Setelah mereka sampai di ruangan pertemuan para tetua dan murid-murid Sekte Bunga Matahari yang terdaftar akan mengikuti turnamen. Mereka, tidak lebih tepatnya Arya langsung di sambut para tetua Sekte Bunga Matahari yang berada di sana.
"Bagaimana saudara Arya, apakah kau sudah membuatkan beberapa pil untuk menaikkan Kultivasi para murid?" Tanya salah satu dari tetua yang berada di ruangan tersebut.
"Sudah tetua... Biarkan mereka maju satu persatu, agar aku mengetahui pil mana yang tepat untuk Kultivasi mereka." Ucap Arya.
Kemudian para tetua memanggil satu persatu murid untuk maju ke depan Arya.
Semua murid dari Sekte Bunga Matahari yang mengikuti turnamen berjumlah 5 orang termasuk Liu Wei dan Sun Yu. Karena merekalah yang di anggap lebih unggul dari para murid lainnya di sekte ini.
Liu Wei yang pertama kali maju. Arya lantas memeriksa aliran darah Liu Wei dari pergelangan tangan serta leher gadis tersebut.
"Aku akan menotok beberapa aliran darahmu dan beberapa Meridianmu agar kau bisa lebih mudah dalam mengontrol energimu serta mempercepat dalam meningkatkan Kultivasi mu. Ini akan terasa sedikit menyakitkan, tapi jangan menangis ya.. hahaha." Ujar Arya menjelaskan dan di akhiri dengan candaan agar suasana tidak begitu tegang.
Benar saja selama proses penotokkan itu berlangsung, Liu Wei tak henti-hentinya menjerit kesakitan. Melihat proses itu para tetua menjadi cemas, sedangkan para murid lainnya menjadi gelisah dan takut.
Setelah proses itu selesai. Liu Wei langsung menatap Arya dengan tatapan yang tajam.
"Hei... Kenapa kau menatapku seperti itu?" Arya mengedipkan sebelah matanya kepada Liu Wei, lalu mendekatinya.
"Apakah tadi itu sakit..? Minumlah pil ini dan seraplah energi dari pil ini. lalu pusatkan energi itu masuk ke dalam Dantianmu." Kata Arya sambil memberikan sebutir pil dan lalu mengacak-acak rambut Liu Wei.
Kemudian Arya memanggil satu persatu para murid yang tersisa. Dia melakukan hal yang sama seperti yang di lakukannya pada Liu Wei, namun tidak lagi dengan cara bercanda.
Setelah semuanya selesai. Para murid nampak masih dalam proses penyerapan energi pil. Sementara Arya sendiri keluar dari ruangan tersebut bersama para tetua lainnya.
"Maaf tetua, aku izin pamit kembali ke ruanganku... Setelah para murid selesai menyerap energi, suruh mereka semua agar lebih giat dalam berlatih. Karena pil saja tidak akan cukup bagi pendekar untuk menjadi lebih kuat tanpa latihan." Setelah mengatakan hal tersebut, Arya lalu bergegas melangkah kembali menuju ke tempat kamarnya.
__________
Hari sudah menjelang sore, saat itu Arya sedang berlatih di dekat air terjun tempat dimana dirinya pernah mandi bersama dengan Liu Wei tempo hari lalu.
Tentu saja Arya harus berlatih menggunakan fisiknya di dunia nyata, karena berlatih di alam jiwa hanya akan meningkatkan pemahaman serta gerakan dari jurus-jurus yang sedang ia pelajari. Tanpa praktek latihan di dunia nyata dengan tubuh aslinya, tentu saja jurus yang dipelajarinya tidak akan bisa sempurna.
Setelah beberapa lama berlatih, tiba-tiba Arya mencium aroma bau makanan. Dia menyadari ada seseorang yang sedang berjalan ke lokasinya.
"Seperti dugaanku, kau pasti berada disini." Sebuah suara yang tidak lain adalah Liu Wei, sedang berjalan mendekatinya sambil membawa beberapa makanan.
"Apakah makanan itu untukku? Kau tau saja jika aku memang sedang lapar.." Arya tersenyum kecil sambil memandangi makanan yang di bawa Liu Wei.
Melihat Arya yang seolah tidak memperdulikannya dan justru malah fokus pada makanan yang dia bawa, Liu Wei memanyunkan bibirnya.
"Jadi kau hanya tertarik pada makanan yang ku bawa?." Ucap Gadis itu dengan memasang muka cemberut menyerahkan makanan yang di bawanya pada Arya.
"Hahaha.. Jika seperti itu wajahmu malah terlihat lucu." Arya tertawa geli lalu mencubit hidung Liu Wei seperti yang sering dilakukan oleh Zhen Long terhadapnya dulu.
Seketika Arya berhenti tertawa serta diam mematung seperti melamun, pemuda itu teringat kakeknya Zhen Long "Padahal baru beberapa hari kami berpisah, tapi aku sudah merindukan kakek." Gumamnya dalam hati.
"Hei kenapa kau melamun?" Liu Wei memukul kening Arya pelan, seketika Arya tersadar dan melepaskan tangannya dari hidung Liu Wei.
Arya memutuskan menghentikan latihannya karena ingin mengisi perutnya terlebih dahulu. Pemuda itupun langsung menyantap makanannya tanpa memperdulikan Liu Wei yang sejak tadi berdiri sambil terus melihatnya.
"Apa kau ingin makan seorang diri? Padahal kau pernah bilang, jika kau lebih suka makan bersama. Hmmm" Liu Wei kembali memanyunkan bibirnya karena merasa tidak dianggap ada oleh Arya.
"Oh iya aku sampai lupa jika kau berada disini. Kemarilah, mari kita makan bersama." Ucap Arya yang masih mengunyah makanan di mulutnya.
"Kau makan saja sendiri, aku sudah kehilangan selera makan." Liu Wei memalingkan wajahnya dari Arya.
"Oh yasudah..." Arya kembali fokus pada makanannya.
Liu Wei langsung mendekati Arya setelah mendengar kata-kata yang diucapkan oleh pemuda itu. Gadis itu lantas memukul kepala Arya keras.
"Aaaauuuu... apa yang kau lakukan? Apa salahku? Dasar gadis aneh." Gerutu Arya dengan berpura-pura sakit padahal dia tak merasakan sakit sama sekali.
"Rasakan itu... Itu adalah hadiah untuk laki-laki yang bodoh sepertimu. Tapi maafkan aku karena telah memukulmu terlalu keras." Liu Wei memperlihatkan wajah menyesal.
"Mungkin kau lapar ya, makanya tiba-tiba aneh seperti itu. Duduklah sini, mari makan bersamaku." Arya menarik tangan Liu Wei untuk duduk di sampingnya.
Setelah mereka selesai makan, Arya kembali berlatih. Liu Wei yang melihat Arya berlatih dia langsung melesat menyerang pemuda tersebut.
Jurus Pedang Bunga Matahari - Tebasan Membelah Badai tingkat 3
Liu Wei bergerak gesit seperti sedang menari namun tebasan demi tebasan pedangnya begitu lentur dan mematikan. Terlihat Arya sedikit terpojok karena serangan yang dilancarkan oleh Liu Wei tersebut.
Liu Wei kembali melancarkan serangan ke sisi kiri, namun Arya bisa menangkis serangan tersebut. Ternyata serangan itu hanyalah tipuan yang sudah di rencanakan oleh Liu Wei, gadis itu memutar tubuhnya dengan cepat lalu melayangkan sebuah tendangan ke arah sisi kanan. Tetapi tetap saja serangan itu bisa di hindari oleh Arya, padahal beberapa inci lagi pukulan itu akan mendarat mengenai tubuh pemuda tersebut. namun saat tendangan Liu Wei hampir saja mengenai tubuhnya, Arya tiba-tiba seperti menghilang begitu saja. Semua itu karena Arya menggunakan teknik jurus 7 arah mata angin, yang membuatnya bisa berpindah tempat dengan secepat angin.
"Kau seperti biasa, selalu mempunyai teknik-teknik hebat yang membuatku kagum." Ucap Liu Wei sembari masih tetap menyerang Arya.
"Kau sekarang sudah berkembang begitu cepat beberapa hari ini. Sampai-sampai aku harus menggunakan jurusku untuk menghindari seranganmu. Tapi kau melakukan kesalahan besar..."
Arya langsung melesat ke arah sisi kanan gadis itu, dia melancarkan sebuah tipuan. Liu Wei yang sudah kehilangan fokus, dia mencoba untuk menangkis serangan Arya dengan sekuat tenaga. Namun tiba-tiba Arya menunduk dan melompat ke atas. Liu Wei yang sudah tidak mempunyai banyak waktu, akhirnya gadis itu hanya bisa pasrah. Liu Wei pun terkena pukulan dan pedang Arya sendiri sudah bersarang di leher gadis tersebut.
"Jika sedang bertarung jangan terpengaruh oleh lawanmu. Tetaplah fokus pada petarungan dan jangan banyak bicara." Arya yang berada di belakang Liu Wei dengan posisi seperti memeluknya dari belakang, dengan pedangnya yang kini sudah bertengger di leher Liu Wei.
Jantung Liu Wei berdetak begitu cepat, karena posisinya saat ini seperti sedang di peluk oleh Arya. Dia bukannya marah namun justru malah menikmati situasi itu. Pipi gadis tersebut mulai memerah seperti tomat.
"Hei kenapa kau malah diam? Jika saja sekarang kau berada dalam pertarungan yang sebenarnya. Mungkin kau sudah mati karena kau sudah pasrah." Arya melepaskan kunciannya pada Liu Wei. Dia segera melihat keadaan gadis itu, takut ada sesuatu yang terjadi padanya, sehingga sampai membuat gadis pemarah tersebut menjadi diam mematung seperti itu.
"Apa tubuhmu ada yang terluka? Kenapa pipimu selalu saja tiba-tiba menjadi merah seperti itu? Apakah ada yang terasa sakit?" Ucap Arya panik menghujani banyak pertanyaan pada Liu Wei yang masih mematung.
Arya menggoyang-goyangkan tubuh Liu Wei yang masih mematung, dia memegang kening gadis tersebut lalu mengecek nadinya. "Sebenarnya ada apa dengan gadis ini?" Gumamnya dalam hati memasang ekspresi panik.
"Kau itu bocah yang terlalu bodoh.. begitu saja tak mengerti. gadis itu sedang jatuh hati padamu, bodoh. Tampar dia maka dia akan sadar" Kata Dewa Petir melalui telepati.
PLAAAAKKK....
Tanpa pikir panjang Arya lalu menampar pipi Liu Wei sampai terlihat bekas telapak tangannya di pipi mulus gadis tersebut.
"Ahhhhh....sakit bodoh." Liu Wei yang tersadar langsung memukul wajah Arya karena kesal.
"Hehehe... Maafkan aku, aku tadi begitu panik karena kau menjadi patung." Arya tertawa polos sambil memegangi wajahnya yang terkena pukulan dari Liu Wei.
Liu Wei yang masih kesal langsung pergi meninggalkan Arya yang nampak masih kebingungan.
"Jatuh hati itu apa sih? Kenapa setelah aku tampar, dia langsung sadar... Aneh.." tanya Arya pada Dewa Petir.
"Jatuh hati itu artinya dia menyukaimu, bodoh... Kau begitu pintar dalam belajar ilmu beladiri, tapi bodoh dalam urusan wanita." Dewa petir mendengus kesal.
"Berarti aku juga jatuh hati pada gadis itu. Aku juga suka padanya, dia apa adanya. Kadang pemarah, perhatian dan juga cerewet. Hahaha" Arya tertawa pelan.
"Terserah katamu saja kadal buntung...." Dewa petir menepuk dahinya.
Arya kembali melangkah cepat untuk menyusul Liu Wei yang sedang duduk di atas batu di dekat air terjun. Arya mendekati gadis tersebut sambil terus menerus meminta maaf karena telah melayangkan sebuah tamparan.
"Apa kau masih marah padaku? Aku tadi menamparmu karena aku terlalu panik dan khawatir jika kau kenapa-napa." Ucap Arya yang sedari tadi melihat Liu Wei diam dan selalu mengalihkan pandangannya darinya.
"Benarkah begitu?" Liu Wei langsung menatap Arya setelah mendengar kata-kata tersebut, dengan mata yang berbinar-binar dan wajah yang berseri-seri.
"Syukurlah kau sudah tidak marah lagi padaku. tentu saja aku tidak berbohong..." Arya tersenyum menatap mata Liu Wei dan mengangguk pelan.
Tiba-tiba Liu Wei memasang wajah sedih dengan air matanya yang mulai merembes keluar membasahi pipi mulus gadis tersebut.
"Hei kenapa kau selalu saja aneh sih. Kadang marah-marah kadang terlihat bahagia, kadang cerewet dan sekarang sedih. Aku bingung denganmu." Arya menggaruk kepalanya kebingungan.
"Apa kau benar-benar akan pergi dan meninggalkanku?" Tanya Liu Wei dengan suara lirih dengan wajah yang sedih.
"Hmmmm... Iya aku harus pergi, Aku harus melanjutkan perjalananku. Tenanglah suatu saat kita akan bertemu lagi, aku tidak akan melupakanmu." Ucap Arya tersenyum semanis mungkin.
"Apa kau akan berjanji akan menemuiku lagi dan tidak akan melupakanku?" Liu Wei mengulurkan jari kelingkingnya kepada Arya. Arya lalu membalas hal yang serupa.
"Ta... tapi aku ingin pergi bersamamu." Ucap Liu Wei pelan sambil menundukkan kepalanya.
Arya lalu memegang pundak gadis itu. "Kau adalah murid dari Sekte ini, aku tidak mungkin mengajakmu pergi. Tapi aku akan merasa sangat senang jika melihatmu kembali, kau sudah menjadi pendekar yang hebat." Ucap Arya menghapus air mata di pipi gadis itu. Lalu menggandeng tangan Liu Wei untuk mengajaknya bangkit dan kembali ke kediaman mereka masing-masing.
Sepanjang perjalanan pulang Liu Wei tidak ingin melepaskan genggaman tangannya dari tangan Arya, walaupun Arya beberapa kali berusaha ingin melepaskannya. Gadis itu terus memandangi wajah pemuda disampingnya itu, sampai mereka berduapun sudah berada di depan kamar Arya.
"Nanti datanglah ke turnamen, aku akan menunjukkan padamu kalau aku akan menjadi juara." Ucap Liu Wei dengan bersemangat.
Arya mengangguk pelan lalu membalikkan badan berjalan ke dalam ruangan kamarnya.
"Tunggu sebentar!" Liu Wei lalu berlari mendekati Arya. Tanpa di duga, gadis tersebut mencium pipi Arya sesaat setelah Arya menengok ke arahnya.
"Apa maksudnya ini?." Tanya Arya sembari memegang pipinya bekas ciuman gadis tersebut. Liu Wei tidak menanggapi pertanyaan itu, dia sekilas tersenyum dan lalu berlari menjauh meninggalkan pemuda itu.
_________
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 210 Episodes
Comments
Durian Anget
mau aja si MC di manfaatkan hadeh
2024-05-21
0
Iwan Arema
🤦🏻🤦🏻🤦🏻
2024-04-15
1
Didik Setyawan
GK seru,MCx gk peka...
2024-03-30
0