Bab 12 - Siapa sebenarnya dirimu

Jorge masih bersujud di depan Lucas, tetapi ekspresi wajahnya penuh dengan rasa terima kasih yang tulus.

"Terima kasih, yang mulia," ucapnya dengan suara yang penuh penghargaan.

Lucas memandanginya sejenak sebelum akhirnya menyuruh Jorge untuk berdiri.

"Berdirilah, Sir Jorge," ujarnya dengan lembut, memberikan tanda penghormatan kepada kesetiaan Jorge.

Jorge mengangguk dan perlahan berdiri, membenarkan bajunya dengan hati-hati.

"Aku mengerti," kata Jorge, matanya masih penuh dengan rasa hormat kepada Lucas.

"Tapi bagaimana dengan luka mu?" tanya Lucas dengan cemas. "Bukankah harus segera di obati."

Jorge tersenyum dengan sopan. "Tidak apa-apa," jawabnya dengan rendah hati. "Ini hanyalah sebuah luka kecil," tambahnya mencoba meremehkan.

Lucas mendekati Jorge dan dengan hati-hati merobek pakaian Jorge untuk melihat luka tersebut.

Terlihat perban yang penuh dengan darah menyelimuti tubuh Jorge, menandakan lukanya yang serius.

"Jadi ini yang kau sebut luka kecil?" tanya Lucas, matanya memandang tajam ke arah Jorge.

Jorge tersenyum dengan ragu, ekspresinya menunjukkan ketidakpercayaan. "Bagaimana Anda tahu?" tanyanya heran.

Lucas menatap luka Jorge dengan serius sebelum akhirnya bertanya, "Jorge, apakah kau menyembunyikan luka ini agar bisa tetap melindungi Marina?"

Jorge mengangguk pelan. "Maafkan Aku karena telah berbohong," jawabnya dengan sedih. "Jika di ketahui oleh Duke bahwa aku terluka sedalam ini, mungkin aku akan diberi libur oleh Duke selama sebulan," tambahnya.

"Bukankah itu sebuah hal yang bagus?" tanya Lucas, mencoba memahami alasan di balik keputusan Jorge. "Orang-orang biasanya senang mendapatkan libur."

Jorge menghela napas panjang. "Bagaimana bisa aku mempercayakan nona mudaku kepada orang lain?" keluhnya.

"Tapi kau mempercayakannya padaku," kata Lucas dengan lembut, mencoba menenangkan Jorge.

"itu dua hal yang berbeda, yang mulia," kata Jorge dengan tegas, mencoba menjelaskan situasinya.

Lucas tersenyum kecil. "Berbeda, huh?" katanya, ekspresinya tetap tenang.

"Seorang bocah berusia tiga belas tahun yang bisa bertarung setara dengan monster humanoid evolusi ke-29, bahkan hampir membunuhnya seandainya monster itu tidak abadi," jelas Jorge, matanya penuh kagum saat menatap Lucas.

"Dan seorang yang akan memimpin dunia di masa depan," tambahnya, tatapannya masih terpaku pada sosok Lucas yang berdiri di hadapannya.

"Kau pandai bicara juga ya," kata Lucas sambil berbalik dan melangkah menuju pintu kamar.

Jorge memandangi punggung Lucas dengan penuh kagum. "Bukankah dia sangat berbeda dengan Pangeran Lucas yang dulu...?" gumamnya, penuh dengan kekaguman yang tulus.

Tiba-tiba, pandangan Jorge berubah seperti sedang menyaksikan sebuah adegan yang menakutkan.

Seolah-olah dia sedang melihat masa depan yang suram.

Dia melihat Lucas berdiri sendirian di tengah tumpukan mayat, di tengah kegelapan malam yang menyeramkan.

Lucas berdiri tegak, tubuhnya tertutupi oleh lapisan darah yang menyala di bawah cahaya rembulan.

Pedangnya tergenggam erat, bersinar merah dalam kegelapan malam, mengisyaratkan pertarungan sengit yang baru saja berakhir.

"Apa ini? apa yang terjadi...?" gumam Jorge, jantungnya berdebar begitu kencang, terguncang oleh pemandangan yang mencekam di depannya.

Ekspresi Lucas terlihat hampa, mata tajamnya menembus kegelapan, dan wajahnya yang penuh darah menambah kesan mengerikan dari pemandangan tersebut.

"Maafkan aku, Sir Jorge," suara Lucas terdengar samar-samar di tengah gemuruh angin malam.

Jorge terkejut, napasnya tersengal-sengal, dan keringat bercucuran di wajahnya. Pandangan masa depan yang mengerikan itu membuatnya terguncang.

Lucas memperhatikan Jorge dengan rasa bingung. "Kau baik-baik saja?" tanyanya dengan nada khawatir.

