Jorge masih bersujud di depan Lucas, tetapi ekspresi wajahnya penuh dengan rasa terima kasih yang tulus.
"Terima kasih, yang mulia," ucapnya dengan suara yang penuh penghargaan.
Lucas memandanginya sejenak sebelum akhirnya menyuruh Jorge untuk berdiri.
"Berdirilah, Sir Jorge," ujarnya dengan lembut, memberikan tanda penghormatan kepada kesetiaan Jorge.
Jorge mengangguk dan perlahan berdiri, membenarkan bajunya dengan hati-hati.
"Aku mengerti," kata Jorge, matanya masih penuh dengan rasa hormat kepada Lucas.
"Tapi bagaimana dengan luka mu?" tanya Lucas dengan cemas. "Bukankah harus segera di obati."
Jorge tersenyum dengan sopan. "Tidak apa-apa," jawabnya dengan rendah hati. "Ini hanyalah sebuah luka kecil," tambahnya mencoba meremehkan.
Lucas mendekati Jorge dan dengan hati-hati merobek pakaian Jorge untuk melihat luka tersebut.
Terlihat perban yang penuh dengan darah menyelimuti tubuh Jorge, menandakan lukanya yang serius.
"Jadi ini yang kau sebut luka kecil?" tanya Lucas, matanya memandang tajam ke arah Jorge.
Jorge tersenyum dengan ragu, ekspresinya menunjukkan ketidakpercayaan. "Bagaimana Anda tahu?" tanyanya heran.
Lucas menatap luka Jorge dengan serius sebelum akhirnya bertanya, "Jorge, apakah kau menyembunyikan luka ini agar bisa tetap melindungi Marina?"
Jorge mengangguk pelan. "Maafkan Aku karena telah berbohong," jawabnya dengan sedih. "Jika di ketahui oleh Duke bahwa aku terluka sedalam ini, mungkin aku akan diberi libur oleh Duke selama sebulan," tambahnya.
"Bukankah itu sebuah hal yang bagus?" tanya Lucas, mencoba memahami alasan di balik keputusan Jorge. "Orang-orang biasanya senang mendapatkan libur."
Jorge menghela napas panjang. "Bagaimana bisa aku mempercayakan nona mudaku kepada orang lain?" keluhnya.
"Tapi kau mempercayakannya padaku," kata Lucas dengan lembut, mencoba menenangkan Jorge.
"itu dua hal yang berbeda, yang mulia," kata Jorge dengan tegas, mencoba menjelaskan situasinya.
Lucas tersenyum kecil. "Berbeda, huh?" katanya, ekspresinya tetap tenang.
"Seorang bocah berusia tiga belas tahun yang bisa bertarung setara dengan monster humanoid evolusi ke-29, bahkan hampir membunuhnya seandainya monster itu tidak abadi," jelas Jorge, matanya penuh kagum saat menatap Lucas.
"Dan seorang yang akan memimpin dunia di masa depan," tambahnya, tatapannya masih terpaku pada sosok Lucas yang berdiri di hadapannya.
"Kau pandai bicara juga ya," kata Lucas sambil berbalik dan melangkah menuju pintu kamar.
Jorge memandangi punggung Lucas dengan penuh kagum. "Bukankah dia sangat berbeda dengan Pangeran Lucas yang dulu...?" gumamnya, penuh dengan kekaguman yang tulus.
Tiba-tiba, pandangan Jorge berubah seperti sedang menyaksikan sebuah adegan yang menakutkan.
Seolah-olah dia sedang melihat masa depan yang suram.
Dia melihat Lucas berdiri sendirian di tengah tumpukan mayat, di tengah kegelapan malam yang menyeramkan.
Lucas berdiri tegak, tubuhnya tertutupi oleh lapisan darah yang menyala di bawah cahaya rembulan.
Pedangnya tergenggam erat, bersinar merah dalam kegelapan malam, mengisyaratkan pertarungan sengit yang baru saja berakhir.
"Apa ini? apa yang terjadi...?" gumam Jorge, jantungnya berdebar begitu kencang, terguncang oleh pemandangan yang mencekam di depannya.
Ekspresi Lucas terlihat hampa, mata tajamnya menembus kegelapan, dan wajahnya yang penuh darah menambah kesan mengerikan dari pemandangan tersebut.
"Maafkan aku, Sir Jorge," suara Lucas terdengar samar-samar di tengah gemuruh angin malam.
Jorge terkejut, napasnya tersengal-sengal, dan keringat bercucuran di wajahnya. Pandangan masa depan yang mengerikan itu membuatnya terguncang.
Lucas memperhatikan Jorge dengan rasa bingung. "Kau baik-baik saja?" tanyanya dengan nada khawatir.
Jorge mengangguk, tetapi pikirannya masih dipenuhi oleh adegan mengerikan yang baru saja dia saksikan. "Apakah aku melihat masa depan lagi?" pikirnya dengan kebingungan yang mendalam.
Lucas menoleh ke arah Jorge dengan pertanyaan, "Berapa lama aku tak sadarkan diri?"
"Dua puluh hari, Yang Mulia," jawab Jorge dengan tegas.
"Dua puluh hari?" gumam Lucas, terkejut. "Berarti besok aku akan bertarung dengan Pangeran Ketujuh?" tambahnya dalam dugaan.
Sebelum Lucas bisa membuka mulut untuk berbicara lebih lanjut, seseorang membuka pintu kamar dengan tegas.
Lucas langsung bergegas menghadap kebelakang untuk melihat siapa yang datang.
"Kaisar...?!" seru Lucas terkejut saat melihat kedatangan Kaisar Edgard.
"Aku mendengar kau terluka," ujar Kaisar Edgard dengan dominasi yang melekat pada setiap kata. "Haruskah aku membatalkan pertarunganmu dengan Arnoul besok?" tanyanya, tatapannya tajam menembus keheningan ruangan.
"Tidak," potong Lucas dengan tegas sebelum Kaisar bisa melanjutkan. "Tolong jangan batalkan itu, yang mulia," tambahnya, tatapannya menembus ke dalam mata Kaisar dengan ketegasan yang sama.
Kaisar Edgard membalas tatapan Lucas dengan penuh kebingungan. "Tapi kau sedang terluka," ujarnya, mencoba memahami keputusan Lucas.
"Aku sudah sembuh...?" gumam Lucas sambil melepaskan energi emas yang memenuhi ruangan dengan gemuruh.
Bam! Sebuah ledakan energi terjadi di kamar, menggetarkan dinding-dindingnya.
Cahaya keemasan memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang memukau.
Setelah efek ledakan mereda, Kaisar Edgard terdiam sejenak, wajahnya terlihat mendapatkan sedikit goresan oleh energi yang dilepaskan Lucas.
Namun, dia hanya diam dengan tatapan yang penuh pertimbangan.
Setelah beberapa saat, Kaisar Edgard akhirnya menemukan suaranya yang hilang.
"Pangeran Ketujuh," panggilnya dengan nada marah. "Tidakkah kau diajari sopan santun?" lanjutnya dengan suara yang penuh kemarahan.
Jorge, Marina, dan Arthur, yang juga menyaksikan adegan tersebut, sama-sama terdiam, keheranan melihat pertukaran kata antara kedua orang itu.
Mereka bertiga berpikiran yang sama, yaitu. "Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini...?!"
Lucas menatap Kaisar Edgard dengan ekspresi yang datar namun penuh dengan ketegangan.
"Sopan santun, eh?" ucapnya dengan nada yang penuh keheranan. "Kau mengharapkan sopan santun dari anak mu?" tambahnya dengan nada sinis.
"Ketika kau membiarkan aku terlantar, dan hanya diam ketika aku diserang oleh pembunuh...?!" Lanjut Lucas dengan kesal. "Aku, Lucas De Valorian, tidak akan pernah bersikap sopan santun kepada orang sepertimu."
Kaisar Edgard menahan tawanya, "Kau? Lucas De Valorian?" ucapnya dengan nada mengejek.
Tiba-tiba, suasana berubah dan mereka berdua berada di suatu tempat yang kosong, hanya ada kehampaan di sekitar mereka.
"Domain...?" batin Lucas, terkejut dengan perubahan tiba-tiba ini. "Dia bisa menciptakan sebuah Domain hanya dengan pikirannya?" tambahnya dengan keraguan.
"Prediksiku sebelumnya, salah." lanjut Lucas berpikir. "Sepertinya kemampuan Kaisar Edgard hanya setara dengan sepersepuluh kekuatanku ketika Aku menjadi Yussa Angevin..?" tambahnya, sedikit meremehkan Kaisar Edgard.
Kaisar Edgard berdiri di depan Lucas dengan tatapan yang serius, energinya menekan Lucas dengan keras. "Hei," panggilnya.
Tubuh Lucas bergetar hebat, namun dia tetap berdiri dengan ekspresi datar seperti tidak terjadi apapun.
"Beritahu aku," ucap Kaisar Edgard dengan tajam. "Siapa sebenarnya dirimu..?!" tanyanya dengan mata yang seakan-akan menunjukkan bahwa dia tahu segalanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Blue
OMAGAAAAAAAA DAMNNN
2024-05-13
3