Langkah-langkah Lucas berat saat ia mendekati pintu masuk aula utama kekaisaran di istana.
Pintu megah itu terbuka di depannya, mengundangnya untuk melangkah maju ke dalam keheningan yang sarat dengan kebesaran.
"Akhirnya aku akan bertemu dengannya," gumam Lucas dalam hati, matanya bersinar penuh antisipasi.
"Edgard De Valorian," tambahnya, senyuman tipis terukir di wajahnya, mencerminkan campuran antara kegugupan dan keyakinan.
Penjaga pintu membuka pintu masuk dengan hormat, memberikan jalan bagi Lucas untuk melangkah masuk dengan perasaan yang teguh.
Di dalam, seluruh keluarga kerajaan berkumpul, matanya bertautan dengan tatapan tajam Lucas begitu ia memasuki ruangan itu.
"Mereka juga di sini?" pikir Lucas, menatap balik dengan ketegasan yang sama. "Saudara dan saudariku..."
Tanpa ragu, Lucas berlutut di depan Kaisar Edgard, memberikan penghormatan yang tulus.
"Saya, putra Ketujuh Lucas de Valorian," ujarnya dengan suara yang tenang namun tegas. "Memberi hormat kepada Yang Mulia, sang penguasa Kekaisaran Valoria."
Hadirnya Kaisar Edgard menggambarkan kekuatan dan keanggunan yang tak terbantahkan.
Tatapannya yang tajam memancarkan otoritas yang memenuhi ruangan itu.
"Inilah dia, Edgard de Valorian," pikir Lucas dalam hati, bibirnya terangkat dalam senyum sinis. "Karakter terkuat saat ini, dengan kematian yang tak dijelaskan dalam novelnya."
Kaisar Edgard menatap Lucas dengan tatapan tajam. "Apa kehidupanmu di kastil menyenangkan?" tanya beliau dengan suara yang tenang namun penuh arti.
"Cukup menyenangkan, Yang Mulia," jawab Lucas dengan tegas, matanya tetap terkunci pada Kaisar Edgard.
"Apakah penyergapan menyebabkan sifatnya berubah?" batinnya, merenung. "Bagaimana bisa sorot mata, kepercayaan diri, sifat, dia terasa sangat berbeda."
"Kudengar ada penyergapan di kastil," lanjut Kaisar Edgard, suaranya menggema di ruangan itu, menimbulkan gemetar di antara para hadirin. "Dan sepertinya ada mata-mata dari ras iblis juga."
Lucas terdiam sejenak, memilih kata-kata dengan hati-hati sebelum menjawab, "Itu sudah terselesaikan."
"Lucas, seberapa paham kau dengan dirimu sendiri?" tanya Kaisar Edgard, suaranya penuh kearifan namun tajam.
"Seluruhnya... Saya paham diri saya sepenuhnya," jawab Lucas tanpa keraguan, suaranya penuh keyakinan.
"Sebulan lagi umurmu empat belas, bukan?" lanjut Kaisar Edgard, memperhatikan reaksi Lucas.
"Ya," jawab Lucas, berpikir tenang. "Sepertinya dia ingin mencegahku masuk akademi."
"Apakah kau ingin pergi ke akademi dengan tubuh lemah dan bakat sampah seperti itu?" tegur Kaisar Edgard dengan nada tajam, mencoba meruntuhkan semangat Lucas.
"Benar saja.." Lucas hanya tersenyum, berhenti berlutut dan menatap Kaisar Edgard.
"Saya menolak gagasan Anda, Yang Mulia," ucapnya dengan tegas, memandang Kaisar Edgard dengan penuh keberanian.
Saudara dan saudari Lucas terkejut, mati-matian mencoba memahami perilaku adik bungsu mereka yang tiba-tiba begitu berani dan bertekad. Mereka merasa kebingungan, tidak dapat memahami apa yang ada dalam pikiran Lucas.
"Orang gila!" pikir mereka serentak, menatap Lucas dengan campuran kekaguman dan kebingungan.
Kaisar Edgard, kesal dengan sikap menentang Lucas, melepaskan aura kekuatannya dengan amarah yang menyala-nyala.
Kehadirannya memenuhi ruangan dan menimbulkan getaran yang membuat seluruh aula gemetar, sementara tekanan di ruangan itu menjadi semakin berat.
"Siapa yang menyuruhmu berhenti berlutut," bentak Kaisar Edgard dengan suara yang penuh ancaman. "Dan berani-beraninya kau menolak gagasan ku."
Lucas, meskipun berjuang menahan tekanan yang luar biasa kuatnya, dengan susah payah membuka mulut.
"Saya dengan tegas menolak gagasan bahwa bakat saya adalah sampah," ucapnya dengan senyuman, suaranya bergetar namun penuh keyakinan.
Kaisar Edgard terkesima. "Dia bisa menahan tekanan kekuatanku...? Bahkan bisa bicara," batinnya, melihat saudara-saudara Lucas jatuh ke lantai di bawah pengaruh tekanan yang luar biasa, sementara yang lain berjuang mati-matian untuk bertahan.
"Lucas yang rapuh itu benar-benar bisa menahannya," gumam Kaisar Edgard, mengagumi keteguhan Lucas.
"Tetap ingin pergi ke akademi?" tanya Kaisar Edgard kepada Lucas, suaranya kini lebih tenang namun tidak kurang berwibawa.
Lucas, tanpa ragu, membungkuk hormat. "Benar, Yang Mulia," ucapnya dengan tegas namun sopan.
"Aku harus merekrut orang-orang berbakat yang sekiranya bisa membantu di peperangan melawan para iblis kedepannya," pikir Lucas, menimbang berbagai kemungkinan di masa depannya.
"Tapi, kau tidak akan pernah masuk akademi," tegas Kaisar Edgard kepada Lucas, tatapannya menusuk tajam ke dalam mata putranya.
Lucas tetap tenang meskipun dihadapkan pada oposisi keras dari ayahnya. "Maafkan saya, yang mulia, tapi..." ucapnya dengan suara yang tetap tenang namun penuh tekad, "...saya akan tetap memasuki akademi bahkan jika anda tidak mengizinkan."
"Apa?!" Gumam Kaisar Edgard, jarinya mengetuk-ngetuk kursi beberapa kali dengan kegelisahan yang terlihat jelas di wajahnya. "Beraninya kau menentang perintahku dua kali!" teriaknya, aura tekanan yang dihasilkan semakin berat, menggetarkan seluruh ruangan.
Bam! Suara ledakan kecil terdengar saat tekanan energi Kaisar Edgard memuncak.
Orang-orang di sekitarnya terjatuh, terhempas oleh kekuatan yang luar biasa, hanya Lucas dan tiga putranya yang masih mampu bertahan, meskipun dengan susah payah.
"Ini sedikit menjengkelkan karena aku masih belum bisa mengendalikan seluruh kekuatanku secara maksimal dengan fisik sampah ini," batin Lucas dengan kesal, merasa frustrasi dengan keterbatasan yang masih menghambatnya.
Kaisar Edgard berdiri tegak dari singgasananya, langkahnya berat saat dia mendekati Lucas dengan langkah yang berat dan menentukan.
"Apakah kau tidak menghargai pertimbanganku untukmu?" tanya Kaisar Edgard dengan suara yang penuh kekecewaan. "Apa kau hanya akan puas setelah mempermalukan ku dan juga keluarga Kekaisaran?" tambahnya.
"Cih, ini benar-benar membuatku jengkel," gumam Lucas dalam hati, "Aku tak pernah berlutut kepada seseorang dengan waktu yang lama seperti ini di kehidupanku dulu."
Lucas memejamkan matanya sebentar, mencoba menenangkan diri dan meraih keberanian.
Dia menghapuskan rasa takut yang di tanamkan kaisar, dan membuang tekanan energi yang diberikan kepadanya.
Ketika dia berdiri kembali, tatapannya jelas saat dia bertatapan dengan sang Kaisar, menunjukkan ketegasan dan tekadnya. Kemudian, dengan anggun, dia membungkuk hormat.
"Anda bilang bakatku sampah, bukan?" tanya Lucas dengan tenang, mata birunya bersinar terang.
"Mohon beri saya kesempatan," ucap Lucas dengan suara yang lembut namun penuh dengan keanggunan. "Untuk membuktikan siapa yang terbaik di antara kami semua," tambahnya, mengacu pada seluruh anak Kaisar, termasuk dirinya sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Luszzer
Chapter selanjutnya: Pembantaian putra putri Kekaisaran 🔥🔥🔥
2024-03-26
7