Malam itu setelah kepergian Zhen Long, Arya melesat ke arah tempat dimana dia biasanya berlatih. Pemuda itu berniat menghabiskan waktu dengan berlatih supaya kesedihannya sedikit berkurang.
Berjam-jam diapun berlatih hingga malam mulai menjelang pagi. Kemudian Arya memutuskan untuk masuk ke dalam alam jiwanya, sebab dia berpikir akan jauh lebih efesien jika dirinya berlatih di dalam sana sebab memang waktu di alam jiwa beberapa kali lebih lambat dari dunia nyata.
Arya melanjutkan pelatihannya di alam jiwanya, sudah beberapa kali dia gagal menguasai jurus-jurus yang sedang ingin dia pelajari. Itu semua di sebabkan fikirannya saat ini sedang tidak bisa fokus, pemuda itu masih dibayang-bayangi kesedihan akan perpisahannya dengan sang kakek.
Karena merasa pelatihannya kali ini tidak membuahkan hasil, Arya akhirnya menghentikan latihannya dan memanggil Dewa Petir.
"Ada apa kau memanggilku, bocah?" Ketus Dewa Petir dengan muka masam.
"Temani aku, aku sedang kesepian hehe.." balas Arya sambil tertawa kecil.
"Seenak saja kau memanggilku, padahal aku sedang ada urusan di langit. Tapi ya sudah, karena aku sudah berada disini. Aku akan menemanimu" ucap Dewa Petir terlihat agak jengkel.
"Apakah kau mempunyai teman di langit?" Tanya Arya memasang wajah polos.
"Tentu saja, aku punya banyak teman di sana. Aku juga mempunyai anak dan istri tau, maka dari itu aku tirak bisa selalu ada di sampingmu... namun walau begitu, aku selalu mengawasi mu di atas sana."
"Oh... Bagaimana jika kau memperkenalkan teman-temanmu itu padaku. Biar aku bisa mempunyai banyak teman. hehe.." ujar Arya sambil tertawa.
"Para Dewa, tidak bisa seenaknya turun ke alam manusia. kau carilah teman di alammu sendiri." Jawab Dewa Petir sambil mengerutkan dahinya.
"Tapi aku tak mengenal siapapun orang yang ada di dunia ini." Arya menundukkan kepalanya. Dia lalu melanjutkan "oh iya... bagaimana caranya agar aku bisa memasukkan semua pohon sumberdaya dan tanaman-tanaman obat ke cincin ruang semesta?"
"Kau hanya perlu memikirkan barang ataupun benda yang ingin kau masukkan ke dalam cincinmu itu, lalu setelahnya arahkanlah cincinmu itu ke benda tersebut" ujar Dewa Petir menjelaskan.
"Jika hanya seperti itu, aku juga sudah tau. Maksudnya apakah pohon-pohon itu bisa hidup di dalam cincin ruang semesta milikku." Tandas Arya yang tidak puas atas jawaban dari Dewa Petir.
"Tentu saja bisa, cincin ruang semesta adalah pusaka langit. Beberapa batu seperti itu tersebar di berbagai planet di alam semesta ini, tapi setiap planet hanya terdapat paling banyak 3 cincin seperti itu. Sementara planet ini sendiri hanya terdapat 2 cincin saja.. hal inilah yang menjadi alasan mengapa kakekmu selalu di kejar-kejar para pendekar. makanya, dia menyuruhmu untuk menyembunyikan keberadaan cincin itu dari siapapun." Jawab Dewa Petir panjang lebar.
Arya hanya terdiam, dia nampak sedang berpikir kalau kakeknya saja sampai melarikan diri, bagaimana dengan nasibnya jika sampai para pendekar itu mengejarnya.
"Tentu saja kau akan di kejar para pendekar jika mereka sampai melihat ataupun mengetahui jika kau memiliki cincin itu." Ucap Dewa Petir.
"Haaaaahhh... Kau bisa membaca pikiranku?” Tanya Arya dengan wajah kebingungan.
