Hari Senin sudah tiba. Waktunya Sarah untuk berlatih bersama Starla. Tapi Starla belum menginformasikan jam berapa mereka akan berlatih. Sebelum Starla menghubungi Sarah melalui kalung pemberian Starla, Sarah sudah menyiapkan amunisi lebih banyak dengan makan nasi goreng dua porsi, ditambah sate ayam seratus tusuk, bakso satu porsi, soto ayam satu porsi, minumnya es campur, es degan dan dua gelas air mineral.
Santi terkejut melihat Sarah makan sebanyak itu, tapi dia hanya tersenyum karena Santi berpikir kalau Sarah makan sebanyak itu supaya anaknya terpenuhi asupan gizinya. Baguslah pikir Santi, jadi dia tidak perlu memaksa Sarah untuk makan banyak. Lagipula Sarah badannya termasuk yang tidak mudah gemuk, jadi tidak ada masalah.
Tepat di saat Sarah selesai menyusui Safira, tiba-tiba liontin kalung Sarah bersinar putih. Sarah segera meletakkan Fira yang sudah tertidur lelap di kasur Fira, lalu dia bilang ke Sinta dan Bik Surti, “Ma, Fira sudah Sarah susuin, dia lagi bobok cantik sekarang. Titip Fira ya Ma, Bik Surti. Sarah juga mau tidur dulu.”
“Iya Sarah, kamu tidur dulu saja, karena mama tahu semalam pasti kamu juga gak bisa tidur enak, karena harus bangun dan menyusui Fira setiap dua jam sekali. Selamat tidur Sarah,” Santi mengizinkan Sarah untuk tidur.
“Iya Nyonya, silakan tidur yang nyenyak, nanti saya bantu jagain Fira juga,” kata Bik Surti sambil mengangguk.
“Terima kasih mama dan Bik Surti. Oiya kalau misal Sarah belum bangun, tapi Fira sudah bangun duluan minta disusui, di dalam kulkas sudah Sarah siapkan ASI yang Sarah tempatkan khusus. Nantinya ASI-nya bisa dihangatkan dulu lalu dimasukkan ke botol susu Fira ya Ma, Bik Surti. Sarah keluarkan kereta bayi Fira sama Firanya, tak taruh di kamar mama ya supaya mama atau Bik Surti lebih mudah nanti ambil Fira waktu Fira bangun.” Sarah sambil mendorong kereta Fira, Fira masih tertidur lelap di kereta bayinya.
“Sama-sama Sarah,” sahut Santi dan Bik Surti bersamaan.
“Sini mama saja yang bantu mengeluarkan Safira ya, kamu tidur saja di kamarmu” Santi segera mengeluarkan Fira dari kamar Sarah ke kamar Santi.
“Baik ma, makasih mama.” Sarah menyeka keringat yang mengucur di dahinya karena tadi habis menyusui dan gerahnya udara di Subayara membuat Sarah mudah berkeringat, lalu dia segera kembali ke kasur kamarnya.
“Saya bantu ambil barang Fira ya Nya, seperti popok dan baju gantinya, khawatir kalau-kalau Fira mengompol atau bajunya basah kena keringat Fira. Soalnya di Subayara lagi panas-panasnya.” Bik Surti segera mengambil popok dan baju ganti Fira.
“Iya Bik ambil saja, makasih ya Bik. Setelah ambil barang Fira, minta tolong pintu kamar Sarah ditutup lagi ya Bik,” Sarah segera merebahkan diri lalu menekan batu putih setelah Bik Surti menutup pintu kamar Sarah.
“Sama-sama, Nya. Siap Nya.” Bik Surti menutup pintu kamar Sarah setelah mengambil barang Fira.
Setelah mendengar suara halo dari batu putih yang bersinar, Sarah membalas, “Halo salam hormat Dewi Starla, maaf saya tidak langsung menekan batu putih karena tadi harus meletakkan anak saya yang tertidur pulas setelah selesai saya susui. Kebetulan mama saya dan ART saya mau bantu handle Fira, jadi mama membawa Fira ke kamar mama saya, sementara ART saya membawa barang Fira ke kamar mama saya.”
“Halo Sarah, iya Sarah gak masalah. Bagaimana kondisimu? Sudah lebih baik dari yang sebelumnya?” Starla menanyakan kepada Sarah mengenai kondisi Sarah sebelum mulai latihan.
“Alhamdulillah saya sudah jauh lebih baik Dewi, saya juga sudah makan banyak makanan dan minuman sampai rasanya perut saya penuh banget,” ujar Sarah sambil memegang perut langsingnya yang keras karena penuh makanan dan minuman yang tadi dia konsumsi.
“Bagus Sarah, sekarang kamu pejamkan mata ya, saya akan membawamu ke alam saya Caelum Regnum.” Starla memberikan perintah kepada Sarah untuk memejamkan kedua matanya, Sarah yang sudah dalam posisi berbaring kemudian memejamkan kedua matanya. Tak lama kemudian dia merasa seperti berada dalam pusaran.
“Bukalah kedua matamu Sarah,” ujar Starla memberikan perintah kepada Sarah.
Sarah membuka kedua matanya, dia melihat ke sekeliling tempat dia berada. Ternyata dia sudah berada di Ager, pusat area Caelum Regnum. Tempat Dewi Starla biasa berlatih kekuatannya.
“Kamu masih ingat dengan tempat ini kan, Sarah?” Tanya Dewi Starla.
“Iya Dewi, saya masih sangat ingat dengan tempat ini, ini Ager kan?” Sarah mengingat dengan jelas tempat dia pertama kali berlatih meningkatkan kekuatan bersama Starla. “Udara di sini masih sepanas sewaktu saya berlatih dulu.” Sarah menyeka keringat yang mengucur di dahinya. Padahal baru beberapa menit Sarah sampai di Ager. Tapi panasnya udara di sana begitu dahsyat, sehingga membuat Sarah langsung berkeringat.
“Kamu benar Sarah, sudah siap untuk berlatih meningkatkan kekuatan? Apa kamu bawa saputangan putih yang saya berikan sebelumnya?” Starla menanyakan kesiapan Sarah untuk berlatih dan melihat Sarah menyeka keringatnya hanya dengan punggung tangannya.
“Siap Dewi Starla! Tapi mohon maaf saya lupa bawa saputangan putih pemberian Dewi.” Starla menjawab dengan semangat, tapi lalu dia dengan malu-malu mengatakan kalau lupa membawa saputangan putih pemberian Starla.
“Ya sudah, gak apa-apa, tapi lain kali tolong dibawa ya Sarah. Karena di Ager udaranya sangat panas bagimu, pastinya kamu akan mengeluarkan keringat jauh lebih banyak dibandingkan saat kamu berada di tempatmu.” Starla meminta Sarah untuk membawa saputangan putih pemberian Starla lain kali di saat berlatih di Ager.
“Baik Dewi, lain kali saya pasti akan membawa saputangan putih pemberian Dewi.”
Saat Sarah sudah siap berlatih, Starla mengajarkan gerakan-gerakan yang hampir sama dengan gerakan silat yang biasa dipelajari oleh Sarah. Bedanya gerakan yang diajarkan Starla ini lebih sulit, mengandalkan gerakan meringankan tubuh yang membuat Sarah setelah beberapa kali mencoba akhirnya menjadi bisa terbang. Baru setengah jam berlatih, Sarah sudah bermandikan keringat. Sarah bisa dengan cepat menguasai gerakan-gerakan itu, namun di saat sudah akan mencapai akhir gerakan tiba-tiba saja terdengar suara pria yang keras menggelegar.
“Hentikan! Dia tidak pantas berada di sini! Dia bukan bangsa kita! Segera kembalikan dia ke dunianya!” Sahut pria berbaju putih panjang, berambut putih dengan potongan rambut dan wajah seperti aktor Brad Pitt muda, dengan mata putih tanpa pupil yang bersinar.
Starla segera menghentikan latihannya. Sambil menyeka keringat di dahinya dia mengatakan pada pria itu, yang tak lain adalah saudara sepupu Starla. “Edward, apa hakmu melarang dia berlatih di sini? Dia adalah manusia yang aku pilih untuk berbagi kekuatan ku! Ini juga wilayah kekuasaanku!” Sahut Starla dengan marah, sambil menatap tajam Edward.
“Dia cuma manusia biasa, jauh di bawah kasta kita, buat apa kamu pilih dia untuk memberikan kekuatan yang sudah kamu peroleh dengan susah payah?” Edward tidak terima bila Starla memberikan kekuatannya kepada manusia yang menurut Edward tidak memiliki kemampuan yang sebanding dengan makhluk di dunia dia.
“Manusia tidak serendah dan selemah yang kau pikirkan Edward, Sarah berbeda dari manusia kebanyakan. Dia termasuk manusia pilihan, yang diberikan kekuatan oleh yang Maha Kuasa untuk bisa menahan dan menerima sebagian kekuatan maha dahsyat yang sudah aku berikan!” Starla tidak setuju dengan yang dikatakan Edward mengenai manusia, terutama Sarah. Karena Starla sudah melihat sendiri bagaimana kemampuan dan kekuatan yang Sarah miliki begitu berkembang pesat dalam waktu relatif singkat, jauh melebihi ekspektasi Starla.
“Maaf siapa Edward ini Dewi Starla?” Sarah bertanya kepada Starla, dia merasa sangat diremehkan oleh Edward.
“Dia adalah Edward Steven Gerrard, saudara sepupuku yang suka usil mengganggu latihanku.” Starla menjawab pertanyaan dari Sarah dengan wajah kesal kepada Edward.
“Siapa pula manusia cantik ini?” Edward bertanya sambil berjalan mendekati Sarah, lalu memperhatikan Sarah dengan detail dari ujung rambut hingga ke kakinya, “Cantik sekali, sayang dia hanya manusia.”
Sebelum Starla memperkenalkan Sarah kepada Edward. Sarah sudah lebih dulu maju memperkenalkan dirinya kepada Edward, karena dia sudah sangat kesal dengan Edward yang masih sangat meremehkan dirinya.
“Tuan Edward yang terhormat, saya Sarah Cahya Satriawati. Maaf Tuan Edward sudah sangat meremehkan saya tanpa tahu bagaimana kemampuan dan kekuatan yang saya miliki!” Sarah menatap tajam Edward dengan wajah dingin dan napas tersengal-sengal. Keringat Sarah masih bercucuran dari dahi, seluruh wajah, dagu, leher jenjangnya hingga ke dasternya karena latihan tadi dan sangat panasnya udara di Ager. Kali ini Sarah mengenakan daster polos panjang berwarna ungu muda, tanpa lengan.
Apa yang akan Sarah lakukan terhadap Edward yang sombong dan masih saja meremehkan Sarah? Ikuti terus kisah yang semakin membuat penasaran ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments