Pak Rafael dan dokter Clara menikmati makan malamnya. Hanya suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring makan. Suasana hening.
"Sepertinya firasatmu benar.." suara pak Rafael memecahkan keheningan.
Dokter Clara memandang suaminya.
"Aku seperti melihat sosok mama pada diri gadis itu..." sambung pak Rafael sambil meletakkan sendoknya.
Matanya terpejam sesaat, membayangkan sesuatu.
"Mamamu versi Indonesia kan..?" sahut dokter Clara.
"Rambut hitam panjangnya seperti milikmu sayang.." ucapnya kemudian. Dokter Clara tersenyum.
"So..?". Pak Rafael membalas senyumnya.
"Test DNA..?".
"Itu jawaban tepat...".
"Itu tugasmu sayang.. Kau yang lebih mengerti.." sahut pak Rafael.
"Nanti aku atur semuanya..".
Pak Rafael mengangguk. Dia pun merasakan sesuatu yang berbeda saat menatap Tania. Hanya nalurinya yang bisa merasakannya. Mungkin rasa ini juga yang di rasakan di dalam hati dokter Clara.
...****************...
Dokter Clara membawakan roti isi untuk sarapan Tania. Tania memakannya dengan lahap.
"Terimakasih bu dokter, udah baik sama Tania.." ucapnya perlahan.
"Jangan sedih..." sahut dokter Clara.
Tania mencoba tersenyum. Gimana gak sedih, ada perhatian yang penuh kasih sayang dia dapatkan di sini. Mungkin besok gak akan di dapatkannya lagi.
"Selamat pagii..." sapa Bimo di dampingi seorang suster.
"Periksa dulu ya.." ucapnya sambil memasang stetoskop di telinganya.
"Ok.. Semua nya udah normal. Oh iya.. Suster mau ambil sample darah kamu, biar kita bisa cek kesehatan kamu secara keseluruhan.."
Tania hanya mengangguk. Suster pun melakukan apa yang di minta Bimo.
"Tahan yaa.." ucap suster.
Bimo dan dokter Clara saling melirik.
"Ok.." sahut suster lagi yang kemudian menyimpan sample darah Tania.
"Terimakasih dokter.." ucap Tania.
Bimo pun pergi meninggalkan ruangan itu. Tinggal Tania dan dokter Clara.
"Ibu juga pamit tugas ya..".
Tania mengangguk pelan. Wajahnya berubah sendu. Dokter Clara memeluknya.
"Jangan sedih.. Kamu perempuan hebat, kamu kuat.., jangan putus asa, jangan patah semangat.."
Mata Tania seketika basah. Pelukannya semakin erat, seolah berkata tak ingin semua ini berakhir. Rasa nyaman dalam pelukan ini tak akan di rasakan lagi.
"Kita pasti akan bertemu lagi.. " bisik dokter Clara.
Tania kembali mengangguk. Di hapus dengan lembut airmata Tania. Tania semakin terisak. Dokter Clara mencium puncak kepala Tania.
"Semua akan baik baik saja, percayalah.."
Dokter Clara memberi semangat pada Tania. Tania mencoba tersenyum di balik raut sedihnya. Dokter Clara melangkah meninggalkan Tania.
"Biarkan takdir yang bicara..." gumamnya.
Sorot mata kesedihan mengantarkan dokter Clara semakin menjauh dari Tania. Dia pun kembali terisak. Di ruangan yang sepi, belaian itu akan selalu di rindukannya
...****************...
Tania sudah mengganti pakaiannya. Untung ada Shafia yang rela sedikit repot membawakan bajunya.
"Taniaaa... Let's go home..."
Suara Shafia yang melengking penuh kebahagiaan.
Dengan tergesa dia menghampiri sahabatnya itu. Beberapa tas sudah tersusun rapi.
"Enggak tunggu dokter dulu..?" tanya Tania.
"Iyaa.. Bentar lagi dokter Bimo ke sini kok.., sabar yaaa.." sahut Shafia.
Bukan dokter Bimo yang aku maksud ucapnya dalam hati.
"Semua biaya berapa..?, nanti aku ganti.." ucap Tania.
Shafia mengangkat bahunya.
"Gak tau, kata mbak yang di admin udah ada yang bayar.." jawab Shafia santai.
Tania mengernyitkan dahinya. Dia penasaran. Dokter Bimo masuk bersama suster. Dia tersenyum.
"Ok Tania.. Hasil cek darah, kamu gak ada penyakit yang berat, semuanya bagus dan kamu udah boleh pulang.."
Dokter Bimo memberikan sebuah map berisi hasil pemeriksaan Tania. Tania menerimanya.
"Terimakasih dokter.., untuk suster juga.. Terimakasih banyak.." ucapnya.
"Yuukk.. " ajak Shafia sambil membawa tas milik Tania.
Perlahan Tania mengikuti langkah kaki sahabatnya. Bimo mengantarkan mereka sampai di luar kamar.
"Sampaikan salam dan terimakasih untuk dokter Clara ya.." ucap Tania kemudian.
Dokter Bimo dan suster mengangguk. Perlahan Tania dan Shafia meninggalkan rumah sakit itu. Berjalan melalui lorong melewati beberapa ruangan.
Shafia memasukkan tas Tania ke dalam mobilnya. Wajah Tania sendu.
"Tan.." ucap Shafia sambil mendang wajah sahabatnya itu.
Tania menoleh, mencoba tersenyum menutupi rasa sedih di dalam relung hatinya. Shafia seolah merasakan kesedihan sahabatnya itu. Dia memeluk Tania.
"Ingat pesan bu dokter Clara, kamu harus kuat, keep strong.." Shafia memberi semangat.
Tatapan Tania kosong. Dunia ini terasa hampa baginya. Dia menarik nafas panjang.
"Mungkin aku butuh waktu.." ucap Tania pelan.
"Aku selalu ada untukmu.."
Tania tersenyum. Dia menarik nafas panjang. Mereka masuk ke dalam mobil. Perlahan bergerak meninggalkan tempat itu.
...****************...
Dokter Clara membawa sampel darah Tania dengan hati hati. Jantungnya berdegup kencang ketika berjalan menuju laboratorium.
Di ruangan itu pak Rafael sudah menunggunya. Dia melemparkan senyum ke arah dokter Clara.
"Hai sayang.." sapanya di sertai senyum manis.
Dokter Clara membalas senyumnya. Jantungnya berdegup semakin kencang.
"Keep rilex dokter.." canda dokter Rudi melihat wajah tegang dokter Clara.
Pak Rafael dan dokter Clara sudah siap untuk di ambil darahnya. Suster bekerja dengan baik. Sampel darah itu di simpan di ruangan tertentu.
"Kapan bisa aku dapatkan hasilnya..?" tanya dokter Clara.
"Soon.., bila perlu sekarang juga aku kerjakan.." sahut dokter Rudi.
"Jangan tergesa gesa. Tapi lakukan yang terbaik.." timpal pak Rafael.
Dokter Rudi mengangguk. Tak lama, dokter Clara dan pak Rafael pamit.
"Aku tak sabar menunggu hasilnya.." ucap pak Rafael sambil menggenggam tangan istrinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Cristina Bria
pasti anaknya mereka😁😁😁
2025-03-17
0
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
semoga hasilnya sesuai dugaan & harapan
2024-10-05
0
Diny Julianti (Dy)
ternyata anak mereka pantesan pinter
2024-09-29
1