Jorge mengangguk, tetapi pikirannya masih dipenuhi oleh adegan mengerikan yang baru saja dia saksikan. "Apakah aku melihat masa depan lagi?" pikirnya dengan kebingungan yang mendalam.

Lucas menoleh ke arah Jorge dengan pertanyaan, "Berapa lama aku tak sadarkan diri?"

"Dua puluh hari, Yang Mulia," jawab Jorge dengan tegas.

"Dua puluh hari?" gumam Lucas, terkejut. "Berarti besok aku akan bertarung dengan Pangeran Ketujuh?" tambahnya dalam dugaan.

Sebelum Lucas bisa membuka mulut untuk berbicara lebih lanjut, seseorang membuka pintu kamar dengan tegas.

Lucas langsung bergegas menghadap kebelakang untuk melihat siapa yang datang.

"Kaisar...?!" seru Lucas terkejut saat melihat kedatangan Kaisar Edgard.

"Aku mendengar kau terluka," ujar Kaisar Edgard dengan dominasi yang melekat pada setiap kata. "Haruskah aku membatalkan pertarunganmu dengan Arnoul besok?" tanyanya, tatapannya tajam menembus keheningan ruangan.

"Tidak," potong Lucas dengan tegas sebelum Kaisar bisa melanjutkan. "Tolong jangan batalkan itu, yang mulia," tambahnya, tatapannya menembus ke dalam mata Kaisar dengan ketegasan yang sama.

Kaisar Edgard membalas tatapan Lucas dengan penuh kebingungan. "Tapi kau sedang terluka," ujarnya, mencoba memahami keputusan Lucas.

"Aku sudah sembuh...?" gumam Lucas sambil melepaskan energi emas yang memenuhi ruangan dengan gemuruh.

Bam! Sebuah ledakan energi terjadi di kamar, menggetarkan dinding-dindingnya.

Cahaya keemasan memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang memukau.

Setelah efek ledakan mereda, Kaisar Edgard terdiam sejenak, wajahnya terlihat mendapatkan sedikit goresan oleh energi yang dilepaskan Lucas.

Namun, dia hanya diam dengan tatapan yang penuh pertimbangan.

Setelah beberapa saat, Kaisar Edgard akhirnya menemukan suaranya yang hilang.

"Pangeran Ketujuh," panggilnya dengan nada marah. "Tidakkah kau diajari sopan santun?" lanjutnya dengan suara yang penuh kemarahan.

Jorge, Marina, dan Arthur, yang juga menyaksikan adegan tersebut, sama-sama terdiam, keheranan melihat pertukaran kata antara kedua orang itu.

Mereka bertiga berpikiran yang sama, yaitu. "Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini...?!"

Lucas menatap Kaisar Edgard dengan ekspresi yang datar namun penuh dengan ketegangan.

"Sopan santun, eh?" ucapnya dengan nada yang penuh keheranan. "Kau mengharapkan sopan santun dari anak mu?" tambahnya dengan nada sinis.

"Ketika kau membiarkan aku terlantar, dan hanya diam ketika aku diserang oleh pembunuh...?!" Lanjut Lucas dengan kesal. "Aku, Lucas De Valorian, tidak akan pernah bersikap sopan santun kepada orang sepertimu."

Kaisar Edgard menahan tawanya, "Kau? Lucas De Valorian?" ucapnya dengan nada mengejek.

Tiba-tiba, suasana berubah dan mereka berdua berada di suatu tempat yang kosong, hanya ada kehampaan di sekitar mereka.

"Domain...?" batin Lucas, terkejut dengan perubahan tiba-tiba ini. "Dia bisa menciptakan sebuah Domain hanya dengan pikirannya?" tambahnya dengan keraguan.

"Prediksiku sebelumnya, salah." lanjut Lucas berpikir. "Sepertinya kemampuan Kaisar Edgard hanya setara dengan sepersepuluh kekuatanku ketika Aku menjadi Yussa Angevin..?" tambahnya, sedikit meremehkan Kaisar Edgard.

Kaisar Edgard berdiri di depan Lucas dengan tatapan yang serius, energinya menekan Lucas dengan keras. "Hei," panggilnya.

Tubuh Lucas bergetar hebat, namun dia tetap berdiri dengan ekspresi datar seperti tidak terjadi apapun.

"Beritahu aku," ucap Kaisar Edgard dengan tajam. "Siapa sebenarnya dirimu..?!" tanyanya dengan mata yang seakan-akan menunjukkan bahwa dia tahu segalanya.

Terpopuler

Comments

Blue

Blue

OMAGAAAAAAAA DAMNNN

2024-05-13

3

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Kebangkitan
2 Bab 2 - Sang Penguasa
3 Bab 3 - Pembersihan
4 Bab 4 - Undangan Kaisar
5 Bab 5 - Bertemu dengan kaisar
6 Bab 6 - Jantung Phoenix
7 Bab 7 - Blood Goddes Witch
8 Bab 8 - Sparring dengan Jorge
9 Bab 9 - Sparring dengan Jorge (2)
10 Bab 10 - Monster yang hampir mencapai kesempurnaan
11 Bab 11 - Ksatria yang setia
12 Bab 12 - Siapa sebenarnya dirimu
13 Bab 13 - Kaisar Yussa Angevin
14 Bab 14 - Shadow Sovereign
15 Bab 15 - Dominasi sang penguasa
16 Bab 16 - Mrs. BlueGlasses
17 Bab 17 - The Book of Imperator
18 Bab 18 - Pertemuan dua Pangeran
19 Bab 19 - Pedang Glaimrend
20 Bab 20 - Lucas Vs Arnoul
21 Bab 21 - Lucas Vs Arnoul (2)
22 Bab 22 - Sebuah Permulaan
23 Bab 23 - Memasuki Akademi
24 Bab 24 - Pertemuan dua karakter utama
25 Bab 25 - Kelas sihir
26 Bab 26 - Apa itu mana?
27 Bab 27 - Buku Sihir Kuno
28 Bab 28 - Keluarga Beaumont
29 Bab 29 - Keluarga Beaumont (2)
30 Bab 30 - Konspirasi?
31 Bab 31 - Sihir Kuno
32 Bab 32 - Noir
33 Bab 33 - Kematian Phineas
34 Bab 34 - Leonidas Pendragon
35 Bab 35 - Shadow Sovereign Vs The Strongest Pendragon
36 Bab 36 - Pembebasan Azura
37 Bab 37 - Melawan orang hebat Kekaisaran
38 Bab 38 - Kedatangan Mrs. BlueGlasses
39 Bab 39 - desas-desus buruk tentang Fairris
40 Bab 40 - Fitnah yang terencana
41 Bab 41 - Di balik bayangan
42 Bab 42 - Penghakiman
43 Bab 43 - Sebuah tawaran
44 Bab 44 - Manipulasi?
45 Bab 45 - Rahasia Seth terungkap.
46 Bab 46 - Suara yang memikat
47 Bab 47 - Lily Van Lecrerc
48 Bab 48 - Rekan baru
49 Bab 49 - Callian Beaumont
50 Bab 50 - Fragmen Primodial
51 Bab 51 - Kebenaran di Balik Fragmen
52 Bab 52 - Menuju Void Nexus
53 Bab 53 - Ke Dalam Kegelapan
54 Bab 54 - Di Pusat Kehampaan
55 Bab 55 - Pengorbanan yang Dituntut
56 Bab 56 — Lima Tahun di Void Nexus.
57 Season 1 End
58 Season 2 — 01-01-2025
59 Chapter 57 — Kehancuran akibat Iblis
60 Chapter 58 — Korban dan Pengorbanan
61 Chapter 59 — Kemunculan Lucas
62 Chapter 60 — The Harbinger of Doom
63 Chapter 61 — Reuni menyedihkan
64 Chapter 62 — Kehangatan Keluarga
65 Chapter 63 — Perubahan Alur
66 Chapter 64 — Bangkitnya Harapan
67 Chapter 65 — Pertemuan orang Kekaisaran
68 Chapter 66 — Kematian banyak orang
69 Chapter 67 — Tak dapat menepati janji
70 Chapter 68 — Bertemu dengan para Dewa
71 Chapter 69 — Bertempur dengan Dewa
72 Chapter 70 — Bertempur dengan Dewa (2)
73 Chapter 71 — Bertempur dengan Dewa (3)
74 Chapter 72 — Bertempur dengan Dewa (4)
75 Chapter 73 — Bertempur dengan Dewa (5)
76 Chapter 74 — Akashic
77 Chapter 75 — Memulai perperangan
78 Chapter 76 —Retakan Pertama
79 Chapter 77 — Jebakan Belisaris
80 Chapter 78 - Serangan Balik Lucas
81 Chapter 79 — Aamon Sang Penghancur
82 Chapter 80 — Keputusan Berbahaya
83 Chapter 81 — Pertemuan dengan Belisaris
84 Chapter 82 — Dekatnya ujung Pertempuran
85 Chapter 83 — Benteng Raja Iblis
86 Chapter 84 — Jalan Berdarah
87 Chapter 85 — Pertempuran Terakhir?
88 Chapter 86 — Melawan 8 penjaga iblis
89 Chapter 87 — Melawan raja iblis
Episodes

Updated 89 Episodes

1
Bab 1 - Kebangkitan
2
Bab 2 - Sang Penguasa
3
Bab 3 - Pembersihan
4
Bab 4 - Undangan Kaisar
5
Bab 5 - Bertemu dengan kaisar
6
Bab 6 - Jantung Phoenix
7
Bab 7 - Blood Goddes Witch
8
Bab 8 - Sparring dengan Jorge
9
Bab 9 - Sparring dengan Jorge (2)
10
Bab 10 - Monster yang hampir mencapai kesempurnaan
11
Bab 11 - Ksatria yang setia
12
Bab 12 - Siapa sebenarnya dirimu
13
Bab 13 - Kaisar Yussa Angevin
14
Bab 14 - Shadow Sovereign
15
Bab 15 - Dominasi sang penguasa
16
Bab 16 - Mrs. BlueGlasses
17
Bab 17 - The Book of Imperator
18
Bab 18 - Pertemuan dua Pangeran
19
Bab 19 - Pedang Glaimrend
20
Bab 20 - Lucas Vs Arnoul
21
Bab 21 - Lucas Vs Arnoul (2)
22
Bab 22 - Sebuah Permulaan
23
Bab 23 - Memasuki Akademi
24
Bab 24 - Pertemuan dua karakter utama
25
Bab 25 - Kelas sihir
26
Bab 26 - Apa itu mana?
27
Bab 27 - Buku Sihir Kuno
28
Bab 28 - Keluarga Beaumont
29
Bab 29 - Keluarga Beaumont (2)
30
Bab 30 - Konspirasi?
31
Bab 31 - Sihir Kuno
32
Bab 32 - Noir
33
Bab 33 - Kematian Phineas
34
Bab 34 - Leonidas Pendragon
35
Bab 35 - Shadow Sovereign Vs The Strongest Pendragon
36
Bab 36 - Pembebasan Azura
37
Bab 37 - Melawan orang hebat Kekaisaran
38
Bab 38 - Kedatangan Mrs. BlueGlasses
39
Bab 39 - desas-desus buruk tentang Fairris
40
Bab 40 - Fitnah yang terencana
41
Bab 41 - Di balik bayangan
42
Bab 42 - Penghakiman
43
Bab 43 - Sebuah tawaran
44
Bab 44 - Manipulasi?
45
Bab 45 - Rahasia Seth terungkap.
46
Bab 46 - Suara yang memikat
47
Bab 47 - Lily Van Lecrerc
48
Bab 48 - Rekan baru
49
Bab 49 - Callian Beaumont
50
Bab 50 - Fragmen Primodial
51
Bab 51 - Kebenaran di Balik Fragmen
52
Bab 52 - Menuju Void Nexus
53
Bab 53 - Ke Dalam Kegelapan
54
Bab 54 - Di Pusat Kehampaan
55
Bab 55 - Pengorbanan yang Dituntut
56
Bab 56 — Lima Tahun di Void Nexus.
57
Season 1 End
58
Season 2 — 01-01-2025
59
Chapter 57 — Kehancuran akibat Iblis
60
Chapter 58 — Korban dan Pengorbanan
61
Chapter 59 — Kemunculan Lucas
62
Chapter 60 — The Harbinger of Doom
63
Chapter 61 — Reuni menyedihkan
64
Chapter 62 — Kehangatan Keluarga
65
Chapter 63 — Perubahan Alur
66
Chapter 64 — Bangkitnya Harapan
67
Chapter 65 — Pertemuan orang Kekaisaran
68
Chapter 66 — Kematian banyak orang
69
Chapter 67 — Tak dapat menepati janji
70
Chapter 68 — Bertemu dengan para Dewa
71
Chapter 69 — Bertempur dengan Dewa
72
Chapter 70 — Bertempur dengan Dewa (2)
73
Chapter 71 — Bertempur dengan Dewa (3)
74
Chapter 72 — Bertempur dengan Dewa (4)
75
Chapter 73 — Bertempur dengan Dewa (5)
76
Chapter 74 — Akashic
77
Chapter 75 — Memulai perperangan
78
Chapter 76 —Retakan Pertama
79
Chapter 77 — Jebakan Belisaris
80
Chapter 78 - Serangan Balik Lucas
81
Chapter 79 — Aamon Sang Penghancur
82
Chapter 80 — Keputusan Berbahaya
83
Chapter 81 — Pertemuan dengan Belisaris
84
Chapter 82 — Dekatnya ujung Pertempuran
85
Chapter 83 — Benteng Raja Iblis
86
Chapter 84 — Jalan Berdarah
87
Chapter 85 — Pertempuran Terakhir?
88
Chapter 86 — Melawan 8 penjaga iblis
89
Chapter 87 — Melawan raja iblis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!