Bab 20 | Mansion

...--------Happy Reading--------...

Pagi kembali menyapa renungnya dengan cahaya masuk melewati jendela terang.

"Hoaaamm.."

"Hah?" Anin terkejut ketika melihat apa yang berada pada pinggangnya, sebuah tangan mengelus perutnya dengan pelan.

Anin yang terkejut, menampar pipi Thian yang kini terbangun oleh tingkah Anin.

"Pagi, Honey," ucapnya dengan suara serak.

"Aku tau kita bisa bicarakan ini, dan aku bisa maafin kamu," ucap Anin tiba-tiba.

Thian hanya tersenyum remeh mendengarkan. Ia kembali mengeratkan pelukannya, hingga Anin memukul lengan itu berulang kali.

"Kamu milik aku!" ucap Thian menegaskan kata kepemilikan.

"Diem!" Anin menggigit lengan itu hingga Thian melepaskan tubuh mungilnya dari pelukan.

Anin bergegas turun dari ranjang hingga berlari menuju pintu.

"Kok ngak bisa dibuka?" gumamnya.

"Kamu cari ini," ucap Thian menjulurkan sesuatu barang kecil berbentuk kunci dengan gantungan berhuruf A di sebelahnya.

Anin terus saja menekan gagang pintu berharap terbuka. Namun, naas pintu itu tetap tidak terbuka.

"Hey, apa yang kamu lakukan? Sudah jelas kuncinya berada di tanganku," ucap Tio lagi.

Tanpa pikir panjang Anin kembali melesat ke arah Thian dan berusaha mengambil kunci pada genggamannya.

"Aku kasih kunci ini, tapi kamu harus nikah sama aku!" kata Thian dengan cepat, menjulurkan tangannya ke atas.

"Ngak bisa gitu dong, itu namanya pemaksaan!" ucap Anin menolak.

Apa yang dipikirkan oleh Thian di luar dugaan Anin selama ini, ia kira kakaknya itu memang baik dan tidak akan memaksa melakukan hal keji tanpa mengetahui perasaan sang lawan bicara.

"Atau kamu mau mengorbankan papamu juga seperti Grace?" lanjut Thian membuat Anin tercengang.

Apa yang dilakukan Thian pada Grace, memang Anin sejak Grace datang ke mansion Tio sudah tidak suka pada sifat yang ditunjukkan oleh wanita itu.

Tetapi ada apa dengan masalah papanya dan raga Tio ini?

Anin terus saja meloncat-loncat meraih kunci, tetap saja tidak bisa ia gapai.

"Kamu jangan aneh-aneh!" peringat Anin pada Tio yang kini entah kenapa berubah nama menjadi Thian.

Thian segera meraih ponsel yang berada di atas meja samping kasur menunjukkan foto mayat Grace pada Anin yang berada di dalam ponselnya.

"Lihat dia, sudah aku bunuh untuk kamu," kata Thian membuat bulu kuduk Anin merinding.

Darah sudah ada dimana-mana, sekitar tubuh Grace hanya terdapat ruangan gelap yang Anin yakini bahwa itu adalah suatu markas.

"Kamu Tio bukan Thian! Sadar kak!" seru Anin lantang dengan mengguncang tubuh Thian.

Anin sudah tidak bisa berpikir panjang, ia melemparkan benda yang kini berada di lantai. Apa yang dipikirkan orang didepannya.

Anin hanya mau hidup tenang!

"Aku beri kamu kesempatan," kata Thian menatap mata Anin yang kini mengeluarkan setitik demi setitik air mata.

"Kamu mau ikut kata-kata aku, atau kita mati bersama," Anin yang mendengar apa yang di katakan oleh Tio hendak meringis, berpikir nasibnya akan seburuk apa jika ia menyetujuinya.

"1...2..."

"Oke, aku terima! Tapi kamu ngak perlu usik keluarga aku lagi!"

"Tergantung dengan apa yang bisa kamu lakukan, up to you babe," Anin merasa jijik mendengar ucapan yang keluar dari mulut itu.

"Ayo kita pergi sekarang," Thian segera mengambil coat berwarna coklat dan memberikan pakaian yang layak untuk Anin.

Untuk sekarang Anin hanya bisa menurutinya saja, tapi tidak nanti saat ia sudah terbebas dri jerat asmara yang sulit ini dari Thian.

Mereka berlalu melewati ruang tengah yang kini telah dibersihkan oleh Bi Yeni, Anin bingung rumah ini selalu terlihat sepi seperti tidk ada orang lain berada di dalamnya.

Mansion Tio pada siang hari akan banyak pelayan yang bekerja namun saat malam, rumah ini seperti sarang hantu.

Anin hanya bisa harus membiasakan diri menetap kembali di rumah yang membuatnya tidak nyaman.

Kini ia kepikiran dimana Azia berada, apakah dia tidak tau Anin ada disini. Anin rasa apabila ia tau apa yang dilakukan oleh adi laki-lakinya itu seperti ini, Azia tidak akan tinggal diam.

Namun siapa sangka Athian memalsukan informasi, bahwa Anin koma di rumah sakit luar negeri dan sedang dirawat oleh keluarganya.

Rumah sakit mana pun ia tidak tau.

Athian sosok orang yang apa dia inginkan bagaimanapun bisa ia dapatkan. Anin sangat benci pada pemikiran seperti itu.

.

"Ini tanda tangan disini," kata Thian.

"Hmm.." Anin hanya menganggukan kepala.

"Sudah selesai, aku akan mengirim copy-annya ke kamu nanti," ucap Tio kembali memasuki balai pernikahan.

.

Anin termenung saat Thian mengajakkan berhenti di sebuah cafe kecil, tanpa disadari Thian memperhatikan air muka Anin yang terlihat sedih.

ia menurunkan penglihatannya pada cicin manis yang ia berikan setelah tanda tangan kontrak selesai.

"Kamu ngak keberatankan?" tanya Thian.

"Hhmm.."

"Kamu mau aku pesenin ice cappucino?" tanyanya lagi.

"No," Athian beranjak menuju meja kasir dan melihat menu apa saja yang ada disana.

"Mba, pesan jus mangga dan Ice Cappucino satu," ucap Thian pada sang kasir, segera membayar dengan kartu debit kemudian berlalu ke arah meja yang sedang di duduki wanitanya.

"Aku udah pesen minuman, jangan cuekin aku!" ucap Thian membuat pelanggan lain pada sisi sampingnya terkejut.

"Iya," Kata Anin.

"Ayo pulang!" ucapan Thian membuat Anin membelalakkan mata, kenapa banyak sekali tingkah pria ini.

"Tapi minumannya?" ucap Anin yang ditarik lengannya dengan paksa keluar dari cafe.

Mereka berdua memasuki mobil, Thian hanya duduk terdiam tidak menyalakan mobil hingga membuat Anin bosan berada di dalam kendaraan itu.

"Aku ambil minumannya, pelayan udah letakkin di meja kita," ucap Anin yang lumayan panjang, membuat Thian menyetujuinya.

Setidaknya wanita itu tidak hanya merenung, pikirnya.

Anin membuka pintu mobil, berjalan menuju cafe itu kembali dengan seseorang yang berada dibelakangnya membunyikan lonceng ketika pintu terbuka.

Anin hendak meraih 2 cup minuman mereka namun ucapan seseorang memberhentikannya.

"Nin ini kamu?" ucap lelaki yang berada di belakangnya.

Anin sangat tau jelas suara siapa yang memnggilnya, ia hendak pergi dengan berlari namun tangannya dicekal. Thian menepis tangan orang tersebut dan menunjukkan tatapan tidak bersahabat pada sang empu.

"Sayang, ayo ke mobil," ucap Thian merangkul Anin seperti melindunginya dari terkena sesuatu yang berbahaya.

Thian membenahi coat yang dipakai oleh Anin, dan terus mengajak bicara saat berjalan pulang menuju mobil.

Lelaki itu hanya menatap nanar pada 2 orang yang saling merangkul.

"Kamu lupain aku secepat ini?

"Apa selama ini kamu cuma main-main sama aku Nin?"

"Kamu pasti dihasut oleh pria itu kan?"

Apakah kalian masih ingat dengan kata-kata ini, dan sekarang berbalik ke arah sasaran yang tepat.

Isi pikiran lelaki itu dipenuhi hal negatif, entah apa yang dilakukannya di masa lalu hingga bisa terjadi hal seperti sekarang.

...--------TBC--------...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!