Starla mengabulkan permintaan Sarah. “Pejamkan matamu Sarah, sebentar lagi kau akan kembali ke alammu.” Starla mengeluarkan kekuatannya untuk membuat pusaran yang menghantarkan Sarah kembali ke alamnya.
Sarah memejamkan matanya, lalu ia merasakan seperti tersedot di pusaran. Kemudian dia samar-samar mendengar suara seseorang mencoba membangunkan dia.
“Nyonya!, Nyonya Sarah! Sadar Nya!” Bik Surti berusaha membangunkan Sarah lagi, setelah dua jam berlalu semenjak Sarah pingsan.
Sarah perlahan membuka kedua netranya sambil melihat ke arah Bik Surti yang sudah sangat cemas sambil berusaha membangunkan Sarah “Bik Surti, terima kasih Bik.”
Bik Surti yang melihat Sarah sudah sadar akhirnya bisa bernapas lega, “Alhamdulillah Nyonya sadar juga, saya cemas banget Nyonya sampai 2 jam pingsan, belum sadar-sadar. Saya sampai bingung harus bagaimana supaya Nyonya bisa segera sadar.”
“Iya Bik maafin Sarah sudah membuat Bibik jadi cemas, mungkin karena Sarah lelah luar biasa setelah tadi melahirkan normal selama berjam-jam dengan menahan rasa sakit yang teramat sangat, juga sakitnya dijahit tanpa bius jadinya sampai pingsan.” Sarah jadi merasa bersalah sudah membuat khawatir Bik Surti, dia menjelaskan mengenai pingsannya sambil meminta maaf.
“Gak apa-apa Nyonya, yang terpenting Nyonya sekarang sudah sadar, saya senang sekali.” Bik Surti dengan wajah sumringah dan mata berkaca-kaca. Tak lama kemudian terdengar suara tangisan Safira yang sepertinya sudah kehausan minta disusui.
“Oek…oek…oek.” Suara tangisan Safira semakin kencang terdengar.
“Bik, tolong bawa Safira ke saya ya, mau saya susui.” Sarah mengulurkan kedua tangannya mau mengambil Fira dari tangan Bik Surti.
“Iya Nya, saya akan bawa Safira, tunggu ya Nya.” Bik Surti dengan sigap langsung menuju ke ranjang bayi tempat Safira sedang menangis,”Iya Fira sayang, sabar ya, Bibik bawa Fira ke mamamu dulu.” Dengan hati-hati Bik Surti mengambil Safira, lalu menggendongnya menuju ke kasur tempat Sarah berbaring.
“Ini Nyonya, silakan disusui Safiranya.” Bik Surti menyerahkan Safira kepada Sarah.
“Terima kasih Bik Surti.” Sarah mengambil Safira dari tangan Bik Surti dengan hati-hati lalu menggendong Safira, kemudian Sarah segera membuka tiga kancing depan daster pink-nya, mengeluarkan n***n sebelah kanan yang berukuran 34D dan mendekatkan mulut Safira ke n***n Sarah. Safira langsung menyedot n***n Sarah dengan kencangnya membuat Sarah meringis kesakitan. “Aduh… Fira sayang, pelan-pelan ya nak nyedotnya, sakit sayang…”
“Nyonya saya tak coba cari daun kelor dulu ya?, soalnya itu bagus untuk memperbanyak dan melancarkan ASI.”
Bik Surti merasa tidak tega melihat Sarah yang kesakitan karena pay***ranya disedot Fira dengan sangat kencang, lalu dia teringat daun kelor, yang bermanfaat untuk memperbanyak dan melancarkan ASI.
“Iya Bik, tolong carikan segera ya bik!, sakit banget n***n saya.” Sarah menahan rasa sakit karena Safira begitu bersemangat menyedot pay***ra Sarah. Membuat Sarah jadi berkeringat lagi. “Untuk uangnya, Bibik ambil dari dompet cokelat yang ada di tas hitam saya yang saya taruh di cantolan tempat tas ya bik, ambil 200.000.” Sarah sambil meringis kesakitan menunjuk ke arah cantolan tempat tas hitam digantung, yang berada di dekat pintu keluar kamar Sarah.
