Bab 3

Tania terkejut dengan tepukan bahu di pundaknya.

"Bengong aja luu.." suara Yuri dari belakang. Yuri pun duduk di sebelahnya.

"Kenapaaa...??, berantem lagi sama emak lu..??" tanya Yuri sambil mencomot gorengan di depan Tania.

Tania hanya diam, apa aku harus menceritakan kejadian semalam pada Yuri tanya nya dalam hati.

"Aku udah muak tinggal di rumah.." sahut Tania, "tapi kalau aku pergi, siapa yang biayain aku..?"

"Lu punya modal cakep, kenapa gak coba jadi model gitu.." ucap Yuri.

Tania menarik nafas.

"Gak semudah itu Yuriiiii...!!, semua perlu modaaall..!!".

Yuri tertawa, "Eehh.. Taniaaa.., lu udah punya modal dasar, tinggal lu nya aja yang cari peluang..".

Memang susah kalau udah debat sama Yuri.

"Gimana mau dapat peluang, teman aku cuma kamuu.., aku juga gak pernah kemana mana.." sahut Tania mulai menunjukkan rasa sebalnya.

"Emang kalau ada peluang lu mau..?" tanya Yuri.

Tania memandang Yuri

"Gak usah mimpi ketinggian deh..!!"

Tania yang sewot bangkit dari kursinya. Membayar makanan dan minuman yang di pesannya.

"Taniaaa.. Wooii...!!" teriak Yuri sambil mengejarnya.

"Gue seriuuuss..!!" ucap Yuri saat mereka sudah di dalam kelas. Tania masih diam.

"Lu tau kan mbak gue yang kursus kecantikan di Invest Beauty..?, dia kemaren cari orang untuk modelnya..".

Tania terdiam seribu bahasa.

"Kalau lu mau entar gue bilangin sama mbak gue..". Tania memandang Yuri.

"Terserah deh.." sahut Tania

...****************...

Sejak sore Tania sudah mengurung diri dalam kamar, dia kembali dilema dengan apa yang telah terjadi.

"Taniaaaa...!!!!" mamanya menjerit memanggilnya. Dengan rasa malas dia bangkit.

"Ya ma.." sahutnya.

Mamanya memberi kode agar dia turun. Tania pun turun.

"Siapa semalam yang datang..?" tanya mamanya.

Tania terdiam.

"Eehh.. Ada yang datang cari mama, tapi Tania lupa menanyakan namanya.."

Tania mencoba berbohong.

"Apa yang kalian lakukan..??" tanya mamanya dengan tatapan tajam.

Tania langsung menelan salivanya, dia diam tak menjawab.

"Apa laki laki itu menyentuhmu..?" tanya mamanya. Tania menganggukkan kepalanya pelan.

Mamanya tertawa sinis.

"Tania.. Jangan coba bohong sama mama.., apa yang dia lakukan padamu..?".

Tania bingung harus mulai dari mana.

"Apa kau merayunya..?" tanya mamanya.

Tania terkejut.

"Enggak maa..!!, om itu yang deketin Tania. Tania gak ada ngerayuu om itu..!!, sumpah maa..!!" ucap Tania ingin menangis.

Mamanya kembali tertawa sinis.

"Dia menelepon mama tadi, dia bilang ada memberimu uang satu juta, mana uangnya..!!!" suara mamanya meninggi.

Tania ketakutan, dia pun menangis.

"Jangan menangis anak manjaa..!!, berikan uang itu padaku..!!" teriak mamanya.

Secepat kilat Tania naik ke atas, mengambil sepuluh lembar uang berwarna merah itu. Dia langsung memberikan pada mamanya.

Mamanya menghitung uang itu dengan perasaan senang.

"Ini seratus ribu untukmu.. Kau ingat jangan pernah berbohong padaku..!".

Tania mengangguk sambil terisak. Di angkat dagu Tania

"Sepertinya kau sudah bisa menghasilkan uang.." tatapan mata mamanya dari atas rambut sampai ujung kaki.

