Seorang perempuan turun dari mobilnya.
"Selamat pagi bu dokter..." sapa tukang parkir ramah.
"Selamat pagi jugaa.." sahutnya ramah.
Dia berjalan menelusuri koridor yang cukup panjang. Tugas kemanusiaannya di mulai lagi pagi ini setelah libur panjangnya usai.
Dari kejauhan terdengar suara perempuan teriak dan menjerit histeris. Dokter itu mempercepat langkahnya menuju sumber suara itu. Dia bergegas masuk ruangan yang sudah ada beberapa perawat dan Abimanyu.
"Tenanglah.. " ucapnya tiba tiba.
Seperti mantra sakti yang terucap, Tania tiba tiba terdiam.
"Dokter Clara.." ucap salah seorang suster.
Perempuan itu memberi isyarat agar Abimanyu dan suster keluar dari ruangan itu. Dia lah dokter Clara, dokter ahli Jiwa dan juga seorang psikiater.
Dokter Clara mendekati Tania. Mata mereka beradu pandang. Deg.. Jantungnya seolah berhenti. Seperti ada getaran aneh di antara keduanya. Dokter Clara memperhatikan raut wajah Tania baik baik. Persis seperti..
Dia membuang bayangan di benaknya. Dia tersenyum.
"Selamat pagi cantik.." sapanya sambil menyentuh tangan Tania. Getaran itu semakin kuat. Tania menatap wajah dokter Clara. Ada rasa teduh yang di rasakan dalam hatinya.
Tiba tiba di peluknya dokter Clara dan dia kembali menangis sejadi jadinya. Seolah menumpahkan semua kesedihannya yang mendalam.
"It's ok sayang.. Menangis lah.." bisik dokter Clara sambil mengelus rambutnya yang panjang.
Di luar sana Abimanyu menatap heran apa yang di lihatnya.
"How can..?" gumamnya.
Sungguh di luar nalar. Tania bisa langsung tenang dalam pelukan dokter Clara yang baru saja melihatnya dalam hitungan detik.
"Ini gilaaa.." desisnya.
Dia masih terpaku ketika melihat Tania berbicara dengan dokter Clara.
"Lihat apa lu..?" tanya Bimo. Abimanyu memberi isyarat ke arah ruangan itu.
"Udah lama..?" tanya Bimo.
"Baru beberapa menit yang lalu.., lu tau..??, doi langsung tenang man..!!" ucap Abimanyu masih tak percaya.
Bimo menarik nafas, "dokter Clara memang yang terbaik..".
...****************...
"Kamu sudah sarapan..?" tanya dokter Clara. Tania menggeleng. Kepalanya masih pusing dan berat.
"Kita sarapan bareng yuk.., kamu mau apa..?" tanya dokter Clara.
"Terserah dokter.." sahut Tania.
"Uhmm.. Bubur ayam mau..?, nanti kita sarapan bareng ya..". Tania mengangguk.
Dokter Clara berjalan keluar ruangan. Tania memandangnya sampai keluar pintu.
"Keep calm boys.." ucap dokter Clara ketika melewati Bimo dan Abimanyu. Keduanya saling pandang.
"Ikuti aja aturan mainnya.. " bisik Bimo kepada Abimanyu.
Dokter Clara masuk kantor dan mengisi absen terlebih dahulu. Jadwalnya prakteknya baru mulai jam 9, masih ada waktu 1 jam setengah lagi.
"Tania curhat apa dokter..?" tanya Abimanyu.
"Nanti ada saatnya.. Yang jelas saat ini dia cuma ingin tenang, terutama dari kalian para buaya.." sahutnya bercanda.
Bimo tertawa.
"Si Abi embahnya buayaaa..." sahutnya sambil melihat nama antrian pasien.
"Kampreett lu..!" dengusnya.
"On duty dulu yeee..." sambung Bimo sambil keluar ruangan dokter.
"Sepertinya dia depresi berat.." sahut dokter Clara.
Abimanyu menepuk keningnya.
"Masih bisa di selamatkan..?" tanya Abimanyu.
Dokter Clara tersenyum.
"Mudah mudahan.. Yang penting jauhkan dia dari para buaya..".
Abimanyu semakin faham. Karena dengan mata kepalanya sendiri dia melihat bagaimana David menyebutnya pelacur di depan orang banyak.
Jelas itu menjatuhkan harga diri, terutama mentalnya. Apalagi di usianya yang masih sangat labil.
"Tapi kamu gak ikut depresi juga kan karena di tinggal Evelyn..??" goda dokter Clara.
Aaahh... Untuk apa depresi, toh Abimanyu sudah tau belangnya Evelyn. Tak pantas dia di pertahankan. Di matanya, Tania mempunyai value yang lebih tinggi dari Evelyn. Uuppss.. Kok jadi ngebandingin..??
"Gak ada gunanya depresi hanya karena seorang Evelyn.. Abi udah tau gimana busuknya dia. Mereka memang pasangan yang serasi.." sahut Abimanyu.
Dokter Clara tersenyum, "jangan khawatir tentang Tania.. Dia pasti kembali seperti dulu.." ucap dokter Clara kemudian meninggalkan Abimanyu.
"Mudah mudahan saja.." gumamnya sambil menyusul langkah dokter Clara. Mereka berjalan beriringan menuju keluar. Obrolan santai mengiringi langkah mereka.
"Abi percaya deh sama tante.." ucapnya saat sampai di tempat parkir.
Abimanyu mempunyai hubungan yang dekat dengan dokter Clara. Abimanyu dulu pernah mendesign sebuah gedung di kota Dubai bersama suaminya, pak Rafael. Sejak saat itu mereka sering berkomunikasi. Dokter Clara yang tak memiliki anak menganggap Abimanyu sudah seperti anaknya sendiri.
Dokter Clara membawa dua mangkok bubur ayam ke ruangan Tania.
"Sarapan dulu yuukk.." ucapnya penuh kelembutan. Tania tak berhenti memandang dokter cantik yang ada di depannya.
"Dokter punya anak..?" tanya Tania tiba tiba.
Dokter Clara tersenyum, kemudian menggeleng.
"Dulu pernah punya baby, tapi meninggal waktu masih umur 1 tahun.." jawabnya sambil memasukkan sesendok bubur ayam ke mulutnya.
"Maaf.. Tania gak tau.." jawabnya.
"Kamu masih demam, jangan lupa setelah sarapan minum obat ya.., biar cepet sembuh.." bujuk dokter Clara.
Tania mengangguk. Di tatap kembali perempuan itu, dia merasakan ketenangan yang tak pernah di rasakan sebelumnya.
Dokter Clara menyodorkan teh hangat, "minum lah..". Tania menerimanya. Matanya berkaca kaca.
"Kuat ya sayang.. Jangan nyerah.." bisik dokter Clara. Tania tak mampu membendung air matanya.
"Saya tugas dulu ya.." ucap dokter Clara kemudian memeluk Tania.
Tania kembali mengantarkan kepergian dokter Clara dengan pandangan matanya. Kalau di izinkan, dia ingin dekat terus dengan sosok keibuan itu. Tatap matanya yang teduh, memancarkan rasa kasih sayang yang dalam. Sosok ibu yang sangat di rindukan saat ini.
Tania menarik nafas panjang. Entahlah.. Fikirannya buntu. Tak tau apa yang akan di lakukannya esok lusa. Dia hanya pasrah. Apapun nanti yang akan terjadi akan di jalaninya dengan ikhlas..
...****************...
Suara langkah kaki perlahan memasuki ruangan Tania. Dia pun menoleh. Dengan sedikit ragu, Shafia masuk. Dia meletakkan bungkusan di atas lemari kecil di samping tempat tidur Tania.
"Maafkan aku..." suara Tania memecah keheningan. Shafia menoleh, dia tersenyum.
"Lupakan aja.. Yang penting kamu udah baikan..".
Tak ada rasa sakit hati dalam diri Shafia dengan perlakuan Tania kemarin. Dia memaklumi kondisi Tania sekarang.
"Nanti aku minta surat keterangan dari rumah sakit untuk izinmu.." ucap Shafia.
Tania memandang ke arah Shafia.
"Aku mau pindah sekolah aja.." ucap Tania parau.
"Kalau kamu pindah, aku ikut.." sahut Shafia cepat.
"Iiihh... Apaan sih..!!, ikut ikut ajaa.."
"Gak enak gak ada kamu.." sahut Shafia lagi.
"Aku benci dia.. ".
Shafia mengerti perasaan Tania.
"Tapi dia udah gak ngajar lagi. Abis kejadian malam itu, besoknya berhenti ngajar. Satu sekolah juga gak tau kok hubungan kalian.."
Tania menarik nafas.
"Mungkin aku butuh waktu untuk kembali ke sekolah..".
Shafia mendekati Tania.
"Semua bisa di atur.." bisiknya.
Tania menjitak kening Shafia.
"Awww...!!, sakit tauu...!!"
Ringis Shafia membuat Tania tertawa.
"Ciee.. Udah bisa ketawa yaa..."
Suara seseorang membuat kedua sahabat itu menoleh. Shafia terperangah. Memandang ke arah Tania dan dokter Clara bergantian.
"Kok agak mirip ya..??" ucapnya.
"Jangan bercanda..." sahut dokter Clara.
Shafia terus memandang keduanya.
"Ini dokter Clara.." sahut Tania.
Shafia mengulurkan tangannya.
"Saya Shafia dokter, bestie-nya Tania...".
Tania melengus, "bukan bestie, pathner in crime sih iya..". Shafia tertawa mendengar jawaban Tania
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
sepertinya Clara mama kandung tania. betulkah?
2024-10-05
0
Nayla Nazafarin
dokter Clara mamanya Tania..
2024-10-01
2
Jamayah Tambi
Lepas ini hati-hati kamu berdua sayang.Jgn percaya laki2 hidung belang/Toasted//Toasted//Toasted/
2024-08-16
1