“Siap Nyonya,” ujar Bik Surti kemudian dia segera menuju ke arah tas hitam yang dimaksud Sarah. Setelah menemukan tasnya, dia segera membuka tas tersebut dan mengambil dompet panjang berwarna cokelat lalu membuka isinya, ia menemukan ada berlembar-lembar uang ratusan ribu di dompet Sarah, tapi dia mengambil 200.000 sesuai perintah Sarah. Dia menunjukkan uang 200.000 itu pada Sarah, begitu Sarah mengangguk, Bik Surti langsung bergegas keluar dari rumah Sarah.
Bik Surti kemudian segera mencari daun kelor di tukang sayur yang masih mangkal di dekat komplek rumah Sarah, di sekitaran taman hingga ke pasar. Ternyata bukan hal yang mudah untuk bisa memperoleh daun kelor. Setelah mencari cukup lama akhirnya dia menemukan ada penjual sayur yang menjual daun kelor di pasar. Langsung Bik Surti memborong semua daun kelor yang dijual, lalu buru-buru kembali ke rumah majikannya.
Sesampainya di rumah majikannya, Bik Surti segera ke kamar Sarah lalu mengetuk pintu kamar Sarah.
Tok…tok…tok
“Masuk Bik, gimana Bik? dapat daun kelornya?” tanya Sarah.
“Assalamualaikum Nyonya, alhamdulilah saya sudah beli daun kelornya, langsung saya borong semua Nyonya karena saya lihat abangnya jual daun kelornya gak banyak, terus ternyata cari daun kelor tidak semudah yang saya kira, Nya. Tadi saya cari sampai ke Pasar yang lumayan jauh dari rumah, baru ketemu, yang jual cuma satu pula, jadi langsung saya borong semua aja daun kelornya, ini masih ada uang sisanya yang belum terpakai.” Bik Surti menjelaskan dengan napas tersengal-sengal, sambil menyeka keringat di dahinya kemudian menyerahkan uang sisa yang masih ada di Bik Surti sekitar 110.000.
“Wa’allaikumsalam Bik, bagus Bik Surti, terima kasih banyak ya Bik, maaf jadi merepotkan Bibik sampai ngos-ngosan dan keringatan begini. Uang sisa belanja tadi buat Bibik semua saja” Sarah masih meringis kesakitan karena menyusui Safira yang semangat n***n, namun kini Fira sudah berpindah dari n***n sebelah kanan ke n***n sebelah kirinya. Keringat Sarah sudah mengucur hingga ke dada Sarah dan kepala serta badan Safira ikutan basah juga.
“Gak apa-apa Nyonya, Bibik malah senang bisa membantu melayani Nyonya yang begitu baik dan sangat cantik ini. Apalagi melihat Nyonya dalam keadaan kesakitan seperti ini, Bibik tuh gak tega Nya. Keringat Bibik cuma segini, gak ada apa-apanya dibanding keringat Nyonya yang sudah mengucur begitu banyak, mungkin bisa dijadikan kolam kalau dikumpulkan hehehe,” ujar Bik Surti sambil bercanda.
“Bisa aja Bik Surti,” ujar Sarah tersenyum sambil menahan sakit di buah dadanya. “Terus daun kelornya ini cara konsumsinya bagaimana Bik?” Sarah penasaran cara mengkonsumsi daun kelor, karena selama ini dia tidak pernah mengkonsumsi daun kelor.
“Biasanya dibuat seperti memasak sayur bayam Nyonya, enak kok, saya buatkan dulu ya sebentar,” ijin Bik Surti.
“Iya Bik, silakan, ini Safira juga sepertinya sudah mulai mengantuk lagi, karena menyedot n***n saya sudah tidak sekencang tadi.” Sarah mengelus punggung Safira yang sudah basah terkena keringat Sarah.
“Syukurlah kalau begitu, tapi sebelumnya saya ijin menyeka keringat Nyonya dulu ya, kasihan Nyonya sampai gobyos.” Bik Surti segera mengambil beberapa lembar tisu di meja dekat kasur Sarah.
“Boleh Bik, terima kasih ya Bik,” ucap Sarah sambil tersenyum. Lalu Bik Surti menyeka keringat Sarah dibagian-bagian yang terlihat.
Tiba-tiba Sarah teringat dengan suaminya yang lupa belum dia kabari. “Astaghfirullah, Bik Surti, saking fokusnya sama bayiku, aku sampai lupa belum menghubungi suamiku, Firansyah!” Sarah menepuk jidatnya karena melupakan suaminya.
Wajar saja Sarah lupa karena suaminya, Firansyah terlalu sibuk bekerja di luar kota. Mereka juga jarang kontak-kontakan. Belakangan ini Firansyah malah belum pernah pulang lagi ke rumah, alasannya masih sibuk kerja belum sempat pulang. Katanya kerja tapi sudah tiga bulan ini, Sarah tidak memperoleh nafkah dari Suaminya. Sarah pun lelah dengan alasan yang diutarakan oleh suaminya itu. Untungnya Sarah masih bisa mencari uang sendiri dengan membuat novel dan dari bisnis onlinenya. Tapi bagaimanapun Firansyah adalah ayah dari Safira, jadi sudah seharusnya dia tahu kalau anaknya ini sudah lahir dan mestinya dia bertanggung jawab paling tidak terhadap anaknya.
“Coba Nyonya hubungi tuan Firansyah, siapa tahu tuan sedang luang jadi bisa mengangkat telepon dari Nyonya,” Bik Surti mengusulkan kepada Sarah sambil membuang tisu-tisu yang sudah basah terkena keringat Sarah ke tempat Sampah di ujung kamar Sarah.
“Iya Bik, benar juga. Oiya Bik, minta tolong pindahkan Fira ke ranjangnya lagi ya, dia sudah tertidur pulas, sekalian tolong ambilkan handphone (hp) saya di meja itu,” Sarah pelan-pelan melepaskan mulut Fira dari pu***g pay***ranya, sambil menunjuk ke arah meja di sebelah kanan dekat kasurnya, karena tangan Sarah tidak sampai ke meja. Ukuran kasur di kamar Sarah Super King Size (seratus delapan puluh sentimeter kali dua ratus sentimeter). Posisi Sarah berada di sebelah kiri kasur. Selalu begitu, meskipun suaminya sudah lama tidak tidur di kasur itu bersamanya, Sarah selalu menyediakan tempat untuk suaminya di sebelah kanan kasur.
“Baik Nyonya, permisi ya Nya, saya pindahkan Fira dulu.” Melihat Sarah mengangguk, Bik Surti perlahan memindahkan Safira yang masih tertidur pulas dari dada Safira yang sudah penuh keringat ke ranjang bayi dekat kasur sebelah kiri. Tubuh Safira basah terkena keringat Sarah, “Kasihan Fira, sampai basah begini, Bibik keringkan dulu badanmu ya nak.” Bik Surti mengambil beberapa lembar tisu yang ada di meja sebelah kanan kasur, sekaligus mengambil hp-nya Sarah.
“Ini Nya, hp-nya, saya tak menyeka badan Fira dulu ya, sekaligus mengganti bajunya yang basah terkena keringat Nyonya.” Bik Surti memberikan hp lalu segera menyeka badan Fira yang basah terkena keringat Sarah.
“Iya Bik, terima kasih ya Bik, maaf jadi merepotkan.” Sarah mengambil hp-nya dari tangan Bik Surti.
“Sama-sama, Nya, sama sekali gak repot kok Nya” Bik Surti menyeka tubuh Fira yang basah sampai kering sambil tersenyum, lalu ia segera ke lemari baju Safira, mengambil baju bayi seadanya, kemudian ke ranjang Safira. Dengan lembut dan perlahan Bik Surti melepas baju dan dalaman Safira, setelah itu membalurkan minyak kayu putih ke dada, perut, punggung dan telapak kaki Safira. Terus memakaikan Safira baju yang baru diambil dari lemari Safira masih dengan perlahan, agar Fira tidak terbangun.
Jadikah Bik Surti memasak daun kelor untuk Sarah? Apakah Sarah menyukai sayur daun kelor? Berhasilkah Sarah menelepon Firansyah suaminya? Ikuti terus kisah yang membuat penasaran ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments
Dậu nè Phèo ơi
Apa yang terjadi selanjutnya? Aku jadi penasaran banget, thor cepat update!
2024-02-28
2