Bab 3

“Selamat Nyonya Sarah, bayi perempuanmu berhasil dilahirkan dalam keadaan sehat dan sempurna.” Bik Surti mengucapkan selamat sambil menyeka keringat di dahinya, lalu menggendong bayi Sarah yang sudah dipotong tali ari-arinya sesaat setelah lahir dan dibersihkan tubuhnya dari sisa-sisa air ketuban dan darah kemudian dibalut dengan selimut bayi warna pink soft yang sebelumnya sudah di siapkan Bik Surti. Sebenarnya Bik Surti masih bingung mengenai munculnya sinar putih dari bayi tersebut. Dia juga penasaran kok bisa ada tanda lahir unik yang berbentuk setengah matahari di dahi bayi Sarah. Namun dia tidak berani bertanya lebih lanjut. Karena takut malah akan membuat majikannya ikutan bingung atau panik.

“Terima kasih Bik Surti.” Sarah berterima kasih pada Bik Surti sambil meneteskan airmata karena terharu, lega, bahagia, dan rasa luar biasa yang Sarah rasakan setelah perjuangan berjam-jamnya menahan rasa sakit yang teramat sangat dan rasa panas di sekujur tubuhnya.

“Sama-sama Nyonya Sarah, saya ijin menyeka keringat Nyonya ya?” Bik Surti melihat Sarah mengangguk mulai menyeka keringat Sarah yang bercucuran di dahi, wajah, leher dan dadanya dengan tisu lalu meletakkan bayi perempuan cantik milik Sarah ke atas dada Sarah untuk disusui pertama kali.

Perasaan Sarah saat melihat dan menyentuh bayi perempuan cantik yang berhasil ia lahirkan dengan selamat, sehat dan sempurna ini sulit dilukiskan dengan kata-kata. Rasa sakit teramat sangat yang dia rasakan selama berjam-jam itu hilang begitu saja, tak tersisa.

“Nyonya bayi ini apa sudah ada namanya?” Bik Surti penasaran dengan nama bayi Sarah.

“Sudah Bik, saya kasih nama Safira Cahyaning Kharisma yang artinya batu permata Safir yang bercahaya dan berkharisma.” Sarah menjawab pertanyaan Bik Surti sambil tersenyum bahagia.

“Cantik sekali nama anak Nyonya, cocok dengan wajahnya yang sangat cantik seperti permata Safir yang bercahaya dan berkharisma.” Bik Surti memuji nama bayi Sarah dengan tulus.

“Terima kasih pujiannya Bik Surti.” Sarah berterima kasih kepada Bik Surti dengan wajah berseri-seri.

“Sebentar ya Nya, saya ijin mau ambil benang dan jarum khusus untuk menjahit jalan lahir Nyonya yang robek cukup lebar,” ujar Bik Surti minta ijin.

“Iya Bik, sakit gak kalau dijahit?” Sarah bertanya dengan polos, karena dia belum pernah dijahit.

“Lumayan sakit tapi masih jauh lebih sakit melahirkan Nya.” Bik Surti menjawab sambil berusaha menenangkan Sarah supaya Sarah tidak takut dijahit.

“Baik Bik, silakan ambil benang dan jarum khususnya, jangan lupa disterilisasi dulu ya!” Sarah mengingatkan Bik Surti sambil merintih menahan sakit karena bayinya menyusui dengan kencang.

“Siap Nya.” Bik Surti segera ke kamarnya untuk mengambil benang dan jarum khususnya sekaligus mensterilisasi keduanya dengan merendam di air panas.

“Safira sayang minum susunya lebih dipelankan ya, n****n mama sakit kalau Fira nyedotnya kencang,” pinta Sarah pada bayinya sambil mengelus punggung Fira.

Sepertinya bayinya ini masih semangat nyedot buah dada Sarah, sehingga permintaan dari Sarah tidak dihiraukan. “Aduh nak sakit, pelan-pelan ya sayang.” Sarah meringis kesakitan, tapi Safira masih menyusui dengan semangat. Bulir-bulir keringat sebesar biji jagung mulai bermunculan lagi di dahi Sarah karena menahan sakitnya menyusui dan udara panas yang memenuhi rumahnya.

Tak lama kemudian Bik Surti datang sambil membawa perlengkapan jahit dan jarum khusus. Lalu dia melihat Nyonyanya yang merintih kesakitan dengan dahi berkeringat, dia pun bertanya, “Nyonya kenapa? Kok kelihatan kesakitan? Apa gara-gara bayi Nyonya semangat menyusui ya?”

