Oek…oek…oek
“Nya, Fira bangun Nya, sepertinya dia haus? Saya bangunin Nyonya Sarah dulu ya?” Bik Surti meminta ijin pada Santi untuk membangunkan Sarah karena Safira menangis.
“Silakan dibangunkan dulu Sarahnya Bik, saya akan bawa Fira ke Sarah.” Santi mempersilakan Bik Surti untuk membangunkan Sarah, kemudian segera ke ranjang Fira untuk mengambil Fira dengan hati-hati.
“Siap Nyonya.” Bik Surti langsung bangkit dari duduknya, berjalan menuju ke tempat Sarah tidur, ”Nya? Nyonya Sarah? Bangun Nya, Fira nangis, sepertinya dia sudah ingin menyusui.” Bik Surti berusaha membangunkan Sarah sambil menepuk-nepuk lengan Sarah.
Perlahan Sarah mulai terbangun dari tidur nyenyaknya. Tapi saat bangun kepalanya masih terasa pusing sehingga dia bangun sambil memegangi kepalanya yang pusing, “Iya Bik Surti? Fira bangun ya Bik?”
“Iya Nya, Nyonya Sarah kenapa? Pusing ya kepalanya?” Bik Surti cemas melihat Sarah memegang kepalanya sambil meringis.
“Iya Bik, tapi gak apa-apa, paling nanti juga hilang sendiri.” Sarah tidak ingin Bik Surti mencemaskan Sarah.
“Sarah sayang, sebaiknya sebelum menyusui Fira kamu minum banyak air mineral dulu sama makan terang bulannya lagi ya, mungkin kamu kurang nutrisi dan cairan mangkannya jadi pusing.” Santi memberikan saran sambil menggendong Fira yang menangis.
“Bik Surti minta tolong ambilkan Sarah air mineral dua gelas, kalau sudah tolong ambilkan 1 kotak terang bulan cokelat keju untuk Sarah ya.” Santi memberikan. Perintah kepada Bik Surti untuk mengambilkan Sarah dua gelas air mineral dan satu kotak terang bulan cokelat keju.
“Begitu ya ma, tapi bagaimana dengan Fira? Kasihan dia sudah menangis terus, kalau tidak segera disusui takutnya tenggorokannya akan sakit or bagaimana?” Sarah merasa kasihan melihat Fira menangis kencang di gendongan Santi.
“Baik Nyonya Santi, saya ambilkan dulu dua gelas air mineralnya, setelah itu baru membawakan satu kotak terang bulan coklat keju untuk Nyonya Sarah,” Bik Surti segera mengambilkan dua gelas air mineral agak dingin untuk Sarah, dia taruh di meja sebelah kiri dekat kasur Sarah.
“Ini Nyonya Sarah, segera diminum ya Nya, saya akan mengambilkan satu kotak terang bulan untuk Nyonya Sarah, tunggu ya Nya.” Bik Surti sambil kembali ke meja tamu untuk mengambilkan satu kotak terang bulan, kemudian ke tempat Sarah lagi memberikan satu kotak terang bulan cokelat keju di kasur dekat Sarah duduk, “Ini terang bulan cokelat kejunya.”
“Gak apa-apa sayang, justru kalau bayi menangis itu sehat, bisa melatih pernapasan dan paru-parunya supaya bisa berkembang dengan baik.” Santi memberikan informasi kepada Sarah.
“Terima kasih infonya ma, terima kasih juga Bik Surti yang sudah membantu mengambilkan air minum dan terang bulan sesuai request mama, saya minum dulu ya terus makan terang bulannya.” Sarah segera meminum air minum itu satu gelas dulu sampai habis, lalu memakan terang bulannya hingga habis satu kotak, kemudian menghabiskan satu gelas air minum lagi.
Sama-sama Nyonya, kalau Nyonya butuh apa-apa lagi langsung bilang saya atau chat saya ya Nya,” ujar Bik Surti.
“Oke Bik Surti.” Sarah merasa sudah cukup kenyang dan cukup minum.
“Alhamdulilah sudah lumayan amunisinya, benar kata mama, setelah menghabiskan dua gelas air mineral dan satu kotak terang bulan, pusing Sarah sudah berkurang jauh. Bahkan sudah hampir gak berasa. Berarti nanti habisnya aku menyusui langsung diisi lagi ya amunisinya sama makanan dan minuman?”
“Iya sayang, untung saja kamu beli banyak makanan. Nanti kalau perlu beli lagi saja, biasanya akan dapat makanan juga dari RS Yalro. Gak apa-apa dihabiskan semua ya sayang, supaya kamu jadi lebih kuat dan sehat, gak gampang sakit. Terus air susumu biar lebih deras jadi Fira terpenuhi kebutuhan nutrisi dan gizinya,” Santi menjelaskan sambil tersenyum lalu segera memberikan Fira yang menangis kencang karena lapar dan haus ke Sarah.
“Terima kasih mama, kasihan anak mamah, udah haus plus lapar banget ya sayang, sini mamah susuin dulu,” Sarah mengambil Fira dari Santi kemudian membuka tiga kancing depan bajunya dan mulai menyusui. Fira segera melahap n***n mamanya, dan menyesap dengan kencang saking haus dan laparnya.
...***...
Rodhat terbang semakin jauh ke dalam hutan Kawata Tonbu. Pohon-pohon terlihat tinggi menjulang dengan dedaunan yang lebat dan rindang. Di dalam hutan tersebut kaya dengan bebatuan, banyak gua yang menjadi sarang para ular kobra juga siluman ular. Kemudian dia mendengar suara srek…srek….ssss…dari balik semak belukar dekat bebatuan. Dia segera mencari asal suara itu dan mendarat tepat di depan semak belukar tempat suara berasal. “Hei..Siapa di situ?” tanya Rodhat penasaran.
“Kamu yang siapa? Hebat juga kamu, bisa terbang dengan seenaknya di wilayah kekuasaanku!” Suara itu keluar lagi, terdengar berat dan menyeramkan.
“Aku Rodhat, diutus oleh Lilith, Iblis wanita yang terkenal sangat kuat dan hebat!” ujar Rodhat dengan angkuhnya, “Kamu sendiri siapa? Tunjukkan wujudmu!”
“Hmmm… Menarik, aku Wuna, Sultan siluman ular di wilayah Lasusiwe Gatengra ini!” sahut Wuna dengan garang. “Apa tujuanmu datang kemari, Rodhat utusan Lilith?” Wuna semakin penasaran sambil merubah wujudnya dari yang tadinya ular hitam sangat besar, menjadi wujud pria yang gagah dan tampan, bagian setengah tubuh ke bawah berwujud ular hitam dengan mahkota emas di kepalanya.
“Salam hormat Sultan Wuna. Kedatanganku ke sini untuk mencari pasukan hebat yang bisa membantuku untuk membunuh seorang wanita dengan bayinya yang sudah memperoleh kekuatan dari Dewi Bintang Starla,” jawab Rodhat sambil menyatukan kedua tangannya dengan agak menunduk menghormati Wuna.
“Hahaha! Aku pikir Lilith benar-benar sangat kuat dan hebat, tapi mengapa untuk membunuh seorang wanita dan bayi saja mesti harus cari pasukan yang hebat dulu? Mengapa tidak dia sendiri yang melakukan itu?” tanya Wuna sambil menyindir.
“Mungkin saja karena dia tidak ingin terluka, apalagi dia wanita, yang sangat menjaga kecantikan wajah dan tubuhnya agar tetap bisa menarik perhatian para pria incarannya,” jawab Rodhat.
“Hmmm… masuk akal juga, dari siapa kamu tahu soal tempat ini? Karena tempat ini termasuk tersembunyi, jarang manusia ataupun bangsa jin berani datang ke sini. Karena di sini terkenal dengan sarang ular berbisa dan siluman ular yang terkenal kehebatannya,” tanya Wuna penasaran.
“Tidak penting aku tahu dari siapa, yang lebih penting aku menawarkan kerjasama yang bisa saling menguntungkan kedua belah pihak. Jika Sultan beserta pasukan Sultan bersedia membantuku untuk melawan dan membunuh wanita yang bernama lengkap Sarah Cahya Satriawati beserta bayinya.”
“Hmmm… apa keuntungannya untuk aku dan pasukanku jika kami berhasil mengalahkan Sarah dan bayinya? Karena aku bukan Sultan yang mudah untuk diajak kerjasama, apalagi dengan jin ifrit sepertimu yang kita tidak kenal sama sekali sebelumnya.” Wuna bertanya kepada Rodhat dengan tatapan tajam.
“Keuntungannya engkau bisa menjadi panglima perangku. Akan ku angkat dirimu sebagai panglima perang, dengan bayaran 500 keping emas setiap bulannya, dan setiap pasukanmu akan memperoleh 100 keping emas setiap bulannya, bagaimana?” Rodhat menawarkan dengan hartanya sambil tersenyum. Rodhat termasuk jin ifrit yang kaya raya, dia sering memperoleh hartanya dari manusia-manusia kaya yang butuh bantuan untuk membunuh manusia lain.
“Hmmm… boleh lah itu, tapi aku ingin minta sesuatu yang lain, aku minta wanita cantik, terserah mau bangsa manusia atau bangsa jin. Asalkan dia cantik dan menurut padaku, untuk bisa memuaskan hasratku. Setiap satu Minggu sekali berganti wanita, karena aku termasuk yang mudah bosan. Apakah kau mampu mendapatkannya?” Wuna mencoba membuat Rodhat kesulitan dengan permintaan dari Wuna.
Mampukah Rodhat memenuhi persyaratan kerjasama yang diajukan oleh Wuna? Kita ikuti terus kisah yang semakin membuat penasaran ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments