Di bawah terik matahari Tania menjalankan motornya ke rumahnya yang lama. Dia akan ke rumah pak RT untuk membuat KTP.
Peristiwa malam itu kembali terbayang. Kamu bisa Tania.. Dia menyemangati dirinya sendiri.
"Kalau mau buat KTP syaratnya harus bawa Kartu Keluarga.." ucap pak RT.
"Kira kira bapak bisa bantu gak..?, soalnya Tania kan pagi sekolah. Paling bisanya siang.." sahut Tania.
"Ooohh.. Gampang itu sih, yang penting kamu minta aja Kartu keluarga sama ibumu.., nanti bapak bantu.."
Tak ada pilihan lain, dia harus menginjakkan kakinya kembali ke rumah itu.
"Ya udah pak.., sebentar ya pak..".
Dengan berat hati Tania melangkah ke rumahnya. Dia terlihat sangat jauh berbeda, bahkan beberapa orang tak mengenalinya lagi.
Ada sepeda motor di depan rumahnya. Pasti mamanya sedang ada tamu. Tania masuk dari lorong kecil samping rumahnya menuju pintu dapur. Di buka pintu dapur perlahan.
Dia tersenyum sinis. Semakin tak terurus. Semuanya berantakan. Bau pesing yang menyengat dari kamar mandi membuatnya mual.
Dia naik ke atas menuju kamarnya yang sempit. Sangat tak terurus. Kotoran tikus berserakan di lantai. Tumpukan baju ada di sana sini.
Dia mencari apa yang di minta pak RT. Di buka laci lemari lama itu. Namun tak di temukannya. Pasti sudah di ambil mamanya.
Dia segera turun, tak tahan dengan bau pengap bercampur bau kotoran tikus yang berserakan di lantai.
"Pulang juga kamu akhirnya.." suara yang di kenalnya. Tania tersenyum sinis.
"Aku cuma pinjam kartu keluarga, mau buat KTP.." jawab Tania singkat.
"Kamu kelihatan sudah sukses ya.. " ucap mamanya memandang Tania dari atas sampai ke bawah.
Tania tak menggubrisnya.
"Aku gak mau lama lama di sini.." jawab Tania ketus. Mamanya tertawa sinis.
"Pergi seenaknya, tiba tiba pulang mau pinjam Kartu keluarga..!?!?, gak ada yang gratis Tania..."
Tania mencibir, "berapa..?" tanya Tania menantang.
"Uuhh... Sombong..!!, sudah berhasil ya jual diri..!?!?" ucap mamanya sinis.
Tania tertawa mengejek
"Setidaknya hargaku lebih tinggi, bahkan untuk membeli mulutmu aku juga mampu.."
Mamanya memandang Tania penuh kebencian.
"Ibu pelacur, anak juga pelacur.."
Tania pun menantang tatapan itu
"Aku yakin kau bukan ibuku.., tak ada ibu yang menginginkan anaknya jadi pelacur.." jawabnya.
Mamanya terdiam
"Dua puluh juta, harga untuk Kartu keluarga yang akan kau pinjam..".
Tania tertawa terbahak bahak, kemudian dia tersenyum sinis, dia mengambil handphonenya.
"Ada uang ada barang, dengan sekali klik uang itu akan masuk ke rekeningmu..".
Mamanya masuk ke kamar. Tak lama keluar membawa apa di minta Tania.
Tania mengambil apa yang di minta, bersamaan dengan salah satu jarinya menyentuh layar handphonenya.
"Deal.." ucapnya.
Tak lama terdengar suara handphone mamanya.
"Silahkan di cek, ibu pelacuur..!!" ucapnya dengan nada sinis penuh kesombongan.
"Dari mana kau dapat uang sebanyak ini..?" tanya mamanya.
Tania menatap perempuan itu penuh kebencian.
'Bukan urusanmu, tapi yang jelas hargaku lebih tinggi darimu.." ucap Tania sambil melangkahkan kaki keluar.
"Aku ingin kau pulang.." ucap mamanya.
Tania menghentikan langkahnya, menoleh ke arah perempuan itu.
"Maaf.. Aku sudah memiliki surga, tak mungkin kembali ke neraka..." sahut Tania.
"Taniaaa...!!!!, Taniaaaa.....!!!!!".
Teriak perempuan itu memanggil namanya. Namun Tania tak memperdulikannya. Dia kembali ke rumah pak RT. Di lihat pak RT masih menunggu.
"Maaf pak, menunggu..." ucap Tania sopan sambil menyerahkan apa yang di minta.
"Gak pa pa.." sahut pak RT.
"Boleh saya minta nomor telepon kamu..?, jadi kalau nanti berkas sudah masuk bisa langsung saya hubungi.." ucap pak RT.
"Tapi tolong pak, jangan beritahu siapa pun nomor telepon saya, termasuk mama.." ucap Tania sambil menuliskan nomornya di selembar kertas.
Kemudian menyerahkannya. Pak RT mengangguk.
"Saya mengerti.."
Tania tersenyum.
"Ya udah, Tania pulang dulu pak.." ucapnya sambil mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Ini sekedar untuk bapak beli bensin.."
Tania menyerahkan amplop pada pak RT.
"Aduuhh.. Gak enak hati saya..."
Tania kembali tersenyum
"Gak apa apa pak, doa kan aja ya kerjaan Tania lancar, Tania bisa lulus sekolah..".
Pak RT mengaminkan ucapan Tania. Tania pun pergi meninggalkan rumah Pak RT kembali ke kostnya. Mudah mudahan cepat selesai gumamnya dalam hati.
...****************...
Hanya butuh satu minggu, Tania sudah memiliki kartu identitas diri. Langkahnya kini akan semakin panjang. Apa yang di inginkan pasti akan tercapai.
"Semangat dong sang pejuang target kehidupan.." Shafia memberi semangat.
"Aku pengen beli rumah, menurut kamu gimana..?" Tania meminta pendapat Shafia.
"Bagus dong.. Kan udah pernah aku bilang, kerja keras mu harus ada hasilnya. Biar jangan abis sia sia..."
Sahut Shafia sambil menengguk jus jeruknya.
"Kamu beli sesuaikan aja sama kemampuan finansialmu. Jangan terlalu di paksa. Rumah KPR juga gak apa apa.. Yang penting ada tempat tinggal permanen.."
Tania memandang Shafia.
"Tumben hari ini otak mu lancar..?" celetuk Tania.
Shafia melirik Tania, kemudian mendekatinya.
"Gimana gak lancar, si om baru tranfer aku 200 jeti.." bisiknya sambil tertawa.
"Anjaaaaayyy...!!" sahut Tania.
Keduanya tertawa bersama..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
semangat. semoga dapat hidayah
2024-10-04
0
Jamayah Tambi
Memang betul2 gila ni.Susahnya jd broken family.Anak2 seolah- olah tidak merasakan dosa melakukannya/Tongue//Tongue//Tongue/
2024-08-16
1