Bab 17

Rodhat segera berburu mencari tikus-tikus yang biasa berkeliaran di got dan gorong-gorong, untuk makanan para pasukan ular kobra. Dengan membawa satu kantong besar berwarna hitam yang nantinya untuk menempatkan tikus-tikus yang berhasil ditangkap Rodhat. Dia lupa tidak tanya kepada Wuna, tikus-tikus ini harus ditangkap dalam keadaan hidup atau mati. Tapi kalau misal tikus-tikus itu ditangkap dalam keadaan mati pasti baunya sangat tidak enak. Jadi akhirnya Rodhat memutuskan untuk menangkap tikus-tikus itu dalam keadaan hidup saja.

Ternyata menangkap tikus-tikus tidak semudah yang Rodhat duga. Karena tikus-tikus itu cepat sekali kaburnya saat ketahuan oleh Rodhat. Di got-got yang dia temui Rodhat hanya berhasil menangkap lima tikus saja. Kemudian dia mencoba cari di gorong-gorong. Baunya sangat menyengat di situ, tempatnya juga sangat kotor, menjijikan dan sangat panas. Rodhat sampai mandi keringat. Apalagi dia sambil lari-larian mengejar tikus-tikus yang kabur. Di gorong-gorong dia berhasil mendapatkan dua puluh tiga tikus saja. Jadi total yang dia dapat cuma dua puluh delapan tikus. Padahal pasukan ular kobra yang harus dia kasih makanan berjumlah 100 pasukan. Berarti dia harus menangkap setidaknya 200 tikus supaya pasukan ular kobra itu bisa benar-benar kenyang.

Rodhat mulai frustasi, karena belum bisa mendapatkan tikus yang banyak. Dia juga bingung harus mencari kemana lagi. Sambil berpikir dia menyeka keringat yang mengucur di dahinya. Kemudian dia ingat kalau di dunia manusia ada rumah-rumah kosong yang terbengkalai. Mungkin di situ ada banyak tikus. Akhirnya dia segera ber-apparate ke daerah perumahan elite di Subayara. Mencari rumah kosong terbengkalai. Tapi dengan keadaannya sekarang yang bajunya cemong-cemong  terkena kotoran waktu dia berada di got dan gorong-gorong, bau badan menyengat dan terlihat kucel itu membuat satpam perumahan yang melihat dia dalam keadaan seperti itu langsung mengusir Rodhat karena dikira pengemis.

“Sial, aku lupa belum mengganti bajuku yang cemong-cemong dengan baju yang lebih bersih, ini kan perumahan elite. Wajar saja satpam itu mengusirku. Sebaiknya aku segera mencari tempat tak jauh dari sini supaya bisa merubah diriku menjadi terlihat tampan dan kaya.” Rodhat bergumam dalam hati sambil mencari tempat di dekat area perumahan elite yang tadi dia masuki. Akhirnya dia menemukan sebuah taman yang cukup luas, di area taman tersebut ada toiletnya. Itu tempat yang cocok untuk dia merubah wujudnya menjadi pria tampan dan kaya. 

Kebetulan di taman itu sedang sepi, tidak terlihat adanya manusia yang beraktivitas. Mungkin karena ini siang hari, cuaca juga sedang panas-panasnya, membuat banyak manusia lebih suka berada di dalam ruangan daripada berpanas-panasan di luar. Rodhat sendiri juga merasa kepanasan. Dia segera masuk ke toilet yang ada di taman itu. Kemudian dia mandi menyegarkan dirinya yang sudah kotor, kegerahan dan bermandikan keringat. Lalu dia segera berganti penampilan menjadi pria yang terlihat tampan dan kaya. Dijamin para wanita terutama yang gila harta, banyak yang berminat dan tertarik dengan pesona Rodhat. Tapi tujuan utamanya sekarang bukan mencari wanita tapi mencari tikus-tikus yang banyak, untuk makanan pasukan ular kobra.

Setelah tampil dengan wajah tampan dan terlihat kaya dengan memakai jas hitam, celana kain hitam dan kemeja berwarna merah yang dimasukkan ke dalam celana panjangnya. Rodhat dengan percaya diri masuk ke dalam area perumahan elite, Racitland. 

Pintu gerbang perumahannya berbentuk seperti sulur-sulur berwarna kuning dan merah, di bawah bentuk seperti sulur berwarna putih, berbentuk setengah lengkungan menghadap ke arah luar jalan yang luas dan cukup lebar. Diantara bentuk sulur dan lengkungan ke arah luar jalan terdapat lampu-lampu yang bila menjelang malam saat menyala berwarna putih. Di samping kanan kiri jalan terdapat semacam hamparan rumput-rumput hijau yang dipotong pendek-pendek. Terdapat gedung-gedung bertingkat dan pepohonan juga di samping kiri dan kanan jalan yang tertata rapi.

