Sambil menunggu pesanannya datang. Arya saat ini masih menikmati pemandangan yang ada desa bunga matahari.
Tiba-tiba terdengar suara di dekatnya. Kemudian Arya menoleh ke arah sumber suara tersebut. Pemuda itu mendapati ada dua gadis yang sempat ditemuinya ketika berada di dalam hutan saat dirinya sedang menuju ke desa ini.
"Kita bertemu lagi tuan, bolehkah kami berdua bergabung dengan anda?" Tanya wanita itu sambil tersenyum ramah.
"Ternyata kalian lagi... Boleh saja, mari silahkan duduk." Arya balas tersenyum.
Kedua wanita itupun lalu duduk di depan Arya. setelah itu mereka memanggil pelayan kedai, untuk memesan beberapa makanan.
"Kalau boleh tau, nona-nona ini berasal darimana?" Tanya Arya membuka obrolan.
"Kami berdua sebenarnya adalah murid dari sekte bunga matahari yang ada di desa ini tuan.. kalau boleh juga kami tau, tuan sendiri berasal darimana?" Balas gadis tersebut.
Arya nampak sedang berfikir, untuk memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Jelas saja Arya tidak mungkin menjawab yang sebenarnya, jika dirinya berasal dari hutan kematian.
Kemudian Arya pun bertanya kepada dewa petir melalui telepati "Dewa petir.. Aku harus menjawab apa?"
"Jawab saja dirimu dari kota Huanxi." balas Dewa petir.
"Tuan... tuan.. kenapa anda diam saja.?" Ucap gadis tadi sambil mengerutkan dahinya.
"Eh... Tidak.. tidak... Aku hanya sedang mengingat-ingat perkataan dari pelayan disini tadi,... kalau tidak salah tetua dari sekte kalian ada yang sedang sakit, Apakah itu benar?... Oh iya... aku berasal dari kota Huanxi." Arya beralasan.
"Emmm... Sepertinya anda adalah seorang pendekar?.. Memang benar yang dikatakan pelayan disini, tetua kami memang saat ini sedang sakit.. Dia sebenarnya adalah guru kami berdua. Kami keluar dari desa diberi tugas untuk mencari tumbuhan obat-obatan serta tabib untuk menyembuhkan guru kami." Gadis tersebut menjelaskan.
"Kalau dibolehkan, apakah aku boleh mencoba mengobati guru kalian?" Tanya Arya dengan senyuman ramah.
"Apakah kau seorang Alkemis? Jika bukan, sebaiknya jangan coba-coba... nanti yang ada kau malah memperburuk penyakit guru kami." Ucap gadis bercadar dengan nada sinis.
"Kau itu bagaimana sih, seharusnya kita berterimakasih pada orang yang mau membantu mengobati guru kita." Balas gadis lain yang berada disebelahnya.
"Kalau boleh kami tau siapa nama tuan?" Tanya gadis itu setelah mengalihkan pandangannya ke arah Arya.
"Namaku Arya Pamungkas. Kalau nama nona-nona sendiri?"
"Arya Pamungkas? Aku tidak pernah mendengar ada nama seperti itu. Kalau namaku Sun Yu, dan ini adik seperguruanku, namanya Liu Wei." Ucap gadis yang bernama Sun Yu sambil mengerutkan dahinya, lalu memperkenalkan nama mereka berdua.
"emmmmm itu... ya itu nama yang di berikan oleh guruku, sedangkan nama asliku Li Xian. Aku sendiri lebih suka dengan nama yang diberikan oleh guruku. Panggil saja aku Arya." Ucap Arya nampak sedikit canggung kemudian diakhiri sebuah senyuman.
Senyuman Arya tersebut mampu membuat mereka berdua tidak lagi memikirkan mengenai keanehan dari namanya. Beberapa saat kemudian, nampak terlihat beberapa pelayan sedang berjalan ke arah meja mereka sambil membawa makanan yang sudah mereka pesan.
Setelah pesanan mereka sudah disuguhkan. Arya kemudian meminum guci arak yang dia pesan sebelumnya. Belum ada setengguk arak yang dia minum, dia tiba-tiba menyemburkan arak itu keluar dari mulutnya. Untung saja semburan tersebut tidak mengenai kedua wanita yang ada di hadapannya.
"Minuman apa ini? Katanya minuman terbaik di desa ini. Tapi rasanya sangat tidak enak, pahit dan panas sekali. Huuuuh..." gerutu Arya dalam hati sambil mendengus kesal.
Melihat kejadian tersebut, si pelayan yang tadi mengantarkan pesanan, bergegas menghampiri Arya. "Maaf tuan... Apakah araknya tidak enak, atau tuan ingin memesan minuman yang lain?" Tanya pelayan itu merasa bersalah.
"Tidak... Tidak... Aku tadi hanya tersedak saja karena terlalu terburu-buru meminumnya." Jawab Arya yang tidak ingin membuat si pelayan kedai itu merasa bersalah.
"Hahaha dasar bocah... Arak itu adalah minuman yang paling disukai oleh para pendekar dan juga para dewa... Kau malah memuntahkannya. Haha.." Ucap dewa petir sambil tertawa melalui telepati.
"Aku tidak suka dengan minuman ini... Kalau kau mau, minumlah saja." Balas Arya melalui telepati.
"Bodoh... Mana ada roh yang bisa minum.. Lagipula, di langit juga ada banyak arak yang jauh lebih enak daripada arak buatan manusia. Ngomong-ngomong soal arak, aku jadi haus... Sepertinya, aku akan kembali dulu ke langit, Daaaa..." Jawab Dewa petir.
"Hei tuan... Kenapa anda suka sekali melamun? Kalau anda tidak suka dengan araknya, biar arak itu buatku saja hehe..." Ucap Sun Yu sambil tertawa kecil.
"Oh silahkan... Aku lupa kalau aku tidak suka minuman semacam ini." Jawab Arya sambil memberikan guci yang berisi arak pada Sun Yu.
Setelah selesai menyantap makanan mereka masing-masing, Arya kemudian kembali bertanya kepada kedua gadis tersebut.
"Jadi apakah boleh aku mencoba mengobati guru kalian?"
Sun Yu mengangguk "Kami sangat berterimakasih pada tuan karena bersedia membantu guru kami. Seandainya tuan bisa menyembuhkan guru kami, maka sekte kami akan sangat berterimakasih dan memberikan hadiah buat anda tuan." Ucapnya sambil tersenyum.
"Jangan panggil aku tuan, panggil saja aku Arya atau Li Xian... terserah kalian saja, asal jangan memanggilku tuan." Kata Arya dan lalu beranjak berdiri berjalan mendekati meja kasir.
"Apakah ini cukup untuk membayar makanan kami?" Tanya Arya pada pria yang berada di meja kasir sambil memberikan 2 keping koin emas.
"Ini terlalu banyak tuan..., Begini saja, aku akan mengambil satu koin ini.. Mohon tuan tunggulah sebentar, kami akan mencarikan kembaliannya." Ucap pria itu terbata-bata.
"Simpan saja kembaliannya untukmu." Jawab Arya santai dengan menyunggingkan senyuman.
"Ada apa Arya?" Tanya Sun Yu sambil mendekati Arya dan hendak membayar pesanan mereka.
"Tak usah nona, tuan ini sudah membayar semua makanan kalian." Ucap penjaga kasir sambil melirik ke arah Arya.
"Terimakasih Arya, padahal kau tidak perlu repot-repot mentraktir kami. Kami bisa membayarnya sendiri." Ucap Liu Wei dengan nada datar.
"Ah anggap saja itu sebagai perkenalan kita." Balas Arya.
Mereka bertiga akhirnya melanjutkan perjalanan bersama. dalam perjalanan itu Arya banyak bertanya mengenai kehidupan desa bunga matahari.
"Apakah kalian tau dimana letak Sekte lembah petir?" tanya Arya kepada kedua gadis tersebut.
"Sekte lembah petir?... aku pernah mendengarnya. tapi kami tidak tahu dimana lokasi sekte itu berada, karena kami memang tidak izinkan keluar jauh dari sekte kami." jawab Sun Yu.
"Jadi begitu ya." ucap Arya pelan.
"Nanti kau tanyakan saja pada tetua kami, mereka pasti tau dimana letak sekte lembah petir yang kau cari." ucap Liu Wei dengan nada sinis.
"Kenapa kelihatannya kau tidak suka denganku, apa aku pernah berbuat salah padamu?" Arya mengerutkan dahinya.
"Maafkan atas sikap adik seperguruanku ini Arya. dia memang seperti itu, tapi sebenarnya dia adalah gadis yang baik." ucap Sun Yu dengan menunjukkan sikap bersalah.
Arya tak membalas ucapan Sun Yu, dia hanya memandangi wajah Liu Wei yang tertutup cadarnya. Dalam hati, Arya merasa penasaran kenapa gadis itu menutupi wajahnya dengan cadar. Padahal jika di lihat dari matanya, sepertinya gadis bercadar itu memiliki paras yang cantik.
Mereka masih melanjutkan perjalanannya dengan perbincangan ringan, sementara Liu Wei sendiri lebih banyak diam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 210 Episodes
Comments
Iwan Arema
🤔🤔
2024-04-14
1
Akira
saya lebih srek dan suka nama nya Li Xian, karena mc sudah menempati tubuh baru, tapi seperti nama arya bakal tetep di pakai
2024-03-15
1
Harman LokeST
Li Tian banyak bertanya tentang desa bunga matahari
2024-02-28
0