"Tentu saja bodoh, bukankah beberapakali aku sudah pernah membaca pikiranmu. Oh iya... Sepertinya di dalam cincin ruang semesta milikmu juga terdapat sebuah cincin ruang biasa, yang juga mempunyai fungsi untuk menyimpan barang-barang. Sekarang kembalilah ke alam duniamu, kita akan membahasnya lagi di sana." Setelah mengatakan demikian, Dewa Petir lalu menghilang dari hadapan Arya.
Arya pun lalu memusatkan pikirannya untuk kembali ke dunianya. Sesaat setelah membuka mata, ternyata Dewa Petir sudah berada di sampingnya.
"Keluarkanlah cincin ruang yang ada di dalam cincin ruang semesta di tanganmu." Ucap Dewa Petir sambil menunjuk cincin di tangan Arya.
Kemudian Arya mengibaskan tangannya. sesaat setelah itu, benar saja, sebuah cincin sudah berada di telapak tangannya. Karena bingung Arya pun bertanya; "Lalu apa maksudnya dengan semua ini?"
"Kau lepaskan saja cincin ruang semesta milikmu, dan gantilah dengan cincin ruang biasa itu. Sebelum itu keluarkanlah dulu semua harta yang ada di dalam cincin ruang semesta." Dewa Petir memberi arahan.
Meski bingung Arya hanya bisa menuruti perkataan dari Dewa Petir. pemuda itu lalu mengibaskan kembali tangannya, yang seketika itu pula muncullah beberapa gunungan koin emas, perak dan perunggu. Juga terdapat pula beberapa batu, pusaka, senjata serta kitab-kitab kuno.
"Wah ternyata kakekmu kaya juga, kenapa dia tidak menggunakan semua hartanya itu untuk membuat sebuah istana dan mencari banyak istri. Dia justru malah lebih memilih menyendiri... memangnya apa enaknya hidup membujang, benar-benar bodoh. Hahaha" Dewa petir tertawa kecil.
"Lalu, selanjutnya aku harus bagaimana?" Tanya Arya memasang wajah bingung.
"Tentu saja kau gunakanlah semua harta itu untuk mencari banyak istri." Tandas Dewa Petir memasang wajah serius.
"Haaaaahhh... Aku tidak mengerti apa maksudmu" Arya menggaruk kepalanya dengan wajah bingung.
"Dasar bocah bodoh... Masukkanlah kembali semua harta itu ke dalam cincin ruang yang satunya. Lalu lepaskan cincin ruang semesta di tanganmu, setelah itu teteskanlah darahmu ke telapak tanganmu dan bentuklah sebuah formasi... Jika sudah, ucapkanlah mantra yang akan ku ajarkan padamu."
Setelah selesai menjelaskan, Dewa Petir lalu memberikan sebuah mantra dan teknik formasi kepada Arya.
Arya pun lalu menuruti semua arahan dari Dewa Petir tersebut. Setelah dia memasukan kembali semua gunungan harta di hadapannya, pemuda itu kemudian menggenggam cincin ruang semesta di telapak tangan kanannya. Barulah setelah itu dia menggambar sebuah formasi dengan cairan darahnya pada telapak tangannya, lalu dia mengucapkan mantra yang telah di ajarkan oleh Dewa Petir.
Beberapa saat setelah Arya mengucapkan mantra. Telapak tangannya yang memegang cincin ruang semesta mulai mengeluarkan cahaya kebiruan. Perlahan cahaya itupun memudar, terlihat kini telapak tangan kanannya tergambar sebuah ukiran tatoo.
"Sekarang cincin itu telah menyatu dengan tubuhmu, kau tidak perlu khawatir lagi. Kau bisa menciptakan dunia kecil di ruang dimensi milikmu... dan satu lagi, kau bisa membuka portal dimensi ruang milikmu dengan mantra yang telah aku ajarkan kepadamu." Dewa petir menjelaskan.
"Apa maksud dari semua ini? dan kenapa aku bisa memiliki dimensi sendiri?” Tanya Arya mengerutkan dahinya kebingungan.
