Tania berusaha se-profesional mungkin saat pemotretan. Walaupun fikirannya bercabang terbagi dengan ulangan susulannya.
Selepas maghrib pemotretan selesai. Tania segera mengganti pakaiannya dan keluar studio itu.
Tanpa istirahat dan menahan lelah, dia segera memeriksa handphonenya. Beberapa pesan masuk.
"saya tunggu di depan kost kamu...".
Hadeeeuuuhhh....!!. Kepala Tania makin pusing. Di tengah padatnya lalu lintas dia mencoba sampai di kost secepat mungkin. Dari jauh terlihat sosok itu.
"Maaf pak.. Menunggu lama.." ucap Tania kemudian membuka pintu kamar kost nya dan menyalakan lampu.
Tanpa di minta, pak David langsung masuk. Dia langsung mengeluarkan beberapa lembar kertas.
Tania langsung masuk ke kamar, mengunci pintu dan langsung mandi. Fikirannya semakin kacau. Terfikir hal terburuk apa yang akan terjadi.
Apa boleh buat kalau pun itu akhirnya menjadi kenyataan. Selesai mandi, dia langsung memakai baju tidur celana panjang.
"Boleh saya baca materinya dulu pak.. Sebentar aja.." ucap Tania.
Pak David mengangguk. Ada sedikit rasa lega. Di baca buku pelajarannya dengan penuh konsentrasi.
"Lima menit lagi.." ucap pak David. Tania hanya meliriknya.
"Oke... Simpan bukumu.." ucap pak David sambil menyerahkan kertas itu.
Perasaannya semakin tak menentu. Di baca kertas ulangan itu perlahan. Mengapa essai semua..??, gerutunya dalam hati. Aaahh.. Sudah lah.. Percuma saja protes, toh tak akan di gubris.
"Selesaikan dalam waktu 30 menit.." ucap pak David.
Tania mulai mengerjakan soal soal itu. Mengapa tidak sesulit yang di berikan di sekolah..? Bathinnya sambil memainkan penanya di atas kertas.
Dia mencoba fokus. Di jawab satu persatu dengan teliti. Di periksa kembali semuanya sebelum di serahkan pada pak David.
"Sudah pak.." ucap Tania sambil menyerahkan kertas itu.
Pak David sedikit terkejut.
"Yakin..?". Tania mengangguk.
Pak David memeriksa jawaban Tania sambil sesekali meliriknya. Tania menunggu dengan gelisah.
"Ini hasil ulangan kamu.." pak David memberikan kertas itu.
Tania menerimanya dengan perasaan tak menentu. Dia terkejut, nilai A+...??
"Bapak gak salah..?" tanyanya.
Pak David mengangguk dan menatapnya
"Memang kamu mau dapat nilai C..??".
Tania sontak menggelengkan kepalanya.
"So.. Jangan komplain.." jawab pak David sambil merapikan beberapa kertas dan memasukkan dalam mapnya.
"Sebenarnya kamu mengerti dengan pelajaran ini, cuma mungkin kamu gak fokus saat ulangan, jadi hasilnya gak sesuai.."
Tania hanya diam dengan ucapan pak David. Dia tak ambil pusing, yang penting ulangan susulan udah selesai. Lega rasanya..
"Ok.. Saya pamit.." pak David pamit.
Tania pun berdiri dan tersenyum.
"Terimakasih pak.." ucap Tania.
Pak David tersenyum, "next time lebih fokus ya.." bisiknya di telinga Tania.
Tania hanya mengangguk pelan. Kemudian menutup pintu setelah pak David keluar. Dia kembali menarik nafas panjang. Benar benar lega. Dia pun berjalan ke kamarnya. Namun langkahnya terhenti ketika suara pintu kembali di ketuk.
Di buka pintu perlahan.
"Ada yang ketinggalan.." ucap pak David.
Tania merasa heran, "apa pak..?" tanya Tania.
Tiba tiba tangannya menarik kepala Tania dan bibirnya mendarat di bibir Tania. Melumatnya perlahan. Tania terpaku.
"Thanks..." ucap pak David sambil tersenyum dan meninggalkan Tania.
...****************...
"Kamu udah ulangan susulan ekonomi..?" tanya Shafia.
Tania mengangguk. Pertanyaan Shafia mengingatkan pada peristiwa semalam. Ketika bibir pak David menyentuh bibirnya.
"Heeii...!" suara Shafia membuyarkan ingatannya.
"Gimana hasilnya..?, bahaya kalau sampai gak dapet nilai minimal B..".
Tania hanya mengangguk. Tak lama pak David masuk, ini jam pelajaran terakhir. Tania tak berani menatap pria yang berdiri di depan kelas yang sedang memberi penjelasan.
Kenapa jadi aneh gini sih gerutunya dalam hati.
Untung saja dua jam pelajaran terakhir selesai.
"Ke toko buku yukk.." ajak Shafia.
"Tapi pulang ke kost dulu yaa.. Ganti baju.." jawab Tania.
Shafia mengangguk. Tania menjalankan motornya dan Shafia mengikutinya dari belakang dengan mobilnya.
"Kost kamu nyaman yaa.." ucap Shafia sambil rebahan di ruang tamu.
"Gak usah ngeledek..." sahut Tania dari dalam kamarnya.
Dia keluar dari kamar setelah mengganti pakaian. Shafia pun mengganti seragamnya. Mereka pun menuju toko buku.
Nyaman rasanya di dalam mobil Shafia. Terlihat Shafia sudah sangat mahir mengendarainya.
"Enak juga ya punya mobil begini.." ucap Tania.
Shafia tertawa
"Kalau kamu mau kan bisa beli. Jadi kalau kamu ada job sepulang sekolah, kan bisa langsung prepare.."
"Tapi aku belum punya SIM, KTP aja belum punya..."
"Di urus lah Tan.. Siapa tau kita bisa healing bareng. Ke Bali kek atau kemana gitu..".
Tania melirik Shafia, bener juga kata nih orang.
"Kamu kan bisa kursus nyetir sepulang sekolah, biar kelihatan hasil kerja kamu..".
Shafia yang senasib dengannya. Mungkin karena itu mereka jadi dekat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
David pelecehan pada tania.
2024-10-04
0
Jamayah Tambi
Bayangkan jika anak perempuan atau saudara petempuan kamu dilakukan begitu,apa kamu rela Pak
2024-08-16
1