Lucas duduk sambil menyeruput tehnya, pandangannya tenggelam dalam halaman-halaman novel yang ia baca.
Cahaya matahari pagi menerpa wajahnya, menambah kesan tenang pada suasana di ruang bacanya.
"Pangeran Lucas...?" panggil Arthur dengan ragu dari pintu.
Lucas mengangkat pandangannya dari buku dan menatap Arthur dengan tajam.
Mata Lucas seakan menembus jiwa Arthur, membuatnya merasa kecil.
"T-tidak jadi, silahkan lanjutkan membaca," kata Arthur cepat-cepat, suaranya bergetar oleh rasa takut.
Lucas mendengus pelan, menaruh bukunya di meja, dan kembali menyeruput tehnya.
Ia tampak tidak terganggu oleh interupsi singkat itu, tetapi keheningan yang mengikuti membuat Arthur semakin gelisah.
Beberapa saat berlalu dalam keheningan yang tegang, Arthur tak bisa menahan diri untuk terus memandang Lucas.
Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.
"Mengapa kau menatapku terus?" gerutu Lucas, merasa terganggu. "Itu sangat mengganggu."
Arthur menelan ludah, "Maafkan saya, Pangeran. Saya hanya...," ia terhenti, mencoba mencari kata-kata yang tepat.
Lucas menutup bukunya dan berdiri, "Jika ada yang ingin kau katakan, katakan saja," ujarnya kesal.
Arthur menundukkan kepalanya, "Maafkan saya," katanya penuh penyesalan.
"Jadi?" tanya Lucas, "Apa yang ingin kau katakan?"
"Itu...," kata Arthur dengan penuh keraguan.
Tatapan Lucas semakin tajam, menuntut jawaban.
"Pertandingan Anda dengan Pangeran kedua akan dimulai satu jam lagi!" seru Arthur, takut-takut.
Lucas mendesah panjang, "Kau mengganggu ku hanya karena itu? Apa kau serius?"
"Hah?" gumam Arthur bingung, "Apa maksud Anda?"
Lucas mengabaikannya, mengangkat tangan kanannya.
Sebuah lingkaran sihir muncul di hadapannya, membentuk portal menuju ibu kota kekaisaran.
Sebelum masuk, Lucas menoleh. "Ayo masuk," ajaknya.
Arthur terdiam sejenak, lalu mengikuti Lucas dari belakang seperti seorang pelayan sejati.
Mereka berdua berjalan di kota yang penuh dengan kehidupan.
Para pedagang berteriak menawarkan dagangan mereka, sementara anak-anak berlarian di antara kaki para pengunjung pasar.
Ketika melihat rambut kuning Lucas, orang-orang langsung menyingkir dan memberikan jalan kepadanya.
Lucas memutar matanya, melihat pemandangan kota yang indah.
"Ini sangat mirip dengan ibu kota di Kekaisaran Angevin ku dulu," gumam Lucas dalam hati, merasa nostalgia dengan kehidupan sebelumnya.
Bisik-bisik masyarakat terdengar jelas.
"Bukankah dia pangeran terburuk, Lucas De Valorian?"
"Jika dia di sini, maka pertandingan antara Pangeran Ketujuh Lucas, dan Pangeran kedua, Arnoul itu harusnya beneran, kan?!"
"Bagaimana bisa seseorang yang lemah sepertinya menantang Pangeran kedua...?"
Lucas hanya mengabaikan mereka semua, sementara itu Arthur merasa kesal dan berhenti berjalan.
Lucas menoleh ke arah Arthur yang berdiam diri. "Ada apa?" tanyanya dengan nada lebih lembut.
"Tuan," panggil Arthur, dia menggertakkan giginya menahan amarah. "BERANINYA RAKYAT JELATA SEPERTI KALIAN MENGHINA PANGERAN LUCAS...?!"
Arthur mengeluarkan pedangnya dari sarung, menodongkannya kepada orang-orang yang menghina Lucas.
Tatapan Arthur sangat tajam, dia mengeluarkan Aura pedang miliknya.
"Hukuman yang pantas untuk orang seperti kalian adalah kematian!" Teriak Arthur, berlari menuju orang-orang yang sebelumnya menghina Lucas.
Namun, sebelum pedangnya menebas tenggorokan orang itu, seorang wanita datang dan menepis pedang Arthur, membuat Arthur terdorong beberapa langkah.
Wanita itu tersenyum tipis, merasa sedikit kagum dengan Arthur. "Sir Arthur, apakah Anda telah mengalami peningkatan akhir-akhir ini? Anda bahkan dapat menahan seranganku."
"Sena...?!" gumam Arthur, matanya langsung berputar mencari seseorang. "Jika dia di sini maka..."
Pangeran kedua Arnoul De Valorian, berada di samping Arthur.
Dia tersenyum lembut, "Bagaimana kabar Anda, Sir Arthur?" sapa Arnoul, dengan belati yang dia pegang berada di leher Arthur.
"Hei," panggil Lucas dari belakang, "Itu sudah cukup," ujarnya, dengan pedang miliknya yang sudah berada di belakang punggung Arnoul.
Arnoul melirik Lucas dengan tajam, lalu tersenyum saat itu juga dan mengangkat kedua lengannya.
"Pertandingannya bahkan belum dimulai," ucap Arnoul dengan senyuman.
Lucas menarik pedangnya dan menaruhnya kembali di sarung pedang.
Sena segera berlari mendekati Arnoul. "Pangeran Arnoul, apakah Anda baik-baik saja?" tanyanya khawatir.
Arnoul tersenyum dan menepuk kepala Sena dengan lembut. "Ya, aku baik-baik saja."
Lucas langsung melangkah pergi dari sana, "Ayo, Arthur," ucap Lucas mengajak Arthur, meninggalkan Arnoul yang sedang mengobrol dengan Sena.
"Baik," ucap Arthur, langsung menaruh pedangnya di sarung pedang lalu bergegas berjalan mengikuti Lucas.
Arnoul melihat Lucas dan Arthur yang semakin menjauh.
"Apa-apaan itu tadi...?" batin Arnoul, merasa gelisah. "Aku bahkan tidak bisa merasakan keberadaannya," lanjutnya, merujuk pada Lucas yang tiba-tiba di belakangnya.
Melihat tuannya yang gelisah, Sena bertanya lagi dengan khawatir. "Apakah Anda sungguh baik-baik saja?"
Arnoul menatap Sena dengan lembut. "Sena," gumamnya memanggil pelayannya, dia mengeluarkan keringat dingin.
"Ya, Pangeran?" respon Sena dengan lembut.
"Sepertinya aku akan kalah di pertandingan ini," ujar Arnoul menatap Lucas, senyuman lembutnya menyembunyikan rasa takut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments