Malam sudah semakin larut ketika Arya telah keluar dari hutan kematian.
Seperti pesan dari Zhen Long, sekarang Arya telah menekan tingkat kultivasinya dari Pendekar Raja tingkat 2, yang sebelumnya dia telah menyerap 1 mustika raja siluman ketika sebelum pergi meninggalkan lembah jurang kematian, ke tahap awal tingkat 6.
Arya kini sedang kebingungan harus memulai perjalanannya untuk pergi kemana. akhirnya dia memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya terlebih dahulu, karena sejak dari kemarin dia memang belum tidur.
Jika seseorang semakin tinggi tingkat Kultivasinya, maka tubuhnya akan bisa menahan rasa kantuk dan lapar selama berhari-hari dengan menggunakan energi Qi miliknya.
Di atas sebuah pohon, Arya sedang menatap keindahan cahaya rembulan. Dia kembali mengingat-ingat masalalunya dari bumi, hingga perjalanan hidupnya yang tidak pernah terlintas dalam pikirannya akan menjadi seorang pendekar.
"Mungkin aku harus pergi ke sekte lembah petir... mungkin disana masih terdapat teman-teman dari orangtua tubuh ini." Gumam Arya dalam hati.
Akhirnya dia memutuskan untuk melepaskan semua beban pikiran rumitnya dan menyerahkan semuanya pada takdir. Arya mulai merebahkan tubuhnya di atas sebuah dahan pohon yang cukup besar.
______
Hari sudah menjelang pagi saat Arya terbangun karena terjatuh dari atas pohon.
"Aduh... Sial*n kenapa aku bisa terjatuh." Umpat Arya sambil membersihkan pakaiannya dari debu.
"Hahaha.... Kenapa kau tidur diatas pohon seperti monyet Haaaah? Bukankah kau memiliki banyak harta untuk bisa menyewa sebuah penginapan." Dewa Petir tertawa sambil menunjuk ke arah Arya sebab telah berhasil mengerjainya.
"Dasar Dewa bodoh... Kau lihat sendiri di hutan mana ada penginapan." balas Arya yang memperlihatkan wajah jengkel karena perlakuan dari Dewa Petir.
"Bodoh katamu!!!.." bentak Dewa petir yang mendadak muncul di samping Arya dan melayangkan sebuah pukulan.
"Aaaaaggrr.." Pekik Arya dengan tubuh meluncur deras menghantam pohon.
"Bukannya meminta maaf karena telah menjatuhkan ku, kau malah memukulku... Dasar dewa sialan..." Umpat Arya sambil memegangi perutnya.
"Hahaha... Iya iya.. aku minta maaf, karena telah menjahilimu. sebenarnya aku sedang suntuk berada di langit, makanya aku datang menemuimu." Ucap Dewa Petir dengan wajah datar.
"Mendatangiku hanya untuk menjahiliku, bukankah tugasmu itu adalah membimbing dan menjagaku. Kau malah memukulku. Aku minta kompensasi atas perbuatanmu ini." Ketus Arya yang nampak kesal sambil berdiri.
"Kompensasi katamu, enak saja... Aku memukulmu karena memang kau pantas menerimanya, sebab kau telah berkata tak sopan kepada Dewa yang agung ini." Ucap Dewa Petir sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri dengan angkuh.
"Aku akan melaporkanmu pada Kaisar surga, karena kau tidak menjalankan tugasmu dengan baik. Kaisar surga...." Teriak Arya dengan lantang menyebut Kaisar surga.
Seketika Dewa Petir ambruk ke tanah, Arya juga penasaran kenapa Dewa Petir bisa seperti itu.
Arya lalu mendekati dewa petir sambil menjulurkan lidahnya. "Bagaimana apakah kau mau memberikan kompensasi kepadaku.?" Ucap Arya dengan wajah meledek.
"I... iya baiklah... Memangnya kau mau apa? Tapi lepaskan aku dulu" Ujar Dewa petir sambil meringis kesakitan.
"Bagaimana aku tau cara melepaskanmu, lagipula yang membuatmu seperti ini bukanlah aku." Balas Arya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Arya mengusap-usap dagunya nampak sedang berfikir lalu akhirnya berkata. "Lepaskan!!"
Entah kenapa, akhirnya Dewa petir terlepas dan bisa bergerak kembali. "Bagaimana kau tau cara melepaskanku, katamu tadi kau tidak tau caranya.?" Dewa Petir menahan rasa jengkelnya.
"Aku hanya mencobanya saja." Ucap Arya seperti terkesan tidak perduli.
"Eh iya... Kau tau desa terdekat dari sini? Dan untuk kompensasi, aku akan minta kepadamu suatu saat nanti." Ucap Arya sambil melihat ke sekelilingnya.
"Kau jalan saja lurus ke arah Utara, di balik gunung itu ada sebuah desa." Jawab Dewa petir sambil menunjuk ke arah gunung.
Setelah mendengar hal itu, tanpa basa-basi Arya melangkahkan kakinya untuk melanjutkan perjalanannya ke arah yang di tunjukkan oleh dewa petir. Dia berjalan santai sambil menikmati suasana pagi.
Selama 2 jam lebih perjalanan, namun selama itu pula dia tidak melihat adanya kehidupan manusia. Karena penasaran masih berapa jauh lagi untuk sampai ke pemukiman warga, diapun melompat naik ke atas pohon untuk menggunakan teknik Indera Naga Emas.
"Akhirnya aku dapat melihat ada manusia lain." Arya tersenyum sambil terus mengamati dua orang wanita yang berada sekitar 700 meter dari tempat dirinya berada.
Arya kemudian melanjutkan perjalanannya dengan melompat dari pohon ke pohon menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.
Setelah jarak dengan kedua wanita itu sudah dekat, Arya kemudian melompat turun ke hadapan dua wanita itu.
Melihat ada pemuda yang menghadangnya, kedua wanita itupun langsung mengambil posisi siaga.
"Maaf nona, kenapa nona-nona bertingkah seperti itu... Aku hanya ingin bertanya mengenai desa terdekat dari sini. Maaf.. jika aku telah mengganggu perjalanan kalian." Ucap Arya sesopan mungkin dan di akhiri dengan senyuman bersahaja.
"Benarkah kau tidak ada niatan jahat kepada kami? Lalu kenapa caramu ini seperti seorang perampok." Balas wanita yang memakai cadar.
Arya hanya menanggapi pertanyaan itu dengan senyuman.
"Manis sekali senyuman pria tampan itu" gumam wanita yang satunya dalam hati. Lalu dia melanjutkan "Jadi tuan seorang pengembara? Jika tuan ingin pergi ke desa terdekat, tuan tinggal lurus saja. Sekitar 3 jam tuan akan sampai disana. Tapi kalau tuan tidak keberatan, tuan bisa bergabung bersama kami. Kami juga sebenarnya sedang menuju ke sana."
"Kakak jangan mengajak pemuda ini bergabung bersama kita... Kita tidak tau, apakah pemuda ini penjahat atau bukan." Tandas wanita bercadar sambil menarik lengan temannya.
"Ah kau ini, tak usah terlalu khawatir... jika dia penjahat, kita bisa menghabisinya bersama-sama. Lagipula mana ada penjahat setampan dan sesopan ini." Bisik wanita yang satunya.
"Terimakasih atas petunjuknya, kalian tidak usah repot-repot menemaniku, aku bisa pergi kesana sendiri." Arya membungkukkan badan lalu melangkah pergi.
Setelah Arya jauh dari pandangan. Wanita itu berkata "Wei'er, gara-gara kau, pria tampan itu tak mau ikut bersama kita... Ku harap disana aku bisa bertemu dengannya lagi."
______
Di depan pintu masuk sebuah desa, terlihat seorang pemuda yang sedang berjalan masuk ke dalam desa tersebut. Pemuda itu tidak lain adalah Arya. Dia berjalan santai sambil memandangi keadaan desa itu yang nampak ramai oleh para pedagang dan para pendekar yang terlihat membawa senjata yang terselip di punggung.
Sampailah pemuda itu di depan sebuah kedai. Arya lalu memutuskan untuk mampir terlebih dulu di kedai tersebut, karena memang dirinya saat ini belum tahu langkah apa yang akan dilakukannya selanjutnya.
Kedai makan itu sendiri nampak lumayan ramai. Arya kemudian berjalan masuk dan memilih tempat duduk yang berada paling ujung yang terlihat masih kosong. Ditempat itu Arya bisa menikmati hembusan angin yang sejuk dan ladang luas khas daerah lereng pegunungan.
Tak lama setelah itu, terlihat seorang wanita menghampiri meja dimana Arya berada. "Tuan, anda ingin memesan makanan apa?
"Disini menyediakan makanan apa saja?" Tanya Arya.
(Hening)
"Nona?" Panggil Arya sedikit meninggikan suaranya karena melihat si pelayan tersebut diam mematung.
"Eh di... disini Ada ayam bakar, ikan bakar, daging sapi, sop dan sayur-sayuran tuan." Ucap si pelayan tersebut menjelaskan dengan terbata-bata, si pelayan itu nampak gugup sekaligus malu.
"Oh kalau begitu, aku pesan ikan bakar saja dan... apakah disini juga tersedia nasi?" Tanya Arya kembali.
"Ada tuan, apakah tuan ingin memesan sebuah arak? kedai ini menyediakan arak terbaik yang ada di desa ini." Ujar si pelayan.
"Arak?" Sekilas Arya mengingat minuman sang kakek. "Baiklah bawakan juga minuman itu"
"Kalau begitu saya pamit dulu, tuan."
"Eh.. tunggu dulu, aku ingin bertanya... Apa nama dari desa ini? Dan lalu kenapa banyak pendekar di sekitar sini?." Arya menghentikan si pelayan yang berniat pamit undur diri.
"Desa ini bernama desa bunga matahari tuan... disini memang banyak pendekar, karena di desa ini juga terdapat sekte yang bernama sekte bunga matahari. Serta banyak juga pendekar dari luar yang sekedar singgah ke desa ini tuan..." si pelayan tersebut menjelaskan.
"Lalu dimanakah lokasi sekte itu berada?"
"Tuan terus saja ke arah timur, sekte itu berada di ujung sana... Jika tuan ingin masuk ke sana, tuan harus mempunyai lencana atau setidaknya tanda pengenal.." si pelayan tersebut menjelaskan sambil menunjuk ke arah lokasi sekte bunga matahari.
"Oh.. jadi tanpa lencana dan tanda pengenal, aku tidak bisa masuk ke sana. Hmmm... baiklah, terimakasih untuk informasinya." Arya tersenyum kepada si pelayan.
"Sebenarnya bisa saja masuk ke sana tanpa lencana dan tanda pengenal.. Namun itu hanya berlaku untuk para tabib ataupun alkemis. Karena yang aku dengar, ada salah satu tetua sekte disana yang sedang sakit. Jadi mereka menerima siapa saja yang bisa menyembuhkan penyakit tetua itu."
Arya mengangguk. "Anggap saja ini sebagai bayaran untuk informasi yang kau berikan." Ucapnya sambil menyodorkan satu keping emas kepada si pelayan.
"I...ini terlalu banyak tuan. Aku tidak bisa menerimanya." Kata si pelayan nampak gugup dengan tangan gemetaran.
"Terlalu banyak??" Arya mengusap dagunya nampak sedang berfikir.
"Ya iyalah... itu terlalu banyak, 1 keping emas sama dengan 1000 keping perak, dan 1 keping perak sama dengan 1000 keping perunggu... Dengan satu keping emas itu, dia bisa mencukupi hidupnya selama berbulan-bulan ke depan." Dewa Petir tiba-tiba berkata melalui telepati.
"Tuan... tuan..." Ucap si pelayan sambil melambaikan tangannya ke arah Arya.
"Oh... Tidak apa-apa, anggap saja itu sebagai hadiah untuk informasi yang telah kau berikan. Sudahlah tak usah dipikirkan, cepat siapkan saja pesananku, aku sudah lapar." Kata Arya beralasan.
"Terimakasih tuan muda dermawan... Mohon untuk menunggu sebentar pesanan anda." Ucap si pelayan sambil membungkukkan lalu undur diri.
Setelah itu, Arya mengalihkan pandangannya. Menikmati keindahan alam di lereng gunung tersebut.
"Jadi, di Sekte itu ada seorang tetua yang sedang sakit.. hmm, mungkin ini saatnya keahlianku bisa berguna bagi orang lain." Pikir Arya sambil menikmati hamparan ladang yang ada di seberang kedai dirinya berada.
________
Mohon di pahami, boleh berkomentar tapi tetap gunakanlah etika.
Siapapun yang berkomentar kasar, mencaci ataupun menghina, maka maafkan author jika bertindak tegas dengan nge-BLOK orang yang terkait.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 210 Episodes
Comments
spooky836
blok pun xpe. etika atau adap mana ada jual
2025-01-12
0
Muhammad Fathirfadly
zasukayumanisara
2024-07-10
0
Durian Anget
ada dua primata nih yang kepanasan
2024-05-21
0