“Ahh… enak sayang, terus sayang, batangmu enak banget…” Sahut Lilith yang kelonjotan saking keenakan. Bulir-bulir keringat mengalir dari dahi, pinggir pipi, leher jenjangnya hingga ke dada montoknya yang seksi juga berkeringat karena mengeluarkan tenaga untuk begituan sambil menyedot energi milik Firansyah tanpa diketahui oleh Firansyah. “Aku mau keluar sayang…sedikit lagi…ahh!”
“Aku juga keluar sayang, ahh!” sahut Firansyah yang juga berkeringat di dahi, leher jenjangnya dan dada bidangnya yang seksi. Lalu mereka berdua sama-sama merebahkan diri di kasur kelelahan. Keduanya sama-sama berusaha mengatur napasnya yang ngos-ngosan karena kelelahan habis begituan.
“Sayang, kamu semakin hari terlihat semakin cantik. Aku paling suka melihatmu saat berkeringat begini, kelihatan sangat cantik dan seksi.” Firansyah memandangi wajah cantik Lilith yang dipenuhi bulir-bulir keringat, sambil mengelus pipi Lilith yang meneteskan keringat.
“Masa’ sih mas? Apa kamu tidak jijik dengan keringatku sayang?” tanya Lilith dengan nada mendayu-dayu.
“Gak lah sayang, mas sudah cinta mati sama kamu, jadi apapun yang melekat di kamu, mas sama sekali gak jijik. Malah kamu semakin terlihat sangat cantik saat ini, apalagi dengan tubuh basahmu yang dipenuhi keringat, terlihat seksi menggairahkan, membuat mas ingin melakukannya lagi dan lagi. Tapi entah mengapa mas jadi semakin mudah sekali lelah ya sayang?”
Lilith tersenyum tapi dalam hati dia bilang "Hahaha!, tentu saja kau makin mudah lelah Firansyah, karena saat melakukannya aku sekaligus menyedot energimu. Tunggu saja sekitar satu bulan lagi engkau pasti akan mati kehabisan energi, hahaha!’, tapi di mulut Lilith mengatakan, “Emmm… mungkin itu karena mas terlalu banyak bekerja jadi lebih mudah lelah saat begituan.” Lilith berbohong sambil menyeka keringat yang mengalir di dahi dan dagu lancipnya sambil tersenyum.
...***...
“Tidaaak! Mas ingat aku dan anakmu mas!, dia cuma iblis pelakor yang sangat jahat dan sangat menyeramkan!” Sarah terbangun dari mimpi buruknya sambil berteriak, bersimbah keringat. Napasnya ngos-ngosan, lalu Sarah menangis.
Santi dan Bik Surti juga terbangun, kaget mendengar teriakan Sarah. Santi segera menghampiri Sarah dan melihat Sarah menangis dengan bulir-bulir keringat mengalir dari wajah dan tubuhnya. “Astaghfirullah Sarah sayang, kamu kenapa? Mama sampai kaget dengar teriakan kamu, dan melihatmu seperti ini.” Santi memeluk Sarah dan berusaha menenangkan Sarah sambil menyeka keringat Sarah yang mengucur menggunakan tisu.
“Gak apa-apa ma, Sarah cuma mimpi buruk.” Sarah berusaha menutupi sambil mengatur napasnya yang ngos-ngosan.
“Mimpi buruk tentang apa Sarah? Apa tentang suamimu?” Santi masih penasaran dengan mimpi buruk Sarah.
“Iya ma, sudah jangan dipikirkan, paling ini cuma mimpi buruk saja, gak beneran.” Sarah menghapus airmatanya yang mengalir, lalu mencoba untuk mengatur napas dan menenangkan diri. Meskipun pikirannya masih dipenuhi mimpi tentang suaminya yang sedang begituan dengan iblis pelakor itu.
“Apa telah terjadi sesuatu dengan suamimu, Firansyah? Karena sudah berbulan-bulan Mama tidak pernah lihat dia, apalagi tahu tentang kabarnya. Dia tidak pernah telepon mama, mama telpon dia juga gak diangkat.” Santi mencoba mengorek lagi mengenai Suami Sarah yang membuat Sarah sampai mimpi buruk seperti itu.
“Semoga gak ma, nanti aku coba cari tahu lagi ma, mama tenang dulu ya.” Sarah sambil tersenyum mencoba menenangkan mamanya meski hatinya masih menangis mengingat mimpi buruknya.
“Oek…oek…oek,” Fira terbangun dari tidurnya, menangis dengan kencang.
“Fira sayang, cucu Eyang yang paling cantik sudah bangun. Mau nyusu ya? sini Eyang gendong dulu biar mamahmu makan dan minum dulu yang banyak terus kasih kamu ke mamah kamu.” Santi segera menggendong Fira yang menangis.
“Bik Surti, minta tolong ambilkan dua gelas air mineral sama satu kotak martabak daging ayam plus jamur untuk Sarah ya Bik?” Sambil menggendong Fira, Santi request kepada Bik Surti untuk diambilkan dua gelas air mineral dan satu kotak martabak daging ayam plus jamur untuk Sarah.
“Siap Nyonya Santi.” Bik Surti segera mengambil dua gelas milik Sarah yang sudah kosong, segera dia isi lagi dengan air mineral agak dingin dari dispenser. Kemudian Bik Surti memberikan kepada Sarah.
“Ini Nyonya Sarah minumnya, saya taruh di meja sebelah kiri Nyonya ya? Saya mau ambil martabaknya dulu” Melihat Sarah mengangguk, Bik Surti segera meletakkan dua gelas air mineral yang dia bawa ke meja sebelah kiri kasur, kemudian Bik Surti kembali ke meja tamu untuk mengambil satu kotak martabak daging ayam plus jamur lalu memberikan ke Sarah.
“Terima kasih Bik Surti.” Sarah segera memakan martabak itu hingga satu kotak habis, lalu meminum dua gelas air mineral hingga tandas. Kemudian bersendawa cukup keras. Bik Surti takjub dengan kemampuan Sarah menghabiskan makanan secepat itu. Tapi tubuh Sarah masih langsing dan seksi. Seperti wanita yang belum menikah.
Setelah itu Santi segera mendatangi Sarah dan menyerahkan Safira yang menangis ke tangan Sarah. Sarah langsung mengambil Safira, segera membuka kancing-kancing depan dasternya lalu menyusui Safira.
...***...
Rodhat kebingungan dengan permintaan Wuna. Dia sendiri kalau dekat dengan wanita yang biasa saja sudah grogi, apalagi dekat dengan wanita cantik. Bagaimana bisa meminta wanita cantik untuk jadi pemuas hasrat Wuna? Apalagi setiap satu Minggu harus berganti wanita cantik, membuat Rodhat makin pusing dengan permintaan dari Wuna itu.
“Sultan Wuna, mohon maaf sebelumnya, kalau untuk mencarikan wanita cantik sebagai pemuas hasrat Sultan, terus terang saya kesulitan. Apakah tidak bisa diganti dengan permintaan yang lain?” Rodhat jujur kesulitan, daripada dia sok bilang bisa tapi ternyata gak bisa, malah akan memberikan harapan palsu kepada Wuna, jadi lebih baik dia jujur.
“Hahaha! Masa’ cari wanita cantik saja kamu kesulitan? Kamu itu jin ifrit yang kaya raya kan? Pakailah hartamu itu untuk membayar wanita-wanita cantik yang butuh harta dan rela melakukan apa saja demi memperoleh harta yang banyak. Biasanya yang paling mudah dirayu itu wanita-wanita cantik dari kalangan bangsa manusia. Cari saja mereka di club-club malam atau hotel-hotel murah, gampang kan?” Wuna tertawa sambil memberikan masukan kepada Rodhat.
“Benar juga, bagus sekali masukanmu Sultan! Saya akan coba menjalankan sesuai masukan Sultan.” Rodhat tersenyum senang mendapatkan masukan dari Wuna yang brilian menurutnya.
“Berarti kita saling setuju ya dengan permintaan saya? Kamu butuh berapa banyak pasukan untuk membunuh Sarah dan bayinya?” Wuna bertanya untuk memastikan dan akan menyiapkan pasukan sesuai yang diminta Rodhat.
“Setuju Sultan, emmm…saya bisa minta dua ratus pasukan siluman ular?” Rodhat meminta pasukan siluman ular sebanyak dua ratus pasukan, dua kali lipat dari pasukan Golum. Rodhat berharap dengan pasukan yang lebih banyak jumlahnya maka kemungkinan untuk menang akan semakin besar.
“Hmmm… permintaan pasukanmu banyak juga, tapi apa kamu sanggup memberikan setiap pasukan 100 keping emas? Karena kalau kamu minta 200 pasukan, berarti kamu harus membayar mereka semua 20.000 keping emas, atau… Begini saja, bagaimana kalau 100 pasukan siluman ular, dan 100 pasukan ular kobra? Nantinya untuk 100 pasukan ular kobra kamu tidak perlu memberikan keping emas pada mereka, cukup kamu kasih mereka makanan berupa tikus-tikus yang mudah ditemui di got-got atau gorong-gorong, bagaimana?” Wuna di luar dugaan ternyata memberikan usulan yang bagus lagi untuk Rodhat.
“Bagus sekali usul Sultan, saya suka usulmu yang 100 pasukan siluman ular dan 100 pasukan ular kobra. Jadi bisa menghemat biaya lebih banyak dari yang seharusnya.” Rodhat semakin girang karena usul Wuna lagi-lagi sangat bagus menurutnya.
Bagaimana strategi Rodhat dalam membunuh Sarah dan bayinya dengan menggunakan 100 pasukan siluman ular dan 100 pasukan ular kobra? Kita ikuti terus kisah yang semakin seru ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments