“Aaah!…. Perutku… sakit sekali!” Sarah berteriak sambil merintih kesakitan, “Bik Surti tolong! Sepertinya aku akan melahirkan! Aah!” Sarah kesakitan sambil memegangi perutnya yang sudah besar.
Saat ini suami Sarah, Firansyah masih bekerja di luar kota. Tepatnya di daerah Likatanman. Sarah hanya ditemani oleh ART-nya Bik Surti di rumah yang cukup luas dan besar ini, di wilayah Subaraya. Bik Surti baru saja selesai mandi di kamar mandi belakang, lalu sayup-sayup dia mendengar teriakan dari Sarah. Dia pun buru-buru mengeringkan badannya dengan handuk, secepatnya pakai baju dan segera lari ke kamar Nyonyanya, “Iya Nya tunggu, maaf saya baru selesai mandi!” Bik Surti berteriak sambil berlari menuju kamar Sarah yang letaknya cukup jauh dari kamar Bik Surti.
Tok…tok…tok…
Pintu kamar Sarah di ketuk oleh Bik Surti, “Nyonya Sarah? Saya permisi masuk ya?” Bik Surti minta ijin kepada Sarah dengan napas tersengal-sengal karena habis berlarian.
“Masuk Bik cepat! Aku sudah gak tahan lagi! Sakit sekali Bik! Aah perutku, sepertinya aku akan segera melahirkan!” Sarah mengerang sambil merintih kesakitan, dengan napas tersengal-sengal, dan keringat mengalir deras dari seluruh tubuhnya, ia masih memegangi perutnya yang besar.
“Waduh, iya Nya, sabar ya Nya, bibik masuk!” Bik Surti buru-buru masuk dan melihat Nyonyanya sudah dalam keadaan kesakitan dan bersimbah keringat, ia pun bergerak cepat untuk menyeka keringat Sarah menggunakan tisu yang ada di meja dekat kasur Sarah.
“Nyonya, maaf kebetulan bibik dulu bidan yang pernah beberapa kali membantu proses kelahiran bumil-bumil di kampung bibik. Bibik lihat sudah tidak ada waktu lagi untuk memanggil dokter. Jadi bibik ijin untuk membantu proses Nyonya melahirkan di kamar ini, boleh?” Bik Surti minta ijin dengan wajah cemas.
“Iya Bik silakan, cepat ya bik!, saya sudah gak tahan lagi, rasanya sakit sekali!” Sarah berteriak dengan napas makin memburu, “Aaah! Sakit sekali, Bik! Hufh…hufh…hufh”. Kemudian Sarah merasakan rembesan air yang mengalir keluar dari dalam jalan lahirnya, ternyata air ketubannya pecah, ada aliran darah yang keluar juga bercampur dengan air ketuban.
“Bik, sepertinya air ketubanku pecah dan mengeluarkan darah!” Sarah panik melihat ketubannya pecah bercampur darah.
“Iya Nyonya yang tenang ya, saya ambil ember kecil, air hangat dan kain bersih dulu sebentar ya. Nyonya sambil coba atur napas dulu, tahan ya Nya. Lebih baik Nyonya tidak banyak berteriak karena akan lebih melelahkan Nyonya, simpan tenaga Nyonya dulu, tahan ya…” Bik Surti berusaha menjelaskan sambil membuang beberapa tisu yang dibuat untuk menyeka keringat Nyonyanya ke tempat sampah di ujung tembok kamar Sarah. Kemudian dia langsung mengambil ember kecil di kamar mandi Sarah, diisi dengan air hangat dari pencampuran air wastafel dengan air panas dispenser, dan kain bersih di lemari kamar Sarah.
“Baik Bik Surti, saya akan coba tahan untuk gak berteriak lagi, sama hatur napas biar lebih relaks, makasih Bik Surti.” Sarah berkata dengan napas terengah-engah sambil menggigit bibirnya menahan sakit teramat sangat, ia pun berusaha mengatur napasnya. Dia tidak lagi berteriak dan mencoba untuk menyimpan tenaganya.