"Sebenarnya cincin ruang semesta adalah batu ruang dan waktu. Sedangkan cincin atau apapun batu yang bisa menyimpan beberapa barang, hanyalah sebuah batu ruang tanpa adanya hukum waktu didalamnya. Sebab itulah batu ruang tidak bisa digunakan untuk memasukkan benda hidup, karena disana tidak ada hukum waktu."
"Sebelumnya cincin ruang semesta adalah sebuah batu meteor yang super besar yang bernama batu dimensi. karena batu itu mempunyai kekuatan yang luar biasa untuk memanipulasi ruang dan waktu, bahkan bisa menghidupkan orang yang sudah mati dan juga memberikan keabadian.
Maka dari itulah, batu tersebut menjadi incaran para Iblis dan para Dewa yang terobsesi pada kekuatan dan kekuasaan. Sang Maha Kuasa lalu memutuskan untuk memecah batu tersebut menjadi ratusan juta kepingan batu. 70 batu diantaranya adalah inti dari batu itu, dan planet ini menyebutnya sebagai batu ruang semesta. Jika di tempat yang lain, batu ini mempunyai sebutan yang lain pula. sementara ratusan juta pecahan batu lainnya di sebut batu ruang. Semua pecahan batu dimensi tersebut tersebar ke puluhan ribu planet di alam semesta. Apa sekarang kau sudah paham, bocah?" Dewa Petir menjelaskan panjang lebar mengenai asal mula batu ruang semesta.
"Iya aku paham" balas Arya singkat.
"Setelah aku menjelaskan panjang lebar seperti itu, kau hanya menjawabku begitu saja. Huh dasar bocah tengik,.. sekarang kau praktekan saja apa yang sebelumnya telah aku jelaskan. Masukkan semua tanaman obat-obatan milik kakekmu itu ke dalam ruang dimensi milikmu. Oh iya... Pecahan Batu dimensi milikmu mempunyai ukuran waktu 1/30, yang artinya satu hari di dunia nyata sama dengan 30 hari di dalam dimensimu... Semua itu pasti sangatlah berguna bagi pertumbuhan semua sumberdayamu, agar bisa berkembang dengan lebih cepat." Ucap Dewa Petir lagi-lagi menjelaskan panjang lebar.
"Iya iya... aku sudah paham,.. tapi, apakah kau tidak capek menjelaskan panjang lebar seperti itu? Kau seperti sedang mendongeng saja. Aku malah jadi mengantuk mendengarkan semua ocehanmu itu." Ucap Arya sambil menguap.
"Kadal buntung, bukannya berterimakasih atau apa. kau malah mengabaikan ku... Informasi dari seorang Dewa itu sangat langka dan mahal tau... Jika kau mengantuk, kenapa kau semalaman tidak tidur bodoh... malah menyuruhku datang untuk menemanimu" Hardik Dewa Petir dengan memasang wajah kesal.
"Hehehe... Maaf, maaf... Dasar Dewa cerewet... Sudah lah, jika bicara terus seperti ini, lalu kapan aku memulai prakteknya."
"Ya sudah kalau begitu, kau praktekan saja sana sendiri. Aku akan kembali ke langit." Setelah mengatakan demikian, Dewa petir lalu berubah menjadi Kilauan cahaya dan menghilang seolah lenyap seperti setan.
"Dasar dewa crewet, tukang ngambek" gerutu Arya pelan setelah Dewa Petir menghilang.
"Apa yang kau bilang barusan... bocah?" Bentak Dewa Petir melalui telepati sebab tidak terima di ejek seperti itu.
"Eh tidak.. tidak.. Oh.. Iya.. maafkan aku dewa crewet.." balas Arya melalui telepati sambil terkekeh pelan.
_____________
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 210 Episodes
Comments
Iwan Arema
🤣😂🤣😂🤣😂
2024-04-07
2
Harman LokeST
seperti orang pintar saja Arya ini pada bodoh sekali tidak di penjelasan justru penjelasan itu ia tidak hargai
2024-02-28
2
Harman LokeST
Arya bila seorang dewa menjelaskan tolong di perhatikan dengan seksama jangan suka membantah
2024-01-31
4