Rodhat segera berburu mencari tikus-tikus yang biasa berkeliaran di got dan gorong-gorong, untuk makanan para pasukan ular kobra. Dengan membawa satu kantong besar berwarna hitam yang nantinya untuk menempatkan tikus-tikus yang berhasil ditangkap Rodhat. Dia lupa tidak tanya kepada Wuna, tikus-tikus ini harus ditangkap dalam keadaan hidup atau mati. Tapi kalau misal tikus-tikus itu ditangkap dalam keadaan mati pasti baunya sangat tidak enak. Jadi akhirnya Rodhat memutuskan untuk menangkap tikus-tikus itu dalam keadaan hidup saja.
Ternyata menangkap tikus-tikus tidak semudah yang Rodhat duga. Karena tikus-tikus itu cepat sekali kaburnya saat ketahuan oleh Rodhat. Di got-got yang dia temui Rodhat hanya berhasil menangkap lima tikus saja. Kemudian dia mencoba cari di gorong-gorong. Baunya sangat menyengat di situ, tempatnya juga sangat kotor, menjijikan dan sangat panas. Rodhat sampai mandi keringat. Apalagi dia sambil lari-larian mengejar tikus-tikus yang kabur. Di gorong-gorong dia berhasil mendapatkan dua puluh tiga tikus saja. Jadi total yang dia dapat cuma dua puluh delapan tikus. Padahal pasukan ular kobra yang harus dia kasih makanan berjumlah 100 pasukan. Berarti dia harus menangkap setidaknya 200 tikus supaya pasukan ular kobra itu bisa benar-benar kenyang.
Rodhat mulai frustasi, karena belum bisa mendapatkan tikus yang banyak. Dia juga bingung harus mencari kemana lagi. Sambil berpikir dia menyeka keringat yang mengucur di dahinya. Kemudian dia ingat kalau di dunia manusia ada rumah-rumah kosong yang terbengkalai. Mungkin di situ ada banyak tikus. Akhirnya dia segera ber-apparate ke daerah perumahan elite di Subayara. Mencari rumah kosong terbengkalai. Tapi dengan keadaannya sekarang yang bajunya cemong-cemong terkena kotoran waktu dia berada di got dan gorong-gorong, bau badan menyengat dan terlihat kucel itu membuat satpam perumahan yang melihat dia dalam keadaan seperti itu langsung mengusir Rodhat karena dikira pengemis.
“Sial, aku lupa belum mengganti bajuku yang cemong-cemong dengan baju yang lebih bersih, ini kan perumahan elite. Wajar saja satpam itu mengusirku. Sebaiknya aku segera mencari tempat tak jauh dari sini supaya bisa merubah diriku menjadi terlihat tampan dan kaya.” Rodhat bergumam dalam hati sambil mencari tempat di dekat area perumahan elite yang tadi dia masuki. Akhirnya dia menemukan sebuah taman yang cukup luas, di area taman tersebut ada toiletnya. Itu tempat yang cocok untuk dia merubah wujudnya menjadi pria tampan dan kaya.
Kebetulan di taman itu sedang sepi, tidak terlihat adanya manusia yang beraktivitas. Mungkin karena ini siang hari, cuaca juga sedang panas-panasnya, membuat banyak manusia lebih suka berada di dalam ruangan daripada berpanas-panasan di luar. Rodhat sendiri juga merasa kepanasan. Dia segera masuk ke toilet yang ada di taman itu. Kemudian dia mandi menyegarkan dirinya yang sudah kotor, kegerahan dan bermandikan keringat. Lalu dia segera berganti penampilan menjadi pria yang terlihat tampan dan kaya. Dijamin para wanita terutama yang gila harta, banyak yang berminat dan tertarik dengan pesona Rodhat. Tapi tujuan utamanya sekarang bukan mencari wanita tapi mencari tikus-tikus yang banyak, untuk makanan pasukan ular kobra.
Setelah tampil dengan wajah tampan dan terlihat kaya dengan memakai jas hitam, celana kain hitam dan kemeja berwarna merah yang dimasukkan ke dalam celana panjangnya. Rodhat dengan percaya diri masuk ke dalam area perumahan elite, Racitland.
Pintu gerbang perumahannya berbentuk seperti sulur-sulur berwarna kuning dan merah, di bawah bentuk seperti sulur berwarna putih, berbentuk setengah lengkungan menghadap ke arah luar jalan yang luas dan cukup lebar. Diantara bentuk sulur dan lengkungan ke arah luar jalan terdapat lampu-lampu yang bila menjelang malam saat menyala berwarna putih. Di samping kanan kiri jalan terdapat semacam hamparan rumput-rumput hijau yang dipotong pendek-pendek. Terdapat gedung-gedung bertingkat dan pepohonan juga di samping kiri dan kanan jalan yang tertata rapi.
Saat memasuki kawasan Racitland dengan berjalan kaki, Rodhat bertemu dengan satpam yang tadi mengusir dia. Tapi satpam itu sama sekali tidak mengenalinya dengan tampilan pria tampan dan kaya. Hanya saja satpam tersebut merasa heran, orang dengan tampilan sekeren ini mengapa harus berjalan kaki? Mengapa tidak menaiki mobil mewah saja? karena kawasan Racitland sangat luas dan besar.
“Selamat siang Bapak, selamat datang di Racitland, mohon maaf dengan bapak siapa? Ada keperluan apa datang kemari?” Satpam memberikan salam hormat kepada Rodhat dan menanyakan keperluan Rodhat datang ke Racitland.
“Siang pak, saya Rodhat, saya mau lihat-lihat rumah. Apa di kawasan ini ada rumah yang dijual? Namun yang kira-kira dengan harga lebih murah” Rodhat bertanya dengan sesantun mungkin kepada Satpam yang tadi mengusir dia.
“Oww ada pak, rumah yang dijual dengan harga lebih miring juga ada. Maaf bapak kok ke sini dengan berjalan kaki?, kendaraannya dimana? Soalnya tempatnya ini luas sekali, atau mau saya antar pakai motor?” Pak Satpam menawari tumpangan menggunakan motor bebeknya.
“Iya tadi saya di drop di sini sama saudara saya pak, jadi gak bawa kendaraan sendiri, boleh pak kalau mau mengantar saya melihat-lihat rumah yang dijual.” Rodhat senang karena dia tidak perlu berjalan kaki jauh, apalagi dia juga tidak tahu jalan, jadi dia berinisiatif untuk menumpang motor bebek milik pak Satpam.
“Mari saya antarkan pak, silakan bapak naik di belakang motor saya, pegangan ya pak, tapi saya bisanya mengantar bapak sampai di luar rumah yang di jual karena kuncinya yang pegang bukan saya.” Pak Satpam mempersilakan Rodhat naik motor bebeknya. Rodhat pun mencoba menaiki motor bebeknya dengan kagok, karena dia sama sekali belum pernah naik motor sebelumnya. Biasanya dia langsung saja ber-apparate atau terbang, tapi kali ini berbeda, dia mencoba menaiki motor Satpam.
Rodhat sewaktu berhasil duduk di belakang Satpam, kedua tangannya langsung memeluk pinggang hingga ke perut pak Satpam dengan erat. Membuat pak Satpam jadi salah tingkah. “Eh… pak, maaf pegangannya tolong jangan seret-seret ya, perut saya jadi sakit ditekan tangan bapak, bapak belum pernah naik motor ya?”
“Maaf pak, hehe… iya pak, saya baru sekarang ini naik motor pak.” Rodhat menjawab dengan tersipu malu. Lalu dia melonggarkan pegangannya. Pak Satpam mengajarkan cara berpegangan yang benar kepada Rodhat.
Setelah itu pak Satpam menjalankan motornya dengan kecepatan sekitar 40 km/jam. Rodhat kagum dengan pemandangan di sepanjang kawasan Racitland. Rumah-rumah tingkat dua yang terlihat mewah dan besar banyak berjejeran. Kemudian motor pak Satpam berhenti di salah satu rumah yang tampak kurang terawat.
Rumah itu cukup besar dan lebar, tembok rumahnya bercat kuning tapi sudah kusam dan mengelupas di beberapa bagian. Banyak daun kering berserakan di halaman rumah. Tanaman dan rumput liar juga tumbuh di halaman. Di depan pagar rumah yang berwarna hitam, terpampang tulisan Rumah di Jual Murah Tanpa Perantara Hubungi: 082××××××××× (Rudolf). Tertulis juga blok rumahnya S-13.
“Ini salah satu rumah yang dijual dengan harga miring pak, letaknya cukup strategis, tapi yang membuatnya belum laku-laku sampai sekarang mungkin karena letaknya yang tusuk sate. Katanya kalau rumah tusuk sate itu terkenal angker ya pak? Saya sendiri juga kurang tahu, cuma dengar-dengar dari kata orang-orang saja.” Pak Satpam memberikan informasi sesuai yang dia tahu mengenai rumah di blok S-13 ini.
“Bisa jadi pak, tapi saya santai saja pak, soalnya saya punya kemampuan lebih untuk merasakan dan melihat hal-hal tak kasat mata,” ujar Rodhat membuat kagum pak Satpam. Rodhat yang melihat kondisi rumah ini, dengan lokasinya yang strategis dan tusuk sate, ditambah bloknya ada angka 13 ini sepertinya cocok sekali untuk tempat dia berburu tikus dan bisa jadi markas tempat tinggal sementara dia juga. Karena manusia pasti banyak yang enggan dan tidak ingin tinggal atau menyentuh rumah ini. “Saya ingin rumah ini pak, saya coba menghubungi nomor telepon yang tertera di pagar ini dulu ya.”
Pak Satpam terkejut karena Rodhat justru menginginkan rumah ini, yang bisa jadi angker karena letaknya yang tusuk sate. “Eh? I…iya pak silakan coba dihubungi nomornya”
Setelah terdengar bunyi tuut yang kedua, ada suara pria yang mengangkat telepon dari Rodhat. “Halo, selamat siang,” ujar pria yang mengangkat telepon dari Rodhat.
“Siang pak, saya Rodhat, saya berminat dengan rumah bapak yang berlokasi di kawasan Racitland blok S-13 ini, untuk harganya kira-kira berapa ya pak?” tanya Rodhat.
“Iya pak Rodhat, saya Rudolf pemilik rumah blok S-13 ini. Alhamdulillah kalau bapak berminat. Sebelum memberikan harga, saya akan datang menemui bapak dulu sebentar lagi. Ditunggu ya pak,” ujar Rudolf dengan wajah sumringah, karena sudah lima tahun rumah ini dia jual tapi belum ada satupun orang yang meneleponnya berminat ingin membeli rumahnya.
Apakah Rodhat jadi membeli rumah di blok S-13 itu? Berapakah harga rumah yang diinginkan Rodhat? Kita ikuti terus kisah yang membuat penasaran ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments