Kini malam sudah berganti pagi, Arya terbang menuju ke gubuknya untuk memasukkan semua tanaman obat-obatan ke dalam ruang dimensi miliknya. Setelah semuanya dimasukkan, Arya kembali melangkah untuk menuju ke lembah hutan kematian. Pemuda itu berniat mencari beberapa pohon sumberdaya dan juga memasukkannya ke dalam ruang dimensinya.
Tapi sebelum memasuki lembah hutan kematian, Arya terlebih dahulu menuju ke tepi sungai. Dia kembali teringat masa dimana saat-saat dirinya masih bersama Zhen Long beberapa tahun yang lalu, mereka sering memancing atau menangkap ikan di sungai tersebut.
Arya memutuskan untuk menangkap ikan sekaligus untuk membersihkan badannya terlebih dahulu. Tak membutuhkan waktu lama, pemuda itu sudah menangkap 4 ekor ikan yang lumayan besar. Memang Arya berfikir sebelum memasuki lembah hutan kematian, alangkah baiknya dia sarapan untuk sekedar mengganjal perutnya.
Setelah memakan 4 ekor ikan yang berhasil di tangkapannya. Arya langsung melesat terbang dengan cepat ke arah tempat pohon sumberdaya yang di ingatnya beberapa waktu yang lalu saat ia sedang berburu di dalam lembah hutan kematian.
Butuh waktu beberapa jam untuk memasukkan semua pohon sumberdaya yang telah ditemukannya tersebut, namun dia tidak berhenti sampai disana, dia terus menyisir area hutan lembah kematian guna mencari beberapa sumberdaya lainnya.
Arya juga memasukkan beberapa pohon yang terdapat sarang lebah madu giok ke dalam dimensinya, karena madu giok sendiri berkhasiat memperkuat tubuh, memulihkan stamina dan juga menambah tenaga dalam.
Setelah mendapatkan semua yang di inginkannya, ternyata dia masih terus menyisir hutan tersebut sampai pada kedalaman yang belum pernah di jamahnya sama sekali.
Arya memang sudah menekan auranya agar tidak bisa terdeteksi oleh para siluman sejak awal memasuki hutan ini. Selama sedang mencari sumberdaya, dia beberapakali sempat bertemu dengan beberapa siluman, tapi Arya tidak berniat mengambil mustika-mustika siluman tersebut, dia justru malah selalu menghindar dan mengambil jarak, karena bagaimanapun dia tidak ingin membuang-buang waktu dan tenaganya. Sebab prioritas utamanya saat ini adalah mengumpulkan semua sumberdaya.
Semakin Arya memasuki kedalaman hutan, cahaya matahari mulai meredup. Itu semua karena cahaya matahari tidak dapat menembus lebatnya pepohonan besar yang begitu rindang dan banyaknya, sampai-sampai pohon-pohon tersebut juga mampu menutupi akses jalan masuk terlalu dalam ke area kedalaman hutan tersebut. Melihat hal itu, Arya memilih melanjutkan perjalanannya dengan melompati pohon demi pohon.
Arya tiba-tiba merasakan aura yang begitu besar, sampai-sampai dalam jarak yang masih begitu jauh, dia tetap merasakan tertekan dikarenakan pancaran energi tersebut. Energi itupun juga sanggup membuat tubuhnya bergetar, serta merasa berat untuk melangkah maju mendekati sumber energi itu.
"Sebenarnya energi apa ini, kuat sekali?" Gumam Arya dalam hati sambil mengalirkan energi ke seluruh tubuhnya agar mengurangi tekanan yang sebabkan energi itu.
Beberapa siluman terlihat berlarian menjauhi pusat lokasi yang memancarkan aura yang luar biasa hebat tersebut.
Karena penasaran, Arya tetap melangkahkan kakinya untuk mendekati sumber aura besar itu. Sampai akhirnya, pemuda itu mendengar sebuah suara seperti sedang terjadi sebuah pertarungan.
Setelah memperpendek jarak hingga sekitar 500 meter dari pusat pertarungan tersebut. Arya bisa melihat dengan jelas semua yang terjadi disana, itu semua dikarenakan Arya menggunakan jurus Panca Indera Naga Emas, yang membuat panca inderanya jauh lebih tajam dan lebih sensitif.
Arya kemudian memanggil Dewa Petir. "Kenapa mereka bertarung satu sama lain?" Tanyanya sesaat setelah Dewa Petir muncul di sampingnya.
"Lima binatang itu tidak lain adalah Raja para siluman... Ini sangat berbahaya, kau harus lari sejauh mungkin dari tempat ini. Mereka bukanlah tandinganmu, karena mereka semua berada di tahap Pendekar Suci." Ujar Dewa Petir cemas. Lalu melanjutkan "Kelihatannya, mereka sedang memperebutkan daerah kekuasaan."
"Sebentar... Kita tunggu dulu disini...! kita amati siapa yang akan menang. Setelah hanya tersisa satu di antara mereka, kita ambil kesempatan itu untuk menyerang siluman yang tersisa. Pastinya, mustika dari Raja siluman itu akan sangat membantuku untuk meningkatkan Kultivasi." Kata Arya melalui telepati.
"Apa kau sudah gila... Bahkan jika hanya tertinggal satu Raja siluman saja, kau tidak mungkin akan bisa mengalahkannya. Lebih baik kita pergi menjauh dari sini, mendekatinya hanya akan membuatmu terbunuh." Balas Dewa Petir yang tidak setuju dengan pemikiran Arya.
"Kenapa aku harus takut.. Setelah hanya tersisa satu Raja siluman saja, energi mereka pasti hanya tersisa sedikit setelah melakukan pertarungan. Jika aku tidak bisa mengatasi mereka, bukankah kau pasti akan membantuku." Arya tersenyum tipis kepada Dewa Petir.
"Tidak ku sangka bocah sepertimu ternyata licik juga... Kau tak bisa selalu mengandalkan orang lain terus menerus. Belajarlah menyelesaikan masalahmu sendiri. Aaaahh... Tapi itu tidak masalah.. aku suka cara berfikirmu ini, setelah kau mendapatkan mustika Raja siluman itu, pasti perkembangan kultivasimu akan meningkat tajam dan tugasku sendiri akan cepat selesai. Hahaha..." Dewa Petir tertawa sambil menatap pertarungan para Raja siluman.
Setelah menunggu beberapa jam sampai hari sudah menjelang sore, pertarungan merekapun akhirnya berakhir, dan menyisakan satu Raja siluman kera hijau yang terluka parah akibat pertarungan tersebut.
Tak ingin membuang waktu, Arya langsung melesat cepat menyerang menggunakan Jurus Kilat Naga Emas yang di kombinasikan dengan Jurus Pusaran Angin Naga.
Sebelum serangan Arya berhasil mengenai sasaran, Raja siluman kera hijau tersebut mampu menangkisnya dengan menggunakan kedua tangannya. namun dikarenakan energi yang dimiliki siluman itu sudah terkuras, tangkisan Raja siluman itupun tidak dapat menahan terlalu lama serangan dari Arya. Hingga akhirnya kedua lengan Raja siluman kera hijau itupun terpotong.
Aaaaarrggg....
Melihat serangan yang tiba-tiba mengarah kepadanya dan berhasil membuat kedua lengannya terpotong. Raja siluman kera hijau itupun menjadi sangat murka, dan dengan cepat menyerang balik dengan membabi-buta.
Raja siluman itupun menyerang Arya tanpa menggunakan kedua lengannya yang telah terpotong. Akan tetapi Arya tetap tidak bisa mengimbangi kecepatan serta kekuatan dari serangan yang di lancarkan oleh Raja siluman tersebut. Bahkan beberapa kali Arya tidak bisa menghindari serangan dari Raja siluman tersebut, dan akhirnya dia harus rela mendapatkan tendangan demi tendangan bahkan beberapa kali ia sampai harus memuntahkan darah.
Sampai akhirnya Arya kembali terpental mundur dan mengeluarkan banyak darah dari hidung serta mulutnya. Baju yang di kenakannya pun kini terlihat telah mengalami banyak robekan, badannya sendiri banyak bekas luka sayatan. Kalau bukan karena Arya mempunyai Jurus Sisik Naga Emas, sudah barang tentu tubuhnya telah terbelah menjadi beberapa potongan.
Arya kemudian melompat mundur untuk mengambil jarak dan menstabilkan kembali kondisinya. Pemuda itu berniat menggunakan kesempatan ini untuk menggunakan Jurus pertama Pernafasan Naga Emas tahap 2, yaitu untuk meregenerasi tubuhnya agar cepat pulih dari luka-luka luar.
Namun tidak berselang beberapa lama ketika Arya baru saja tengah menggunakan Jurus tersebut, dia kembali diserang oleh Raja siluman kera hijau yang sudah gelap mata karena amarahnya yang telah memuncak.
Dewa Petir yang melihat Arya sudah tidak punya waktu lagi untuk menghindari serangan tersebut. Lantas langsung bergegas merasuki tubuh Arya, dan dengan satu tangan milik Arya yang telah dirasuki oleh Dewa Petir, pemuda itu bisa menahan serangan tersebut tanpa membuat tubuhnya bergeser sedikitpun dari tempatnya.
Raja siluman kera hijau itupun terbelalak dan lalu melompat mundur, dia memperhatikan Arya secara seksama. Karena kepintaran serta instingnya yang tajam, dia memutuskan untuk tidak lagi gegabah dengan kembali menyerang. Melihat kekuatan pemuda itu saat ini tiba-tiba meningkat secara tajam setelah dirasuki oleh Dewa Petir, Raja siluman kera hijau tersebut agak gentar dan berniat untuk kabur.
Tiba-tiba muncul aura biru yang menjalar semakin meluas dari tubuh Arya, aura itu ternyata membuat gravitasi mendadak sangat berat. Dengan sisa-sisa tenaganya, raja siluman kera hijau tersebut melarikan diri.
Setelah di rasa cukup jauh, raja siluman itupun menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa Arya sudah jauh darinya.
Namun tiba-tiba Raja siluman itupun terpental saat dirinya sedang menengok ke belakang. Setelah terjatuh, siluman itupun terkejut saat mendapati jika Arya sudah berada di hadapannya.
Karena ketakutan, Raja siluman tersebut tidak punya pilihan lain selain berusaha untuk kembali melarikan diri. namun sebelum dirinya bisa kabur lebih jauh, lagi-lagi Arya sudah berada di hadapannya dan langsung melepaskan sebuah pukulan yang dengan telak menghantam tubuhnya.
Sebuah lubang kawah besar tercipta dari ledakan energi bersamaan dengan jatuhnya tubuh Raja siluman kera hijau menghantam tanah. Raja siluman itupun mencoba untuk bangkit namun usahanya sia-sia, dia lalu melirik ke arah perutnya yang terasa sangat sakit, dan ternyata perutnya saat ini telah berlubang dengan darah mengalir deras dari lubang tersebut.
Arya berjalan perlahan dengan santai mendekati Raja siluman kera hijau yang terbaring tak berdaya. "Akan ku berikan sebuah hadiah untukmu bocah." Ucap Dewa Petir melalui telepati yang masih merasuki tubuh Arya.
Dewa Petir kemudian meletakkan tangan kanannya di kepala Raja siluman kera hijau. Setelahnya, dia menyerap energi kehidupan dari Raja siluman itu sampai habis. Beberapa saat kemudian, tubuh siluman tersebut tewas hanya menyisakan kerangka tulangnya saja.
Setelah membereskan Raja siluman kera hijau, Dewa Petir lalu melangkah menuju ke jasad para Raja siluman yang sudah terlebih dulu tewas. Kemudian ia mengambil 4 mustika siluman tersebut, sementara mustika Raja siluman kera hijau sendiri sudah habis terserap bersamaan dengan energi kehidupannya. Lalu Dewa Petir mengembalikan kesadaran Arya.
"Kekuatan Dewa Petir benar-benar mengerikan." Gumam Arya dalam hati sambil memandangi kerangka tulang siluman kera hijau.
"Itu belum seberapa bocah, makanya kau jangan berani-berani lagi meledekku seperti kemarin." Ujar Dewa dengan nada sombong melalui telepati.
"Huuuuuuffftt... Eh tapi...tapi.. Mengapa badanku sekarang terasa lebih ringan dan lebih banyak energi daripada sebelumnya?” Arya memperhatikan tubuhnya dengan ekspresi kebingungan.
"Itu semua, karena aku telah menggunakan tubuhmu untuk menyerap energi kehidupan dari siluman kera kecil itu. Dan sekarang kau sudah naik ke tahap Pendekar Panglima tingkat puncak.... Sebentar lagi kau akan menerobos ke tahap Pendekar Raja, setelah kau menyerap energi mustika Raja siluman di tanganmu itu." Jelas Dewa Petir.
Arya hanya hanya mengangguk dan lalu memasukkan mustika Raja siluman tersebut ke dalam cincin ruang miliknya. Setelahnya, dia menatap ke area sekelilingnya yang telah hancur dan banyak pohon yang tumbang dimana-mana. Namun pandangannya langsung tertuju pada 3 pohon yang masih berdiri kokoh, dan jarak pohon satu dengan pohon yang lain tidak begitu jauh.
"Wow... Tidak ku sangka, disini ada pohon sumberdaya yang begitu langka, yang hanya bisa berbuah setelah seribu tahun lamanya... Jadi ternyata, para Raja siluman itu selain memperebutkan wilayah kekuasaan, mereka juga mengincar pohon langka yang sudah berbuah ini." Gumam Arya dalam hati dengan mata yang berbinar-binar mengamati 3 pohon langka tersebut.
Pohon itu tidak lain adalah pohon Taring Naga merah, anggur kristal giok hijau, dan labu api biru.
Arya mengetahui semua jenis-jenis sumberdaya dan tanaman obat serta manfaatnya, karena ia telah belajar dari kitab pengobatan surgawi yang diberikan Zhen Long kepadanya.
Setelah selesai memindahkan ketiga pohon sumberdaya langka tersebut, Arya lalu kembali terbang melesat cepat ke arah tepi sungai yang lokasinya tidak jauh dari gubuk tempat tinggalnya.
Arya kemudian mandi untuk membersihkan tubuhnya yang telah lengket akibat keringat dan darah, sehingga menimbulkan bau anyir yang tidak sedap.
Sesudah bersih dari segala kotoran yang menempel ditubuhnya, Arya juga tidak lupa mengganti pakaiannya. Kini penampilan pemuda itu terlihat gagah dengan kulitnya yang seputih salju serta wajahnya yang berparas tampan. Sehingga kalau ada orang yang melihatnya, mungkin orang tersebut akan mengira jika Arya adalah seorang pangeran atau bahkan seorang dewa yang turun dari khayangan.
Arya lantas kembali ke gubuknya, yang beberapa tahun belakangan ini sudah menjadi tempat tinggalnya. Setelah sampai di depan gubuk, ia menatap gubuk itu beberapa saat sebelum melesat terbang dengan kecepatan tinggi naik ke atas.
Dipertengahan perjalanan terbangnya menuju ke atas bibir jurang kematian, Arya berhenti sambil masih tetap melayang di udara, kemudian ia membuka segel yang telah di pasang oleh Zhen Long sebelumnya.
Segel itu sendiri berfungsi untuk menyamarkan aura dan melindungi dari siapapun yang berniat ingin menerobos segel tersebut. Jika pun ada yang tetap memaksakan diri menerobos segel tersebut maka tubuhnya akan di pastikan hancur.
Setelah berada di atas jurang kematian, Arya memandangi sekitar lokasi bibir jurang tersebut. Pemuda itu kembali teringat potongan-potongan kejadian yang di alami ibu dan pemilik tubuhnya sebelum terjatuh ke dasar jurang kematian.
Beberapa saat kemudian, Arya lalu menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, pemuda itu terus berlari dan tidak menghiraukan beberapa siluman yang tengah mengawasinya.
Dalam hati Arya bergumam:
"Selamat tinggal lembah jurang Kematian, dan selamat datang dunia baru. Aku akan segera melaksanakan amanat untuk secepatnya menemui kakek."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 210 Episodes
Comments
Muhammad Fathirfadly
zazaazaaannn
2024-07-10
0
Harman LokeST
kuuaaaaaaaaaaattkkaaaannnnnnn teeeeeeeeerrrrrrrrrrruuuuuuuusssss teekaaaaaaaaaaaaaaaayaaaaaddmuuuuu Li Tian
2024-02-28
1
Reza Aditiya
masa pas pertarungan cuman isi penjelasan doang,kadang ada Suara pertarungan nya Kaya" Boom " atau Gimana gitu suara pertarungan biar seru ini mah Datar aja penjelasan doang?
2024-02-23
2