Bab 8 | Masa Lalu

...--------Happy Reading--------...

Anin segera melarikan diri, memanggil mamanya menuju taman. Tak kala taman tersebut sudah ramai dipenuhi warga.

Terlihat Tio tergeletak lemah disana karena pingsan, warga segera menggotongnya menuju ke rumah Anin.

Anin hanya bisa menangis tersedu-sedu melihat Tio yang tidak sadarkan diri sampai pagi, badan Tio semakin panas. Tetapi mama Anin dengan telaten mengompres hingga memanggil dokter kerumahnya.

"Kak! Kakak jangan kayak gini dong, Anin takut,"

"Huhu.. jangan tinggalin Anin kak,"

"Anin janji ngak bakalan ninggalin kakak. Jadi, Kak Tio jangan ninggalin Anin,"

"Mama... Kenapa Kak Tio belum bangun?" tanya Anin masih sambil menangis.

"Sudah-sudah mungkin besok kak Tio udah sembuh ya, makanya doain terus," kata sang mama sambil mengelus kepala sang anak.

2 hari berlalu dari kejadian tersebut, namun orang tua Tio belum kunjung kembali. Semua orang heran ada apa dengannya, apakah terjadi sesuatu terhadap mereka.

Kini Tio duduk berdiam diri di sudut ruangan kala memikirkan apa yang telah terjadi pada keluarganya. Ia merasa ada yang tidak benar.

Tidak lama Anin masuk seraya mengetuk pintu temannya itu.

"Kak! Kakakkan udah sembuh ayo dong main! Jangan di kamar terus," kata Anin terlihat kesal.

"Udah kamu main aja ya sendiri dulu," ucap Tio tetap menundukkan kepalanya.

.

"Nin..." panggil mama.

"Kalian masih disini? Ayo makan dulu,"

"Iya tante" ucap Tio

"Panggil mama aja ya, kayak Anin, oke?" ucap mama pada Tio yang hanya di angguki olehnya.

Tio tau kenapa Mama Anin berucap seperti itu, ia telah melihat berita dan foto yang sedang beredar pada hari ini.

Keluarga Tio meninggal dalam kecelakaan maut antara satu truk dan motor yang dikendarai kedua orang tuanya. Tio semakin terlihat lemah kala mendengar berita tersebut ditayangkan pada Televisi yang sedang di tonton Anin.

"Maa... Itu buna sama ayah?" ucap Anin.

Mama Anin yang berada di dapur langsung berlari menuju ruang tamu, dan benar saja berita itu sudah muncul..

Anin berlari dan memeluk Tio dengan erat, dikala sang kakak hanya bisa termenung melihat apa yang telah terjadi. Ia seperti orang yang tidak berguna, untuk apa dia hidup? Keluarganya saja sudah meninggalkannya!

.

Mama Anin mendekat dan mengusap kepalanya seraya berkata "Nak Tio yang kuat ya? Disini masih ada kita kok keluarga Tio,"

"Ada Anin, mama, papa, kakak" ucap mama dengan tangis yang berderai, tak sanggup melihat anak sebatang kara itu hanya terdiam.

Mama segera mengambil ponsel dan menghubungi papa dan memberi tahu warga sekitar atas berita tersebut.

.

"Kak Tio!" Sentak Anin.

Tio menunduk melihat wajah kecil milik Anin yang sudah beberapa kali memanggilnya.

"Kak Tio, Anin bakalan sama kakak terus selamanya! Jangan sedih.." ucap Anin yang waktu itu berusia 6 tahun.

"Anin janji bakalan nikahin kakak! Kita bakalan sama-sama terus!" ucapnya lagi.

"Hey bocah, kamu masih kecil jangan berpikiran yang macam-macam," Tio menyentil kening Anin kala berkata yang tidak masuk akal.

"Kak Tio ngak papa kok, udah ya kita makan aja," ucap Tio sambil tersenyum pedih.

"Anin, jangan bicara sembarangan kayak gitu ke semua orang ya! Ngak baik," kata Tio tegas.

"Oke! Tapi Kak Tio jangan sedih,"

"Iya-iya,"

Mereka makan dengan hening, tak ada lagi pembicaraan dan hanya terdengar suara kicauan burung pagi itu.

...--------TBC--------...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!