Tania terkejut dengan ucapan mamanya.

"Maksud mama apa..?" tanya Tania.

"Barang bagus, akan mempunyai harga tinggi.." sahut mamanya.

Tania semakin ketakutan. Apa mama akan menjualnya kepada para lelaki hidung belang..??.

Kejadian semalam saja masih menyimpan trauma baginya. Aku tidak mau seperti itu lagi.. Ucapnya dalam hati. Dia naik ke kamarnya. Di lihat uang yang tersisa, masih cukup banyak. Bisa untuk bekal hidupnya.

Tapi kalau dia nekat, pasti orang orang akan mempertanyakan dari mana uangnya..??. Tania pusing, dia mencoba mencari alasan yang tepat. Apa pun yang akan terjadi dia harus cepat keluar dari neraka ini.

...****************...

"Mbak Tia pengen ketemu sama kamu.." ucap Tia sebelum pelajaran di mulai.

"Mau ngapain..?" tanya Tania.

"Pengen liat kamu, kalau cocok kamu jadi modelnya dia..".

Tania terperangah, "seriuss..?" Yuri mengangguk.

"Nanti pulang sekolah mbak Tia jemput, kita sekalian aja..".

Tania pun mengangguk. Mungkin ini kesempatan baginya. Waktu terasa sangat lama berjalan. Namun akhirnya bel sekolah berbunyi tanda jam pulang sekolah.

Tania dan Yuri berjalan bersama. Hanya Yuri yang mau berteman dekat dengannya. Yuri juga yang tau siapa Tania dan latar belakang kehidupannya. Sebuah mobil menunggu mereka tak jauh dari gerbang sekolah.

"Ituu mbak Tia.." ucap Yuri.

Yuri langsung membuka pintu mobil. Seorang laki laki di belakang setir dan perempuan di sampingnya. Tania langsung memperkenalkan diri. Perempuan itu adalah mbak Tia dan laki laki itu seorang fotografer, namanya Azuan

Mereka menuju rumah Yuri. Orang tuanya menikmati masa pensiun di desa kecil, oleh karena itu Yuri dan mbak Tia yang menempati rumah itu. "masuk yuk.." ajak mbak Tia. Tania pun masuk ke dalam rumah itu.

"Tinggi kamu berapa Tan..?" tanya mbak Tia.

Tania menggeleng.

"Gak tau mbak, gak pernah ngukur soalnya.." jawab Tania.

"Kayaknya 160 ada sih.." ucap Azuan memandang Tania.

Mbak Tia membawa Tania ke sebuah ruangan. Mengukur tinggi dan menimbang berat badannya. Dia pun mengukur tubuh Tania. Tania yang kurang mengerti hanya menurut saja.

"Gimana..?" tanya Azuan.

"Perfect sih menurut aku.." sahut mbak Tia.

"Coba foto yuk.."

Azuan mengajak Tani ke studio mini mbak Tia. Mengatur tempat dan lampu untuk pencahayaan.

"Cakep banget.." gumamnya.

"Tania jangan kaku ya.. Santai aja.. Senyum dong.." ucap Azuan

Dia memperlihatkan hasil jepretannya.

"Tanpa make up aja udah cakep..".

"Kita pakai Tania..?" tanya mbak Tia.

"Aku sih ok.."

Mbak Tia pun mengangguk. Mereka kembali ke ruang tengah.

"Event mbak kan besok sore, kira kira kamu bisa gak..?"

"Mau mbak.." sahut Tania cepat.

"Tapi abis kita makan, kita langsung aja ambil foto untuk administrasi, jadi biar panitia juga tau siapa modelnya mbak..".

"Iya mbak.." sahut Tania.

Selesai makan, mbak Tia mulai bermain dengan alat make up nya.

"Kamu harus mulai pake sunscreen, biar kulit wajah kamu gak rusak.."

Mbak Tia memberi saran. Tania mengangguk. Waktu 1 jam di gunakan untuk menyulap wajah Tania. Tania berdecak kagum melihat dirinya di pantulan cermin.

"Ganti bajumu..".

Mbak Tia membantunya memakai sebuah dress panjang. Yuri pun memandang sahabatnya itu terkagum kagum.

"Sumpaahh.. Kayak bukan lu..".

Tania tersenyum senang dengan pujian sahabatnya itu.

"Karena siapa cobaa..??" ucapnya sambil melirik mbak Tia.

Pemotretan berjalan tanpa hambatan.

"Perfect banget.." desis Azuan "feeling gue bakal naik daun nih bocah.." gumamnya lagi.

Selesai maghrib semuanya pun beres.

"Jangan lupa hari Sabtu yaa.., nanti sepulang sekolah mbak langsung jemput kamu..".

Tania mengangguk. Sebelum pulang, mereka makan malam bersama.

"Ini untuk kamu.." bisik mbak Tia sambil menyerahkan amplop putih.

Tania mengambilnya dan memasukkan ke dalam saku rok sekolahnya.

"Yura.. Aku pengen pipis.." ucap Tania bangkit dari duduknya. Dia mengunci pintu kamar mandi, merobek amplop itu. Dia tersenyum, lima ratus ribu sudah sangat berarti baginya. Tania kembali ke meja makan.

"Udah malam nih, mbak anter kamu pulang ya..". Tania mengangguk.

"Emak lu gak marah lu balik telat..?" tanya Yuri.

Tania tersenyum sinis.

"Mamaku gak pernah perduli sama aku..". Yuri mengerti maksud Tania.

Perlahan Tania masuk ke dalam gang itu. Rumahnya terlihat senyap. Di pasang telinga baik baik. Tak ada suara, sepertinya mamanya tak ada di rumah. Dia masuk dapur melalui lorong sempit di sebelah dinding rumahnya.

Pintu dapur selalu tak terkunci. Dia membuka sepatunya. Kemudian masuk ke kamar mandi.

"Dari mana kamu jam segini baru pulang...??" suara mamanya mengagetkan.

"Tadi ada les tambahan ma, pulangnya ke rumah teman, ada yang ulang tahun.." Tania mengarang alasan.

"Oh yaa..??" mamanya tak percaya. Terlihat sisa makeup di wajah Tania.

"Ke ulang tahun teman atau kau jual diri..?" tanya mamanya.

"Ke ulang tahun teman maa..!!" jawab Tania. Mamanya mendekat, memeriksa saku seragam Tania.

"Ini apa..??" mamanya menemukan uang di saku Tania, pemberian mbak Tia tadi.

"Itu uang kas ma.., Yuri menitipkan pada Tania.." jawabnya.

Plaaakk...!! Tamparan di pipi Tania.

"Tak ada uang kas, kau tak punya teman..!!, jujur saja Tania..!!, ini uang hasil kau jual diri kan..??"

"Enggaakk maa...!!, enggaaakk...!!, itu uang kas..!!, jangan di ambil..!!" Tania menangis.

"Kau anak pelacur.. Akan jadi pelacur..!!".

Terdengar suara klakson motor. Tak lama pintu di ketuk.

"Kalau kau tak berhenti menangis, maka kau yang akan menggantikanku malam ini.." bisik mamanya.

Tania pun naik ke kamarnya. Di tahan tangisnya. Tak sanggup rasanya dia bertahan. Di susun buku bukunya dalam tas.

Uang yang masih utuh, di bungkus dengan pakaiannya. Di ambil beberapa lembar, untuk persiapannya. Beberapa fotocopy surat surat penting sudah di siapkan. Tekadnya sudah bulat, akan meninggalkan neraka ini..

Terpopuler

Comments

@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸

@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸

semangat tania. tinggalkan wanita itu..

2024-10-02

0

Diny Julianti (Dy)

Diny Julianti (Dy)

kasian Tania

2024-09-29

1

Jamayah Tambi

Jamayah Tambi

Ini memang gila./CoolGuy//Sob/

2024-08-15

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!