“Iya Bik, Fira semangat sekali menyusuinya, n***n aku sampai sakit.” Sarah menggigit bibirnya menahan sakit di buah dadanya. Bulir-bulir keringat di kening Sarah mulai berjatuhan mengenai dada Sarah dan kepala Fira.

“Tahan ya Nyonya, mungkin air susu Nyonya masih sedikit, sedangkan Fira sudah kelaparan mangkannya dia begitu bersemangat menyusui.” Bik Surti mencoba memberikan penjelasan.

“Iya Bik, hhh…gerahnya, keringatku sampai mengucur lagi Bik, padahal tadi sudah diseka sama Bibik. Udara juga terasa panas sekali hari ini.” Sarah mengipasi leher jenjangnya yang juga berkeringat menggunakan tangan kanannya karena kegerahan, lalu dia  teringat perkataan Dewi Bintang kalau anak Sarah akan lahir di saat dan waktu yang tepat, dikala matahari berada tepat di atas, dengan pancaran sinarnya yang paling terang dan panas, sesuai periode waktu yang ditentukan. Berarti di hari Jumat inilah waktu yang tepat, pantas saja panasnya melebihi hari-hari biasanya.

“Saya seka lagi keringat Nyonya ya?” Bik Surti mengambil beberapa lembar tisu lalu mulai menyeka keringat Sarah yang mengucur di dahi, wajah, leher dan dadanya.

“Iya Bik Surti, terima kasih ya Bik.” Sarah menyeka keringatnya yang tadi menetes di kepala Fira. Fira masih semangat menyusui.

“Sama-sama, Nyonya.” Bik Surti membuang tisu yang sudah basah terkena  keringat Sarah. Aroma keringat Sarah sangat wangi seperti wangi kasturi membuat Bik Surti takjub. Dia jadi  penasaran bagaimana bisa keringat Sarah berbau begitu harum, berbeda dengan aroma keringat manusia pada umumnya.

“Nyonya, maaf sebelumnya, Nyonya biasanya perawatan tubuh menggunakan apa? Karena keringat Nyonya mengeluarkan aroma yang sangat wangi, wanginya seperti wangi kasturi?” Bik Surti penasaran dengan aroma keringat Sarah yang begitu harum seperti aroma kasturi.

Sarah bingung bagaimana menjelaskan ini kepada Bik Surti, aroma wangi keringatnya pasti didapat karena dia kini memiliki kekuatan seperempat kekuatan dewa. Akhirnya Sarah menjawab sekenanya, ”Oww itu karena keringat saya bercampur dengan parfum kasturi yang saya pakai mungkin Bik, hehe”

“Begitu ya Nya, pantas saja wangi sekali, pasti parfumnya tergolong parfum mahal ya Nya?” Bik Surti memastikan.

“Begitulah Bik.” Sarah tersenyum malu-malu. Lalu dia melihat Fira ternyata sudah tertidur, mungkin karena kekenyangan setelah menyusui atau kelelahan karena berusaha mendapatkan air susu sebanyak-banyaknya dari ibunya.  Entahlah tapi tidurnya terlihat pulas sekali. “Bik, minta tolong pindahkan Fira ke kasurnya ya? dia sudah bobok pulas”  Sambil Sarah pelan-pelan melepaskan mulut Fira dari buah dada Sarah yang berkeringat.

“Baik Nya.” Bik Surti segera mengambil Fira dari tangan Sarah dengan hati-hati. Safira yang sedang tertidur pulas ini pelan-pelan dipindahkan dari tangan Sarah ke kasur bayi yang ada di sebelah kiri kasur Sarah.

Sambil memindahkan Safira, Bik Surti melihat ke arah tanda lahir berbentuk setengah matahari di bagian tengah dahi Fira. Dia penasaran mengapa bisa ada tanda lahir dengan bentuk unik menyerupai setengah matahari. Daripada nanti malam tidak bisa tidur karena kepikiran terus sama tanda lahir Safira, akhirnya Bik Surti memberanikan diri menanyakan pada Sarah, “Nyonya, maaf bayi Fira punya tanda lahir yang unik ya, bentuknya seperti setengah matahari di bagian tengah dahi, kok bisa?”

“Hahaha… kalau itu tanya sama yang Maha Kuasa Bik, soalnya yang buat tanda lahir itu bukan saya tapi yang Maha Kuasa,” ujar Sarah sambil tertawa.

“Iya juga ya,” Bik Surti menyadari pertanyaan bodohnya sambil garuk-garuk kepala. “Astaghfirullah, karena keasyikan ngobrol sama Nyonya jadi lupa kalau belum menjahit jalan lahir Nyonya yang robek waktu proses melahirkan tadi. Maaf ya Nya, apa Nyonya sudah siap? Ini akan terasa sakit tapi tidak sesakit waktu melahirkan.” 

“Siap Bik!” Meskipun sudah sangat kelelahan, Sarah mau tidak mau harus mempersiapkan diri lagi untuk menerima rasa sakit.

“Baik saya mulai menjahit ya.” Bik Surti memasukkan benang khusus ke jarum khusus. Bik Surti mulai menjahit robekan jalan lahir Sarah.

“Aaahhh! Sakit Bik!” Sarah merintih kesakitan. Bulir-bulir keringat sebesar butir jagung mulai membasahi dahi Sarah lagi. 

“Tahan ya Nya, sebentar lagi selesai.” Bik Surti mencoba menenangkan Sarah sambil fokus menjahit robekan jalan lahir Sarah sampai tidak sempat menyeka keringatnya sendiri yang sudah mengucur di dahi dan leher Bik Surti. 

“Iya Bik, sssh sakiiit!” Sarah menggigit bibirnya menahan sakit. Keringat Sarah mulai mengucur deras lagi.

Tak lama kemudian proses menjahit robekan jalan lahir selesai dilakukan. “Sudah selesai Nyonya, maaf Bibik tidak pakai bius soalnya Bibik gak punya obat biusnya.” Bik Surti menyeka keringatnya yang mengucur di dahi dan lehernya.

“Gak apa-apa Bik, yang penting sudah selesai, kepala saya pusing sekali Bik, rasanya lelah dan lemas sekali Bik.” Sarah memegangi kepalanya, pandangan matanya kabur dan berkunang-kunang, lalu dia pingsan karena kelelahan, serta kehilangan banyak cairan dan darah. 

Akankah Sarah yang pingsan bisa segera sadar kembali? Ikuti terus kelanjutan kisah yang semakin seru ini.

Terpopuler

Comments

Yue Sid

Yue Sid

Bagus banget!!! Aku suka banget ceritanya 🥰

2024-02-27

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 59
61 Bab 60
62 Bab 61
63 Bab 62
64 Bab 63
65 Bab 64
66 Bab 65
67 Bab 66
68 Bab 67
69 Bab 68
70 Bab 69
71 Bab 70
72 Pengumuman Bab 71-78
73 Bab 71
74 Bab 72
75 Bab 73
76 Bab 74
77 Bab 75
78 Bab 76
79 Bab 77
80 Bab 78
81 Bab 79
82 Pengumuman Bab 80-81
83 Bab 80
84 Bab 81
85 Bab 82
86 Pengumuman bab 83-85
87 Bab 83
88 Bab 84
89 Bab 85
90 *Pengumuman*
91 Bab 86
92 Bab 87
93 Bab 88
94 Bab 89
95 Bab 90
96 Bab 91
97 Bab 92
98 Bab 93
99 *Pengumuman Bab 94-95*
100 Bab 94
101 Bab 95
102 Bab 96
103 Bab 97
104 Bab 98
105 Bab 99
106 Bab 100
107 Bab 101
108 Bab 102
109 Bab 103
110 Bab 104
111 Bab 105
112 Bab 106
113 Bab 107
114 Bab 108
115 Bab 109
116 Bab 110
117 Bab 111
118 Bab 112
119 Bab 113
Episodes

Updated 119 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 59
61
Bab 60
62
Bab 61
63
Bab 62
64
Bab 63
65
Bab 64
66
Bab 65
67
Bab 66
68
Bab 67
69
Bab 68
70
Bab 69
71
Bab 70
72
Pengumuman Bab 71-78
73
Bab 71
74
Bab 72
75
Bab 73
76
Bab 74
77
Bab 75
78
Bab 76
79
Bab 77
80
Bab 78
81
Bab 79
82
Pengumuman Bab 80-81
83
Bab 80
84
Bab 81
85
Bab 82
86
Pengumuman bab 83-85
87
Bab 83
88
Bab 84
89
Bab 85
90
*Pengumuman*
91
Bab 86
92
Bab 87
93
Bab 88
94
Bab 89
95
Bab 90
96
Bab 91
97
Bab 92
98
Bab 93
99
*Pengumuman Bab 94-95*
100
Bab 94
101
Bab 95
102
Bab 96
103
Bab 97
104
Bab 98
105
Bab 99
106
Bab 100
107
Bab 101
108
Bab 102
109
Bab 103
110
Bab 104
111
Bab 105
112
Bab 106
113
Bab 107
114
Bab 108
115
Bab 109
116
Bab 110
117
Bab 111
118
Bab 112
119
Bab 113

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!