Bab 6 | Penthouse

"Nin maafin aku ya? Maaf banget aku ngak bisa temenin kamu,"

"Aku harap dimanapun kamu, kamu bisa jaga dirimu sendiri,"

"Nin..."

*

*

"Jefrey!" Anin terbangun dengan nafas yang tidak beraturan.

"Shhh.." Anin memegang kepalanya yang sedikit pusing.

"Udah bangun? Huh!"

"Segitunya kamu mikirin cowok ngak berguna itu,"

Siapa lagi kalau bukan Tio yang berucap demikian, ia membuat raut mukanya seolah meremehkan Anin.

"Aku harus pergi, Aku harus cari Jefrey," gumamnya.

"Anin, sudah cukup! Kita hari ini harus sudah ada di Itaewon!" bentak Tio tak kala kesal melihat Anin yang hanya memikirkan Jefrey.

Anin yang tidak senang memunculkan raut muka malas, menghadapi Tio sangat tidak mudah. Sudah seperti papanya yang selalu memaksa keinginannya sendiri.

"Tunda saja urusanmu itu wahai Pak Tio! Aku harus melihat kekasihku yang sekarang ada di rumah sakit, dan ia tak kala penting dari pergi ke Itaewon," ucap Anin panjang lebar.

Anin meraih ponselnya dan pergi menuju pintu, namun dengan mudah dicekal oleh Tio.

"Kau tidak lihat dirimu sendiri, huh?" ucap Tio membuat Anin terdiam sesaat.

"Si Jefrey itu hanya koma, apa pentingnya dia,"

Ucapan Tio membuat rasa sedih semakin dalam di relung hatinya, Anin tidak berharap seperti ini! Dia sangat menyayangi Jefrey, bahkan hanya Jefrey yang bisa menemani setiap saat dimanapun itu.

"Kau tidak akan mengerti jika orang yang kau sayangi pergi meninggalkanmu!" ucap Anin melepaskan cekalan tangan dari Tio dan berlari keluar Penthouse segera mencari taksi, dan tidak lama dari itu ia sampai ke rumah sakit.

Saat berada didalam taxi Anin hanya memikirkan Jefrey, entah apa yang harus ia katakan kepada orang tua Jefrey jika tau anaknya sebelum kecelakaan, mengantar Anin sampai dengan selamat masuk kedalam rumah.

...****************...

11.27, Rumah Sakit Kooc

Anin sedang menanyakan kepada resepsionis di mana ruangan Jefrey, Karena sang adik Jinan telah menelponnya untuk bisa menjenguk Jefrey, mungkin saja saat bertemu dengan Anin Jefrey akan bersedia membuka matanya.

Anin berjalan menaiki lift hingga sampai pada ruangan yang kini enggan ia masuki, karena yang dia harapkan selama ini mereka berdua tidak akan masuk rumah sakit kecuali saat mereka menemui sang anak yang akan lahir dari Anin dengan rasa bahagia.

Namun, semua harapan hanya bisa menjadi harapan. Saat ini Jefrey masih setia menutup mata terbaring di bangsal no 2 ruangan Manggis.

Anin hanya terdiam meratapi nasib sang kekasih yang seperti patung tak bersuara sedikitpun, dia bimbang. Apakah sebenarnya Jefrey sengaja mengatakan hal tersebut dalam video itu, katanya ucapan orang yang sedang mabuk merupakan suatu fakta.

Apa memang Jefrey setega itu? Ataukah memang Jefrey sengaja membuatnya menghindar dari Anin? Semua pikiran rasanya memenuhi otak Anin. Ia tidak bisa mengalihkan pikirannya dengan hal positif.

Seseorang mengetuk pintu, membuat Anin tersadar lalu membuka pintunya.

Ya itu Adik Jefrey, Jinan Khalilah " Lho, kakak udah dateng? Udah lama ya kak?" tanyanya sambil tersenyum menyapa sang calon kakak ipar menurutnya.

"Ngak kok, barusan aja ini.. Jinan udah makan dek?" tanya Anin yang hanya di angguki oleh Jinan.

"Kak Jefrey... Kabarnya dia mengendarai mobil saat mabuk, dan membuat dia oleng hingga seperti ini," Ucap Jinan.

"Ada bapak-bapak yang nelpon Adek pakai telpon rumah waktu Jinan lagi nonton Tv,"

Jinan menceritakan saat dia terkejut dengan adanya panggilan dari nomor tidak di kenal dan memberi tahunya kalau sang kakak telah dilarikan ke rumah sakit oleh ambulans.

"Kak Anin, maafin kak Jefrey ya?" kata Jinan.

"Hah? Kenapa harus minta maaf? Kakak kamu ngak ada salah apa-apa kok!" ucap Anin.

"Malahan kakak yang salah, udah buat Jefrey sekacau ini," Kata ini hanya bisa ia simpan dalam hati. Tak sanggup membuat sang adik bersedih.

"Kak, kakak doain kak Jef ya..? Supaya dia bisa cepet pulih,"

Anin mengangguk dengan cepat, ia akan selalu mendoakannya tapi hal lain kini mulai ia pikirkan. Sepertinya memang seharusnya dia tidak harus berdekatan dengan Jefrey lagi! Dia tidak mau menambah masalah dalam kehidupan pria itu.

"Ya sudah, kakak pulang dulu ya?" ucap Anin sambil tersenyum getir.

"Iya kak, hati-hati," lambaian tangan perpisahan mengakhiri pertemuan mereka.

"Maaf Jef, memang seharusnya aku yang pergi," ucap Anin dalam hati kala melihat terakhir kalinya Jefrey terbaring di rumah sakit hari ini.

Anin keluar dari ruangan bangsal rumah sakit, ia terduduk di ruang tunggu di depan.

Kini Anin kembali menangis, ia merasa kesal pada dirinya yang tidak bisa mengendalikan emosi.

"Jef.." Anin masih terus saja menangis hingga sekitarnya bingung mendengar suara perempuan menangis saat pagi-pagi begini.

.

Another side

"Dek kamu denger suara nangis ngak?"

"Huh?"

"Nangis apa?"

"Ituloh kayak deket banget,"

"Eh iyaya,"

Remaja itu berjalan keluar saat mendengar suara tangis semakin dekat pada pintu. Ia membuka pintu dan melihat ke arah kanan.

"Walahdalah.. Mba kunti jangan nangis depan sini, yang dikamar mau tidur," Ucap Remaja laki-laki memperingati Anin.

Anin yang mendengar dirinya dipanggil budhe kun itu pun kesal, kenapa harus mengganggu waktu ia saat menangis seperti ini.

Salahnya juga sih menangis di rumah sakit.

Anin melototkan matanya dan berdiri seolah ingin mengejar mangsanya hingga anak remaja itu kembali menutup pintu dengan kencang.

"Jaman Edan, malah ngejar cok," ucapnya pada teman yang sedang berada dibangsal 1.

"Wadoh kamu apain emang?" tanya temennya sambil menepuk kepala.

"Cuma tak omongin biar kapok, eh malah marah," Remaja itu kini naik ke bangsal temannya.

"Ngak perlu naik juga toh, sana kamu,"

"Ndak mau,"

"Yowes kamu aja yang sakit!" hingga beberapa kali bujukan mereka kini sudah aman dan tentram tidak berisik.

Anin hanya berniat menakutinya saja, kini ia berjalan gontai keluar menuju kedai es mangga, setidaknya ia bisa melegakan tenggorokannya saat itu.

Saat membeli es, bajunya di tari seorang anak kecil.

"Kakak mau es itu juga satu please..."

"Loh kamu punya uang?" tanya Anin, kali saja anak itu menyuruh Anin mengambilkan es karena ia tidak sampai untuk mengambilnya.

"Ngak punya, mama ngak pernah kasih Eja uang," ucapa sang kecik berbaju kotor.

"Ya sudah ini kakak kasih ya buat adek gratis deh," ucap Anin sambil memberikan 1 es mangga yang ia beli dari ibu yang jual.

"Terima kasih kak... Chuuuu~" kata Eja sambil mengecup pipi kanan Anin.

Anak kecil itu sepertinya anak jalanan yang selalu dipaksa oleh orang tuanya untuk mencari nafkah pada usia belia, sungguh tega yang dilakukan kepada sang anak. Mereka seharusnya kini bersekolah dan bermain dengan teman malah mengemis dijalanan.

"Kakak jangan sedih, nanti Tuhan kasih yang terbaik buat kakak," ucapnya lagi, kini ia berlari menuju pada gerombolan anak jalanan lainnya.

Anak kecil yang imut, sayang sekali hidupnya tidak adil. Anin melihat uangnya yang tersisa sedikit kini hanya bisa membayar taxi menuju pulang.

...--------TBC--------...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!