Sarah sudah merasa lebih baikan dan pulih setelah menginap satu hari di RS Yalro. Kini waktunya dia untuk pulang kembali ke rumahnya di daerah Kutrung, kawasan Grandlake. Barang-barang milik Sarah dan Safira sudah di masukkan ke dalam tas-tas besar yang dibawa oleh Bik Surti. Santi juga sudah bersiap-siap untuk pulang bersama Sarah, Safira dan Bik Surti. Santi ingin tinggal di rumah Sarah dulu untuk sementara, supaya bisa membantu Sarah dalam menjaga dan merawat Safira, cucu satu-satunya.
Setelah selesai semua, Santi mengurus biaya administrasi dan kamar selama satu hari kemudian menyusul ke luar RS Yalro. Sementara itu Sarah menggendong Fira dan Bik Surti membawa barang-barang mereka segera ke tempat taksi yang sudah dihubungi oleh Sarah sebelumnya. Taksi langganan mereka Bluebird sudah datang dan berhenti di depan pintu masuk RS Yalro. Sarah naik dulu ke dalam taksi bersama Safira. Bik Surti memasukkan barang-barang ke bagasi taksi dibantu dengan Supir Taksi. Santi menyusul masuk ke dalam Taksi juga. Terakhir Bik Surti yang masuk ke dalam taksi, tapi duduk di bagian depan bersebelahan dengan supir taksi.
Taksi yang ditumpangi Sarah, Safira, Santi dan Bik Surti berangkat perlahan menuju ke daerah Kutrung. Dari RS Yalro ke daerah Kutrung hanya memakan waktu sekitar sepuluh menit. Perjalanan berjalan dengan lancar, tidak terasa sudah di daerah Kutrung. Kemudian mereka memasuki kawasan Green Lake dan berhenti di rumah dua lantai yang cukup besar.
Tembok rumahnya berwarna ungu muda. Pagar rumahnya berwarna keemasan senada dengan warna pintu rumah dan kusen jendelanya. Terdapat taman bunga dengan aneka bunga berwarna-warni. Ada kolam ikan koi memanjang di sebelah kanan taman, yang di atas kolamnya ada empat air terjun kecil. Diantara air terjun terdapat lampu-lampu berbentuk bunga. Taksi Bluebird berhenti tepat di depan pagar keemasan itu. Ada mobil Volkswagen Tiguan Allspace warna hitam terparkir di halaman rumah blok P-1, milik Sarah.
Bik Surti keluar lebih dulu, karena yang membawa kunci pagar dan kunci rumah Sarah. Dia segera membuka gembok pagar yang sebelumnya dia kunci. Lalu membuka pagar kemudian memasukkan barang-barang yang tadi ditaruh di bagasi taksi ke dalam rumah. Sarah setelah membayar biaya taksi, sambil menggendong Safira yang sedang tertidur pulas, keluar dari taksi bersama dengan Santi. Mereka segera masuk ke dalam rumah.
...***...
“Selamat siang, saya Rudolf pemilik rumah ini.” Rudolf yang berkendara menggunakan mobil Toyota Veloz sampai ke depan rumah lamanya, langsung memperkenalkan diri begitu melihat ada dua orang yang menunggu di depan pagar rumahnya.
Satpam menyalami Rudolf, diikuti dengan Rodhat. Kemudian Satpam memperkenalkan Rodhat yang tertarik dengan rumah Rudolf. Rudolf senang sekali Rodhat mau membeli rumah lamanya, karena dia juga sedang kesulitan keuangan. Apalagi Rodhat sama sekali tidak menawar harga yang sudah disebutkan oleh Rudolf. Bahkan Rodhat mau membayar langsung semuanya secara cash tanpa menyicil.
Rudolf mengajak Rodhat untuk masuk ke dalam rumah lamanya sambil meminta maaf karena sudah satu tahun belum membersihkan rumah lamanya ini, jadi rumahnya terlihat kotor, berdebu, banyak sawang dan ditumbuhi tanaman serta rumput liar dimana-mana. Bagian dalam rumahnya terlihat besar dan mewah. Di dalam juga sudah lengkap dengan perabot rumah tangga. Jadi rumah ini dijual beserta perlengkapan perabot rumah tangganya. Rodhat tinggal menempati rumah ini tanpa perlu repot membeli perabot rumah tangga lagi.
Tiba-tiba Satpam berbisik kepada Rodhat, “Pak, apa kamu yakin mau membeli rumah ini?”
“Rodhat menjawab dengan yakin, “Iya, apalagi didalamnya sudah sama perabot rumah tangga lengkap. Jadi saya tidak perlu repot beli perabot rumah tangga lagi.”
“Apa bapak tidak merasakan ada sesuatu yang membuat bulu kuduk bapak merinding? Jujur saat tadi saya masuk rumah ini, saya sudah merasa tidak nyaman pak, seperti ada yang memperhatikan kita dan membuat saya merinding.” Pak Satpam dengan wajah ketakutan berbisik kepada Rodhat.
“Oww, tidak apa-apa pak, saya sudah biasa merasa dan melihat yang tak kasat mata. Jadi saya tidak masalah, selama mereka tidak mengganggu saya biarkan saja.” Rodhat berkata dengan santai. Memang sejak masuk ke rumah lama milik Rudolf ini Rodhat sudah melihat beberapa makhluk tak kasat mata yang berseliweran. Saat melihat Rodhat mereka tahu kalau Rodhat sebenarnya adalah jin ifrit yang sakti, sehingga mereka tidak berani mengganggunya. Rodhat melihat ada kuntilanak, siluman ular, hantu anak laki-laki, gendruwo dan bayangan hitam di rumah itu.
Satpam setelah tahu Rodhat menanggapi dengan santai dan ternyata berkemampuan untuk merasakan dan melihat makhluk tak kasat mata, jadi hanya bisa manggut-manggut dan lebih santai karena berada di samping orang yang mempunyai kemampuan lebih ini.
Setelah berkeliling di dalam rumah, Rodhat menyatakan puas dengan kondisi dan semua perabotan yang ada di rumah ini. Hanya perlu sedikit direnovasi pada bagian tembok dan dibersihkan terutama di bagian depan rumah yang sudah penuh sampah daun berserakan dan tanaman serta rumput-rumput liar.
Mengenai pembayaran rumahnya, Rodhat minta tolong untuk diantarkan dulu ke toko emas di dekat wilayah sini oleh Satpam. Rodhat mau menukarkan kepingan-kepingan emas yang dia miliki dengan uang piahru yang merupakan mata uang negara Dosiainne.
Rudolf menyetujui untuk menunggu di rumah lamanya dulu. Dia berinisiatif untuk membersihkan rumah lamanya sebelum ditinggali oleh Rodhat. Jadi dia segera mengambil alat-alat kebersihan yang tersimpan di gudang rumah lamanya. Lalu segera membersihkan seluruh rumah lamanya dengan tangan gemetar, karena di rumahnya sudah mulai muncul gangguan dari makhluk tak kasat mata. Rudolf tetap memberanikan diri untuk terus membersihkan rumahnya.
Keringat Rudolf mengucur membasahi kening, wajah, leher hingga ke punggung dan dadanya. Karena rumah yang dia bersihkan luas dan besar. Di tambah rasa takut yang memenuhi tubuhnya melihat barang-barang bergerak sendiri, membuat bulu kuduknya merinding. Terdengar suara-suara tawa yang membuatnya tidak nyaman dan ketakutan. Dia segera mempercepat membersihkan seluruh bagian dalam rumahnya.
Setelah selesai membersihkan rumahnya, dia segera menunggu di dalam mobilnya sambil menyalakan AC karena sudah sangat kegerahan plus ketakutan. Sementara Satpam bersama Rodhat pergi ke toko emas di dekat wilayah Racitland. Satpam tahu tempat toko emas itu, Toko Emas Lasio namanya. Lokasinya ada di dalam Mall Trapuci World yang megah dan sangat luas itu.
Sesampainya di toko emas Lasio, Rodhat menukarkan kepingan-kepingan emas yang dia bawa. Rumah yang dibeli Rodhat seharga satu milyar. Harganya lebih rendah dari rumah-rumah lain yang di jual di Racitland. Satu keping emas yang dibawa Rodhat dihargai lima puluh ribu piahru. Rodhat menukarkan lima puluh ribu keping emas, sehingga memperoleh dua milyar lima ratus ribu piahru. Nantinya yang satu milyar Rodhat ambil untuk membayar rumah yang dia beli, sedangkan yang satu milyar lima ratus ribu dia simpan dulu untuk keperluan selama dia di sini nanti, sambil berburu wanita cantik yang diminta Wuna.
Setelah dari toko emas Lasio, Rodhat bersama Satpam kembali ke rumah Rudolf. Rodhat menemui Rudolf yang menunggu di mobilnya. Menyerahkan uang senilai satu milyar yang dia taruh di tas besar berwarna merah. Rodhat mempersilakan Rudolf untuk menghitung uangnya. Meskipun memakan waktu yang cukup lama, tidak masalah karena Rodhat tidak buru-buru.
Uang satu milyar sudah selesai dihitung Rudolf, jumlahnya sesuai sebesar satu milyar tanpa kurang sedikitpun. Rudolf sangat senang dan puas. Rudolf berterima kasih kepada Rodhat. Rodhat juga puas bisa membeli rumah Rudolf dengan harga yang sangat murah menurutnya. Karena rumah yang sebesar itu apalagi lengkap dengan perabot rumah tangga seharusnya dihargai paling tidak lima milyar.
Transaksi rumah beserta surat-surat rumah sudah selesai diberikan. Rodhat mau langsung tinggal di rumah itu. Keadaannya juga sudah lebih mendingan setelah tadi sempat dibersihkan oleh Rudolf. Akhirnya Rudolf dan Satpam pamit undur diri, meninggalkan Rodhat di rumah barunya. Setelah Rudolf dan Satpam pergi dari rumah itu, Rudhat langsung mengajak ngobrol para penghuni tak kasat mata yang ada di rumah itu. Dia seperti menjadi Raja di rumah itu, karena para penghuni tak kasat mata yang tinggal di situ kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan Rodhat.
Rodhat tidak mengusir mereka, bahkan mereka dijadikan teman Rodhat, terutama si bayangan hitam yang ternyata dulu adalah komandan pasukan bayangan hitam di bawah kepemimpinan Golum.
Bagaimana reaksi komandan pasukan bayangan hitam setelah mengetahui ternyata pimpinannya, Golum sudah tewas? Kita ikuti terus kelanjutan kisah yang membuat penasaran ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments