...--------Happy Reading--------...
"Udah lama ngak ketemu Anin, sebelum pergi aku harus ke rumah dulu," ucap Azia membereskan packingannya.
"Zi mau kemana? Kita sudah mau berangkat ini, nanti ketinggalan pesawat loh," ucap Grace yaang telah menyiapkan koper dari kemarin sore.
"Tunggu bentar ya, aku mau beli sesuatu," ucap Azia berbohong.
Azia segera meraih paper bag yang berisi kotak hadiah lalu berjalan keluar rumah mencari taxi. Setelah melambaikan tangan sedikit lama ia pun menemukan taxi yang kosong penumpang.
Azia memasuki taxi segera pergi dari apart, ketika sampai di rumah Tio bibi menyambutnya mempersilahkan Azia masuk dengan ramah.
"Tio where are youuu~~" seru Azia, melihat kearah ruang tengah dan dapur seperti tidak ada kehidupan, segera ia bergegas ke arah kamar Tio.
Azia hendak mengetuk pintu yang sedikit terbuka, memperlihatkan Tio dan Anin yang sedang berada di dalam. Azia shok berat melihat apa yang dilakukan oleh adik satu-satunya itu.
"tenangkan diri, pikiran, dan mari menguping sebentar," gumamnya kecil.
Ia terus menguping pembicaraan Tio dan Anin yang terus membicarakannya.
"Mba Azia ngak akan kenapa-kenapa kan kak?" ucap Anin berada di dalam.
Azia yang tidak tahan pun membuka pintu sambil mengacak pinggang sembari berkata "Enak ya berduaan di dalam kamar!?" membuat Anin terkejut reflek menjauhkan diri.
"Anuu.. Kak itu," ucap Anin terbata.
Ia harus bagaimana saat melihat adiknya mencium seorang anak didepan matanya, tidak lain dan tidak bukan menghukum sang pelaku.
"Kalian berdua ikut kakak!" kata Azia berlalu menarik lengan Anin.
Sebelum itu ia memergoki Tio yang tengah tersenyum senang dan Azia segera melototinya, sungguh Azia pusing, kenapa adiknya itu tidak pernah berpikiran sesuatu yang akan terjadi ke depannya, ia terlalu sembrono.
Mereka di tarik oleh Azia duduk berhadapan dengan Azia yang berada didepan mereka berdua, kini hanya suasana kikuk dan sautan dari kera yang membuat sedikit kebisingan di sekitar rumah.
"Kalian tau apa yang telah kalian perbuat?" tanya Azia geram.
"Maaf mba, Anin salah. Harusnya Anin pukul aja Tio tadi," ucap Anin menjelaskan apa yang ingin ia lakukan sejak memasuki kamar Tio.
"Emang apa yang salah sih? Tio sudah besar dan Anin sama," kata Tio yang kembali di pelototi oleh Azia.
Azia memijat kepalanya sedikit kuat, dengan keadaan seperti ini bagaimana ia akan meninggalkan Itaewon. Bisa saja Anin sudah menangis tersedu-sedu jika Azia tidak segera datang.
"Kamu ngak salah?" Azia menjitak kepala Tio dengan kuat hingga sang empu kesakitan.
"Akhh.." Tio hanya bisa menghela nafas panjang, setidaknya kakaknya tidak akan pergi bersama wanita aneh itu.
"Udah kan? aku mau pergi dulu," kata Tio beranjak menuju keluar rumah.
"Heh! Siapa yang bilang boleh keluar!" Azia menjewer telinga Tio, kini ia mendapatkan Triple combo sudah dimarahi, dijitak, lalu dijewer.
"Duduk!" Perintahnya.
"Kalian berdua harus pisah rumah!" Seru Azia membuat Tio melebarkan matanya.
"Kak ngak bisa gitu dong, tapikan Anin udah betah juga disini," kata Tio menolak apa yang di ucapkan Azia.
"Ngak ada tapi-tapi," Azia menelpon Grace membatalkan kepergiannya menuju busan, ia takut terjadi musibah buruk menimpa keluarganya.
~Call~
"Halo Ce?"
"Kita tunda aja ya liburannya? Aku masih banyak urusan,"
"Ngak bisa gi-"
"Ya udah oke, byee,"
Grace yang berada di seberang menghentakkan kaki kesal dipermainkan.
...--------TBC--------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments