Sementara itu Sarah yang masih berbaring di kasur karena kelelahan yang amat sangat, mencoba untuk menghubungi Firansyah melalui aplikasi Wa.
Terdengar suara tuut…tuut…tuut… pertanda telepon sudah tersambung tapi belum diangkat. Sambil menghela napas panjang, Sarah mencoba untuk menelepon Firansyah untuk yang kedua kalinya. Seperti tadi, telepon menyambung namun belum diangkat juga. Lalu Sarah bergumam,”Sekali lagi aku coba telepon kamu tapi gak diangkat juga, aku akan berhenti meneleponmu untuk sementara waktu.”
Sekali lagi Sarah mencoba menelepon Firansyah, tapi kali ini di tuut yang kedua terdengar suara seorang pria mengangkat telepon, dengan suara khas Baritonya ia berkata,”Ya halo Sarah, ada apa?” Sarah yang tadinya kesal karena sudah dua kali menelepon tidak diangkat, mendadak berubah girang mendengar suara suaminya, dengan senyum merekah dia berkata, “Assalamualaikum mas, bagaimana kabarmu? Aku punya kabar gembira untuk mu!” sahut Sarah bersemangat.
“Wa’allaikumsalam, aku baik, kabar apa? To the point aja, aku masih sibuk kerja!” jawab Firansyah dengan ketus.
“Iya mas maaf.” Sarah kecewa dengan balasan jawaban dari Firansyah yang begitu ketus. “Mas bayi kita sudah…” belum selesai Sarah mengabari suaminya tiba-tiba Sarah mendengar suara wanita yang berkata “Masku sayang, cepatlah teleponannya, aku sudah gak sabar ingin merasakan nikmatnya batangmu!”
Bagai disambar petir, Sarah yang mendengar itu langsung shock, air mata Sarah mengalir dengan jari kirinya menutup mulutnya yang menganga, tak percaya dengan apa yang sudah Sarah dengar tapi itu nyata. Hampir saja hp-nya dia banting karena marah tapi tidak jadi dia lakukan mengingat betapa pentingnya hp ini untuk membantu dia menghasilkan uang.
Kemudian Sarah memejamkan mata, sambil mencoba mengambil napas panjang dia berusaha menenangkan dirinya. Setelah dirasa sudah cukup kembali tenang, Sarah pun bertanya dengan dingin, “Itu suara siapa mas? Jadi selama ini kamu bohongi aku? Bilangnya sibuk kerja tapi nyatanya sibuk selingkuh dibelakangku?!”
“Maaf Sarah, mas gak bermaksud begitu. Mas memang sibuk kerja, kerjaan mas banyak di sini,” jawab Firansyah panik.
“Mas! kamu belum jawab pertanyaan pertamaku, itu suara siapa mas? Selingkuhanmu? Benar?!” Sambil menanyakan itu suara Sarah meninggi, ia yang semula berbaring setelah mendengar suara wanita yang mendayu-dayu itu langsung merubah posisinya menjadi duduk di kasur, dengan tubuh bergetar hebat menahan amarah yang berusaha dia redam.
Tiba-tiba suara wanita yang mendayu-dayu itu muncul lagi, tapi kali ini dia tertawa keras sambil bilang, “Hahaha… Sarah…Sarah…, suamimu ini sudah jadi milikku! Jangan ganggu kami lagi!” lalu telepon ditutup oleh si perebut laki orang (pelakor) itu tanpa Sarah sempat membalas perkataan terakhir dari si pelakor.
Sarah hanya bisa menangis tersedu-sedu, membuat Bik Surti kebingungan, “Nyonya? Nyonya kenapa? Kok nangis?”
“Bik, suamiku diambil pelakor, huhuhu!” Sarah menangis, hatinya hancur berkeping-keping. Dia bahkan belum sempat memberitahu perihal kelahiran anaknya pada Firansyah, tapi pelakor itu sudah lebih dulu membuat dirinya remuk redam.
Bik Surti kaget mendengar apa yang dikatakan Sarah, tapi dia tidak berani tanya apapun dulu, melainkan langsung memeluk Sarah, berusaha membuat Sarah lebih tenang dengan mengelus-elus punggung Sarah. Bik Surti membiarkan Sarah menumpahkan air matanya dulu sampai puas.
Setelah Sarah puas menangis, Bik Surti menanyakan pada Sarah bagaimana bisa Sarah bilang kalau suaminya diambil pelakor. Sarah menceritakan dengan detail waktu telepon suaminya sampai mendengar suara wanita yang tertawa sambil mengatakan kalau suami Sarah sudah jadi milik si pelakor itu, dan meminta supaya Sarah jangan ganggu mereka lagi lalu langsung menutup teleponnya.
“Sebentar Nyonya Sarah, apa Nyonya tidak merasa ada yang aneh? Sepertinya pelakor itu bukan pelakor biasa?” Bik Surti mencoba menganalisis.
Sarah mulai memikirkan apa yang dikatakan oleh Bik Surti. Suaminya sebelum tiga bulan yang lalu adalah suami yang perhatian dan penyayang, apalagi saat tahu Sarah hamil. Firansyah juga rutin memberikan sebagian gajinya kepada Sarah meskipun Sarah tidak memintanya. Tapi tiba-tiba saja sudah tiga bulan ini dia sangat jarang menghubungi Sarah. Waktu menghubungi terakhir pun nada suaranya tidak sama seperti sebelumnya. Seperti bukan Firansyah yang dia kenal. Lalu pelakor itu tertawanya juga sungguh menyeramkan seperti bukan tawa manusia.
“Benar katamu Bik, sepertinya aku juga merasakan ada yang aneh dengan suamiku Bik dan pelakor itu.” ujar Sarah, kemudian dia memikirkan sesuatu lalu ingat kalau Bibiknya mau memasakkan sayur Daun Kelor, “Bibik, tadi katanya mau memasak sayur daun kelor? Coba Bibik tolong masakin Sarah sayur daun kelor ya. Terus untuk lauknya seadanya aja, seperti tempe, tahu dan telor dadar soalnya Sarah sudah lapar banget belum makan siang.”
“Siap Nyonya, saya masak dulu ya Nya, Nyonya istirahat dulu saja. Nyonya pasti kecapekan banget. Yang sabar ya Nya, nanti kita selidiki lagi perihal suami Nyonya.” Bik Surti segera mengambil belanjaannya tadi.
“Iya Bik, makasih ya Bik, saya mau istirahat dulu.” Sarah merebahkan diri lagi dan mengambil selimut untuk menyelimuti dirinya.
“Sama-sama Nyonya!” Bik Surti segera keluar dari kamar Sarah sambil membawa belanjaannya. Ketika terdengar bunyi pintu yang ditutup dan langkah kaki menjauh dari pintu. Sarah langsung merubah posisinya. Yang tadinya rebahan sambil berselimut, kemudian ia mengganti posisinya menjadi duduk bersila.
Dia mengambil buku putih yang dia dapat dari Dewi Starla. Karena salah satu pekerjaan Sarah sebagai penulis Novel Online, dia pun menyukai membaca buku, jadi buku putih itu dia baca dengan cepat. Ketika mencapai bab ke 7 di situ tertulis bagaimana cara untuk menggunakan mata batin dalam melacak keberadaan seseorang. Sarah merasa ini paling cocok untuk dia lakukan saat ini, dalam menyelidiki apa yang terjadi pada suaminya dan siapa sebenarnya pelakor itu.
Setelah selesai membaca bab 7 dan bab-bab sebelumnya dari buku putih. Sarah bangkit dari kasur lalu mengunci pintu kamarnya supaya tidak ada yang mengganggu Sarah di saat dia mencoba untuk menerobos menggunakan mata batin ke tempat suami dan pelakor itu berada.
Kemudian dia kembali tapi tidak di kasur melainkan di karpet motif bunga-bunga yang terbentang di depan kasurnya. Sepertinya di sini tempat paling tepat untuk Sarah mencoba terlebih dahulu membuka mata batinnya. Sambil duduk bersila dia mulai mempraktikkan cara-cara bagaimana untuk membuka mata batin.
Tidak disangka baru percobaan pertama Sarah sudah langsung bisa membuka mata batinnya. Kini dia sudah bisa melihat melebihi penglihatan manusia biasa, dia bisa merasakan hal-hal yang tidak bisa dirasakan oleh manusia biasa, dia bahkan mendengar suara-suara yang sebelumnya tidak pernah dia dengar.
Mampukah Sarah menerobos melalui mata batinnya ke Likatanman tempat suaminya bekerja? Akankah Sarah bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi dengan suaminya? Apa yang dilakukan pelakor itu terhadap suaminya? Kita ikuti terus kisah yang semakin seru ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments