Bruuukkk...
Tumpukan bundle mata pelajaran yang setebal gajah di jatuhkan Shafia ke lantai. Tania hanya meliriknya.
"Hari Senin kita mulai try out..." Shafia buka suara.
"Pulang sekolah itu cuci muka, cuci kaki dulu. Biar setan di jalan yang ikut pergi.. Biar gak emosi.." celetuk Tania.
Shafia menarik nafas panjang. Matanya terpejam sesaat, menghilangkan lelahnya.
"Tadi bu Dina bilang, klo bisa kita ikut bimbel. Apa gak tambah pusing nih kepala.." gumam Shafia masih dengan mata terpejam.
"Maksud dan tujuannya kan bagus, biar kita bisa menjawab soal soal dan lulus ujian.." sahut Tania
Suasana hening sejenak. Hanya detak jarum jam yang terdengar.
"Aku pengen kuliah.., pengen kerja kantoran Tan.. Kira kira bisa gak ya..?"
Tania melirik Shafia, kemudian tersenyum tipis.
"Gak ada yang gak bisa Fia.. Aku juga pengen punya kerjaan yang bagus. Pengen ngerubah image, pokoknya pengen punya masa depan.." sahut Tania.
"Uang yang aku dapat dari sugar daddyku, pengen aku belikan tanah atau sawah di kampung. Untuk tabungan masa depan juga..." sambung Shafia
"Kita bangkit sama sama yok.." Tania memberi semangat. Shafia mengangguk.
...****************...
Jam 4 sore kedua remaja itu sudah bersiap siap. Walau dengan tampilan casual, aura kecantikan mereka tetap terlihat jelas.
Sepanjang perjalanan menuju rumah dokter Clara, mereka membahas tentang masa depan. Apa yang akan di lakukan setelah lulus SMU.
"Besar amat rumahnya.." ucap Shafia terkagum kagum.
Rumah dengan design klasik. Banyak sentuhan gaya Eropa yang terlihat di sana sini.
"Silahkan masuk mbak.." seorang pelayan membawa mereka ke dalam rumah itu.
Keduanya berdecak kagum. Sangat luar biasa. Ketika melewati sebuah ruangan besar, mata Tania menangkap sebuah foto perempuan tua. Dia menghentikan langkah kaki dan memandangnya sesaat.
"Tan..." panggil Shafia
Tania mempercepat langkah kakinya menyusul Shafia. Hingga sampailah mereka di ruangan belakang. Di sana sudah ada dokter Clara. Pelukan hangat menyambut keduanya.
"Sini.. Bantu tante menyusun makanan ya.."
Dengan sigap keduanya bekerja. Canda tawa sesekali terdengar. Satu persatu kolega dokter Clara mulai hadir. Diantaranya Abimanyu dan dokter Bimo.
Memang terlihat jelas perbedaan circle mereka. Tak ada yang bisik bisik dengan hadirnya Tania di antara mereka. Semua biasa saja.
"Hai... " sapa Abimanyu ketika mengambil minuman dingin. Tania membalasnya dengan senyuman.
"Apa kabar...?" tanya Abimanyu
"Sudah lebih baik.." jawab Tania seperlunya.
Tania masih terlihat dingin. Keduanya bingung harus memulai percakapan dari mana. Sementara Shafia yang humble, dengan mudahnya ngobrol dengan beberapa tamu.
Aroma barbeque menyusup ke hidung. Alunan musik yang cozy menambah hangat suasana.
"Kamu cantik, mirip dokter Clara.." ucap Abimanyu tiba - tiba.
Seketika Tania tersedak, hampir isi mulutnya terlontar keluar. Abimanyu langsung menyodorkan tissu.
"Maaf.. Bukan maksud aku..."
Tania langsung memberi kode dengan mengarahkan telapak tangan nya. Dia menggeleng sambil mengelap bibirnya.
"Gak pa pa.." sahut Tania.
Beberapa pasang mata melihat mereka. Ada tatapan penuh tanya. Tania menengguk jus jeruk untuk menetralkan suasana.
Abimanyu menjadi salah tingkah. Apa ucapanku salah bathinnya. Tapi kan memang bener, Tania itu cantik. Dia garuk garuk kepala.
"Heeii... Ngobrol apa sih..??, ikut gabung yaa.." ucap Shafia yang tiba tiba berdiri di sebelah Tania.
"Mau kambing guling gak..?, aku ambilin yaa.." tawar Abimanyu.
Shafia mengangguk, "boleh deh.."
Shafia melirik Tania, ekspresinya kok agak lain ya..??
"Kenapa Tan..?" tanya Shafia.
Tania hanya menggeleng sambil menarik nafas panjang.
"Abi nembak lu ya...?" tanya Shafia dengan ekspresi menggoda. Tania melotot ke arah nya. Namun Shafia hanya terkikik sambil menutup mulutnya.
...****************...
Menjelang tengah malam, satu persatu tamu meninggalkan rumah dokter Clara.
"Thanks ya udah datang.." ucap dokter Clara saat mereka pamit.
Tania dan Shafia masih menikmati hidangan penutup bersama Abimanyu dan Bimo. Tania masih banyak diam. Untung saja Shafia yang aktif mencari bahan cerita.
"Kalian nginap kan..?" tanya dokter Clara saat menghampiri mereka.
"Shafia sih ok aja.. Tapi gak tau gimana Tania.." jawabnya sambil melirik Tania.
"Ya udah.. Kami nginep tante.." sahut Tania kemudian sambil tersenyum.
Dokter Clara tersenyum senang mendengarnya. Ingin rasanya dia memeluk Tania. Tapi saatnya tidak tepat.
"Tante masuk dulu yaa.. Nanti si mbak yang akan mengantarkan kalian ke kamar masing masing.."
"Makasih tante.." sahut mereka kompak.
Obrolan berlanjut. Tak ada sedikit pun mereka menyinggung tentang peristiwa itu. Sesekali terdengar gelak tawa dari celotehan Shafia yang lucu. Malam yang hangat di antara hembusan semilir angin yang dingin.
...****************...
Tania tidur bersama Shafia. Matanya masih sulit terpejam. Sementara Shafia sudah terlelap dalam mimpinya.
Dia bangkit perlahan agar nyenyak tidur sahabatnya tak terganggu. Dia keluar kamar menuruni anak tangga. Rumah yang luas ini terasa senyap. Hanya detak jam yang terdengar seperti suara detak jantung.
Mata Tania tertuju pada foto seorang perempuan tua yang terpajang di dinding. Di langkahkan kakinya perlahan. Di tatapnya tak berkedip.
Perlahan di sentuh foto itu dengan telapak tangannya. Dia seperti menatap dirinya sendiri. Ada rasa tak percaya. Dalam hatinya bertanya tanya. Siapa perempuan ini..?, mirip dengannya.
"Mirip denganmu..."
Tania terkejut dengan suara itu yang tiba tiba hadir di belakangnya. Tania langsung menoleh ke belakang. Sepasang suami istri itu tersenyum.
Tania menarik nafas sambil memegang dadanya. Kemudian membalas dengan senyuman. Dokter Clara mendekat, kemudian merangkulnya.
"Dia siapa tante..?" tanya Tania penuh tanda tanya.
"Buah jatuh tak jauh dari pohonnya sayang.." jawab dokter Clara.
Tania bingung dengan jawaban itu. Menatap wajah dokter Clara. Sejuta pertanyaan dalam benaknya. Ada sesuatu bathinnya.
"Taniaaa..." suara Shafia mengalihkan pembicaraan mereka. Shafia pun turun. Dia membisikkan sesuatu. Tania hanya geleng kepala.
"Ada apa..?" tanya dokter Clara
"Uhmm... Anu tante..." ucap Shafia malu sambil melirik pak Rafael.
Perlahan dia membisikkan sesuatu ke telinga dokter Clara. Dokter Clara tertawa sambil geleng geleng kepala.
"Kenapa..?" tanya pak Rafael dengan raut wajah bingung.
"Shafia datang bulan, dia tanya ada simpan pembalut atau enggak.." sahut dokter Clara.
Pak Rafael pun tertawa geli melihatnya. Dia pun ikut geleng kepala. Sementara Shafia hanya mesem mesem.
"Pasti ada.. Ya sudah, tunggu sebentar.." dokter Clara menuju kamarnya.
Kemudian memberikan pembalut kepada Shafia. Shafia langsung berlari menuju kamar mandi. Mereka bertiga tertawa geli melihat tingkah Shafia.
"Istirahat yuk.. Sudah hampir jam dua. Besok aja kita ngobrol lagi.."
Tania mengangguk. Pelukan dan kecupan sayang mendarat di keningnya bergantian dari suami istri itu. Ada rasa damai yang mendalam di relung hatinya.
...****************...
Tania kembali ke sekolah seperti biasa. Hanya beberapa bulan lagi waktu yang di butuhkan sampai dia lulus sekolah.
Kali ini dia fokus untuk belajar. Sepulang sekolah, dia dan Shafia langsung pergi ke sebuah bimbel di kota ini. Ternyata semua di luar prediksinya. Tak ada seorang pun yang menyinggung tentang peristiwa yang telah di laluinya dengan David.
Sesekali Abimanyu membantunya menyelesaikan soal soal yang di dapat dari bimbel atau pun sekolah. Ada rasa simpati dalam diri Tania melihat Abimanyu.
"Abi baik kok, dia kan juga pintar.." ucap Shafia.
"Tapi aku masih trauma untuk dekat dengan laki laki.."
Shafia mengerti dengan perasaan Tania. Dia tau bagaimana sakit hatinya dengan David. David adalah cinta pertamanya.
"Dekat kan gak berarti kalian punya hubungan istimewa.." sahut Shafia.
Tania hanya terdiam. Abimanyu sangat berbeda dengan David. Dia terlihat lebih berkelas, tak ada sedikit pun mencoba merayu Tania. Tapi, tatapan matanya tak bisa di bohongi.
"Mungkin aku harus fokus untuk yang lain dulu..."
"Fokus untuk ujian dulu lah.. Kalau yang lainnya nanti aja dulu. Aku bener bener pengen lanjut kuliah Tan..." sahut Shafia.
Tania tersenyum, "biar bisa jadi calon istri dokter ya..?" ledeknya.
Wajah Shafia bersemu merah. Tania tertawa terbahak.
"Sialan...." gerutu Shafia kemudian.
...****************...
Ujian nasional telah mereka lalui. Sampai akhirnya tiba waktu kelulusan. Sorak para murid memecahkan suasana. Semua senang dan bahagia.
Tapi tidak dengan Tania. Dia membayangkan, saat wisuda nanti tidak ada orang tua yang akan menghadiri acara wisudanya.
Shafia sangat bersemangat memilih kebaya yang bagus untuk acara wisudanya nanti. Dia bersama Tania memilih model yang cocok. Tania hanya tersenyum datar. Hatinya merasa sakit. Begini rasanya tidak punya siapa siapa.
Shafia memandang kebayanya. Di lihat wajah Tania yang muram tak bersemangat. Di dekati sahabatnya itu.
"Kita senasib Tan.., aku juga sedih. Di saat bahagia seperti ini, gak ada keluarga yang hadir. Tapi kita juga gak bisa melawan takdir kan..?"
Keduanya terdiam. Memandang kebaya yang tergantung bersebelahan. Tania menarik nafas panjang. Matanya terpejam sesaat, mencoba menetralkan rasa sakit dalam hatinya.
"Kamu gak minta ibumu untuk hadir..?" tanya Shafia.
Tania tersenyum sinis, "dia bukan ibuku..." sahutnya ketus.
Shafia hanya melirik sesaat. Tania pasti memendam dendam dalam hatinya.
"Sudah lah Tan.. Biarkan masa lalu. Kita harus gapai masa depan yang lebih baik. Kamu punya ibu, tapi sikapnya seperti itu. Sementara aku, punya ayah tapi perilakunya seperti binatang. Kita sama sama berjuang sendiri..."
Tania tersenyum, "mungkin semua ini yang buat kita kuat ya.."
Shafia mengangguk pelan. Dia menarik nafas panjang. Matanya menerawang jauh.
"Mungkin Tuhan punya rencana lain. Tapi kita gak pernah tau kan rencana Tuhan apa.." sambung Shafia.
"Calon istri dokter makin bijak ya..." sahut Tania melirik Shafia sambil tersenyum.
Shafia melotot ke arah Tania, "teruuuss aja bilang begitu...!!"
Tania kembali tertawa terbahak. Sepertinya memang ada hubungan yang istimewa antara Shafia dan Bimo. Tapi biarlah, Shafia juga punya hak untuk bahagia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
kalian memang gadis hebat. bangkit & jadilah sukses.
2024-10-06
0
Jamayah Tambi
semoga ada bahagia buat kamu berdua.Janji orang bolehvterima kamu dgn ikhlas.Tidak kisah tentang masa lalu kamu/Chuckle/
2024-08-17
1
Jamayah Tambi
Teruskan.Tak dak benda nak komen
2024-08-17
1