuk pertempuran yang akan datang.
Cahaya matahari memantulkan kilau yang mempesona pada tombaknya yang panjang dan mematikan, siap menghujam ke arah musuhnya dengan kecepatan kilat.
"Aku akan memenangkan pertarungan ini...!!" teriak Jorge, semangatnya tak perlu diragukan lagi.
Matanya bersinar dengan tekad yang tak tergoyahkan, mencerminkan keahlian bertempurnya yang legendaris.
Sementara itu, Lucas menarik pedangnya dari sarungnya dengan gesit, membiarkan bilahnya bersinar terang di bawah cahaya matahari.
Dia berdiri dengan sikap yang tegap, memperlihatkan ketenangan yang tak tergoyahkan pada kemampuan bertarungnya yang luar biasa.
Mata Lucas berkilat dengan fokus yang mematikan, siap untuk merespons setiap gerakan lawannya dengan kecepatan dan kecerdasan yang mematikan.
Dengan serangan pertama yang dilancarkan oleh Jorge, tombaknya berputar di udara dengan anggun, mengancam untuk menembus pertahanan Lucas.
Namun, Lucas dengan kecepatan yang sama cepatnya menghindar, meluncurkan serangan balasan dengan pedangnya yang menghunus menuju Jorge.
"Anda cukup hebat, Sir Jorge," puji Lucas kepada ksatria yang menjadi lawannya.
Jorge tersenyum ragu, "Bukankah Anda terlihat terlalu santai...?? Pangeran..." ujarnya dengan susah payah, tetapi semangatnya tidak padam.
Pertarungan meletus dengan gemuruh, keduanya saling bertukar serangan dengan kecepatan kilat.
Jorge menggerakkan tombaknya dengan gesit, mencoba menemukan celah dalam pertahanan Lucas.
Namun, Lucas dengan ketepatan yang mematikan, menghindari setiap serangan dan membalas dengan serangan yang mematikan.
Setiap gerakan pedangnya tampaknya menjadi ilustrasi dari keahlian bertarung yang tak tertandingi.
Dalam keadaan tanah yang gersang dan debu yang berterbangan, pertarungan antara kedua prajurit semakin memanas.
"Bersiaplah, Pangeran..!!" teriak Jorge, melancarkan serangan-serangan bertubi-tubi dengan tombaknya, mencoba menembus pertahanan Lucas.
Namun, Lucas dengan kecepatan dan ketepatan yang luar biasa, terus menghindari setiap serangan dan merespons dengan serangan-serangan yang mematikan.
Keduanya saling berhadapan dalam keadaan yang penuh dengan ketegangan dan adrenalin yang menggebu.
Jorge melancarkan serangan pamungkas dengan kecepatan penuh, tombaknya bersinar terang di bawah sinar matahari.
Namun, Lucas dengan refleks yang cepat, berhasil menghindari serangan itu dan meluncurkan serangan balasan yang mematikan.
Terdengar suara benturan logam yang memekakkan telinga, saat kedua orang ini saling bertukar serangan dengan kecepatan dan keahlian yang luar biasa.
Tombak dan pedang saling bersentuhan, menciptakan percikan api dan kilatan cahaya yang mempesona.
Pertempuran mereka menjadi tontonan yang luar biasa, memukau semua yang menyaksikannya.
Jorge dan Lucas saling menatap dengan mata yang berkilat penuh determinasi.
"Keluarkan semua kemampuanmu, Sir Jorge," ujar Lucas, menantang Jorge untuk menyerangnya.
Tiba-tiba, Jorge melancarkan serangan terakhirnya dengan kecepatan yang mempesona, tombaknya menghujam ke arah Lucas dengan kekuatan penuh.
Namun, Lucas dengan gerakan yang cepat dan akurat, menghindari serangan itu dan melancarkan serangan balasan yang tak terduga.
Pedangnya meluncur dengan kecepatan kilat, menembus pertahanan Jorge dan hampir menancap di dadanya.
Dalam sekejap mata, pertempuran itu berakhir. Jorge jatuh ke tanah dengan gemetar, terdorong oleh serangan pedang Lucas.
Lucas berdiri di atasnya dengan sikap yang tegap, memandang lawannya yang terduduk di depannya dengan ekspresi tenang.
Setelah pertarungan yang intens, Lucas menjulurkan tangannya, mengajak Jorge untuk berjabat tangan.
"Kemampuan Anda sangat hebat, Sir Jorge," ucapnya dengan penuh penghargaan.
Jorge membalas jabat tangan dengan senyuman, bangkit dari duduknya dengan perasaan campuran antara keterkejutan dan kekaguman.
"Pangeran, apakah Anda menyembunyikan kekuatan Anda selama ini...?" tanya Jorge, masih mencoba memproses hasil pertarungan mereka.
"Jika benar begitu, mengapa Anda menunjukkan kekuatan Anda sekarang?" tambahnya, penuh dengan rasa penasaran.
"Spear of the Golden Sun, apa kau tau...??" panggil Lucas, memanggil Jorge dengan julukannya yang legendaris.
Mendengar julukan itu, orang-orang di sekitar mereka terkejut.
Percakapan mereka tidak bisa disembunyikan dari telinga orang lain di sekitar lapangan latihan.
"Salah satu dari sepuluh pengguna tombak terhebat di Kekaisaran...??!!" bisik salah seorang.
"Dia kalah oleh Pangeran Lucas..??" tanya yang lain, tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Apakah Dia sedang mengalah dengan Pangeran...???" tanya yang lainnya, mencoba meraba situasi yang terjadi.
Lucas berjalan melewati Jorge, meninggalkan kesan hebat di belakangnya. "Terkadang memiliki sedikit pengetahuan bisa menyelamatkan hidupmu," ucapnya, suaranya tenang namun mengandung ancaman tersirat.
Jorge merasa merinding mendengar ucapan Lucas. "Ba-Baiklah.." jawabnya dengan gugup, mencoba menenangkan diri di hadapan sang Pangeran.
Namun, sebelum Lucas benar-benar menjauh, dia menoleh ke arah Jorge. "Aku hanya bercanda..." ucapnya santai sambil tersenyum sinis.
Jorge mengangguk mengerti, meskipun hatinya masih berdegup kencang setelah pertarungan sengit yang baru saja mereka lalui.
"Rasa sakit di tanganku ini... sepertinya Pangeran keenam telah menyembunyikan kekuatannya selama ini," pikir Jorge, melihat punggung Lucas yang semakin menjauh.
Sementara itu, Lucas melangkah pergi dengan langkah yang gagah. "Aku masih terlalu lemah," gerutunya dengan kesal. "Aku harus menyamai kekuatanku ketika menjadi Kaisar Yussa Angevin dulu jika aku ingin membuat pihak manusia menang di Perang terbesar melawan iblis di masa depan."
Arthur memperhatikan segalanya dengan perasaan campuran antara kagum dan kebanggaan.
"Pangeran Lucas benar-benar luar biasa," pikir Arthur dengan bangga. "Dia benar-benar telah berubah, dan jika terus begini... Pangeran Lucas pasti akan menjadi seorang kaisar yang memimpin Kekaisaran Valorian"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments