_________
Setelah 2 jam latihan bersama serta memberikan arahan untuk Liu Wei. Arya kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan gadis tersebut.
"Tunggu... Mau kemana kau?" Liu Wei setengah berlari mengejar Arya.
"Aku mau mandi, memangnya ada apa?" balas Arya singkat sambil terus melangkah maju tanpa menoleh kepada gadis tersebut.
"Aku ikut..." Ucap Liu Wei yang sudah berada di samping Arya sambil mengatur nafasnya.
"Baiklah, ayo." Ucap Arya singkat dan lalu menghentikan langkahnya melihat Liu Wei sekilas. Kemudian kembali melanjutkan langkahnya.
"Dasar bocah mesum, kau ingin mandi berduaan bersama gadis? Benar-benar bocah yang pintar mengambil kesempatan.." Dewa Petir menjitak kepala Arya sampai tersungkur ke tanah.
"Aduuuuhhh... Apa salahku?" Pekik Arya setengah berteriak. Dia melotot karena geram pada perlakuan Dewa petir sambil mengusap-usap kepalanya.
"Aku tak melakukan apa-apa, kau terjatuh sendiri bukan karena perbuatanku." Liu Wei menggaruk kepalanya sambil menatap heran kepada Arya yang tersungkur di tanah.
"Dewa sialan..." Arya menggerutu dalam hati sambil berdiri dengan masih terus mengelus-elus kepalanya.
"Apa kau bilang.... Mau aku pukul lagi?" Hardik Dewa petir dengan tangan terkepal bersiap melayangkan pukulan kembali.
"Kaisar Surga..." Teriak Arya melalui telepati. Tak berselang lama, seketika tubuh Dewa Petir roboh ke tanah sambil berteriak kesakitan.
"Rasakan itu... Selamat menikmati penderitaanmu, Dewa sialan." Arya menjulurkan lidahnya ke arah dewa petir, lalu melenggang pergi ke arah air terjun.
Melihat Arya menjulurkan lidahnya ke arah lain. Liu Wei mengalihkan pandangannya ke tempat padangan pemuda itu tertuju. "Apa pemuda ini sudah tidak waras ataukah ada sesuatu yang salah dengannya? Sayang sekali tampan-tampan tapi gila." Gumam Liu Wei dalam hati menatap Arya keheranan.
Setelah tiba di air terjun, Arya langsung membuka bajunya tapi tidak dengan pakaian yang menutupi bagian bawahnya. Pemuda itu dengan bersemangat melompat terjun ke genangan air yang berada di bawah air terjun tersebut.
Melihat tubuh Arya yang berotot membuat pipi Liu Wei kembali memerah. Dia tertegun beberapa detik sebelum menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Ooooiiii... Ada apa denganmu? Bukankah kau kesini juga ingin mandi? Ayo lah melompat sekarang! Airnya begitu segar tau." Seru Arya bersemangat sambil bermain air.
Setelah beberapa saat mendengar ucapan Arya, Liu Wei akhirnya menyusul melompat ke dalam air. Gadis itu terjun ke dalam air dengan pakaian yang masih menempel lengkap ditubuhnya.
Melihat Liu Wei sudah melompat ke dalam air. Arya dengan jahilnya mencipratkan air ke arah wajah gadis itu. Karena merasa tidak terima, akhirnya Liu Wei pun juga membalas Arya dengan cara yang sama. Dan mereka berdua malah asyik main ciprat-cipratan air.
Karena kesal sebab kupingnya kemasukan air, Arya menggunakan jurus elemen airnya. pemuda itu menciptakan seekor naga dari air terjun berniat untuk menakut-nakuti Liu Wei. Namun bukannya takut, justru Liu Wei malah begitu antusias melihat naga air yang melayang di atas mereka tersebut.
"Bisakah kau mengajariku melakukan hal itu?" Ucap Liu Wei dengan tatapan penuh harap sambil menunjuk ke arah naga air yang berada di atas mereka.
"Haahhh padahal aku ingin menghajarmu dengan naga ini, karena kau telah membuat telingaku kemasukan air, tapi melihat wajahmu seperti itu aku jadi tidak tega." Arya menggeleng dan lantas mencoba mengeluarkan air di dalam telinganya.
"Jadi bagaimana, apakah kau mau mengajariku?" Liu Wei mendekat kepada Arya lalu dia memegangi lengan pemuda tersebut.
Arya menghela nafas pelan. "Kau itu banyak maunya"
Arya kemudian meletakkan telapak tangannya ke telapak tangan gadis itu, ia melakukan hal itu untuk melihat elemen apa yang ada pada tubuh gadis tersebut.
"Hmmm... kau bisa mempelajari nya, karena kau memiliki elemen air dan petir. Nanti aku akan menuliskan beberapa jurus elemen air untukmu."
Arya kemudian melompat ke atas tebing menggunakan ilmu meringankan tubuh. pemuda itu lalu mengeringkan pakaiannya dengan mengontrol energi elemen api agar tidak sampai membakar pakaiannya.
Melihat segala hal yang dilakukan oleh Arya, perlahan Liu Wei semakin kagum pada pemuda tersebut. Entah perasaan apa yang dirasakan oleh gadis itu pada Arya saat ini. Entah itu hanya perasaan kagum atau ada perasaan yang lain yang Liu Wei sendiri tidak tahu apa itu.
"Hei lepaskan aku bocah tengik." Teriak Dewa Petir melalui telepati.
Sebenarnya memang dari tadi Arya mendengar teriakan itu berulang kali, namun pemuda itu tidak menghiraukannya, sebab dia berniat ingin memberi sedikit pelajaran untuk Dewa sialan itu.
"Ayolah naik, mau sampai kapan kau akan bengong terus seperti itu di dalam air. Hari sudah mulai gelap, kita harus segera kembali." Ucap Arya setengah berteriak kepada Liu Wei.
Liu Wei yang tersadar dari lamunannya. Ia lalu lekas-lekas melompat ke atas.
Melihat Liu Wei yang masih basah kuyup, Arya lalu berinsiatif mengalirkan energi elemen apinya ke arah badan gadis tersebut untuk mengeringkan pakaiannya.
"Apa yang kau lakukan, apa kau ingin membakarku?" Liu Wei melompat mundur mengambil jarak dari Arya.
"Apa yang kau pikirkan. Aku tidak suka makan manusia panggang, lebih enak juga ayam panggang. Ngomong-ngomong, aku malah menjadi lapar hehehe..." Arya tertawa pelan.
Liu Wei mengerutkan dahi, dia nampak sedikit ketakutan. "Pemuda gila." gumamnya pelan.
"Diamlah.. aku akan mengeringkan tubuhmu" Arya kembali menghampiri Liu Wei untuk mengeringkan tubuh gadis tersebut.
Selepas mengeringkan tubuh dan pakaian, mereka berdua kemudian meninggalkan lokasi air terjun, dan berjalan kembali pulang ke sekte.
Setibanya di depan kamar Arya.
"Kapan kau akan mengajariku membuat naga air seperti yang kau lakukan tadi?" Tanya Liu Wei dengan ekspresi penuh harap.
"Sabarlah dulu..., Aku saja belum menuliskan jurus-jurus itu. Nanti kalau sudah selesai, aku pasti akan memberikan jurus itu padamu." Ucap Arya sambil menggeleng pelan.
"Hehehe... maafkan aku sebelumnya, sebenarnya kamar yang kau tempati ini sudah lama tak terpakai. Dan sebenarnya tetua menyuruhku mengantarkanmu ke kamar tamu yang berada di gedung utama Sekte." Liu Wei menggaruk kepalanya dengan memasang senyuman tidak berdosa.
"Haaaaahhh... Berarti kau hanya mengerjai ku. Tapi ya sudah, aku juga lebih suka tinggal di tempat ini, karena tempat ini lebih tenang dan sepi. Sekarang kembalilah." Arya lalu melangkah masuk ke dalam kamarnya.
"Tunggu... nanti kalau tetua mencarimu, aku harus berkata apa?" Tanya Liu Wei berlari mendekati Arya.
"Itu kan masalahmu, kau sendiri yang memberikanku tempat ini. Katakan saja aku lebih suka tinggal disini." Ucap Arya sambil menutup pintu kamarnya.
Arya berjalan ke arah ranjang. Dia membetulkan duduknya hingga bersila. "Aku harus terus berlatih, seperti yang dipesankan oleh kakek." Arya lalu berniat masuk ke alam jiwanya.
Tapi sebelum ia masuk ke alam jiwanya, dia teringat akan Dewa Petir. "Kenapa suara Dewa Petir tidak terdengar lagi?" Lalu dia melanjutkan "Lepaskan Dewa Petir!"
Beberapa menit menunggu, Dewa Petir tidak kunjung muncul. Arya ingin kembali menemui Dewa Petir di tempat sebelumnya. Tapi segera diurungkannya, sebab dia berfikir bagaimanapun dewa petir itu hanyalah roh. Tak mungkin kenapa-napa.
Arya kembali bersiap memasuki alam jiwanya, namun lagi-lagi belum lama dia menutup mata, pemuda itu di kejutkan oleh ketukan pintu yang disertai suara seseorang yang memanggil dirinya. Dengan malas Arya lantas membuka mata dan berjalan membukakan pintu ruangannya.
"Ada apa lagi? aku belum selesai menuliskan jurus-jurus elemen air untukmu. Kenapa kau datang kesini?" Kata Arya dengan wajah datar.
"Aku hanya ingin membawakanmu makanan, tadi ku dengar di air terjun kau berkata jika kau lapar." Liu Wei tersenyum manis.
Arya lalu mengulurkan tangannya untuk mengambil makanan yang di bawa oleh Liu Wei.
"Tunggu dulu, biarkan aku masuk dan makan bersama denganmu. Aku juga lapar. Hehe" Liu Wei tertawa ringan.
"Baiklah, silahkan masuk, aku juga lebih suka makan bersama daripada sendirian." Arya memberi jalan pada Liu Wei untuk masuk ke ruangannya.
Setelah memasuki ruangan, Liu Wei nampak mengamati seluruh sudut ruangan tersebut "Ternyata selain pandai bermain pedang, kau juga rajin membersihkan ruangan ini."
"Itu semua karena ulahmu, aku tidak mungkin bisa tidur ditempat yang banyak debu... Eeeeh.." Arya melompat kaget melihat kemunculan Dewa petir yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya.
"Ada apa Arya?" Liu Wei mengamati sekeliling tempat Arya berdiri.
"Kadal buntung!! kenapa kau tega sekali padaku... Huhuhu" Dewa Petir terlihat lemas dan memasang muka sedih.
"Maafkan aku, tadi aku lupa jika dirimu masih berada disana." Ucap Arya merasa bersalah.
"Oh jadi karena gadis ini kau sampai melupakan aku?... Setelah kau tadi mandi bersamanya sekarang kau malah sekamar dengannya. Memang dasar kau bocah mesum." Dewa Petir kembali bersiap memukul Arya.
"Kaisar La..." Ucap Arya yang di potong.
"Tu...tunggu... Aku tidak akan memukulmu lagi. Tapi aku mau izin untuk kembali ke langit." Dewa Petir lalu menghilang dari pandangan.
"Hei Arya... Aryaaaa... Heeeeiii" Liu Wei melambai-lambaikan tangannya di depan muka Arya.
"Maafkan aku.. aku terlalu lapar jadi kehilangan fokusku. Ayo mari kita makan." Arya lalu berjalan ke meja dan memakan makanan yang dibawa Liu Wei dengan lahapnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 210 Episodes
Comments
Iwan Arema
🤣🤣🤣😂😂😂
2024-04-15
1
Harman LokeST
Arya pura pura lapar
2024-01-31
2
Arjy Cool
Luarrbiasaaaaakkkk....
Mantaaaaaapppp.....
Jooooooooooooooooooooooozzzzz..
Gandhooooooooooooooooooozzzzz..
Mbledhoooooooooooooooooozzzzz..
2023-12-11
0