3 | Dia kembali

...--------Happy Reading--------...

POV: ANINDYA

Jefrey mengantarkan aku pulang sampai depan rumah dan aku melihat satu mobil yang bertengger di depan garasi papa, aku rasanya tidak asing dengan mobil tersebut, mungkin saja tamu papa pikirku. Kami mengucapkan salam perpisahan setelah bertengkar hebat di mobil, sungguh aku tak menyangka akan terjadi seperti ini.

Jefrey yang seperti itu membuat hatiku goyah, cukup sudah jangan terus begini. Menurutku kalau aku tetap menganggur dan terus tinggal di rumah, itu bukan hal yang baik, sepertinya aku akan bicara  lebih lanjut dengan Jefrey nanti.

Aku memasuki pekarangan rumah dan terlihat seorang yang tak asing berada di belakang papa, ya! dia Tio Satya Kusuma pemegang saham terbesar sekaligus pemilik perusahaan terbesar Top 5 Claude di Korea. Perlu kalian tahu dia teman dan kerabat terdekat papaku, ia sering berkunjung sih. Tapi, tumben sekali selarut ini! Sepertinya aku akan dapat masalah...

"Dari mana aja kamu dengan temanmu itu?" ucap papa setelah aku sampai di depan pintu.

"Tadi adek main sama Sena, habis kerkom terus ke pasar malam pa," ucapku sambil cengengesan dan berdoa semoga papa percaya.

"Untung ada Tio yang jagain kamu tadi, kalau ngak nanti kamu bisa aja dijambret orang loh! ucap papa sambil menepuk Bahu Tio.

Hah? sejak kapan bapak-bapak ini main ke pasar malam? apakah tugas kantor tidak terlalu menyibukkannya? Benar sih, tadi ada orang yang ingin menjambret tasku tapi keburu ada yang teriak maling, jadilah si mamang di gebukin..

"Jadi Om Tio yang bantuin Anin? waduh makasih banyak loh om,? ucapku dengan sedikit menekankan nada 'om' pada akhirannya.

"Waduh, ngakpapa pak. jadi malu saya," ucap si Paman Tio itu, halah palingan mau cari muka depan papa. Masih mendingan juga Ayank Jefrey.

"Ya sudah, mari masuk dulu Tio. Dan kamu Anin bawain teh buat tamu kita" ucap sang ayah.

"Siap pakde," jawab Anin dengan tangannya yang memberi hormat ala upacara sekolah.

Anin mengambil panci lalu air yang berada di dispenser, tak tega hati ia memberi air keran yang kotor kepada tamu kehormatan papanya itu. Ia menunggu air mendidih dengann bermain ponsel, terlihat wallpaper dirinya dan Jefrey yang sedang memegang ice cream di photo box.

......................

"Dia selalu sama seperti dahulu selalu bisa memikatku, dengan tingkahnya yang lucu," gumam Tio.

Obrolan mereka berlanjut dengan masalah perusahaan yang berada di kota Seoul, kebetulan sekali Tio dapat membantu menyalurkan sedikit sahamnya pada perusahaan Papa Anin. Menurut Tio itu hanya hal kecil ia bahkan dapat menarik investor dari luar, hanya untuk bekerja sama dengan perusahaan kecil milik orang lain.

"Si Anin maunya nerusin perusahan saya," ucap papa Anin yang membuat seutas senyum Tio mengembang.

"Saya ngak tau, apa dia sanggup dengan pekerjaan ini," lanjutnya.

"Om tenang aja, aku bisa bantu Anin. Kebetulan aku bakalan berangkat besok langsung malahan," ucap Tio bersemangat, dia sudah tau hal ini akan terjadi.

Tio akan bersikap santai saat tidak ada Anin, lagi pula Papanya Anin lebih suka di panggil om dari pada bapak. Rasanya seperti dipanggil para pegawai lain saja.

Tio tidak meninggalkan sedetik apapun itu tentang Anin, bahkan sebelum orang lain tau, dia sudah tau apa yang akan terjadi duluan. Sayangnya cinta itu bertepuk sebelah tangan, membuat pikirannya kembali pada beberapa saat yang lalu ketika makhluk astral itu menyentuh pipi Kesayangannya.

"Anin bisa tinggal di Rumah Tio kok om," Jelasnya, perumahan elit seperti Citraland yang ada di Indonesia pada saat ini.

"Apa tidak menganggu nak Tio? Lihat saja tingkahnya itu seperti anak yang baru masuk smp, apa tidak terlalu merepotkan?" ucap Papa Anin sambil menghela nafas, anaknya itu tidak pernah berubah masih saja lakunya seperti anak kecil.

'Malahan itu ide yang paling bagus loh om, kini tidak akan berjauhan lagi dengan Anin. Oh bahkan tinggal serumah dengan kekasih tercinta,' gumamnya dalam hati.

"ngak kok om, ngak mengganggu selagi Anin bisa fokus sama kerjaannya kenapa tidak?" saut Tio dengan senyumannya.

"Oke, besok om jelaskan ke Anin. Semoga dia mau ya," ucap Papa Anin.

"Siap om, nanti Tio bisa langsung bilangin ke bibi untuk beres-beres di rumah," kata Tio.

Setelah obrolan yang panjang mereka tidak sadar dengan jam yang telah berlalu, kini pukul 01.00 KST.

Sangking asiknya anin bermain hp ia hampir lupa mematikan kompor, untung saja tidak meledak kalau tidak, sudah habis dia dimarahi ibundanya habis-habisan, kompor kesayangan mamanya yang berwarna ungu itu sangat dirawat hingga kinclong tak bernoda.

Kini ia meletakkan hpnya dan menyeduh teh panas itu dalam gelas bening tak lupa gula dimasukkan sedikit saja karena Tio tidak suka terlalu manis. Anin teringat ucapannya waktu itu,

"Nin kalo buat teh gulanya kurangin sedikit ya?" kata Tio.

"Hah? Kenapa om?" tanya Anin heran.

"Soalnya kamu udah manis banget, ngak perlu banyak gula lagi," ucap Tio yang membuat muka Anin menjadi masam.

mendadak pada saat itu Anin ingin muntah dengan gombalannya yang sedikit alay yang dilakukan oleh Tio.

Anin segera mengganti Wallpapernya yang hanya bergambar kucing kini ia ganti menjadi fotonya bersama dengan Jefrey.

Anin pikir mungkin semua akan baik-baik saja tetapi kenapa hatinya selalu gundah untuk beberapa saat. Apa mungkin memang benar kata temannya jangan cari gara-gara kini ia terkena imbasnya.

Anin hanya ingin melanjutkan skillnya, ia sudah kursus beberapa tahun ini dalam waktu yang singkat juga ia bisa mencapai loncat tingkat dalam jangka waktu pendek.

Menurut Anin dalam berbisnis bukanlah hal yang mudah. Tetapi, jika tidak dicoba apa salahnya.

Ia juga pernah menjual produk-produk skincare pada temannya dan mereka sangat tertarik pada hal tersebut.

Di luar bayangan Anin ia akan bekerja di perusaahan yang kini sedang naik daun. Tanpa harus naik ke tingkat lanjut saja ia sudah diterima oleh perusahaan itu sendiri, ya walaupun milik kelurganya.

Anin dapat bekerja sebagai owner dan bekerja dibidang promosi produk pada pembeli langsung.

Tak lama juga ia ingin membuat produk skincare dengan label miliknya sendiri.

Anin lebih dianggap sebagai penerus namun ia hanya mempunyai skill yang sedikit di bidang management.

Seharusnya ia berkuliah terlebih dahulu, pikirannya tidak setuju dengan perintah hatinya.

Menurutnya ia harus bisa masuk dalam perusahaan baru ia akan bisa tenang berkuliah, ia akan mencari tahu apa saja yang dapat ia lakukan pada masa kerjanya sambil terus belajar dan berkembang.

...--------TBC--------...

Terpopuler

Comments

®ayess👏😒

®ayess👏😒

tingkah Anin lucu banget 🤣🙏

2024-03-02

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!