"Ups... Sorry ya ngak sengaja," ucap Jena menumpahkan kopi pada baju Anin.
"Iya, ngak papa bu," kata Anin sambil melihat sekitar.
"Eh itu staff baru? Katanya deket sama Pak Tio," kata si A.
"Eeh iya, palingan juga gatel kek si onoh," kata si B.
"Apa lo? Mau gue gampar?" si C menjawab.
"..." mereka terdiam.
Mereka segera pergi saat di tatap tajam oleh Anin, astaga kelakuannya tidak pernah berubah. Padahal dia sedang berada di kantor, masih saja membuat orang terintimidasi.
Anin berlalu menuju toilet, membersihkan sisa kotoran minuman kopi yang tertumpah pada blousenya.
"Dek! Cepet keluar Pak Tio manggil kamu ke ruangannya," ucap Jena yang menumpahkan kopi.
"Iya mba," jawab Anin seadanya, dia cukup malas meladeni Tio dan para fans Tio disekitarnya. Apalagi Jena sang manager di perusahaan, dengan tuturnya yang menurut Anin seolah paling senior kala mpls.
Anin segera keluar dan bergegas menuju lantai 4 yang dimana beradanya ruangan Tio. Membuka pintu dengan 3 kali ketuk sehingga terdapat sahutan di dalam.
"Ada yang bisa saya bantu?" ucap Anin seolah sedang melayani sang bos.
"Saya mau kamu bawain teh hangat," kata Tio yang membuat Anin bingung ingin memasukkannya ke tong sampah atau membuangnya ke jurang alaska.
"Maaf bapak, ini bukan tugas saya," tuturnya.
"Kamu ngak mau nurut?" ucap Tio membuat Anin kelabakan.
"Iya bentar! Bawel banget sih," seru Anin membuat Tio tersenyum kecil.
"Kamu kalau sama atasan harus pakai bahasa yang sopan, ngerti!" ucap Tio yang hanya di angguki olehnya.
"Ini Kakanda hamba pamit undur diri," ucap Anin membuka pintu.
"Heh! Saya belum selesai,"
"Kamu sudah dimasukkan dalam bagian pemasaran, jadi saya mau tanya tentang orang-orang ini," ujar Tio sambil memberikan setumpuk kertas para Trainer yang sedang menjalankan masa pelatihan.
Apa hubungannya dengan Anin? Ini bukan tugasnya.
"Mereka sebelum memasuki agensi harus di tes dan ada beberapa tahap kompetisi menurutmu mana data yang paling relevan untuk dijadikan Idol," ucap Tio.
Ya perusahaan ini bergerak di bidang tarik suara dan benar saja sudah masuk Top 5 pada tahun ini.
Krukkk~~
"Hehehe..."
"Pak saya lapar, saya mau makan dulu ya?" kata Anin menjauhkannya dari kertas-kertas yang berserakan di atas meja kerja.
"Ya sudah saya pesenin gasfood aja, duduk diem di sini," Anin tidak berhasil untuk kabur.
"Lagi pula saya bukan penyanyi pak, saya tidak bisa memilih kalau seperti ini," ucap Anin berusaha agar tidak memakai bahasa gaulnya planet mars.
"Kamu emang bisanya apa sih," gumam Tio.
Tio mengambil kembali kertas tersebut dan memanggil karyawan lain untuk menyerahkan dokumen yang telah di tanda tanganinya.
Anin hanya terduduk diam sambil melihat-lihat isi ruangan Tio, hanya sekedar ruangan biasa ada kursi, meja dan..
"Kak itu foto siapa?" Anin mengubah cara bicaranya kala melihat foto bayi berbalut pakaian pink.
"Kakak bukannya belum nikah ya?" tanya Anin lagi.
Tio segera menjatuhkan frame di atas mejanya sehingga Anin tidak bisa melihat jelas bayi perempuan siapa di dalam foto.
"Ngak usah kepo," ucap Tio.
"Dasar, suka loli!" seru Anin membuat Tio tersedak saat meminum teh.
Uhuk..uhuk
"Eh bapak kenapa?" kata Anin sambil mengelus punggung Tio, Anin sungguh tidak konsisten menggunakan bahasa.
Tio yang merasakan punggungnya di elus menjauhkan tangan Anin dari tubuhnya.
"Tehnya ke asinan?" ucap Anin membuat Tio melotot, Anin hanya tertawa dan pergi berjalan keluar ruangan.
Akal bulusnya memang tidak perlu diragukan lagi, lihat saja korbannya sudah banyak berjatuhan. Salah satunya Tio yang tidak pantang menyerah.
...--------TBC--------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments