Sepulang dari rumah Devina Marcell langsung melaju ke rumah orang tuanya mereka memang tidak tinggal bersama Marcel sudah sangat malas untuk tinggal di rumah orang tuanya Dia memutuskan untuk menempati rumah pribadinya yang baru dibelinya 1 tahun setelah perpisahannya dengan Devina.
"Mama ...! Mama ...!"
Tak peduli dibilang tidak memiliki sopan santun, dia berkata cukup kencang memanggil-manggil ibunya.
"Iya Den," sahut bibi yang tengah membersihkan ruangan.
"Mama ada di mana Bi? Kok sepi?"
"Emm,, tadi nyonya berangkat arisan Den, mungkin sebentar lagi beliau akan segera pulang. Aden tunggu saja sebentar," jawab asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja di kediaman orang tua Marcell.
Marcell melihat jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul setengah tiga sore, dia berharap orang tuanya segera pulang.
"Apakah Aden disiapkan makan?" tanya Bibi sebelum meninggalkannya.
"Nggak perlu aku cuman sebentar saja kok. Setelah bertemu dengan Mama aku juga bakalan balik."
"Oh,, Baiklah Den kalau begitu Bibi tinggal ke dapur dulu ya?"
"Hemm,,"
Marcell langsung mengerjakan pinggulnya di sofa pikirannya benar-benar tidak bisa tenang melihat dan mendengar cerita nyata yang dialami Devina dan juga anak-anaknya membuat hatinya hancur di sisi lain ia sangat penasaran dengan cerita yang selama ini ibunya katakan sangat berbeda sekali dengan cerita yang dikatakan oleh Devina.
"Aku tuh bener-bener bingung. Di sini Devina mengaku bahwa kedua anak kecil itu adalah anakan kandungku, dan di sisi lain, orang tuaku bilang Devina sudah tega berselingkuh dengan teman kecilku. Mana yang harus aku percaya? Devina meyakinkan dirinya tidak pernah berbuat kesalahan, apalagi berniat untuk selingkuh, tapi Mama bilang Devina sudah bermuka dua, di saat aku tidak ada di rumah, dia berselingkuh dengan pria lain, dan foto itu ...?"
Marcell langsung bangkit dari sofa. Dia ingat dengan kata-kata Devina yang memintanya untuk mengecek keaslian foto yang membuat kehancuran rumah tangganya.
"Iya, aku harus mengecek foto ini terlebih dulu. Aku harus mencari fotografer yang handal yang bisa memprediksi tentang keaslian dan juga kebohongan dari foto editan ini."
"Boy .., ya! Kurasa Boy bisa membantuku."
Tak ingin hidup dalam bayang-bayang semu dia pun memutuskan untuk segera menghubungi temannya yang bernama Boy. Boy adalah salah satu temannya yang berprofesi sebagai fotografer para artis yang dipercayai bisa menghasilkan gambar-gambar terbaik dari hasil jepretannya. Dia berniat untuk meminta bantuannya.
("Halo Boy? Apakah kamu bisa bertemu denganku? Apakah sekarang kamu lagi sibuk?")
Boy yang sudah sangat paham dengan Marcell, ia tidak perduli walaupun dirinya tengah sibuk melakukan pemotretan.
("Halo Marcell, ada apa? Tumben kamu menelponku jam segini. Apakah kamu mau mengajakku pergi ke bar? Kurasa nanti malam aja, kalau hari ini aku nggak bisa ke bar, aku masih terlalu sibuk dengan pemotretan," balas Boy.)
("Bukan, ini bukan masalah bar. Aku tidak minat pergi ke bar. Kau itu kan fotografer handal kan? Saat ini aku butuh bantuanmu. Tolonglah aku, luangkan waktumu sebentar saja untukku.")
("Kamu butuh bantuan aku buat apa? Masalah apalagi yang kamu hadapi saat ini? Kamu itu ya, sejak pisah sama istri kamu, masalah datang bertubi-tubi dalam hidupmu. Aku akui kamu sekarang sudah sukses dengan usahamu, tapi sayang sekali, hatimu tidak pernah tenang. Ada aja masalahmu.")
Begitu pahamnya Boy dengan kehidupan Marcell, tapi sayangnya Boy belum pernah berkenalan dengan Devina, keburu mereka berpisah.
("Ya begitulah. Maka dari itu Aku membutuhkan bantuanmu. Tolong please, luangkan waktumu sekarang buat aku.")
("Ck! Maksa banget," seru Boy. Dia sendiri dalam keadaan sibuk pemotretan, tapi ia berpikir tak ada salahnya meluangkan waktu sedikit buat sahabat karibnya.
("Oke Oke, kalau begitu kita ketemuan aja, di mana enaknya? Kamu yang tentukan.")
Marcell terdiam sesaat. Dia langsung memiliki ide untuk saling bertemu di suatu tempat yang menurutnya lebih menyenangkan.
("Gimana kalau kita ketemuan di cafe yang biasanya kita nongkrong. Kalau clear, kita pergi sekarang juga.")
("Oke, sip.")
("Aku otw ke sana kamu juga ya?")
("Oke siap-siap, aku akan segera meluncur ke sana juga. Tunggu aku di sana.")
Marcell menutup sambungannya dan melangkahkan kakinya keluar dari rumah orang tuanya.
"Loh, Den! Kok mau pergi? Bukannya nunggu nyonya pulang?"
"Nanti aku kembali lagi bi. Aku ada urusan sebentar."
"Baik Den, nanti bibi sampaikan pada nyonya."
Marcell mengayunkan langkah kakinya meninggalkan rumah dan menuju ke sebuah cafe tongkrongannya. Lumayan jauh, tapi demi mendapatkan informasi yang akurat, tak dijadikan masalah.
"Ya Tuhan,, melihat anak-anak hidup menderita seperti itu sungguh rasanya mencekik leherku. Mereka kehidupannya sangat kekurangan, dan aku ..., aku bahkan banyak menghambur-hamburkan uang hanya untuk kesenangan. Aku berdosa besar pada mereka. Bahkan aku sudah mentelantarkan darah dagingku sendiri."
Walaupun awalnya ada keraguan kalau si kembar adalah darah dagingnya, tapi kini ia bisa merasakan, kemiripan yang dimilikinya, detak jantungnya, mengisyaratkan kalau mereka memang darah dagingnya sendiri.
"Jika sampai dugaanku mengenai kebohongan Mama telah terbukti, maka aku tak segan-segan untuk meninggalkan keluargaku. Apa aku ini masih kurang baik di mata keluarga? Dari kecil aku diperlakukan tidak adil oleh Mama. Papaku juga gitu, mereka seakan-akan tidak peduli pada diriku, mereka lebih mementingkan dirinya sendiri. Jadi pusing aku mikirin mereka mulu!"
Marcell memijit keningnya dengan fokus menatap jalanan yang lumayan rame.
Lima belas menit kemudian, dia telah sampai di sebuah cafe tempat tongkrongannya. Dia langsung masuk dan mencari bangku kosong, dan menunggu kehadiran teman karibnya.
"Kupikir dia udah nyampe duluan, ternyata aku duluan yang nyampe. Tapi gak papa."
Dia bergumam dengan memanggil pelayan cafe untuk memesan makanan.
"Permisi mas, ada yang bisa saya bantu?"
"Mbak, saya mau pesan dua porsi nasi goreng spesial, dengan minuman segar, jus mangga."
"Baik mas, apa ada lagi yang mau dipesan?"
"Enggak, itu saja sudah cukup."
"Ya sudah kalau begitu saya permisi sebentar. Ditunggu pesanannya."
Tidak selang lama dari itu, Boy datang dengan membawa tas kerjanya. Dia langsung menemui Marcell dan mengambil tempat duduk di depannya.
"Sorry, aku terlambat ya? Jalanan lumayan rame."
"Enggak kok, santai aja, aku juga baru nyampe sini. Aku barusan udah pesen makanan."
"Oh, oke thanks. Kebetulan aku juga udah laper." Boy bersyukur Marcell telah mempedulikan isi perutnya.
Mereka berbincang kecil sembari tertawa, disela-sela perbincangannya, Marcell mengarahkan pada titik permasalahannya.
"Boy, aku tadi sudah katakan padamu. Aku ada kepentingan yang tidak bisa kutunda lagi. Aku mohon bantuanmu ya?"
Boy mengangguk. "Oh, iya. Aku juga penasaran dengan masalahmu, ada apa Cell? Apa yang bisa kubantu untukmu?" tanya Boy dibuat penasaran oleh sahabat karibnya.
"Ini mengenai foto perselingkuhan mantan istriku. Aku sengaja membukanya kembali, karena aku sekarang merasa ada yang tidak beres. Tolong lihat foto ini, apa foto ini asli, atau sebaliknya, palsu."
Marcell menyodorkan beberapa lembar foto yang membuatnya kecewa berat terhadap wanita yang sangat dicintainya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
C2nunik987
smoga kebenaran terungkap ia Cell jd ke depanx km tau siapa yg hrs km percaya di hdp 😡😡😡
2024-06-03
0
Yatinah
segera ungkap keegoisan mamamu marcell agar kamu dan anak"mu bahagia beserta devina
2024-04-28
0