“Sama-sama Nyonya, saya sudah mengambil ember kecil berisi air hangat dan kain bersih, kita mulai saja proses persalinannya, apakah Nyonya sudah siap?” tanya Bik Surti sambil melihat ke arah Sarah yang masih menahan sakit di perut bagian bawahnya dan berusaha mengatur napas. Dahi dan lehernya sudah mulai mengeluarkan bulir-bulir keringat lagi padahal tadi sudah di seka oleh Bik Surti dengan tisu.
“Iya Bik siap.” Sarah mulai kelelahan menahan sakit di perut bagian bawahnya, tenggorokannya juga terasa kering, “Tapi sebelum itu saya minta tolong ambilkan saya minum air putih setengah dingin dulu bik, di gelas besar ya.” Sarah kehausan karena tadi habis teriak-teriak dan belum sempat minum serta mengeluarkan banyak keringat dari sekujur tubuhnya.
“Baik Nya, tunggu sebentar saya ambilkan minum dulu.” Bik Surti buru-buru mengambilkan Sarah minum air putih setengah dingin yang diambil dari air dispenser bagian tengah dicampur air dispenser bagian pinggir kanan, menggunakan gelas besar berwarna ungu muda. Dispenser milik Sarah terdiri dari tiga bagian, yang pertama paling kiri berisi air mineral panas, bagian tengah berisi air mineral sedang, dan sebelah kanan berisi air mineral dingin.
“Ini minumnya Nyonya, sesuai request.” Bik Surti memberikan gelas besar berwarna ungu muda, berisi air mineral setengah dingin kepada Sarah yang sudah sangat kehausan. Sarah segera mengambil gelas tersebut dari tangan Bik Surti, lalu meminum airnya hingga tandas.
“Terima kasih, Bik Surti, saya jadi jauh lebih segar dan tenang.” Sarah mengelap bagian atas bibirnya yang basah terkena air minumnya, serta menyeka bulir-bulir keringat di dahi dan hidungnya yang sudah berlomba menetes dengan punggung tangan kanannya.
“Alhamdulillah, karena Nyonya sudah merasa lebih segar dan tenang, mari kita mulai proses persalinannya?” Bik Surti mengajak Sarah untuk bersiap melakukan proses persalinan.
“Baik Bik, kita mulai saja, semoga semua bisa berjalan dengan lancar dan sukses, bayiku lahir dalam keadaan sehat, tanpa kekurangan suatu apapun.” Sarah berdoa kemudian diamini oleh Bik Surti, lalu Bik Surti juga menambahkan.
“Semoga Nyonya juga sehat-sehat, bisa menjadi ibu yang baik, kuat dan bisa merawat serta membesarkan anak Nyonya dengan sebaik-baiknya. Anak Nyonya menjadi anak yang sholehah, pintar, cerdas, cantik, kuat dan hebat.” Bik Surti menambahkan doa untuk Sarah dan anaknya.
“Aamiin Yaa Rabb, terima kasih doanya Bik.” Sarah berterima kasih kepada Bik Surti sambil tersenyum haru.
“Sama-sama Nyonya, kita mulai ya, tolong Nyonya lebarkan kedua paha Nyonya untuk memudahkan dalam mengeluarkan bayi yang ada di dalam perut Nyonya.” Bik Surti membantu proses melahirkan bayi Sarah.
“Baik Bik,” Sarah melebarkan kedua pahanya yang sudah basah terkena keringat, guyuran air ketuban bercampur darah.
“Maaf saya ijin melepas celana dalam Nyonya ya?” Bik Surti meminta ijin kepada Sarah untuk melepas celana dalam Sarah.
“Iya Bik, tolong cepat ya! sepertinya bayinya sudah mau keluar ini, ahhh! Sakit banget Bik!” Sarah berteriak sambil mengejan. Ia merasakan perutnya semakin kencang dengan rasa panas di sekitar pinggang.
“Nyonya sudah pembukaan lima, bisa coba untuk miring ke kiri supaya bayinya cepat turun.” Bik Surti mengecek di bagian jalan lahir Sarah ternyata sudah pembukaan lima.
“Siap Bik.” Sarah perlahan memutar tubuhnya ke sebelah kiri sesuai permintaan Bik Surti. Bulir-bulir keringat di dahi Sarah pun berlomba menetes ke bantal yang Sarah pakai hingga bantal itu basah.
“Bik rasanya sakit sekali! Ahhh!” Sarah merasakan kalau bayinya menekan perut bagian bawah. Rasa sakitnya menjalar hingga ke pangkal paha, membuat Sarah sampai menggigil, kedua tangannya pun mencengkram kain kasur dengan sangat kuat.
Satu jam, dua jam, tiga jam berlalu, Sarah masih belum bisa mengeluarkan bayinya, pembukaan masih belum lengkap, keringat Sarah semakin banyak mengucur. “Bik, sakit sekali! Aku pengen teriak!” Sarah menggigit bibirnya berusaha menahan rasa sakit yang semakin lama semakin parah.
“Jangan Nyonya, tahan ya!, simpan tenagamu, sampai pembukaan lengkap.” Bik Surti berusaha menenangkan Sarah agar menyimpan tenaganya hingga pembukaan lengkap sambil menyeka keringat di dahinya. Hari ini cuaca begitu panas. Meskipun kamar Sarah ber-AC tapi karena panasnya udara di luar, dinginnya AC jadi sama sekali tidak berasa, malah sebaliknya rasa panas di luar menjalar hingga ke dalam rumah.
Tepat pukul 12.00 siang, matahari memancarkan sinarnya yang paling terang dan panas. Membuat banyak orang merasa kepanasan. Demikian juga dengan Bik Surti, apalagi Sarah yang sedang berjuang melahirkan. Lalu Sarah merasakan bayinya akan keluar dari jalan lahir, diikuti rasa ingin mengejan, “Bik, coba cek rasanya bayiku seperti akan keluar dari jalan lahir?”
“Baik Nyonya saya cek dulu.” Bik Surti mengecek jalan lahir Sarah. “Iya Nyonya alhamdulilah pembukaan sudah lengkap, silakan Nyonya mengejan sekuat tenaga ya! 1..2..3 ayo ngejan!”
“Aahhh….!” Teriak Sarah sambil berusaha mengerahkan tenaganya untuk mendorong bayinya keluar dari jalan lahir. Keringat mengucur semakin deras dari seluruh tubuhnya.
“Ayo Nyonya sedikit lagi, tarik napas dulu lalu hembuskan sambil mengejan lagi, lebih kuat!” Bik Surti menyemangati Sarah yang sudah tampak kelelahan. Bulir-bulir keringat Bik Surti juga semakin banyak bermunculan di dahi dan lehernya.
“Bik, aku sudah gak kuat lagi! Haah…haah…!” Sarah merintih dengan napas tersengal-sengal, ia merasa sangat kelelahan dan tidak sanggup lagi melanjutkan perjuangan untuk melahirkan.
“Jangan nyerah Nyonya, pikirkan soal anakmu! kamu harus lebih semangat demi anakmu! demi bisa merawat dan melihat proses pertumbuhan anakmu kelak!” Bik Surti masih berusaha menyemangati Sarah yang sudah terlihat lemas dengan napas masih tersengal-sengal, keringatnya mengucur deras seperti orang mandi.
Kepala bayi Sarah menekan kuat di jalan lahir, Sarah yang merasakan itu dan memikirkan kata-kata dari Bik Surti pun kembali memperoleh semangat untuk melanjutkan perjuangannya melahirkan, “Ok Bik, aku coba sekali lagi, demi anakku! Aaaaah!!” Sarah mengejan dengan segenap kekuatan yang tersisa. Kedua tangannya mencengkram sangat erat seprei kasur. Kepalanya menekan bantal dengan kuat hingga menengadah ke atas memperlihatkan leher jenjangnya yang dipenuhi buliran-buliran keringat berkilauan terkena cahaya lampu menetes-netes. Akhirnya perjuangan Sarah membuahkan hasil.
Bayi perempuan Sarah lahir disertai suara tangisan yang keras memenuhi seluruh rumahnya. Yang mencengangkan Bik Surti saat lahir bayi Sarah bersinar putih, lalu sinar itu perlahan menghilang ke dalam tubuh si bayi. Bayi perempuan Sarah juga memiliki tanda lahir di tengah dahi berbentuk seperti setengah matahari.
Apa yang dipikirkan Bik Surti saat melihat bayi Sarah yang sempat bersinar putih dan memiliki tanda lahir berbentuk setengah matahari di tengah dahinya? Siapakah nama bayi perempuan Sarah? Kita ikuti terus kisah yang semakin seru ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments