Bab 19

Hari Senin sudah tiba. Waktunya Sarah untuk berlatih bersama Starla. Tapi Starla belum menginformasikan jam berapa mereka akan berlatih. Sebelum Starla menghubungi Sarah melalui kalung pemberian Starla, Sarah sudah menyiapkan amunisi lebih banyak dengan makan nasi goreng dua porsi, ditambah sate ayam seratus tusuk, bakso satu porsi, soto ayam satu porsi, minumnya es campur, es degan dan dua gelas air mineral. 

Santi terkejut melihat Sarah makan sebanyak itu, tapi dia hanya tersenyum karena Santi berpikir kalau Sarah makan sebanyak itu supaya anaknya terpenuhi asupan gizinya. Baguslah pikir Santi, jadi dia tidak perlu memaksa Sarah untuk makan banyak. Lagipula Sarah badannya termasuk yang tidak mudah gemuk, jadi tidak ada masalah.

Tepat di saat Sarah selesai menyusui Safira, tiba-tiba liontin kalung Sarah bersinar putih. Sarah segera meletakkan Fira yang sudah tertidur lelap di kasur Fira, lalu dia bilang ke Sinta dan Bik Surti, “Ma, Fira sudah Sarah susuin, dia lagi bobok cantik sekarang. Titip Fira ya Ma, Bik Surti. Sarah juga mau tidur dulu.”

“Iya Sarah, kamu tidur dulu saja, karena mama tahu semalam pasti kamu juga gak bisa tidur enak, karena harus bangun dan menyusui Fira setiap dua jam sekali. Selamat tidur Sarah,” Santi mengizinkan Sarah untuk tidur.

“Iya Nyonya, silakan tidur yang nyenyak, nanti saya bantu jagain Fira juga,” kata Bik Surti sambil mengangguk.

“Terima kasih mama dan Bik Surti. Oiya kalau misal Sarah belum bangun, tapi Fira sudah bangun duluan minta disusui, di dalam kulkas sudah Sarah siapkan ASI yang Sarah tempatkan khusus. Nantinya ASI-nya bisa dihangatkan dulu lalu dimasukkan ke botol susu Fira ya Ma, Bik Surti. Sarah keluarkan kereta bayi Fira sama Firanya, tak taruh di kamar mama ya supaya mama atau Bik Surti lebih mudah nanti ambil Fira waktu Fira bangun.” Sarah sambil mendorong kereta Fira, Fira masih tertidur lelap di kereta bayinya.

“Sama-sama Sarah,” sahut Santi dan Bik Surti bersamaan.

“Sini mama saja yang bantu mengeluarkan Safira ya, kamu tidur saja di kamarmu” Santi segera mengeluarkan Fira dari kamar Sarah ke kamar Santi.

“Baik ma, makasih mama.” Sarah  menyeka keringat yang mengucur di dahinya karena tadi habis menyusui dan gerahnya udara di Subayara membuat Sarah mudah berkeringat, lalu dia segera kembali ke kasur kamarnya.

“Saya bantu ambil barang Fira ya Nya, seperti popok dan baju gantinya, khawatir kalau-kalau Fira mengompol atau bajunya basah kena keringat Fira. Soalnya di Subayara lagi panas-panasnya.” Bik Surti segera mengambil popok dan baju ganti Fira.

“Iya Bik ambil saja, makasih ya Bik.  Setelah ambil barang Fira, minta tolong pintu kamar Sarah ditutup lagi ya Bik,” Sarah segera merebahkan diri lalu menekan batu putih setelah Bik Surti menutup pintu kamar Sarah.

“Sama-sama, Nya. Siap Nya.” Bik Surti menutup pintu kamar Sarah setelah mengambil barang Fira.

Setelah mendengar suara halo dari batu putih yang bersinar, Sarah membalas, “Halo salam hormat Dewi Starla, maaf saya tidak langsung menekan batu putih karena tadi harus meletakkan anak saya yang tertidur pulas setelah selesai saya susui. Kebetulan mama saya dan ART saya mau bantu handle Fira, jadi mama membawa Fira ke kamar mama saya, sementara ART saya membawa barang Fira ke kamar mama saya.”

“Halo Sarah, iya Sarah gak masalah. Bagaimana kondisimu? Sudah lebih baik dari yang sebelumnya?” Starla menanyakan kepada Sarah mengenai kondisi Sarah sebelum mulai latihan.

“Alhamdulillah saya sudah jauh lebih baik Dewi, saya juga sudah makan banyak makanan dan minuman sampai rasanya perut saya penuh banget,” ujar Sarah sambil memegang perut langsingnya yang keras karena penuh makanan dan minuman yang tadi dia konsumsi.

“Bagus Sarah, sekarang kamu pejamkan mata ya, saya akan membawamu ke alam saya Caelum Regnum.” Starla memberikan perintah kepada Sarah untuk memejamkan kedua matanya, Sarah yang sudah dalam posisi berbaring kemudian memejamkan kedua matanya. Tak lama kemudian dia merasa seperti berada dalam pusaran.

“Bukalah kedua matamu Sarah,” ujar Starla memberikan perintah kepada Sarah.

Sarah membuka kedua matanya, dia melihat ke sekeliling tempat dia berada. Ternyata dia sudah berada di Ager, pusat area Caelum Regnum. Tempat Dewi Starla biasa berlatih kekuatannya. 

“Kamu masih ingat dengan tempat ini kan, Sarah?” Tanya Dewi Starla.

“Iya Dewi, saya masih sangat ingat dengan tempat ini, ini Ager kan?” Sarah mengingat dengan jelas tempat dia pertama kali berlatih meningkatkan kekuatan bersama Starla. “Udara di sini masih sepanas sewaktu saya berlatih dulu.” Sarah menyeka keringat yang mengucur di dahinya. Padahal baru beberapa menit Sarah sampai di Ager. Tapi panasnya udara di sana begitu dahsyat, sehingga membuat Sarah langsung berkeringat.

“Kamu benar Sarah, sudah siap untuk berlatih meningkatkan kekuatan? Apa kamu bawa saputangan putih yang saya berikan sebelumnya?” Starla menanyakan kesiapan Sarah untuk berlatih dan melihat Sarah menyeka keringatnya hanya dengan punggung tangannya.

“Siap Dewi Starla! Tapi mohon maaf saya lupa bawa saputangan putih pemberian Dewi.” Starla menjawab dengan semangat, tapi lalu dia dengan malu-malu mengatakan kalau lupa membawa saputangan putih pemberian Starla.

“Ya sudah, gak apa-apa, tapi lain kali tolong dibawa ya Sarah. Karena di Ager udaranya sangat panas bagimu, pastinya kamu akan mengeluarkan keringat jauh lebih banyak dibandingkan saat kamu berada di tempatmu.” Starla meminta Sarah untuk membawa saputangan putih pemberian Starla lain kali di saat berlatih di Ager.

“Baik Dewi, lain kali saya pasti akan membawa saputangan putih pemberian Dewi.” 

Saat Sarah sudah siap berlatih, Starla mengajarkan gerakan-gerakan yang hampir sama dengan gerakan silat yang biasa dipelajari oleh Sarah. Bedanya gerakan yang diajarkan Starla ini lebih sulit, mengandalkan gerakan meringankan tubuh yang membuat Sarah setelah beberapa kali mencoba akhirnya menjadi bisa terbang. Baru setengah jam berlatih, Sarah sudah bermandikan keringat. Sarah bisa dengan cepat menguasai gerakan-gerakan itu, namun di saat sudah akan mencapai akhir gerakan tiba-tiba saja terdengar suara pria yang keras menggelegar.

“Hentikan! Dia tidak pantas berada di sini! Dia bukan bangsa kita! Segera kembalikan dia ke dunianya!” Sahut pria berbaju putih panjang, berambut putih dengan potongan rambut dan wajah seperti aktor Brad Pitt muda, dengan mata putih tanpa pupil yang bersinar.

 Starla segera menghentikan latihannya. Sambil menyeka keringat di dahinya dia mengatakan pada pria itu, yang tak lain adalah saudara sepupu Starla. “Edward, apa hakmu melarang dia berlatih di sini? Dia adalah manusia yang aku pilih untuk berbagi kekuatan ku! Ini juga wilayah kekuasaanku!” Sahut Starla dengan marah, sambil menatap tajam Edward.

“Dia cuma manusia biasa, jauh di bawah kasta kita, buat apa kamu pilih dia untuk memberikan kekuatan yang sudah kamu peroleh dengan susah payah?” Edward tidak terima bila Starla memberikan kekuatannya kepada manusia yang menurut Edward tidak memiliki kemampuan yang sebanding dengan makhluk di dunia dia.

“Manusia tidak serendah dan selemah  yang kau pikirkan Edward, Sarah berbeda dari manusia kebanyakan. Dia termasuk manusia pilihan, yang diberikan kekuatan oleh yang Maha Kuasa untuk bisa menahan dan menerima sebagian kekuatan maha dahsyat yang sudah aku berikan!” Starla tidak setuju dengan yang dikatakan Edward mengenai manusia, terutama Sarah. Karena Starla sudah melihat sendiri bagaimana kemampuan dan kekuatan yang Sarah miliki begitu berkembang pesat dalam waktu relatif singkat, jauh melebihi ekspektasi Starla.

“Maaf siapa Edward ini Dewi Starla?” Sarah bertanya kepada Starla, dia merasa sangat diremehkan oleh Edward.

“Dia adalah Edward Steven Gerrard, saudara sepupuku yang suka usil mengganggu latihanku.” Starla menjawab pertanyaan dari Sarah dengan wajah kesal kepada Edward.

“Siapa pula manusia cantik ini?” Edward bertanya sambil berjalan mendekati Sarah, lalu memperhatikan Sarah dengan detail dari ujung rambut hingga ke kakinya, “Cantik sekali, sayang dia hanya manusia.”

Sebelum Starla memperkenalkan Sarah kepada Edward. Sarah sudah lebih dulu maju memperkenalkan dirinya kepada Edward, karena dia sudah sangat kesal dengan Edward yang masih sangat meremehkan dirinya.

“Tuan Edward yang terhormat, saya Sarah Cahya Satriawati. Maaf Tuan Edward sudah sangat meremehkan saya tanpa tahu bagaimana kemampuan dan kekuatan yang saya miliki!” Sarah menatap tajam Edward dengan wajah dingin dan napas tersengal-sengal. Keringat Sarah masih bercucuran dari dahi, seluruh wajah, dagu, leher jenjangnya hingga ke dasternya karena latihan tadi dan sangat panasnya udara di Ager. Kali ini Sarah mengenakan daster polos panjang berwarna ungu muda, tanpa lengan.

Apa yang akan Sarah lakukan terhadap Edward yang sombong dan masih saja meremehkan Sarah? Ikuti terus kisah yang semakin membuat penasaran ini.

Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 59
61 Bab 60
62 Bab 61
63 Bab 62
64 Bab 63
65 Bab 64
66 Bab 65
67 Bab 66
68 Bab 67
69 Bab 68
70 Bab 69
71 Bab 70
72 Pengumuman Bab 71-78
73 Bab 71
74 Bab 72
75 Bab 73
76 Bab 74
77 Bab 75
78 Bab 76
79 Bab 77
80 Bab 78
81 Bab 79
82 Pengumuman Bab 80-81
83 Bab 80
84 Bab 81
85 Bab 82
86 Pengumuman bab 83-85
87 Bab 83
88 Bab 84
89 Bab 85
90 *Pengumuman*
91 Bab 86
92 Bab 87
93 Bab 88
94 Bab 89
95 Bab 90
96 Bab 91
97 Bab 92
98 Bab 93
99 *Pengumuman Bab 94-95*
100 Bab 94
101 Bab 95
102 Bab 96
103 Bab 97
104 Bab 98
105 Bab 99
106 Bab 100
107 Bab 101
108 Bab 102
109 Bab 103
110 Bab 104
111 Bab 105
112 Bab 106
113 Bab 107
114 Bab 108
115 Bab 109
116 Bab 110
117 Bab 111
118 Bab 112
119 Bab 113
Episodes

Updated 119 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 59
61
Bab 60
62
Bab 61
63
Bab 62
64
Bab 63
65
Bab 64
66
Bab 65
67
Bab 66
68
Bab 67
69
Bab 68
70
Bab 69
71
Bab 70
72
Pengumuman Bab 71-78
73
Bab 71
74
Bab 72
75
Bab 73
76
Bab 74
77
Bab 75
78
Bab 76
79
Bab 77
80
Bab 78
81
Bab 79
82
Pengumuman Bab 80-81
83
Bab 80
84
Bab 81
85
Bab 82
86
Pengumuman bab 83-85
87
Bab 83
88
Bab 84
89
Bab 85
90
*Pengumuman*
91
Bab 86
92
Bab 87
93
Bab 88
94
Bab 89
95
Bab 90
96
Bab 91
97
Bab 92
98
Bab 93
99
*Pengumuman Bab 94-95*
100
Bab 94
101
Bab 95
102
Bab 96
103
Bab 97
104
Bab 98
105
Bab 99
106
Bab 100
107
Bab 101
108
Bab 102
109
Bab 103
110
Bab 104
111
Bab 105
112
Bab 106
113
Bab 107
114
Bab 108
115
Bab 109
116
Bab 110
117
Bab 111
118
Bab 112
119
Bab 113

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!