Setelah berhasil membuka mata batin, Sarah mencoba memejamkan kedua netranya, memfokuskan diri untuk menembus batas-batas baik yang kasat mata maupun tak kasat mata, ke Likatanman tempat suaminya bekerja. Tapi baru menembus separuh jalan dia sudah kehilangan banyak tenaga. Ditambah sebelumnya dia masih sangat kelelahan, sehingga kekuatannya belum sepenuhnya pulih. Namun harus diforsir untuk melakukan perjalanan menembus tempat yang sangat jauh.
Dia segera menghentikan aktivitas tersebut, begitu dia merasa sudah tidak sanggup melanjutkannya. Keringatnya mengucur deras membasahi sekujur tubuhnya, dengan napas tersengal-sengal, dan pandangan berkunang-kunang sudah mau pingsan. Lalu ia mendengar ketukan di pintu kamar.
Tok…tok…tok
“Nyonya sayur daun kelor beserta lauk dan nasi sudah selesai saya masak. Nyonya mau saya ambilkan makanan atau ambil sendiri?”
Dengan sisa kekuatan yang Sarah miliki, ia mencoba berjalan menuju pintu kamarnya, lalu membuka kunci pintu kemudian membuka pintu kamarnya sedikit, sambil berusaha untuk tetap bisa berdiri meski pandangan sudah berkunang-kunang. “Bik saya mau ambil sendiri…”
Bik Surti yang melihat Nyonyanya sudah bermandikan keringat, berwajah pucat seperti ingin pingsan, langsung memapah Sarah sambil mengatakan, “Astaghfirullah Nyonya?, Nyonya sebenarnya kenapa? Kok sampai mau pingsan begini? Keringatnya juga mengucur banyak sekali.”
“Gak apa-apa Bik, mungkin karena saya kelelahan ditambah udara sangat panas dan sudah sangat lapar, belum makan siang.” Sarah menjawab dengan suara lemah.
“Kalau begitu Nyonya berbaring saja dulu, biar saya yang mengambilkan makanan untuk Nyonya.” Sebenarnya Bik Surti masih belum bisa percaya pada apa yang dikatakan Sarah, tapi Bik Surti tidak mau membuat Sarah semakin kebingungan dengan pertanyaan dari dia.
“Terima kasih Bik, boleh request?” tanya Sarah malu-malu.
“Boleh banget, mau request apa Nyonya?”
“Bisa minta tolong diambilkan empat porsi nasi plus lauk dan sayur daun kelor?” request Sarah sambil malu-malu.
“Eh?... Iya gak apa-apa Nyonya, saya ambilkan segera.” Bik Surti makin bingung dengan banyaknya request dari Sarah. Tapi dia mencoba untuk tetap berpikir positif, karena yang dia tahu selama ini Sarah adalah majikan yang sangat baik.
Sarah kembali berbaring di kasur kamarnya. Perutnya berbunyi pertanda dia kelaparan. “Sabar ya perut, sebentar lagi kamu akan ku isi dengan makanan yang banyak karena aku sudah mengeluarkan banyak energi jadi aku butuh makanan yang banyak juga untuk menggantikan energiku yang banyak terkuras.”
Tak lama kemudian Bik Surti datang membawakan makanan yang di request Sarah. Dia menaruh makanan itu di nampan besar, hingga nampan berisi penuh dengan makanan, “Nyonya makanan sesuai request Nyonya sudah datang, silakan dinikmati!” Bik Surti meletakkan nampan besar yang full berisi makanan request dari Sarah di kasur dekat tempat Sarah rebahan.
“Waah kelihatannya enak nih, makasih banyak ya Bik Surti.” Sarah melihat makanan yang disajikan Bik Surti sesuai request-nya dengan mata berbinar-binar. Kemudian dia mengambil satu piring nasi yang berisi lauk tempe, tahu, telor ceplok dan ikan lele goreng, lalu dicampur dengan sayur daun kelor, tidak lupa dia menambahkan dengan sambal terasi yang ikut tersaji.
“Sama-sama Nyonya, selamat makan. Nanti kalau sudah selesai makannya, nampan beserta piringnya ditaruh di meja saja Nyonya,” ujar Bik Surti, “Oiya Nyonya mau minum apa?” tanya Bik Surti.
“Makasih Bik, ok Bik,” ucap Sarah, “Emmm… air putih setengah dingin ya Bik, di taruh di gelas besar.” Sarah belum mau makan dulu, karena dia sudah sangat kehausan, jadi menunggu minuman dari Bik Surti datang.
“Siap Nyonya, saya ambilkan dulu.” Bik Surti segera keluar dari kamar Sarah untuk mengambilkan air minum sesuai request dari Sarah.
Sambil menunggu Bik Surti datang membawa minuman request dari Sarah, dia segera menyadari kalau seluruh tubuhnya masih dibasahi keringat. Lalu ia teringat dengan saputangan handuk pemberian dari Starla. Dia segera mengambil saputangan handuk itu dan menyeka keringat yang mengucur dari seluruh tubuhnya. Tanpa repot memeras saputangan yang langsung kering itu.
Tak lama kemudian Bik Surti datang lagi ke kamar Sarah, membawa air minum sesuai request Sarah, “Ini Nyonya air minumnya sesuai request.” Bik Surti meletakkan air minum itu di meja sebelah kiri Sarah. “Kok belum dimakan nasinya Nya? Apa kurang enak?” tanya Bik Surti saat melihat nasi dan lauk masih utuh.
“Bukan Bik, saya mau minum dulu soalnya sudah haus banget.” Sarah yang memang sudah sangat haus menunggu minuman yang dia request datang dulu, ditambah tadi dia sibuk menyeka keringat yang mengucur di seluruh tubuhnya.
“Oh iya Nyonya maaf, ini minumnya ya Nya, silakan diminum. Kalau sudah ditaruh di meja lagi ya Nya, saya ijin mau bersih-bersih rumah dulu.” Bik Surti meminta ijin membersihkan rumah, hari ini dia belum sempat membersihkan rumah karena sibuk melayani Sarah dan membantu Sarah melahirkan.
“Iya Bik, terima kasih banyak ya Bik.” Sarah segera mengambil minuman yang diberikan Bik Surti dan meminumnya hingga setengah gelas.
“Sama-sama Nyonya, kalau Nyonya ada perlu sama Bibik langsung kabarin Bibik ya, bisa chat lewat Wa Bibik kalau misal Bibik lagi kerja di bawah.
“Iya Bik, baik Bik, terima kasih ya Bik, selamat bekerja Bibik. Saya tak makan dulu sudah laper banget.” Sarah segera makan dengan lahap.
“Sama-sama Nyonya Sarah.” Bik Surti mengangguk lalu segera keluar dari kamar Sarah, menutup pintu kamar Sarah dan menuju ke ruangan lain untuk bersih-bersih rumah.
Ternyata sayur daun kelor enak juga. Sarah menyukainya. Begitupun dengan lauk sederhana yang dimasak oleh Bik Surti. Semuanya enak dan cocok di lidah Sarah.
Tak terasa empat porsi makanan pesanan Sarah semuanya segera tandas dengan bersih, tak lupa dia juga menghabiskan sisa air minum yang tadi di request. Lalu ia pun bersendawa cukup keras. Namun entah mengapa perutnya masih belum kenyang juga. Sarah segera chat Bik Surti via wa. Meminta Bik Surti untuk membuatkan camilan pisang goreng kesukaan Sarah.
Bik Surti yang sedang mengelapi perabotan mendengar HP-nya berbunyi, ia langsung mengambil HP-nya dari kantongnya dan segera mengecek wa. Ternyata wa dari Sarah yang meminta supaya Bik Surti membuatkan pisang goreng kesukaan Sarah. Bik Surti agak kaget juga, karena sebelumnya Sarah sudah minta dibuatkan empat porsi makanan, sekarang minta dibuatkan dua puluh buah pisang goreng. Tapi Bik Surti masih berpikir positif mungkin karena tadi Sarah habis menyusui jadi wajar kalau kelaparan.
Bik Surti ingat kalau masih ada pisang kepok di dapur. Lalu dia membalas wa dari Sarah. Mengatakan kalau dia bisa membuatkan pisang goreng dua puluh buah, kebetulan di dapur masih ada pisang kepok cukup banyak dan tepung untuk membuat pisang goreng. Sarah senang sekali dengan balasan wa dari Bik Surti. Kemudian dia mengucapkan terima kasih kepada Bik Surti dan minta maaf karena sudah merepotkan Bik Surti.
Mampukah Sarah menghabiskan seluruh pisang goreng yang dia request ke Bik Surti? Kita ikuti terus kisah yang semakin membuat penasaran ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments