Pukul tujuh malam ketika waktunya makan malam tiba, Anya menjadi salah satu anggota keluarga Lu yang berkumpul di meja makan paling belakang, Anya kembali melihat tempat duduk yang biasanya di tempati olehnya kini lagi lagi di tempati oleh Gu Xi Xi. Tanpa bersuara Anya menarik kursi yang berada di sebelah Gu Xi Xi, dan mendudukinya tanpa protes.
''Ayo mari makan'' ucap Nyonya besar Lu setelah melihat semua keluarganya berkumpul.
Dan lagi lagi Anya melihat Gu Xi Xi yang begitu antusias mengambilkan ini dan itu ke piring Lu Hanting, begitu juga dengan Lu Hanting yang sama sekali tidak menolak, dan itu sama persis dengan kejadian di kehidupan pertamanya, dan saat di kehidupan pertamanya Anya memarai Gu Xi Xi bahkan menampik makanan yang di ambil Gu Xi Xi untung Lu Hanting, hingga membuat suasana makan malam itu menjadi ribut, dan sejak saat itu Lu Hanting melarang Anya untuk ikut makan malam di meja makan, melainkan menyuruh Anya makan malam bersama para pelayan, membuat Anya semakin menyalahkan dan membenci Gu Xi Xi.Tapi malam ini Anya hanya diam saja tanpa protes, dia tidak ingin menjadi Anya seperti di kehidupan pertamanya.
Selama makan malam berlangsung Lu Hanting terus merasakan sesuatu yang tidak nyaman di dalam dirinya, dia merasa ada yang aneh di meja makan, namun Lu Hanting tidak tahu apa itu, dan saat Lu Hanting menatap Anya dia baru sadar, Anya tidak duduk di kursi yang biasanya di tempati yang terletak tepat di sampingnya.
''Anya'' panggil seseorang.
Anya mendongakkan kepalanya ketika ada yang memanggilnya, dan ternyata Lu Sicheng anak dari mendiang kakanya Lu Hanting, yang usianya tidak jauh dari Anya bahkan keduanya juga satu kelas.
''Ada apa Sicheng?'' sahut Anya lalu kembali menundukkan kepalnya dan menyantap makan malamnya.
''Tumben sejak tadi kamu diam saja, biasanya juga kamu paling ribut di meja makan, terlebih sejak Gu Xi Xi datang ke sini'' ledek Sicheng melihat Anya yang sejak tadi diam tak bersuara.
Dan perkataan Sicheng membuat semua orang yang berada di meja makan tersadar, dan seketika Ibu Sicheng Nyonya Lu Wen dan Nyonya besar Lu sama sama menatap Anya yang hanya diam.
''Anya, apa kamu tidak enak badan?'' tanya Ibu Sicheng, meskipun Anya bukan asli keluarga Lu, tapi Lu Wen sangat menyayangi Anya, bahkan Lu Wen sudah menganggap Anya sama seperti Sichen, dan itu sudah sejak Anya pertama kali masuk ke keluarga Lu.
''Tidak Bibi, Anya baik baik saja'' sahut Anya tersenyum.
''Syukurlah kalau begitu'' ujar Lu Wen bernafas lega.
Setelah menyelesaikan makan malamnya Anya segera pergi ke kamarnya, untuk lanjut mengerjakan tugas dari sekolahnya, sedangkan Lu Hanting kini berada di ruang bacanya yang sekaligus menjadi ruang kerjanya bersama kepala pelayan Ji.
Tok
Tok
Tok
Mendengar suara pintu di ketuk kepala pelayan Ji segera melangkah ke arah pintu dan membukanya.
Ceklek
''Nona Xi Xi''
''Paman Ji, aku membuatkan teh jahe untuk Paman Hanting'' ucap Gu Xi Xi dengan ramah.
''Pelayan Ji siapa?!!'' seru Lu Hanting.
''Nona Xi Xi,Tuan'' sahut kepala pelayan Ji.
''Suruh saja dia masuk'' balas Lu Hanting yang masih fokus dengan layar laptopnya.
''Mari Nona masuk'' tukas kepala pelayan Ji mempersilahkan Gu Xi Xi masuk ke ruang baca Tuan Mudanya.
Saat melangkah masuk ke dalam ruang baca Lu Hanting seketika Gu Xi Xi di buat terkesima, karna melihat ruang baca Lu Hanting yang sudah seperti perpustakaan karna banyaknya rak rak buku yang berjejer rapi, di tambah ini kali pertama Gu Xi Xi masuk ke dalam ruang baca Lu Hanting.
''Ada apa mencariku, Xi Xi?'' tanya Lu Hanting membuat Gu Xi Xi tersentak.
''Ah Paman, ini Xi Xi buatkan teh jahe untuk Paman '' Gu Xi Xi meletakkan secangkir teh jahe di atas meja kerja Lu Hanting, namun kedua matanya tak sengaja melihat foto Anya di meja kerja Lu Hanting.
''Terimakasih'' ucap Lu Hanting lalu kembalu serius pada laptopnya.
Melihat Lu Hanting yang sibuk dengan laptopnya, Gu Xi Xi memilih keluar meninggalkan ruang kerja Lu Hanting, karna dia tidak ingin mengganggu pekerjaan Lu Hanting.
''Tuan, Nona Xi Xi ini benar benar sangat perhatian dangan anda'' puji kepala pelayan Ji setelah Gu Xi Xi tidak ada.
Lu Hanting mendongakkan kepalanya menatap kepala pelayan Ji, lalu dia meraih cangkir teh jahe yang di bawakan oleh Gu Xi Xi dan meneguknya, Lu Hanting tidak bohong jika teh jahe buatan Gu Xi Xi memang pas di lidahnya.
''Lalu kenapa kalau dia perhatian denganku?'' tanya Lu Hanting sambil menatap layar laptopnya.
''Tidak ada, saya hanya bicara saja'' jawab Kepala pelayan Ji, karna tidak mungkin dirinya berani membandingkan Anya dan Gu Xi Xi di depan Lu Hanting langsung, bisa bisa dia di cincang karna dia tahu betul jika Tuan Mudanya sangat menyayangi Nona Mudanya.
Saat jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam Lu Hanting menutup laptopnya, dan dia beranjak meninggalkan ruang kerjanya, sedangkan kepala pelayan Ji sudah kembali ke kamarnya satu jam yang lalu.
Lu Hanting bukannya kembali ke kamarnya, melainkan dia masuk ke kamar Anya yang memang tidak pernah di kunci, dan itu memang permintaannya sejak dulu, dan kebetulan di lantai dua hanya ada kamar Lu Hanting dan Anya saja, dan dua ruangan lainnya menjadi ruang baca Lu Hanting dan ruang Gym.
Saat membuka pintu kamar Anya pemandangan pertama yang di lihat Lu Hanting adalah Anya yang terlelap di meja belajarnya. Lalu Lu Hanting masuk ke dalam kamar Anya, dan menutup pintunya juga menguncinya dari dalam.
''Tumben gadis kecilku ini belajar'' gumam Lu Hanting, karna biasanya Anya sama sekali tidak pernah mau belajar, sekolah hanya untuk melakukan kewajibannya sebagai remaja saja, dan sama sekali tidak perduli dengan tugas tugas sekolahnya, tapi meskipun begitu Lu Hanting mengakui jika Anya memiliki otak cerdas, karna buktinya saat ada ualngan di sekolahnya nilainya selalu baik meski tidak mendapat nilai tinggi seperti Lu Sicheng.
Dengan perlahan Lu Hanting mengangkat tubuh ramping Anya, dan memindahkannya ke atas kasur king sizenya, setelah itu Lu Hanting kembali ke meja belajar untuk merapikan buku buku Anya yang berantakan.
Bukannya pergi ke kamarnya Lu Hanting malah merangkak naik ke atas tempat tidur Anya, dan merebahkan tubuhnya di samping Anya, lalu menarik Anya ke dalam pelukannya dan menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya dan Anya, dan itu Lu Hanting lakukan sejak Anya sudah di izinkan memiliki kamar sendiri, setiap malam Lu Hanting akan selalu tidur di kamar Anya. Lu Hanting tersenyum saat melihat Anya yang bergerak menenggelamkan kepalanya di dada bidangnya untuk mencari kenyamanan.
''Selamat tidur gadis kecilku'' ucap Lu Hanting mengecup pucuk kepala Anya dengan lembut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
Siti solikah
la perhatiannya seperti itu terhadap Anya terus berubah ya pasti Anya sedih lah
2025-03-26
0
Siti solikah
manisnya perlakuan lu hanting
2025-03-29
0
Bzaa
lu hanting bikin geer
2025-02-03
0