...--------Happy Reading--------...
Pagi-pagi Anin sudah bersiap merapikan pakaiannya untuk berangkat ke kantor yang berada di pusat Lyn, Itaewon. Burung berkicau merdu di taman belakang rumah, karena hutan yang masih banyak pula rumah Tio sekelilingnya berdiri pohon-pohon yang rimbun.
"Suasananya seperti berada di kebun binatang," pikir Anin.
Kenapa yang dipikirkannya kebun binatang, karena lihat saja keluar jendela kamarnya sudah ada monyet dan tupai sedang cekcok. Kejadian alam yang sangat langka di lihat oleh Anin.
Kamar berdesain modern tetapi memiliki ruangan yang luas membuat Anin betah tinggal disini.
"Non, ini laptop dari kurir," ucap Yeni.
"Oh iya bi, letakkin aja di atas meja," setelah Anin menjawab ia bergegas menuju lemari mengambil flashdisk yang disimpannya sudah lama.
Anin segera membuka laptop dan memasukan flashdisk, ia memindahkan file sekaligus dokumen yang penting.
Kala membuka ikon 'PicT' Anin terkesiap, ia ingat betul kejadian yang ada di foto pada laptopnya itu. Fotonya bersama dengan Tio, saat Anin yang mencium Tio di pipi. Segera ia menutupnya dan mengambil flashdisk setelah mengimpor semua file.
Menurutnya pada masa kecil memang selalu banyak luka pada hati Tio, Anin yang dekat dahulunya menjadi renggang.
"Anindya! Cukup, aku ngak mau lihat kamu lagi!"
"Kakak jahat! Anin salah apa kak?"
"Pergi!"
Gadis kecil itu berlari menuju taman yang sering ia kunjungi hingga para orang tua keluyuran mencari-cari dimana keberadaannya.
.
"Nin, Ayo berangkat," Ucap Tio mengetuk pintu dari arah luar.
Hal tersebut mengkagetkan Anin, serasa serangan jantung mendadak. Ia seolah di butakan oleh memori masa lalu, membuat kesal dirinya sampai sekarang.
"Duluan aja Anin masih mau beres-beres," ucapnya.
"Sudah jam 7 masih beres-beres?!" seru Tio yang sedang menahan amarahnya.
Tio telah menunggu Anin keluar dari jam 06.30 tetapi anak itu tidak keluar sedari tadi. Waktunya terbuang sia-sia.
"Hah? Jam 7 dari mana, Mata lo picek?" astaga Anin sungguh berani, kalau bukan sahabat papanya ia sudah tamat oleh Tio.
Tidak ada jawaban dari Tio, mungkin saja sudah pergi kira Anin. Ia memasukkan Laptop dan perlengkapan lainnya serta tidak lupa membawa high hillnya sehingga dia turun kebawah dengan menyeker saja pikirnya.
Kala membuka pintu kamar Anin terperanjat kaget melihat wajah Tio berada di depannya, Tio menunggu Anin? Baiklah dia akan menurut saja kali ini.
"Lama!" ucap Tio berbalik menuruni tangga.
"ckck cewek emang gitu! Pake make up itu susah loh," gumam Anin menunjukkan raut tidak bersahabat dengan Tio.
"ya," kata Tio.
Anin yang mendengar jawaban singkat darinya pun hanya bisa menatap kesal, apa susahnya pergi saja dari pada menunggu Anin sedang bermake up. Hey, dia tidak salah! Tidak ada yang menyuruhnya menunggu terlalu lama.
Setelah sampai pada pintu utama Anin langsung pergi meninggalkan Tio yang sedang mengobrol dengan penjaga kebun. Anin masuk ke dalam mobil dan berkaca pada cermin yang berda di dalam dashboard.
Tidak lama ia melihat Tio memutari mobil dan duduk di kursi pengemudi. Mereka berangkat dengan tenang karena Tio tidak mengajaknya mengobrol tentang apapun.
.
"Pagi pak," kata seseorang diseberang sana.
Banyak yang mengucapkan selamat pagi pada CEO yang baru yang lain dan tidak bukan Tio. Anin mengiringi saja lagi pula dia tidak tau harus kemana.
...--------TBC--------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments