Bab 18 | Apartemen

...--------Happy Reading--------...

"Nin ayok kita pergi dari sini, mba tunggu kamu," mendengar ucapan Azia, Anin sangat setuju. Ia akan pergi jauh dari Tio kecuali bertemu dengannya di kantor.

Setidaknya Anin akan hidup tenang. Lagi pula Tio tidak akan bisa melakukan hal-hal di luar nalar ketika ada Azia didekatnya.

"Iya kak," Anin bergegas menuju kekamar membawa segala pakaian dan tidak lupa barang-barang berhaga seperti kalung berliontin ruby serta laptop kesayangannya.

Anin turun dengan cepat hampir saja terpeleset apabila tangannya tidak ditarik oleh Tio. Anin segera menepis dan melanjutkan langkah demi langkah menuruni tangga.

"Anak itu sungguh ceroboh," ucap Tio kini disamping Azia.

"Kakak pikir, kakak bisa ngehalangin aku ketemu Anin? Huh," bisik Tio.

"Diem atau aku jewer lagi kamu!" ucap ketua Azia.

"jagain rumah, jangan sampai ada kera masuk ngacakin isi didalam sini," kata Azia berlalu menggandeng tangan Anin.

.

Azia maupun Anin hanya terdiam didalam taxi, entah kenapa setelah kejadian memalukan itu Anin seolah menjadi bodoh.

"Anin, ini hadiah dari mba buat kamu," Azia memberi paper bag yang telah ia jinjing dari tadi.

"Wahhh.. Makasih kak, Gelangnya indah banget!" seru Anin dengan mata berbinar.

Gelang bercorak merah segera Azia membelinya ketika mengetahui Anin akan menetap di Itaewon. Tanpa di sadari, Azia telah menganggap Anin seperti adik kandungnya sendiri.

Azia sangat berterima kasih masih ada yang menolongnya di masa lalu, hanya keluarga Anin yang sangat peduli kepada mereka berdua.

Kini ia bisa menjalankan hidupnya dengan rasa aman, dengan bantuan mereka.

"Oh iya Nin, mba lagi banyak pesenan, kalo kamu ada perlu telpon mba aja ya," Ucap Azia hendak turun di persimpangan jalan.

"Loh aku sendirian di apart dong mba," kata Anin.

"Udah ngak papa nanti pak supir anterin kamu ya? dadah," Azia membuka pintu mobil dan pergi kedalam toko pakaian. Entah apa yang ingin ia lakukan, Anin tidak tau.

.

"Pak ini bener alamat yang dikasih mbanya?" tanya Anin, ia ragu saat melihat apartemen namun layaknya seperti penthouse.

"Iya mba betul sekali, mba yang keluar tadi bilang ke saya memang ini lokasi tempatnya," ucap sang supir taxi.

"Makasih ya pak,"

"Sama-sama mba,"

Anin segera menuju resepsionis menanyakan jalan menuju lift, ia kebingungan melihat lobby yang luas itu.

Setelah bertemu lift ia segera menekan tombol lantai 4, tidak menunggu lama pintu lift terbuka seseorang masuk dengan pakaian serba hitam seperti seorang pencuri pikir Anin. Untung saja ia telah keluar terlebih dahulu, entah sejak kapan pikiran negatifnya bermunculan.

Anin mencari nomor pintu C9 dan ya berada di lorong sebelah kanan lift, Setelah membuka pintu ia menyalakan semua lampu yang ada di dalam.

"Huh.. Lega-nya jauh dari musuh bebuyutan," selama ini Anin bersikap manis agar Tio tidak melaporkannya pada Ayahanda tercinta, bisa-bisa dia sudah diceramahi habis-habisan.

"Eh itu apa ya?" Anin mendekati sesuatu berwarna putih.

"Wow, seekor kucing putih bloon?" katanya takjub.

Azia memelihara seekor kucing karena takut akan dikenai santet oleh orang yang tidak bertanggung jawab, setelah ia scroll toktik Azia menemukan fakta tentang kucing, jadilah ia memelihara seekor binatang lucu nan menggemaskan ini.

"Allo anak manis," kata Anin gemas pada Cila sang kucing.

~Meongg~

"Aaakkk lucu banget, sini tante gendong," Anin mengelus kepala Cila dengan lembut sehingga dia menggerakkan ekornya kencang.

"Adek tante taro kandang ya," ucap Anin.

Anin membereskan makanan kucing yang sedikit tumpah, dan terduduk di sofa seraya menonton televisi.

Tidak hanya itu ia melihat-lihat ruang kerja Azia yang dipenuhi oleh bunga yang bertebaran.

"Ini bunga apa aja sih," gumam Anin menyentuh bunga mawar berwarna biru gelap.

Dengan penglihatannya Anin dapat melihat berbagai macam jenis bunga yang tersebar di dalam ruangan yang sedikit sempit.

"Kak Grace perlu merenovasi apartemen ini sehingga dapat lebih leluasa menyusun karangan bunga," kata Anin.

"Aku harus keluar sebelum ia masuk kedalam rumah," lanjutnya.

Sesuatu mengkilat menyilaukan mata, Benda pipih bertuliskan i miss you dengan foto kan Azia bersama hmm.. Pacar?

Ide yang bagus untuk hadiah saat Jefrey mencapai kelulusan sidang skripsinya nanti.

"Aku akan memberitahu kak Azia untuk memesan buket bunga itu nanti," ucap Anin menutup pintu ruang kerja.

...--------TBC--------...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!