Bab 16 | Keesokan Pagi

...--------Happy Reading--------...

Setelah melewati hari, kini Anin terbangun sangat pagi dan menggeliatkan badannya. Ia melihat jam sudah pukul 06.00 KST tetapi sayangnya hari ini mereka berdua libur, Anin berniat menanyakan Azia kepada Tio.

Anin tidak melihat Azia selama datang ke sini, apakah kakak kesayangannya satu itu tidak merindukannya?

Anin turun dari ranjang dan berlari keluar mengetuk pintu Tio, Anin tau Azia tidak tinggal dengan Tio Alasannya karena Azia lebih ingin tinggal di apartemen yang dekat dengan tempat kerjanya.

for you information Azia merupakan seorang Florist, kalau kalian ke apartemennya kalian akan melihat banyak bunga berserakan.

"Kak Tioooo..." Teriak Anin membuat Tio membuka pintu dengan mata yang sembab, terdapat setitik air mata yang mengalir di sebelah pelupuk matanya.

"Kak?" Anin heran, ia belum pernah melihat Tio menangis.

Setelah melihat Anin, lelaki itu langsung memeluk Anin menutupi muka sembabnya.

"Kakak tuh cerita sama Anin jangan ditahan sendiri," ucap Anin sambil mengelus punggung Tio yang kini masih memeluknya di pertengahan pintu.

Tio terus saja tidak menjawab membuat Anin menghela nafas, Setiap malam Tio selalu mengulangi mimpi yang sama saat dia berada di dalam keadaan terpuruknya.

Semuanya meninggalkan Tio, bayangan itu seperti sudah melekat kemanapun Tio pergi. Ia sudah di sarankan oleh kakaknya pergi ke psikiater tetapi Tio menolak mentah-mentah.

rasanya Tio di anggap seperti orang gila.

"Kak Ti..," ucapan Anin terputus.

Tio segera melumat bibir pink itu agar tidak melanjutkan bicaranya, kini Anin hanya pasrah kala melihat Tio meneteskan air matanya lagi.

"Emhh.." Geram Anin saat ia kehabisan nafas memukul pundak Tio. Dengan segera Tio melpaskan ciumannya dan kembali memeluk Anin.

"Maafin kakak," kata Tio berulang kali. Anin ingin marah tetapi ia tidak bisa, melihat Tio seperti ini seolah ia akan kehilangan Tio sejauh-jauhnya.

Dengan berpelukan seperti anak kecil Anin menuntun Tio ke arah tempat tidur dan mendudukkannya di pinggir kasur.

Tio masih enggan melepaskan pelukannya, membuat Anin bosan. "Apakah Tio tidak berpikir bahwa bahunya ini sakit jika di letakkan barang berat seperti kepalanya itu?" kata itu hanya tersimpan dalam benaknya.

Setelah 5 menit Tio pun melepaskannya, rasa Anin ingin terbang ke luar bumi. Lihatlah kini Tio hanya diam menatapnya seolah Anin ini lukisan.

"Kamu ngak boleh pergi dari sini," kata Tio dengan suara serak habis menangis.

Anin tidak tau maksud Tio, kenapa dia tidak boleh pergi? Dia juga mau jalan-jalan bersama temannya yang lain, bukan hanya merenung meratapi nasib sebagai manusia bukan sebagai kelinci yang imut seperti keinginannya!

"Nanti kamu kenapa-kenapa," cicit Tio.

Anin berulang kali menghela nafas, ia kesini hanya mau bertemu Tio dan menanyakan dimana apartemen Azia. Anin jadinya melihat Tio yang sedang dalam keadaan seperti ini.

"Kak, Anin mau tanya apartemen Kak Azia dimana," jelas Anin.

"Ngak usah pergi!" bentak Tio.

Hey, Anin hanya menanyakan keadaan kakaknya itu saja, Tio hanya terlalu cemas.

"Azia bakalan ke sini hari ini, dia ngak akan pergi dengan wanita itu," ucap Tio melihat Anin yang kini terkejut.

"Kak Azia dalam bahaya, aku ngak mau kamu kena imbasnya," lanjut Tio mengelus tangan Anin.

"Hah? Maksud kakak apa?" Anin tidak habis pikir dengan apa yang diucapkan Tio.

...--------TBC--------...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!