Bab 15

Dokter Clara memainkan penanya. Di biarkan laptopnya terbuka. Kata kata Shafia tadi siang mengganggu fikirannya. Perlahan di raih handphone yang ada di sebelah laptopnya. Di perhatikan foto Tania.

Di perhatikan bentuk wajahnya. Dia menarik nafas. Mata indah Tania sangat mirip dengan mata ibu mertuanya. Bentuk wajahnya juga, garis rahangnya. Dia menundukkan wajahnya. Perlahan meremas rambutnya. Ada rasa yang beda ketika mereka saling beradu pandang.

"Hai sayang..." suara yang penuh karisma.

"Ada pekerjaan berat..?".

Dokter Clara menggeleng,

"Semua baik baik saja.." sahutnya.

"Tapi kenapa kelihatannya sedang memikirkan sesuatu yang berat..?" tanya pak Rafael.

Dokter Clara memandang suaminya.

"Aku teringat dengan anak kita.." sahutnya pelan.

Pak Rafael menggenggam tangan istrinya.

"Tuhan tidak mengizinkan kita untuk mempunyai anak, tapi aku yakin, Tuhan punya rencana lain.."

"Sayang... Hari ini aku mendapat pasien yang depresi. Anak perempuan berusia 18 tahun.." ucapannya terhenti.

Fikirannya terbang, membayangkan wajah Tania.

"Aku tau, kamu pasti membayangkan, jika putri kita masih hidup pasti seusia dia kan..?".

Dokter Tania tersenyum tipis.

"Bukan itu.. Mata indahnya mirip seperti milik almarhum mama mu..".

Dokter Clara terdiam sejenak.

"Bahkan ada beberapa orang yang mengatakan kami sangat mirip.." sambungnya tertawa kecil.

Pak Rafael mengelus punggung istrinya.

"Mungkin itu hanya kebetulan saja..".

Dokter Clara menggeleng.

"Tapi dari begitu banyak pasien, aku merasakan sesuatu yang berbeda saat dekat dengannya.., seperti ada ikatan batin.."

Dokter Clara mengambil handphone miliknya.

"Lihat sayang.. Dia sangat cantik, senyumnya seperti senyummu, mata indahnya mengingatkan aku pada almarhum mama mu.."

Pak Rafael memperhatikan foto Tania di layar handphone istrinya. Seketika dia tertegun.

"Ya Tuhan... Benar benar mirip.." gumamnya.

Pak Rafael terdiam, menatap foto itu tak berkedip.

"Tapi orang tuanya..?".

Dokter Clara mengangkat bahunya.

"Don't know.."

"Mungkin kamu bisa mencari informasi tentang gadis ini, uhmm.. Siapa namanya..?"

"Tania.." jawab dokter Clara.

"Ok.., boleh aku bertemu dengannya...?".

Dokter Clara memandang suaminya, seolah bisa membaca apa yang ada di benaknya.

"Of course, kamu bisa menemuinya besok.."

...****************...

Infus di tangan Tania sudah di buka. Dia juga terlihat lebih segar dari kemarin. Dokter Clara menjenguknya sebelum masuk ke kantor.

"Morning darling..." sapanya.

Tania tersenyum, "morning dokter cantik.."

"Lihat.. Ibu bawa sarapan untukmu..".

Tania tersenyum senang. Nasi uduk komplit dengan telur mata sapi, suiran daging ayam.

"Terima kasih bu dokter cantiikk.." ucap Tania seperti anak kecil kepada ibunya.

"Makan lah.. Biar kamu cepat sembuh. Pasti bosan kan di sini terus..".

Tania menggeleng, "gak.. Gak bosen kalau ada bu dokter. Malah Tania bosan di rumah.." ucapnya sambil mengunyah nasi uduk di mulutnya.

"Tapi kan gak mungkin kamu selamanya di sini. Kalau udah sembuh ya harus pulang dong..".

Tania terdiam, "uhmm.. Kalau Tania udah boleh pulang, boleh gak sesekali ketemu ibu...?" tanyanya penuh harap.

Dokter Clara terenyuh dengan ucapan Tania. Ada rasa sesak memenuhi rongga dadanya.

"Boleh.. Atau kamu main aja ke rumah ibu..".

Mata Tania berbinar, "seriuuss..??" tanyanya.

Dokter Clara mengangguk.

"Ok.. Cepet sembuh ya.., ibu masuk kantor dulu..".

Tania mengangguk, "salam dulu.." ucapnya seperti anak kecil yang akan di tinggal ibunya pergi.

Dokter Clara mengulurkan tangannya. Tania meraih tangan itu dan meletakkan di keningnya.

Seketika dokter Clara memeluknya. Matanya berkaca kaca. Dia mencoba menahan agar tak terlihat gadis itu. Di lepaskan pelukannya. Perlahan dia meninggalkan Tania. Matanya mulai basah, dia menyekanya perlahan.

...****************...

"Shafiaa...!".

Langkah Shafia terhenti ketika seseorang memanggil namanya. Dia mencari asal suara itu. Terlihat dokter Clara mendekatinya.

"Ya.." sahutnya kemudian.

Dokter Clara terdiam sejenak.

"Ada waktu..?, ada yang mau ibu tanya tentang Tania..".

Kini Shafia yang terdiam.

"Uuhhmm.. Boleh.." sahutnya kemudian.

Mereka berjalan menuju taman.

"Ibu mau tanya apa..?" tanya Shafia

"Kamu kenal Tania udah lama..?" dokter Clara mulai buka suara.

"Sejak masuk sekolah aja sih..".

Dokter Clara diam, "keluarganya..?".

Shafia diam, ada rasa ragu dalam hatinya.

"Uhmm.. Tapi dokter janji ya.. Jangan kasih tau Tania kalau Shafia yang cerita..".

Dokter Clara mengangguk.

Dengan hati hati Shafia menceritakan kehidupan Tania. Tentang tempat tinggalnya yang berada di lokalisasi sampai tragedi malam itu.

"Kalau menurut Shafia, sebenernya Tania itu anak baik. Dia juga pintar loh di sekolah..." puji Shafia.

"Jadi sekarang dia sebatang kara..?, tinggal sendiri..?"

Shafia mengangguk. Dokter Clara coba memahami penyebab Tania depresi.

"Ya udah.. Makasih banyak ya infonya..".

"Kemaren Tania bilang mau pindah sekolah, coba deh ibu bujuk biar dia tetap di sekolah yang sekarang.." ucap Shafia penuh harap.

Dokter Clara tertawa kecil, "Ok.. Bisa di atur itu. Tapi gak janji yaa.. Semua kan tergantung Tania..".

Shafia menatap penuh harap.

"Ok... Ok.. Ibu usahakan..". Shafia tersenyum lebar,

"Makasih bu dokter..."

...****************...

Shafia masuk ke ruangan Tania

"Eehh... Aku bawa es cream.." ucapnya riang sambil memberikan satu cup besar ke arah Tania.

"Makasih Shafiaaa.." sahut Tania.

Kedua sahabat itu ngobrol panjang lebar. Sesekali terdengar tawa mereka.

"Kata dokter, besok aku udah boleh pulang..." ucap Tania.

"Bagus dong.. Kita bisa jalan jalan lagi.." Shafia sumringah mendengarnya. Tapi wajah Tania terlihat sedikit kecewa.

"Kok kamu sedih gitu..?, harusnya seneng lah.."

"Aku gak bisa ketemu dokter Clara lagi tiap hari..." sahutnya.

"Kan kamu bisa ke sini lagi..". Shafia memberi semangat pada Tania.

"Tapi kan gak mungkin tiap hari Shafiaaaa..." sungutnya. Shafia menepuk keningnya, aneh amat sih...

Obrolan mereka terhenti ketika dokter Bimo masuk. Dia tersenyum ke arah Tania dan Shafia.

"Kondisi kamu udah bener bener pulih. Jadi besok atau sore ini udah bisa pulang..".

"Besok aja ya dokter..." sahut Tania.

Dokter Bimo mengangkat bahunya. Sesekali dia mencuri pandang ke arah Shafia. Shafia terlihat sedikit salah tingkah.

"Iya besok aja dokter, tapi kalau siang boleh kan..?, nanti biar saya yang urus administrasinya sepulang sekolah.." sambung Shafia

Bimo memandang Shafia, dia tersenyum

"Ok.. Gimana baiknya aja.."

Shafia manggut manggut. Tania memandang mereka bergantian. Dia melirik ke arah Shafia.

"Ada yang cinlok nih.." celetuknya setelah Bimo pergi. Wajah Shafia memerah. Tania pun tertawa..

...****************...

Dokter Clara kembali menemui Tania sebelum pulang. Dia ingin memastikan kondisi Tania.

"Besok Tania pulang.." ucap Tania dengan nada sedih. Dokter Clara menggenggam tangannya.

"Kita kan masih bisa ketemu.."

"Beneran yaa..." pinta Tania dengan wajah sumringah.

Shafia mulai membereskan beberapa barang Tania. Dua orang laki laki masuk ke dalam ruangan itu. Salah satunya Abimanyu.

"Hai sayang..." suara pak Rafael.

Dokter Clara menoleh. Tania pun melihat ke arah mereka. Darahnya kembali berdesir. Matanya tak berkedip memandang laki laki itu. Dia terpaku.

"Ini suami ibu..".

Tania masih mematung. Bola matanya beradu dengan pak Rafael sejenak.

Pak Rafael tersenyum

"Hai.." sapanya.

Tania tersenyum. Shafia memandang mereka bertiga.

"Kok pada mirip sih.." celetuknya tiba tiba.

Tania seperti perpaduan yang sempurna antara dokter Clara dan pak Rafael. Tania masih terdiam.

"Kok bisa bareng sama Abi..?" dokter Clara mencoba mencairkan suasana.

"Tadi ada yang kita bahas tante.." sahut Abimanyu.

"Trus Abi ngajak ke sini, katanya sekalian mau jenguk Tania.." sambung pak Rafael.

"Cieee... Ada yang cinlokk..." celetuk Shafia dengan lirikan mata menggoda Tania.

Tania melotot ke arah Shafia. Namun Shafia pura pura sibuk belagak cuek. Abimanyu terlihat salah tingkah. Dokter Clara dan pak Rafael hanya mesem mesem melihat mereka..

Terpopuler

Comments

@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸

@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸

dari pada penasaran mending tes DNA kan ya?

2024-10-05

0

Jamayah Tambi

Jamayah Tambi

Adakah Tania anak Rafail dan Dr Clara

2024-08-16

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!