Sambil menunggu pisang goreng pesanan Sarah, Sarah melanjutkan untuk membaca buku putih yang diberikan dan ditulis oleh Starla untuk Sarah. Saat sampai di bab ke 10, Sarah mendengar ketukan di pintu kamarnya.
Tok…tok…tok
“Nyonya, ini dua puluh pisang goreng sudah jadi dan siap di santap.” Bik Surti membawa satu nampan besar berisi dua puluh pisang goreng.
“Masuk Bik, bawa ke sini pisang gorengnya, makasih ya Bik.” Sarah buru-buru menyimpan buku putih di selorokan meja sebelah kiri kasur Sarah.
“Baik Nyonya.” Bik Surti masuk ke dalam kamar Sarah sambil membawa nampan berisi dua puluh pisang goreng yang diletakkan di piring putih. Lalu meletakkannya di kasur dekat tempat Sarah duduk.
Saat itu Bik Surti melihat empat porsi makanan yang tadi dipesan oleh Sarah ternyata sudah habis tanpa sisa. Membuat Bik Surti kaget, ternyata Sarah mampu menghabiskan semuanya tanpa sisa. Tapi Bik Surti berpikir positif saja, mungkin ini karena Sarah sedang masa menyusui jadi lebih mudah lapar.
“Nyonya, piring makanannya saya beresin ya?” tanya Bik Surti.
“Iya Bik silakan diberesin, makasih ya Bik.” Sarah langsung mengambil pisang goreng yang disediakan oleh Bik Surti di dekat Sarah.
“Aduh panas.” Tangan Sarah kepanasan saat memegang pisang goreng yang memang tadi baru selesai digoreng terus langsung disediakan di piring yang ditaruh di atas nampan. “Fiuh…fiuh…fiuh…” Sarah meniupi pisang goreng yang masih panas itu.
“Sama-sama Nyonya, maaf pisangnya masih panas ya Nya? Tadi soalnya begitu matang langsung saya taruh di piring putih yang sudah saya taruh di nampan, terus langsung saya berikan ke Nyonya. Saya kira Nyonya masih makan makanan yang tadi saya kirimkan, ternyata makanannya sudah habis tanpa sisa.”
“Hehe… iya gak apa-apa Bik, saya aja yang ceroboh, sudah pengen makan lagi, mungkin karena pengaruh tadi habis menyusui jadinya lebih mudah lapar.” Sarah sambil malu-malu mencoba makan pisang goreng yang sudah dia tiupi.
“Gak kok Nya, wajar kalau Nyonya kelaparan, karena tadi kan habis menyusui. Silakan dimakan pisangnya Nyonya, nanti kalau mau tambah lagi boleh Nya, chat saya saja ya,” ujar Bik Surti.
“Siap Bik Surti, makasih ya Bik,” Sarah mengunyah pisang goreng buatan Bik Surti, “Enak banget Bik pisang gorengnya.” Sarah memuji pisang goreng buatan Bik Surti.
“Oiya tadi semua makanan yang Bibik masak untuk Sarah juga enak banget Bik, sampai Sarah langsung habisin tanpa sisa.” Sarah tersenyum sambil mengacungkan dua jempol tangannya.
“Syukur Alhamdulillah kalau Nyonya suka sama masakan saya, saya jadi ikut senang, nanti kalau mau dimasakin sesuatu lagi kabarin saya saja lewat chat wa ya Nya,” Bik Surti tersenyum senang, “Bibik ijin melanjutkan pekerjaan Bibik dulu ya Nya?” ijin Bik Surti.
“Iya Bik Surti, makasih banyak ya Bik, Selamat melanjutkan pekerjaan.” Sarah berterima kasih sambil masih mengunyah pisang goreng.
“Sama-sama Nyonya.” Bik Surti segera beranjak dari kamar Sarah dan melanjutkan mengerjakan pekerjaan rumah.
Sedangkan Sarah lanjut memakan pisang goreng sambil membaca buku putih lagi. Melanjutkan membaca bab 10 mengenai Cara Membentengi Diri dari Iblis dan sekutu-sekutunya. Di situ tercantum cara-cara dalam membentengi diri dari iblis dan sekutu-sekutunya melalui bacaan Al Quran.
Syekh Jum'ah menjelaskan, di antara surat-surat yang membentengi diri dari setan dan jin ialah Al-Qowaqul, yaitu lima surat dalam Alquran yang dimulai dengan kata 'Qul' (katakanlah). Lima itu yakni Surah Al-Kaafirun, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Naas, dan Al-Jin.
Sarah sudah bisa empat dari lima surat yang disebutkan, kecuali Al-Jin dia masih belum hafal. Kemudian dia mencoba untuk menghafalkannya. Ternyata lumayan panjang juga, ada dua puluh delapan ayat. Tapi Sarah tergolong orang yang cerdas, sehingga lebih cepat menghafal dibandingkan orang-orang pada umumnya.
Sarah akhirnya berhasil menghafalkan surat Al-Jin tepat di saat Sarah berhasil menghabiskan dua puluh buah pisang goreng. Amunisi dari makanan sudah terpenuhi, amunisi dari bacaan surat-surat Al Qur'an juga terpenuhi, yang belum tinggal mempelajari gerakan-gerakan dalam melawan Iblis dan sekutu-sekutunya. Ternyata gerakannya mirip seperti latihan silat. Kebetulan Sarah lumayan mahir dalam Silat. Dia sudah sabuk merah yang berarti sudah mencapai tingkat keahlian yang sangat tinggi dan telah mengikuti pertandingan di tingkat nasional maupun internasional.
“Ok sepertinya bekal yang aku punya untuk menerobos Likatanman sudah cukup. Kini saatnya untuk mencoba menerobos sekali lagi ke Likatanman, semangat! aku pasti bisa menerobos dan merebut kembali suami tercinta!” sahut Sarah berapi-api.
Sebelum menerobos Likatanman melalui mata batin, Sarah berdoa terlebih dulu, agar diberikan kemampuan untuk menerobos Likatanman, bisa menemukan keberadaan suaminya, dan bisa melawan serta membasmi iblis dan sekutu-sekutunya. Kemudian dia mulai memejamkan kedua netranya, sambil menggabungkan kedua tangannya, dia fokus menembus batas-batas baik yang kasat mata maupun tak kasat mata, ke Likatanman tempat suaminya bekerja.
Semakin jauh Sarah menembus batas menuju ke Likatanman, semakin panas yang dia rasakan. Keringatnya mengucur semakin deras dari seluruh tubuhnya, namun dia tidak peduli. Yang lebih penting dia harus bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya.
Sekitar tiga perempat jalan sudah dia lalui, tinggal seperempat jalan lagi. Sarah sudah mulai kelelahan, namun dia merasa masih sanggup untuk terus berjalan. Napasnya sudah mulai tak beraturan, semakin lama rasanya semakin sesak dan panas seperti terbakar, sedikit lagi untuk bisa menerobos Likatanman. Hingga akhirnya Sarah berhasil melihat suaminya sedang bercinta dengan pelakor itu.
Jika dilihat sepintas dengan tampilan luarnya si pelakor memang terlihat sangat cantik. Namun saat Sarah mencoba melihat dengan mata batinnya menembus lapisan luar si pelakor, Sarah sangat terkejut, ternyata terlihat sesosok iblis wanita yang sangat menyeramkan. Dengan kulit merah kehitaman, wajah seperti kepala kambing, hidung besar, gigi tajam-tajam, kulit bersisik, perut besar, tampilannya begitu mengerikan membuat Sarah ingin menjerit tapi buru-buru dia tutup mulutnya dengan kedua tangan.
Tak sanggup melihat penampakan sebenarnya dari si pelakor, Sarah segera menghentikan penggunaan mata batinnya. Dengan napas tersengal-sengal, keringat mengucur deras hingga membasahi seluruh tubuh, pakaian dan karpet tempat dia duduk bersila. Tenggorokan Sarah terasa begitu kering. Dia lupa tidak pesan ke Bik Surti untuk membawakan minuman lagi ke kamarnya. Tapi dia tidak mungkin keluar dalam keadaan seperti ini, pasti Bik Surti akan kaget lagi.
Lalu ia teringat dengan saputangan handuk putih pemberian Starla. Dengan sisa-sisa tenaganya Ia segera menyeka keringat yang mengucur dari seluruh tubuhnya menggunakan saputangan handuk putih itu sampai kering. Kemudian ia mencoba untuk keluar kamar namun kepalanya semakin pusing, pandangan mulai kabur dan berkunang-kunang, tubuhnya terasa sangat lemas, kemudian Sarah jatuh pingsan, pyarrr… tangannya tak sengaja menyenggol vas bunga hingga pecah.
Bik Surti yang sedang bersih-bersih dikejutkan oleh bunyi sesuatu yang pecah di kamar Sarah. Dia langsung teringat Sarah. “Aduh itu bunyi pecah apa lagi, jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Nyonya Sarah, aku harus segera ke kamarnya.” Bik Surti bergumam dalam hati lalu segera menuju ke kamar Sarah.
Bagaimana kondisi Sarah? Apa yang akan terjadi dengan Sarah? Kita ikuti terus kisah yang semakin membuat cemas plus penasaran ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments