Bab 19 - Pedang Glaimrend

Arthur dan Lucas memasuki sebuah mansion megah di tengah kota.

Di dalamnya, para pelayan dan ksatria sudah berkumpul dan segera memberikan hormat kepada Lucas.

Lucas berjalan dengan penuh percaya diri, diikuti oleh Arthur.

Pandangan penuh rasa terkejut dan penasaran tertuju kepada mereka.

"Apakah dia sungguhan pangeran ketujuh?" bisik seseorang.

"Dia sangat berbeda dengan rumor yang beredar," sahut yang lain.

"Wajahnya sangat tampan," gumam seorang pelayan perempuan.

Arthur tersenyum mendengar bisikan-bisikan tersebut. "Benar..." gumamnya dalam hati. "Tuan ku adalah yang terbaik," tambahnya, merasa senang dengan pujian orang-orang terhadap tuannya.

Seorang pelayan wanita cantik dengan rambut hijau membuka pintu sambil menunduk hormat.

Lucas memandang wanita tersebut, merasakan sesuatu yang aneh namun familiar darinya.

"Kau melakukannya dengan baik," ucap Lucas, mengapresiasi pelayan yang membukakan pintu.

Wajah pelayan itu terlihat terkejut mendengar ucapan Lucas. "Terima kasih, saya akan bekerja lebih keras," ujarnya dengan cepat.

Lucas dan Arthur memasuki mansion yang penuh dengan properti mewah dan dekorasi berkelas.

Lucas duduk di sofa empuk, mengeluarkan novel yang ia baca sebelumnya.

"Pangeran...?" panggil Arthur, kebingungan. "Apakah Anda ingin membaca buku lagi?"

Lucas mengangguk, lalu membuka novel itu.

"Pangeran," panggil Arthur lagi dengan ragu.

Lucas menoleh ke arah Arthur, ekspresinya menunjukkan sedikit kekesalan. "Arthur..." gumam Lucas. "Carikan pedang untukku, pedang besi yang biasa saja." Lanjutnya, mengusir Arthur secara tidak langsung.

"Baiklah..." ucap Arthur dengan sedih, lalu meninggalkan Lucas sendirian.

Arthur berjalan menuju pasar di ibu kota, menembus keramaian kota.

"Kalau tidak salah di sekitar sini..." gumam Arthur sambil mengamati sekeliling.

Setelah beberapa saat, ia menemukan sebuah gang sempit dan langsung memasuki gang tersebut.

Di ujung gang, sebuah tempat pandai besi yang usang tampak di hadapannya.

Suara logam bertabrakan dengan palu terdengar keras.

Arthur tersenyum sebelum akhirnya memasuki workshop itu.

Ketika Arthur masuk, seorang pria tua dengan postur tubuh gagah sedang menulis sesuatu di lembaran kertas.

"Sir Callian," panggil Arthur dengan lembut.

Pria tua itu menoleh, terkejut. "Arthur? Benarkah ini kau?"

"Benar, ini saya," jawab Arthur dengan senyuman.

Callian meletakkan penanya di meja dan berjalan mendekati Arthur.

Buk!

Callian memukul perut Arthur pelan, kemudian merangkulnya. "Aku pikir kau sudah melupakanku nak..." ujarnya sambil tertawa.

Arthur tertawa, memegang perutnya yang sedikit sakit karena pukulan Callian.

"Mana mungkin saya melupakan orang yang menyelamatkan hidupku berkali-kali," kata Arthur.

"Frairr... kemarilah," teriak Callian, memanggil seseorang yang sedang menempa di ruangan belakang.

"Eh?" Arthur terkejut. "Sir Frairr juga ada di sini?" tanyanya.

Seorang dwarf muncul dari ruangan penempa. "Ada apa...?" ucap Frairr dengan suara serak.

"Sir Frairr!" panggil Arthur.

Frairr memasang ekspresi suram, tubuhnya berkeringat. "Siapa kau?" tanyanya.

"Ini saya, Arthur," jawab Arthur sambil menunjuk dirinya sendiri.

Frairr masih tampak bingung. "Arthur?" gumamnya.

Arthur menutup matanya sejenak, kemudian berkata dengan enggan, "Crybaby..."

Ekspresi suram Frairr langsung berubah menjadi senyuman lebar.

"Itu sungguh kau, nak?!" ucap Frairr. "Kau telah menjadi pria tua," lanjutnya. "Haruskah aku memanggilmu old crybaby sekarang?" tambahnya bercanda.

Mereka bertiga tertawa bersama, suara mereka memenuhi workshop.

"Omong-omong, Sir Callian," ucap Arthur, menoleh ke arah Callian. "Saya sedikit terkejut ketika mendengar swordmaster terbaik Kekaisaran, Callian Beaumont, menghilang."

"Menghilang apanya," ujar Callian sambil tersenyum tipis. "Mereka hanya tidak tahu di mana aku tinggal."

Frairr menyela pembicaraan mereka. "Aku dengar kau menjadi seorang pelayan keluarga kekaisaran?" tanyanya.

Arthur mengangguk. "Benar," jawab Arthur. "Aku menjadi pelayan pribadi pangeran ketujuh."

"Pangeran ketujuh?" gumam Callian seraya memegang dagunya. "Bukankah dia yang dijuluki orang-orang sebagai pangeran terburuk?"

Arthur menajamkan matanya. "Sir Callian..." panggilnya dengan suara hampir tak terdengar.

"Ya?" Callian merespons.

"Sebaiknya Anda menjaga kata-kata Anda," ucap Arthur dengan tajam.

Suasana tegang melanda ruangan itu. Callian dan Frairr terdiam sejenak, memandang Arthur dengan bingung.

Melihat Arthur yang kesal, Callian tersenyum canggung. "Baiklah, aku minta maaf," katanya.

Frairr mencoba menenangkan suasana. "Hei Arthur, bukankah kau punya keperluan di sini?" tanyanya sambil menepuk punggung Arthur.

Arthur segera tersadar dengan tujuannya. "Ah, Anda benar," jawab Arthur. "Apakah Anda memiliki sebuah pedang yang bagus?"

Di sisi lain, Lucas yang sudah selesai membaca novel tengah meminum teh.

Pelayan wanita berambut hijau yang sebelumnya membuka pintu lewat di hadapan Lucas.

Lucas yang melihat wanita itu segera memanggilnya. "Hei."

Pelayan itu berhenti dan menoleh ke arah Lucas. "Ya, Tuan?"

Lucas berdiri dan melangkah mendekati pelayan wanita itu. "Apakah kau..." ucap Lucas sambil menunjuknya, "Jessica?"

"Eh?" Pelayan itu terkejut. "Anda mengenal saya?" tanyanya.

"Jadilah pelayan pribadiku," ujar Lucas tanpa ragu.

"Apa?" kata Jessica kebingungan. "Apakah Anda serius, Pangeran?" tanyanya lagi.

Lucas mengangguk. "Ya, aku serius," jawabnya.

Jessica terdiam, memandang Lucas sambil berpikir keras mengenai tawarannya.

......................

Jessica, seorang pelayan setia di keluarga Duke Velmore, ternyata adalah keturunan dari Archmage Jaden, penyihir legendaris masa lampau.

Meski hidup sederhana, Jessica diam-diam melatih sihirnya hingga mencapai tingkatan seorang penyihir agung.

Saat perang besar melawan pasukan iblis pecah, rahasia Jessica terungkap dan dia dipanggil untuk bertempur.

Di medan perang, Jessica menjadi pilar kekuatan bagi pasukan manusia.

Namun, dalam kekacauan, seorang remaja bangsawan terjebak di tengah pertempuran.

Melihat remaja itu dalam bahaya, Jessica berlari melindunginya, menggunakan sihirnya untuk menciptakan perisai.

Ketika serangan mematikan dari panglima iblis menghantam, Jessica mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan remaja itu.

Dengan senyuman terakhir, dia berbisik, "Lari, dan jadilah harapan masa depan."

Pengorbanan Jessica menginspirasi pasukan manusia untuk melawan dengan ganas, akhirnya memukul mundur pasukan iblis.

......................

"Sungguh kematian yang konyol, salah satu adegan yang paling ku benci di novel The Greatest War Against the Devil," gerutu Lucas dalam hati.

Sebelum Jessica menjawab, Arthur memasuki mansion. "Pangeran!" panggil Arthur, berlari menuju Lucas.

Arthur menunjukkan sebuah pedang yang dibawanya, sebuah pedang yang terlihat sangat indah.

Lucas segera mengambil pedang itu sambil bergumam, "Bukankah aku menyuruhmu untuk mencari sebuah pedang besi biasa?"

Arthur tersenyum. "Habisnya pedang besi biasa tidak akan cocok dengan keagungan Anda, Pangeran," pujinya.

Ketika Lucas memegang pedang yang dibawa Arthur, dia tersentak. "Arthur?" panggil Lucas, suaranya bergetar karena terkejut.

"Ya?" ucap Arthur, bingung dengan respon Lucas.

"Di mana kau mendapatkan pedang ini?" tanya Lucas, mata kuningnya bersinar terang.

"Saya mendapatkannya dari penempa kenalan saya," jawab Arthur, tambah bingung dengan Lucas.

"Hei," panggil Lucas lagi, memegang pundak Arthur. "Kenalkan aku dengannya!"

"Eh, apa?" kata Arthur bingung. "Tentu, akan saya akan mengenalkannya dengan anda nanti," ucapnya.

Melihat Lucas yang mengobrol dengan Arthur, Jessica menyela pembicaraan mereka.

"Pangeran, saya izin pamit dahulu," ujarnya sambil menunduk hormat. "Saya belum menyelesaikan tugas saya."

Lucas menenangkan dirinya kembali. "Baiklah, kau boleh pergi," ucap Lucas, menoleh ke arah Jessica. "Pikirkanlah penawaranku dengan baik."

Jessica beranjak pergi dari sana, meninggalkan mereka berdua.

Lucas memandang pedang yang dibawa Arthur. "Sebuah pedang tingkat Mythic..." batinnya, merasa bingung.

Bilahnya terbuat dari Adamantine, berkilau seperti cahaya bintang dengan warna biru keperakan.

Ukirannya sangat halus, dan pegangannya dilapisi kulit naga putih, memberikan pegangan yang nyaman.

Di pangkalnya terdapat permata safir besar yang berkilau dengan kekuatan magis.

Penjaga tangan berbentuk sayap malaikat, diukir dengan detail rumit.

Sarung pedang terbuat dari kayu ek kuno dengan lapisan perak, dihiasi ornamen suci.

"Apakah ini adalah karya terhebat yang pernah dibuat kenalanmu?" tanya Lucas, masih tertegun dengan pedang yang dipegangnya.

Arthur terdiam sejenak, mengingat ketika dia diberikan pedang oleh Frairr sebelumnya.

Frairr mengulurkan tangan, memberikan pedang kepada Arthur. "Ambil ini, namanya adalah Glaimrend, pedang terhebat yang pernah aku ciptakan," ucap Frairr dengan senyuman. "Aku percaya dengan orang yang dipilih oleh dirimu."

Arthur mengambil pedang tersebut. "Terima kasih, Sir Frairr," ucapnya cepat, lalu berjalan pergi dari tempat itu.

"Ah, Anda benar," jawab Arthur, membenarkan pertanyaan Lucas.

Lucas tersenyum senang. "Apakah pedang ini sudah memiliki nama?" tanyanya dengan antusias.

Arthur mengangguk. "Iya, namanya adalah Glaimrend," jawabnya.

"Glaimrend, huh?" gumam Lucas, semangatnya masih terasa karena mendapatkan pedang tersebut.

Pintu mansion ditendang oleh seseorang, seorang wanita dengan rambut kuning masuk dengan percaya diri. "Lucas!" teriaknya memanggil Lucas.

Lucas dan Arthur melirik ke arahnya, dan wanita itu menatap mereka berdua dengan tajam.

"Di mana saja kau?" ucap wanita itu dengan kasar. "Cepatlah datang ke koloseum, pertarunganmu akan segera dimulai."

"Clara?" gumam Lucas, memandangnya dengan sinis.

"Putri ketiga?" batin Arthur, sedikit terkejut dengan benturan pintu yang ditendang Clara.

Clara melangkah mendekati Lucas, ekspresinya terlihat kesal.

"Clara kau bilang?" teriaknya kepada Lucas. "Panggil aku Kakak Clara, aku itu kakakmu!" lanjutnya, merasa kesal.

Lucas mengabaikan Clara yang sedang marah, dia melewatinya dan berjalan begitu saja. "Ayo pergi ke koloseum, Arthur," kata Lucas, mengajak Arthur.

Arthur mengangguk lalu berjalan mengikuti Lucas.

Clara yang kesal semakin marah karena diabaikan, Dia berlari dan menarik telinga Lucas.

"Bocah sialan..." ujarnya kesal, menggeretakkan giginya. "Beraninya kau mengabaikanku..!!" Teriak Clara di telinga Lucas.

Terpopuler

Comments

Ray

Ray

bejir, sekuat apa tuh orang? menjadi seorang sword master terbaik di Kekaisaran yang menguasai dunia

2024-05-26

4

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Kebangkitan
2 Bab 2 - Sang Penguasa
3 Bab 3 - Pembersihan
4 Bab 4 - Undangan Kaisar
5 Bab 5 - Bertemu dengan kaisar
6 Bab 6 - Jantung Phoenix
7 Bab 7 - Blood Goddes Witch
8 Bab 8 - Sparring dengan Jorge
9 Bab 9 - Sparring dengan Jorge (2)
10 Bab 10 - Monster yang hampir mencapai kesempurnaan
11 Bab 11 - Ksatria yang setia
12 Bab 12 - Siapa sebenarnya dirimu
13 Bab 13 - Kaisar Yussa Angevin
14 Bab 14 - Shadow Sovereign
15 Bab 15 - Dominasi sang penguasa
16 Bab 16 - Mrs. BlueGlasses
17 Bab 17 - The Book of Imperator
18 Bab 18 - Pertemuan dua Pangeran
19 Bab 19 - Pedang Glaimrend
20 Bab 20 - Lucas Vs Arnoul
21 Bab 21 - Lucas Vs Arnoul (2)
22 Bab 22 - Sebuah Permulaan
23 Bab 23 - Memasuki Akademi
24 Bab 24 - Pertemuan dua karakter utama
25 Bab 25 - Kelas sihir
26 Bab 26 - Apa itu mana?
27 Bab 27 - Buku Sihir Kuno
28 Bab 28 - Keluarga Beaumont
29 Bab 29 - Keluarga Beaumont (2)
30 Bab 30 - Konspirasi?
31 Bab 31 - Sihir Kuno
32 Bab 32 - Noir
33 Bab 33 - Kematian Phineas
34 Bab 34 - Leonidas Pendragon
35 Bab 35 - Shadow Sovereign Vs The Strongest Pendragon
36 Bab 36 - Pembebasan Azura
37 Bab 37 - Melawan orang hebat Kekaisaran
38 Bab 38 - Kedatangan Mrs. BlueGlasses
39 Bab 39 - desas-desus buruk tentang Fairris
40 Bab 40 - Fitnah yang terencana
41 Bab 41 - Di balik bayangan
42 Bab 42 - Penghakiman
43 Bab 43 - Sebuah tawaran
44 Bab 44 - Manipulasi?
45 Bab 45 - Rahasia Seth terungkap.
46 Bab 46 - Suara yang memikat
47 Bab 47 - Lily Van Lecrerc
48 Bab 48 - Rekan baru
49 Bab 49 - Callian Beaumont
50 Bab 50 - Fragmen Primodial
51 Bab 51 - Kebenaran di Balik Fragmen
52 Bab 52 - Menuju Void Nexus
53 Bab 53 - Ke Dalam Kegelapan
54 Bab 54 - Di Pusat Kehampaan
55 Bab 55 - Pengorbanan yang Dituntut
56 Bab 56 — Lima Tahun di Void Nexus.
57 Season 1 End
58 Season 2 — 01-01-2025
59 Chapter 57 — Kehancuran akibat Iblis
60 Chapter 58 — Korban dan Pengorbanan
61 Chapter 59 — Kemunculan Lucas
62 Chapter 60 — The Harbinger of Doom
63 Chapter 61 — Reuni menyedihkan
64 Chapter 62 — Kehangatan Keluarga
65 Chapter 63 — Perubahan Alur
66 Chapter 64 — Bangkitnya Harapan
67 Chapter 65 — Pertemuan orang Kekaisaran
68 Chapter 66 — Kematian banyak orang
69 Chapter 67 — Tak dapat menepati janji
70 Chapter 68 — Bertemu dengan para Dewa
71 Chapter 69 — Bertempur dengan Dewa
72 Chapter 70 — Bertempur dengan Dewa (2)
73 Chapter 71 — Bertempur dengan Dewa (3)
74 Chapter 72 — Bertempur dengan Dewa (4)
75 Chapter 73 — Bertempur dengan Dewa (5)
76 Chapter 74 — Akashic
77 Chapter 75 — Memulai perperangan
78 Chapter 76 —Retakan Pertama
79 Chapter 77 — Jebakan Belisaris
80 Chapter 78 - Serangan Balik Lucas
81 Chapter 79 — Aamon Sang Penghancur
82 Chapter 80 — Keputusan Berbahaya
83 Chapter 81 — Pertemuan dengan Belisaris
84 Chapter 82 — Dekatnya ujung Pertempuran
85 Chapter 83 — Benteng Raja Iblis
86 Chapter 84 — Jalan Berdarah
87 Chapter 85 — Pertempuran Terakhir?
88 Chapter 86 — Melawan 8 penjaga iblis
89 Chapter 87 — Melawan raja iblis
Episodes

Updated 89 Episodes

1
Bab 1 - Kebangkitan
2
Bab 2 - Sang Penguasa
3
Bab 3 - Pembersihan
4
Bab 4 - Undangan Kaisar
5
Bab 5 - Bertemu dengan kaisar
6
Bab 6 - Jantung Phoenix
7
Bab 7 - Blood Goddes Witch
8
Bab 8 - Sparring dengan Jorge
9
Bab 9 - Sparring dengan Jorge (2)
10
Bab 10 - Monster yang hampir mencapai kesempurnaan
11
Bab 11 - Ksatria yang setia
12
Bab 12 - Siapa sebenarnya dirimu
13
Bab 13 - Kaisar Yussa Angevin
14
Bab 14 - Shadow Sovereign
15
Bab 15 - Dominasi sang penguasa
16
Bab 16 - Mrs. BlueGlasses
17
Bab 17 - The Book of Imperator
18
Bab 18 - Pertemuan dua Pangeran
19
Bab 19 - Pedang Glaimrend
20
Bab 20 - Lucas Vs Arnoul
21
Bab 21 - Lucas Vs Arnoul (2)
22
Bab 22 - Sebuah Permulaan
23
Bab 23 - Memasuki Akademi
24
Bab 24 - Pertemuan dua karakter utama
25
Bab 25 - Kelas sihir
26
Bab 26 - Apa itu mana?
27
Bab 27 - Buku Sihir Kuno
28
Bab 28 - Keluarga Beaumont
29
Bab 29 - Keluarga Beaumont (2)
30
Bab 30 - Konspirasi?
31
Bab 31 - Sihir Kuno
32
Bab 32 - Noir
33
Bab 33 - Kematian Phineas
34
Bab 34 - Leonidas Pendragon
35
Bab 35 - Shadow Sovereign Vs The Strongest Pendragon
36
Bab 36 - Pembebasan Azura
37
Bab 37 - Melawan orang hebat Kekaisaran
38
Bab 38 - Kedatangan Mrs. BlueGlasses
39
Bab 39 - desas-desus buruk tentang Fairris
40
Bab 40 - Fitnah yang terencana
41
Bab 41 - Di balik bayangan
42
Bab 42 - Penghakiman
43
Bab 43 - Sebuah tawaran
44
Bab 44 - Manipulasi?
45
Bab 45 - Rahasia Seth terungkap.
46
Bab 46 - Suara yang memikat
47
Bab 47 - Lily Van Lecrerc
48
Bab 48 - Rekan baru
49
Bab 49 - Callian Beaumont
50
Bab 50 - Fragmen Primodial
51
Bab 51 - Kebenaran di Balik Fragmen
52
Bab 52 - Menuju Void Nexus
53
Bab 53 - Ke Dalam Kegelapan
54
Bab 54 - Di Pusat Kehampaan
55
Bab 55 - Pengorbanan yang Dituntut
56
Bab 56 — Lima Tahun di Void Nexus.
57
Season 1 End
58
Season 2 — 01-01-2025
59
Chapter 57 — Kehancuran akibat Iblis
60
Chapter 58 — Korban dan Pengorbanan
61
Chapter 59 — Kemunculan Lucas
62
Chapter 60 — The Harbinger of Doom
63
Chapter 61 — Reuni menyedihkan
64
Chapter 62 — Kehangatan Keluarga
65
Chapter 63 — Perubahan Alur
66
Chapter 64 — Bangkitnya Harapan
67
Chapter 65 — Pertemuan orang Kekaisaran
68
Chapter 66 — Kematian banyak orang
69
Chapter 67 — Tak dapat menepati janji
70
Chapter 68 — Bertemu dengan para Dewa
71
Chapter 69 — Bertempur dengan Dewa
72
Chapter 70 — Bertempur dengan Dewa (2)
73
Chapter 71 — Bertempur dengan Dewa (3)
74
Chapter 72 — Bertempur dengan Dewa (4)
75
Chapter 73 — Bertempur dengan Dewa (5)
76
Chapter 74 — Akashic
77
Chapter 75 — Memulai perperangan
78
Chapter 76 —Retakan Pertama
79
Chapter 77 — Jebakan Belisaris
80
Chapter 78 - Serangan Balik Lucas
81
Chapter 79 — Aamon Sang Penghancur
82
Chapter 80 — Keputusan Berbahaya
83
Chapter 81 — Pertemuan dengan Belisaris
84
Chapter 82 — Dekatnya ujung Pertempuran
85
Chapter 83 — Benteng Raja Iblis
86
Chapter 84 — Jalan Berdarah
87
Chapter 85 — Pertempuran Terakhir?
88
Chapter 86 — Melawan 8 penjaga iblis
89
Chapter 87 — Melawan raja iblis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!