...--------Happy Reading--------...
"Cila..." Anin melihat terdapat nama pada kalung yang dipasangkan sang pemilik di leher kucing putih.
"Cila anak siapa? Mami Zizi?" tanya Anin lagi.
"Ucuk...ucuk...ucuk... Gemesh naaa," ucap Anin saat menggendong Cila.
"Anak mami jangan larii.." Cila melompat ke arah balkon membuat Anin mengejarnya hingga terjatuh dari lantai 4.
"Akkkhhhh mamaaaa..." Teriak Anin kencang sampai tetangga apart membuka jendelanya.
Seketika ia tercebur ke kolam renang dan semuanya hilang dalam gelap.
.
.
Anin mengerjapkan mata kala terbangun di atas tempat tidur, tapi sungguh asing tempat yang kini ia lihat.
"Kak Tio?" ucapnya melihat Tio berjalan mendekat ke arah ranjang.
Athian seva menaiki ranjang king size menggenggam kedua tangan Anin meletakkannya di atas kepala dengan satu tangan yang berurat seperti apa yang didambakan oleh para gadis pada sinetron tertentu.
"Honey... Sudah cukup memanggil nama pria lain?" kata Athian sambil menciumi kening hingga bibir Anin.
"Hey, stop! Kak sadar!" ucap Anin merinding saat seluruh tubuhnya di gerayangi oleh Tio.
"Dia tidak bisa menjaga kamu, apakah aku harus tetap diam?" katanya Tio berbisik dan meniup kecil pada sisi kanan telingan Anin, membuat gadis itu melenguh dengan sendirinya.
"Eengghh.. cukup," Anin memberontak tetapi cengkraman pada tangannya begitu kuat sehingga sangat susah melepaskannya.
Melihat Anin yang terus menendang asal-asalan Thian melepaskan cengkramannya dan berdiri meninggalkan Anin di kamar itu sendiri, menuju ruangan yang berada di sisi kiri kamar.
Thian kembali dengan membawa 3 borgol, mengunci kedua kaki Anin pada sisi ranjang, 1 borgol lagi pada kedua tangannya.
"See.. kamu ngak bisa kabur, jadi menurutlah anak manis," ucap Thian membelai pundak hingga bagian bawah tubuhnya.
Entah apa yang mereka lakukan selanjutnya Anin tidak tau, ia keburu pingsan dengan kejadian tidak terduga dari sang pemilik raga Tio barusan.
.
-(04.25) Itaewon-
"Sudah kamu bereskan?" ucap seseorang pada aplikasi chat.
"Sudah bos, kini kami menyekapnya di gedung x," jawab orang yang berada di sebrang.
Pria itu menutup panggilan dari ponselnya, dan bergegas memakai coat menuju gedung yang telah di berikan lokasinya oleh bawahan.
Menyetir dengan kecepatan tinggi tidak membuatnya merasa takut, ini semua hanya perlu sedikit gas hingga bertambah 120 KM/M. Yang ia pikirkan sekarang adalah bagaimana cara membunuh dengan menyiksa binatang itu terlebih dahulu.
Hidupnya telah dibayang-bayangkan oleh banyak orang di dunia bawah, tak heran mereka takut akan terjadi hal mengerikan pada keluarganya sendiri.
Mengijakkan kaki pada lantai yang kotor dan barang-barang tidak terpakai sungguh tidak membuatnya jijik sama sekali.
Pria itu terus berjalan dan pada saatnya ia menyuruh sang pengawal untuk menyiram muka target yang sedang duduk tertidur pada kursi besi terikat rantai.
"Lepasin aku Thian, kamu bodoh!" ucap wanita itu saat terbangun dari tidur lelapnya.
"Apa aku tidak cukup menyiksamu?" Thian tertawa melihat kebodohan yang dilakukan oleh target.
"Kau pikir bisa menahan ku disini, huh?" ucap Grace melantangkan suaranya.
"Aku akan benar-benar membunuh satu persatu orang mu, camkan itu!" Kata Grace yang seperti semut kecil saat Athian melihtnya.
Tio menepuk satu kali sehingga para pengawalnya mendekat dan memperlihatkan video ayah Grace bersama para rekan kerja sedang meminum minuman terlarang.
"Akkhh.. Lepasin! Nga-ak kamu ngak bo-oleh," ucapnya terbata menatap nanar sang ayah di video.
"Halo? Dengan kepolisian disini," ucap seseorang di benda pipih itu dengan suara bervolume tinggi pada Handphone pengawal Thian di sisi kiri Grace.
"Ada seseorang yang tengah berpesta ria sungguh mengusik tidur malamku,"
"bisakah kamu mengusirnya," lanjut Tio
Grace tercengang dengan perasaan yang campur aduk jadi satu, ia meminta tolong kepada Thian agar dapat melepaskannya.
Sang pengawal mematikan ponselnya, dan membawa Grace yang terduduk hinga sekarang mencium lantai.
"Kamu pikir saya malaikat?" ucap Thian mendekati Grace.
"Ini untuk niat burukmu," Thian mengeluarkan sebilah pisau yang berada di sakunya.
Satu tusukan pada kaki Grace, membuat sang empu menjerit keras. Grace pikir Thian tidak akan bisa mendapatkannya, namun sekarang ia terjebak di dalam kandang singa yang sudah dibangunkan dari lama.
"Satu ini karena kau telah mengusik seseorang yang sedang hidup dengan tenang," tancapan kedua kali pada sisi kiri perutnya.
Grace memuntahkan darah, hingga terbatuk bersamaan dengan tawa Thian yang menggelegar.
"Satu ini kau menyeret kekasihku dalam kejahatan mu," Tio menancapkan satu kali lagi pada tepat di jantung Grace.
"Uhukk..Uhk," Grace tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, yang dia rasakan kini hanya sakit pada sekujur tubuhnya.
Grace jatuh pingsan dan Thian menyuruh para pengawal membereskannya. Terdapat 8 tusukan di tubuh wanita itu, Thian yang malas melihat darah pada coatnya bergegas kembali ke mansion.
.
.
Ia berganti pakaian dan kini hanya Shirtless sehingga otot-otot terlihat jelas dengan potongan roti pada perutnya.
Thian melirik sebentar pada ranjang yang kini terdapat Anin di sana, Thian meraih laptop dan duduk pada kursi kerja.
Mengotak-atik pencaharian agar ia tidak akan bisa tertidur lagi dalam beberapa pekan ini. Namun nihil, Thian hanya mendapatkan hasil penelusuran 'bahwa dengan meminum kopi kamu dapat begadang dalam jangka waktu 4 jam' artikel buruk menurutnya.
Kini apa yang bisa ia lakukan hanya dapat bertanya pada sang ahli, keluar dari pada Website aneh itu Thian mencari game online yang bisa ia mainkan pada waktu malam.
PUBji terlihat menarik, hingga Thian mengklik tanda start pada laptop.
.
Anin yang terbangun hanya membuka mata dan merasakan tidak ada lagi borgol yang menguncinya, ia cukup lega akan hal itu. Tetapi, suara berisik malah menggangu telinganya.
Saat berbalik ia melihat Thian yang sedang bermain laptop, Anin tidak mau mengusiknya lagi. Biar saja ia asik dengan game dari pada ia mengganggu Anin yang hanya ingin terlelap lagi.
Rasanya Anin ingin sekali menggebuk Thian karena hal yang ia perbuat pada siang hari ini. Apakah ia harus memikirkan rencana bagaimana keluar dari genggaman monster berwujud angel ini?
Anin kembali tidur dan terlelap melupakan apa yang terjadi hari ini, karena sudah malam mau pergi kemana ia? Yang ada di culik oleh wewe gombel yang sering mencari anak kecil.
Thian yang merasakan pergerakan di kasur hanya bisa melirik pada layar monitornya, kini ia sudah mengekill 11 orang dan alive tersisa hanya 4 orang saja.
Tidak mau kelewatan untuk chicken dinner tentu saja Thian sangat fokus.
"Yes!" serunya saat mendapatkan kemenangan.
Merasa lelah ia berjalan menuju tempat tidur dan merangkak kesamping Anin hingga memeluknya, mereka tertidur dengan lelap untuk esok hari yang mungkin lebih melelahkan.
...--------TBC--------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments