Di sebuah ruangan meja bundar yang berada di tengah bangunan besar, dua belas orang duduk melingkari meja tersebut.
Cahaya lampu gantung menerangi wajah mereka yang penuh konsentrasi, menciptakan bayangan samar di dinding.
"Sepertinya ada semut yang berani menerobos markas kita," ucap seorang wanita berkacamata dengan senyuman sinis, matanya memancarkan kegembiraan dari kemungkinan adanya tantangan baru.
Seorang pria tua yang tampak seperti pemimpin mereka mengangguk. "Kau benar," ujarnya, suaranya berat dan tenang.
"Apakah kita hanya akan menunggu dia sampai kesini?" tanya seorang pria berambut merah dengan nada angkuh, pandangannya tajam menyapu seisi ruangan.
Wanita berkacamata meliriknya, alisnya terangkat. "Kau selalu terburu-buru," balasnya dengan nada sinis.
Pria berambut merah menggeram, berdiri dan berjalan keluar. "Aku urus sendiri orang ini," gumamnya kesal.
"Dasar orang-orang bau tanah," gumam pria berambut merah itu dengan kesal. "Biar aku urus sendiri orang ini."
Sesaat setelah pria berambut merah membuka pintu.
Kepalanya langsung terlepas dari lehernya, dan tubuhnya jatuh ke lantai dengan suara berdebum.
Sebelas orang lainnya langsung berdiri, bersiap dalam posisi bertarung.
"Seorang assassin," gumam pria tua yang tampak seperti pemimpin, matanya menyipit.
"Aku bukan seorang assassin," suara lirih terdengar dari telinga pria tua itu.
Dia segera menyerang ke arah asal suara, namun hanya mendapati dirinya menyerang kekosongan.
Bayangan yang sangat gelap berkumpul menjadi satu di tengah-tengah meja bundar, membentuk sosok Lucas.
"Aku bukan seorang assassin," ulang Lucas, suaranya tenang namun penuh ancaman.
Kesebelas orang mengelilinginya, siap menyerang dengan senjata mereka masing-masing.
"Aku adalah seorang penguasa," lanjut Lucas dengan dominasi yang tak terbantahkan.
Serangan mereka hanya menembus tubuh Lucas tanpa menimbulkan kerusakan.
"Apa apaan itu? Serangan kami hanya melewati tubuhnya begitu saja?" pikir wanita berkacamata terkejut. "Ini seperti menyerang sebuah bayangan."
"Kemampuan macam apa ini?" pikir pria tua itu, "Dia tidak memiliki wujud karena dirinya adalah bayangan?"
"Kau benar," ucap Lucas sambil memandang pria tua itu. "Aku tidak berwujud karena mengubah tubuhku sendiri menjadi sebuah bayangan."
Pria tua itu nampak kaget. "Kau bisa membaca pikiranku?" tanyanya dengan penuh keterkejutan.
"Tentu saja," jawab Lucas dengan angkuh. "Ini sangat mudah."
Pria tua itu mundur beberapa langkah dengan cepat, kemudian dia berteriak, "Keluarkan sihir cahaya!"
Pria tua dan sepuluh orang lainnya langsung mengeluarkan sihir cahaya dari lingkaran sihir mereka.
Lucas tertawa kecil. "Kalian melawan Shadow Sovereign dengan kemampuan remeh seperti ini?" ejeknya.
Mereka semua terlihat kesal dengan ejekan Lucas, ekspresi mereka menunjukkan kekesalan yang mendalam.
Sihir cahaya mereka menyala terang, mencoba mengusir kegelapan yang menyelimuti Lucas.
Namun, bayangan yang mengelilingi Lucas tampaknya menyerap cahaya itu, membuat serangan mereka tidak efektif.
"Absolute Darkness," ucap Lucas lirih. Kegelapan yang telah menyelimuti ruangan tiba-tiba berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Seperti gelombang gelap yang menakutkan, kegelapan merambat dengan cepat, memenuhi setiap sudut ruangan.
"Ap-apa yang terjadi?" desis salah satu dari mereka dengan penuh kebingungan.
Lucas melangkah maju dengan mantap di dalam lautan kegelapan yang baru saja dia ciptakan, tatapannya dingin menembus gelap.
"Pria tua," panggil Lucas dengan suara rendah yang menusuk. "Sebelumnya... kau pikir, kau dapat mengalahkanku, ya?"
Pria tua itu menatap Lucas dengan mata yang penuh ketakutan, tapi juga kekaguman.
"Maafkan hamba, saya sekarang sadar bahwa saya tidak akan pernah bisa mengalahkan anda," ujarnya dengan suara gemetar. "Tapi... Apa yang sebenarnya dilakukan orang sekuat anda di tempat kami?"
"Balas dendam, kurasa," jawab Lucas dingin. Bayangan-bayangan yang mengelilingi Lucas berkumpul dengan ganas, membentuk gelombang kegelapan yang menakutkan.
Keputusasaan menyelimuti wajah para musuh, menyadari bahwa mereka telah bertempur melawan sesuatu yang jauh di luar kemampuan mereka.
Pria tua itu menahan napasnya, ketakutan muncul di matanya yang terbuka lebar. "Apa... apa yang terjadi?!" bisiknya dengan suara gemetar.
Lucas, yang berdiri di tengah kegelapan, melangkah maju dengan langkah yang angkuh.
Tubuhnya seolah-olah menyatu dengan kegelapan, membuatnya terlihat seperti bayangan yang hidup.
Ekspresi wajahnya datar, namun matanya memiliki tatapan tajam yang sangat dingin.
Seluruh orang di ruangan, kecuali pria tua dan wanita berkacamata, mati karena energi kehidupannya telah diserap.
"Kegelapan ini menyerap energi kehidupan?!" batin pria tua itu dengan panik, merasakan dirinya yang telah jauh melemah.
Lucas menatap telapak tangannya yang terdapat bayangan berbentuk jantung, kemudian menggenggamnya dengan keras hingga bayangan itu hilang.
"Agh!" teriak pria tua itu, jantungnya tiba-tiba meledak.
Lucas melirik wanita berkacamata yang sedang terduduk lemah dengan tajam.
Mata Lucas terbuka lebar ketika melihat wanita berkacamata itu.
Absolute Darkness milik Lucas beresonansi dengan tubuh wanita berkacamata.
"Absolute Darkness beresonansi dengan tubuhnya?!" batin Lucas terkejut.
Lucas melangkah menuju wanita berkacamata yang sedang terduduk lemah.
"Apa yang ingin kau lakukan?!" teriak wanita itu dengan suara bergetar ketakutan.
"Siapa namamu?" tanya Lucas dengan suara penuh dominasi.
"Apa?" tanya wanita itu kembali, bingung dengan pertanyaan Lucas.
"Jawab saja pertanyaanku," ucap Lucas dengan tajam.
Gravitasi di sana bertambah drastis, menekan wanita itu hingga terjatuh ke tanah dengan sangat kuat.
"Na-nama saya Frida," teriak wanita berkacamata itu dengan susah payah, menahan tekanan gravitasi yang tak masuk akal.
Lucas menatap Frida dengan dingin, seraya bergumam. "Frida...??"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments