"Belum puas melihatnya? Apa kau ingin mencuri ilmu pedang bunga matahari?" Seru Liu Wei lantang, dia sudah mengenal aura dari sosok yang bersembunyi di balik semak-semak.
Arya menggaruk kepalanya sebelum muncul dari persembunyiannya. "Tunggu ini salah paham. Aku tidak bermaksud mencuri ilmu, aku..." Arya menjelaskan dirinya ingin berniat membersihkan badannya lalu ia mendengar suara orang berlatih, dirinya bersembunyi karena tidak ingin mengganggu latihan yang dilakukan Liu Wei.
"Kalau begitu kenapa kau tidak melanjutkan tujuanmu datang kesini. Apa yang sebenarnya kau inginkan, dan kenapa masih berada di sini?." Rutuk Liu Wei dengan nada dingin sambil menatap tajam kepada Arya.
"Ah tidak, karena aku sempat melihatmu bermain pedang, aku berpikir beberapa masukkan yang mungkin akan membantumu." Arya menggaruk hidungnya.
"Apa kau pikir cara berpedangmu masih lebih baik dariku? Baiklah aku akan menunjukkan padamu jurus siapa yang lebih hebat." Liu Wei langsung melesat menyerang Arya.
"Hei kenapa kau bersungguh-sungguh menyerangku, ini kan hanya latihan." Gerutu Arya sambil terus menghindari setiap serangan gadis itu.
"Sialan.. dia bisa dengan mudah menghindari setiap seranganku." Gumam Liu Wei dalam hati lalu mempercepat pergerakan pedangnya.
Arya berfikir inilah saatnya dia menjalankan rencana untuk membuka cadar gadis pemarah tersebut.
Sambil terus menghindar, Arya berusaha mencari celah untuk mengambil cadar yang terpasang di wajah Liu Wei.
Setelah berhasil merebut cadar milik Liu Wei, dia lalu tertawa sambil menatap wajah gadis itu yang kini nampak memerah dengan ekspresi muka marah.
"Kembalikan cadarku, atau ku bunuh kau." Liu Wei menggertakkan giginya, berniat menyerang Arya kembali.
"Eh... Tunggu dulu gadis pemarah. Aku sebenarnya bingung kenapa kau menutupi wajahmu, padahal kau itu memiliki paras yang cantik." Ujar Arya sambil mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda gadis itu.
Mendengar hal demikian, pipi Liu Wei langsung merona memerah. Itu bukan pertama kali bagi Liu Wei mendengar seorang pria mengatakan jika dirinya cantik. Namun karena yang mengatakan hal tersebut adalah Arya, maka seketika membuat hatinya menjadi berbunga-bunga. Sebenarnya Liu Wei sendiri menyukai Arya pada saat pertama kali mereka bertemu, namun entah kenapa dirinya tidak bisa bersikap manis kepada pria yang di sukainya tersebut.
"Hei kenapa kau malah diam...?" Suara Arya menyadarkan lamunan Liu Wei.
"Itulah alasan mengapa aku menutup wajahku, karena wajahku adalah kutukan bagiku, karena wajah ini pula kedua orang tuaku terbunuh."
"Semua pria sama saja, menilai wanita hanya dari parasnya." Liu Wei kembali menyerang dan meningkatkan kecepatan pedangnya.
15 menit berlalu, Arya masih terus menghindari setiap serangan yang di lancarkan oleh Liu Wei. Arya bahkan tidak membalas satupun serangan, justru pemuda itu malah terlihat seperti sedang bermain-main.
Mendapati serangannya sia-sia dan hanya menguras tenaganya, Liu Wei akhirnya berhenti dan menyarungkan kembali pedang miliknya.
"Kau menang." Liu Wei mengatur nafasnya yang memburu, dia sadar jika kemampuannya masih jauh di bawah Arya.
Arya kemudian berjalan mendekati Liu Wei. Setelah jarak mereka dekat, dia meminta Liu Wei untuk meminjamkan pedang miliknya. Namun yang di dapatkan pemuda itu malah sebaliknya. Liu Wei justru tiba-tiba melayangkan sebuah pukulan ke tubuhnya.
"Rasakan itu... itu adalah hadiah karena kau telah membuatku marah. Kembalikan cadarku." Bentak Liu Wei namun dengan nada pelan.
"Kau tidak perlu menyembunyikan wajahmu lagi, aku sudah melihatnya. Dalam hidup, kamu harus melupakan apa yang telah pergi, hargai apa yang masih dimiliki, dan menanti apa yang akan menghampiri." Arya bangkit lalu kembali mendekat dan meraih pedang yang di genggam Liu Wei.
"Cara memegang pedangmu hanya akan membuat pergerakanmu kaku dan menguras tenagamu. Jangan hanya mengandalkan mata saat bertarung, hati juga harus terlibat didalamnya. Keahlian sebenarnya bukan seperti api yang membara, jika tidak memiliki ketenangan maka pedang akan menjadi tumpul. Berlatih dengan seribu pedang sekalipun tak akan bisa mengalahkan seseorang yang berlatih dengan pedang dihatinya." Ucap Arya sambil memperagakan jurus pedang yang di miliki Liu Wei.
Penjelasan tersebut membuat Liu Wei diam-diam kagum pada pemuda itu, sampai ia tidak sadar jika Arya dapat memperagakan jurus pedang miliknya.
Arya menghentikan gerakan pedangnya, lalu berjalan mendekati Liu Wei dan kemudian menepuk pundak gadis tersebut. "Pegang pedangmu seperti ini, pegangan pedang seperti ini lebih cocok dengan jurus pedang yang kau miliki. Apa kau sudah paham?" Ucap Arya sambil memperlihatkan kepada Liu Wei cara memegang pedang, setelah itu memberikan kembali pedang tersebut kepada pemiliknya.
"Kalau begitu lanjutkanlah latihanmu, aku tak akan mengganggumu. Aku akan pergi untuk membersihkan diri." Arya melangkahkan kakinya berniat meninggalkan tempat tersebut.
"Tunggu.. tunggu sebentar, aku butuh bimbingan darimu. Karena aku merasa, kau lebih mengerti soal seni berpedang. Aku harus lebih kuat agar bisa memenangkan kompetisi turnamen yang akan di adakan 5 hari lagi." Liu Wei tidak berani menatap wajah Arya, karena merasa bersalah dan tidak enak hati sebab selama ini ia selalu bersikap tidak baik pada pemuda tersebut.
"Hmmmm... Kenapa kau berubah menjadi lembut seperti ini? Ah... Yasudah, aku akan menemanimu dan memberikan sedikit pengarahan dalam latihanmu." Arya mendekatkan wajahnya ke wajah Liu Wei.
"A...aaa.. apa yang ingin kau lakukan?" Pelik Liu Wei tersentak dan lalu mengalihkan wajahnya untuk menutupi rona merah di pipinya karena malu.
"Hahaha... kenapa wajahmu tiba-tiba memerah? apakah kau sedang demam?" Arya lalu meletakkan telapak tangannya ke dahi gadis itu.
"Singkirkan tangan kotormu dariku!" Liu Wei menepis tangan Arya. tanpa disadarinya, dia telah melayangkan tamparan ke wajah pemuda itu.
"Apakah seperti ini caramu membalas kebaikanku yang telah bersedia mengajarimu." Arya mengelus pipinya yang memerah sebab terkena tamparan tersebut.
Liu Wei yang merasa bersalah karena tanpa sengaja telah melayangkan tamparan. Dia kemudian mendekat dan mengelus pipi Arya yang terlihat memerah bekas cap telapak tangannya. Tetapi tanpa di sengaja tatapan mereka bertemu, pada saat itu pula Liu Wei merasakan ada getaran di hatinya. tanpa sadar gadis itu menutup matanya dan mendekatkan wajahnya kepada Arya.
"Hei apa yang kau lakukan!" Arya sedikit meninggikan suaranya sambil memukul kepala Liu Wei pelan.
"Eh... Ma... Maa.. Maaf aku tidak bermaksud..." Liu Wei menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu berlari menjauh.
"Hei gadis bodoh... Kau mau pergi kemana. Katanya kau ingin berlatih."
Teriakan Arya tersebut membuat Liu Wei berhenti berlari.
Setelah Liu Wei kembali mendekat, Arya kemudian bertanya dengan memasang muka polos. "Sebenarnya saat mendekatkan wajahmu padaku, apa yang ingin kau lakukan?"
"Ah ti..tidak... aku hanya tidak sengaja." Liu Wei menunduk sambil menggaruk kepalanya canggung.
"Yasudah cepatlah berlatih, badanku sudah lengket sekali dan ingin secepatnya merasakan sejuknya air.." Arya lalu mengeluarkan pedang dengan kualitas yang sama dengan pedang milik Liu Wei dari cincin ruang miliknya.
_________
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 210 Episodes
Comments
Iwan Arema
😊😊😊🥰🥰🥰
2024-04-15
0
Akira
naah gw setuju dgn kata" yg di buat otor ini dari mc nya, jadi harus nya otor juga bs membuat mc melupakan masa lalu nya dan menerima apa yg di jalani untuk mc dgn identitas baru nya sebagai Li Xian tanpa ada nama arya lagi, lagi, jd jgn bisa berucap tapi tdk bs menyesuaikan atau menerapkan nya 😁
2024-03-15
1
Harman LokeST
kreeeeeeeeeeeeeeeeeeeeennnnnnnnnnnnn
2024-01-31
2