Bab 17

Tania masih banyak diam dalam beberapa hari ini. Semua pekerjaan memutuskan kontrak secara sefihak. Tapi dia tak perduli dengan itu semua. Toh masih ada simpanan dalam tabungannya.

Suara deru mobil di depan rumahnya yang mungil itu. Tania mengintip dari balik tirai. Sebuah mobil mewah yang tak di kenalnya. Sosok tinggi hitam manis keluar perlahan.

"Abimanyu..." desis Tania.

Tak lama terdengar suara pintu di ketuk. Perlahan Tania membukanya. Terlihat Abimanyu tersenyum.

"Hai.. Apa kabar..?"

Tania hanya membalasnya dengan senyuman. Mengisyaratkan perasaannya yang masih hancur berantakan.

"Kita ngobrol di teras aja..."

Suasana hening. Keduanya terlihat kaku.

"Aku buatkan minum dulu.." ucap Tania memecahkan keheningan.

Dia melangkah masuk ke dapur. Membuat jus jeruk. Kemudian menaruhnya di nampan beserta dengan keripik pisang yang di belinya beberapa waktu yang lalu.

"Silahkan.. Adanya cuma ini.."

Tania meletakkan minuman dan toples di atas meja marmer. Tanpa basa basi, Abimanyu langsung menenggak jus itu.

"Haus.. Abis perjalanan panjang.."

Tania tersenyum kecil. Manusia macam apa ini..

"Dokter Clara mau buat acara barbeque weekend ini.. Kamu mau ikut..?" tanya Abi

Tania terdiam. Memikirkan sesuatu. Namun tiba tiba handphone-nya berdering.

"Sebentar..." ucap Tania

"Ya bu dokter... Iya... Abi baru sampai.. Uuhhmm.. Sama Shafia boleh..?, ooohh... Iyaa.. "

Suara Tania berubah senang. Dia kembali meletakkan handphone-nya.

"Dokter Clara mengundang aku untuk datang.."

"Datang lah... Kalau kamu gak keberatan, nanti aku jemput.." ucap Abi menawarkan diri.

Tania memandang Abi.

"Gak usah, mungkin aku pergi sama Shafia aja.."

Abimanyu mengangkat bahunya. Keduanya kembali terdiam..

...****************...

Dengan tangan gemetar dokter Clara membuka amplop coklat besar itu. Degup jantungnya terdengar sangat kuat. Dokter Rudi dengan tenang melihat pemandangan yang sudah biasa seperti itu.

Lembaran kertas putih di keluarkan perlahan. Bola matanya perlahan mengikuti tulisan yang tertera di atasnya. Seketika dia menutup mulutnya. Di lirik pak Rafael yang berdiri di sampingnya.

"Sayang... Diaa...."

Ucapannya terputus. Matanya berkaca kaca. Pak Rafael mengambil kertas itu, lalu membacanya.

"Seperti yang ku duga.."

Secercah bahagia tersirat di wajahnya. Keduanya berpelukan. Dokter Rudi pun tersenyum melihat pasangan itu.

"90% hasilnya mirip gen kalian dokter.. Soo.. Bisa di pastikan Tania adalah anak kalian.. Selamat yaa.."

Dokter Rudi mengulurkan tangannya. Dokter Clara dan pak Rafael membalas uluran tangannya.

"Mukjizat Tuhan... Skenario Tuhan luar biasaa..."

"Ayooo sayang.. Aku ingin menemui Tania.." ucap dokter Clara dengan bahagianya.

Mereka bergegas. Meninggalkan ruangan dokter Rudi. Rasa tak percaya, bagai mimpi. Ternyata naluri sebagai orang tua tak bisa di pungkiri.

...****************...

Suara gelak tawa mengisi rumah Tania. Cerita lucu Shafia ternyata mampu membawa keceriaan bagi Tania.

"Eh.. Kemarin itu, tau gak..??, si Amri kan kadang suka bengong di kelas. Tiba tiba di panggil bu Ida, langsung kaget dia, trus terjungkal.."

Tania langsung terbahak.

"Udah kayak gajah jatuh dong..?" sambung Tania.

"Ya iyaa laahh.. Kan badannya gede..!!, sumpaaahhh.. Abis dia di ketawain sama temen temen satu kelas.."

Tania memegang perutnya karena menahan sakit akibat tertawa.

"Pokoknya ada aja kejadian aneh di kelas.." ucap Shafia lagi.

Kemudian dia menengguk es teh pocinya. Keduanya terdiam sesaat. Mengatur nafas yang tersengal sengal.

"Kamu balik sekolah lagi kan..?" tanya Shafia penuh hati hati.

Tania terdiam. Dia menundukkan wajahnya.

"Aa.. Akuuu...." ucapnya terbata bata.

Suara klakson mobil menghentikan kata katanya. Mereka berpandangan.

"Taniaaaa.. Sayaang..." suara perempuan.

Seketika Tania tersenyum lebar. Dia sangat mengenal suara itu.

"Dokter Clara..." pekiknya langsung bangkit dari duduknya.

Perempuan itu kini sudah ada di ambang pintu. Tania menyambutnya. Mencium tangan wanita itu dan memeluknya erat.

"Senangnya bisa lihat kamu begini.." ucap dokter Clara sambil mengecup kening Tania.

"Om Rafael..."

Tania pun mendekati laki laki itu, menyalaminya. Pelukan hangat pun di berikan. Shafia hanya melongo melihat pemandangan itu.

"Halloooo... Masih ada makhluk lain di sini.." celetuknya.

Dokter Clara pun mendekati Shafia. Juga memberikan pelukan hangat.

"Terima kasih udah bisa buat Tania ketawa lagi.." bisik dokter Clara.

Shafia tersenyum. Dia juga senang bisa membuat sahabatnya bisa kembali seperti dulu.

"Dokter ke rumah Tania, mau jenguk Tania ya..?"

Dokter Clara dan pak Rafael saling pandang. Sebenarnya maksud tujuan mereka ingin memberi tahu hasil tes DNA itu. Tapi sepertinya timing-nya tidak pas.

"Uuhhmm.. Gini. Besok Sabtu kami mau buat garden party. Kecil kecilan aja, kalian datang ya.." celetuk dokter Clara.

Terlihat pak Rafael menarik nafas. Tania dan Shafia saling pandang.

"Iya.. Kami pasti datang.." sahut Shafia cepat

"Tapi.. Gak banyak orang kan..?" tanya Tania

Dokter Clara tersenyum. Masih terlihat rasa trauma di wajah Tania.

"Enggak sayaang.. Cuma beberapa teman dekat ma.. eehh.. Maksudnya beberapa teman dekat ibu aja.. "

Tania kembali memandang Shafia. Shafia mengangguk pelan.

"Ya udaahh.. Nanti kami datang bu.." ucap Tania

Senyum sumringah di wajah sepasang suami istri itu. Ada pancaran bahagia di mata mereka. Shafia merasakan ada sesuatu di antara mereka.

...****************...

"Kamu ngerasa ada yang beda gak sih sama dokter Clara..?" tanya Shafia

Tania hanya mengangkat bahu sambil memainkan handphone-nya.

"Aku mau tanya serius sama kamu.." ucap Shafia

"Apa..?"

"Kamu beneran gak mau sekolah lagi..?" tanya Shafia dengan hati hati.

Tania kembali terdiam. Di tatap wajah Shafia. Matanya kembali berkaca kaca. Shafia menggenggam tangannya.

"Tan.. Jangan terus larut dalam dukamu. Fikirkan juga masa depanmu. Kita tinggal 1 semester lagi. Bentar lagi kita UAN. Abis itu.. Udah.. Selesai semuanya..."

Tania masih terdiam. Terasa sesak dalam dadanya.

"Aku masih trauma.." sahutnya dengan suara parau.

Shafia duduk di sebelah Tania. Di rangkul bahu sahabatnya itu. Tubuh Tania terguncang.

"Nasib kita sama, kalau bukan kita yang menata masa depan kita, siapa lagi..??" bisik Shafia

Tania menghapus air matanya.

"Mungkin hari Senin aku akan ke sekolah.." ucapnya kemudian.

"Yeaaaayyyyy......!!!" pekik Shafia.

Tania melempar bantal ke arah Shafia.

"Sialan...!!!, ngagetin aja....!!!" umat Tania.

Namun Shafia hanya tertawa. Sementara Tania mengusap usap telinganya.

Terpopuler

Comments

Sindy Sintia

Sindy Sintia

biasanya yg aku tau 99% baru cocok, ini cuma 90%, apa typo

2025-02-16

0

@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸

@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸

masih belum dikasih tau

2024-10-05

0

Jamayah Tambi

Jamayah Tambi

/Chuckle//Puke//Sob//CoolGuy/

2024-08-16

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!