Saat memasuki kawasan Racitland dengan berjalan kaki, Rodhat bertemu dengan satpam yang tadi mengusir dia. Tapi satpam itu sama sekali tidak mengenalinya dengan tampilan pria tampan dan kaya. Hanya saja satpam tersebut merasa heran, orang dengan tampilan sekeren ini mengapa harus berjalan kaki? Mengapa tidak menaiki mobil mewah saja? karena kawasan Racitland sangat luas dan besar. 

“Selamat siang Bapak, selamat datang di Racitland, mohon maaf dengan bapak siapa? Ada keperluan apa datang kemari?” Satpam memberikan salam hormat kepada Rodhat dan menanyakan keperluan Rodhat datang ke Racitland.

“Siang pak, saya Rodhat, saya mau lihat-lihat rumah. Apa di kawasan ini ada rumah yang dijual? Namun yang kira-kira dengan harga lebih murah” Rodhat bertanya dengan sesantun mungkin kepada Satpam yang tadi mengusir dia.

“Oww ada pak, rumah yang dijual dengan harga lebih miring juga ada. Maaf bapak kok ke sini dengan berjalan kaki?, kendaraannya dimana? Soalnya tempatnya ini luas sekali, atau mau saya antar pakai motor?” Pak Satpam menawari tumpangan menggunakan motor bebeknya.

“Iya tadi saya di drop di sini sama saudara saya pak, jadi gak bawa kendaraan sendiri, boleh pak kalau mau mengantar saya melihat-lihat rumah yang dijual.” Rodhat senang karena dia tidak perlu berjalan kaki jauh, apalagi dia juga tidak tahu jalan, jadi dia berinisiatif untuk menumpang motor bebek milik pak Satpam.

“Mari saya antarkan pak, silakan bapak naik di belakang motor saya, pegangan ya pak, tapi saya bisanya mengantar bapak sampai di luar rumah yang di jual karena kuncinya yang pegang bukan saya.” Pak Satpam mempersilakan Rodhat naik motor bebeknya. Rodhat pun mencoba menaiki motor bebeknya dengan kagok, karena dia sama sekali belum pernah naik motor sebelumnya. Biasanya dia langsung saja ber-apparate atau terbang, tapi kali ini berbeda, dia mencoba menaiki motor Satpam. 

Rodhat sewaktu berhasil duduk di belakang Satpam, kedua tangannya langsung memeluk pinggang hingga ke perut pak Satpam dengan erat. Membuat pak Satpam jadi salah tingkah. “Eh… pak, maaf pegangannya tolong jangan seret-seret ya, perut saya jadi sakit ditekan tangan bapak, bapak belum pernah naik motor ya?”

“Maaf pak, hehe… iya pak, saya baru sekarang ini naik motor pak.” Rodhat menjawab dengan tersipu malu. Lalu dia melonggarkan pegangannya. Pak Satpam mengajarkan cara berpegangan yang benar kepada Rodhat.

Setelah itu pak Satpam menjalankan motornya dengan kecepatan sekitar 40 km/jam. Rodhat kagum dengan pemandangan di sepanjang kawasan Racitland. Rumah-rumah tingkat dua yang terlihat mewah dan besar banyak berjejeran. Kemudian motor pak Satpam berhenti di salah satu rumah yang tampak kurang terawat. 

Rumah itu cukup besar dan lebar, tembok rumahnya bercat kuning tapi sudah kusam dan mengelupas di beberapa bagian. Banyak daun kering berserakan di halaman rumah. Tanaman dan rumput liar juga tumbuh di halaman. Di depan pagar rumah yang berwarna hitam, terpampang tulisan Rumah di Jual Murah Tanpa Perantara Hubungi: 082××××××××× (Rudolf). Tertulis juga blok rumahnya S-13.

“Ini salah satu rumah yang dijual dengan harga miring pak, letaknya cukup strategis, tapi yang membuatnya belum laku-laku sampai sekarang mungkin karena letaknya yang tusuk sate. Katanya kalau rumah tusuk sate itu terkenal angker ya pak? Saya sendiri juga kurang tahu, cuma dengar-dengar dari kata orang-orang saja.” Pak Satpam memberikan informasi sesuai yang dia tahu mengenai rumah di blok S-13 ini.

“Bisa jadi pak, tapi saya santai saja pak, soalnya saya punya kemampuan lebih untuk merasakan dan melihat hal-hal tak kasat mata,” ujar Rodhat membuat kagum pak Satpam. Rodhat yang melihat kondisi rumah ini, dengan lokasinya yang strategis dan tusuk sate, ditambah bloknya ada angka 13 ini sepertinya cocok sekali untuk tempat dia berburu tikus dan bisa jadi markas tempat tinggal sementara dia juga. Karena manusia pasti banyak yang enggan dan tidak ingin tinggal atau menyentuh rumah ini. “Saya ingin rumah ini pak, saya coba menghubungi nomor telepon yang tertera di pagar ini dulu ya.”

Pak Satpam terkejut karena Rodhat justru menginginkan rumah ini, yang bisa jadi angker karena letaknya yang tusuk sate. “Eh? I…iya pak silakan coba dihubungi nomornya”

Setelah terdengar bunyi tuut yang kedua, ada suara pria yang mengangkat telepon dari Rodhat. “Halo, selamat siang,” ujar pria yang mengangkat telepon dari Rodhat.

“Siang pak, saya Rodhat, saya berminat dengan rumah bapak yang berlokasi di kawasan Racitland blok S-13 ini, untuk harganya kira-kira berapa ya pak?” tanya Rodhat.

“Iya pak Rodhat, saya Rudolf pemilik rumah blok S-13 ini. Alhamdulillah kalau bapak berminat. Sebelum memberikan harga, saya akan datang menemui bapak dulu sebentar lagi. Ditunggu ya pak,” ujar Rudolf dengan wajah sumringah, karena sudah lima tahun rumah ini dia jual tapi belum ada satupun orang yang meneleponnya berminat ingin membeli rumahnya.

Apakah Rodhat jadi membeli rumah di blok S-13 itu? Berapakah harga rumah yang diinginkan Rodhat? Kita ikuti terus kisah yang membuat penasaran ini.

Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 59
61 Bab 60
62 Bab 61
63 Bab 62
64 Bab 63
65 Bab 64
66 Bab 65
67 Bab 66
68 Bab 67
69 Bab 68
70 Bab 69
71 Bab 70
72 Pengumuman Bab 71-78
73 Bab 71
74 Bab 72
75 Bab 73
76 Bab 74
77 Bab 75
78 Bab 76
79 Bab 77
80 Bab 78
81 Bab 79
82 Pengumuman Bab 80-81
83 Bab 80
84 Bab 81
85 Bab 82
86 Pengumuman bab 83-85
87 Bab 83
88 Bab 84
89 Bab 85
90 *Pengumuman*
91 Bab 86
92 Bab 87
93 Bab 88
94 Bab 89
95 Bab 90
96 Bab 91
97 Bab 92
98 Bab 93
99 *Pengumuman Bab 94-95*
100 Bab 94
101 Bab 95
102 Bab 96
103 Bab 97
104 Bab 98
105 Bab 99
106 Bab 100
107 Bab 101
108 Bab 102
109 Bab 103
110 Bab 104
111 Bab 105
112 Bab 106
113 Bab 107
114 Bab 108
115 Bab 109
116 Bab 110
117 Bab 111
118 Bab 112
119 Bab 113
Episodes

Updated 119 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 59
61
Bab 60
62
Bab 61
63
Bab 62
64
Bab 63
65
Bab 64
66
Bab 65
67
Bab 66
68
Bab 67
69
Bab 68
70
Bab 69
71
Bab 70
72
Pengumuman Bab 71-78
73
Bab 71
74
Bab 72
75
Bab 73
76
Bab 74
77
Bab 75
78
Bab 76
79
Bab 77
80
Bab 78
81
Bab 79
82
Pengumuman Bab 80-81
83
Bab 80
84
Bab 81
85
Bab 82
86
Pengumuman bab 83-85
87
Bab 83
88
Bab 84
89
Bab 85
90
*Pengumuman*
91
Bab 86
92
Bab 87
93
Bab 88
94
Bab 89
95
Bab 90
96
Bab 91
97
Bab 92
98
Bab 93
99
*Pengumuman Bab 94-95*
100
Bab 94
101
Bab 95
102
Bab 96
103
Bab 97
104
Bab 98
105
Bab 99
106
Bab 100
107
Bab 101
108
Bab 102
109
Bab 103
110
Bab 104
111
Bab 105
112
Bab 106
113
Bab 107
114
Bab 108
115
Bab 109
116
Bab 110
117
Bab 111
118
Bab 112
119
Bab 113

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!