Bab 6

Starla mengabulkan permintaan Sarah. “Pejamkan matamu Sarah, sebentar lagi kau akan kembali ke alammu.” Starla mengeluarkan kekuatannya untuk membuat pusaran yang menghantarkan Sarah kembali ke alamnya.

Sarah memejamkan matanya, lalu ia merasakan seperti tersedot di pusaran. Kemudian dia samar-samar mendengar suara seseorang mencoba membangunkan dia.

“Nyonya!, Nyonya Sarah! Sadar Nya!” Bik Surti berusaha membangunkan Sarah lagi, setelah dua jam berlalu semenjak Sarah pingsan.

Sarah perlahan membuka kedua netranya  sambil melihat ke arah Bik Surti yang sudah sangat cemas sambil berusaha membangunkan Sarah “Bik Surti, terima kasih Bik.”

Bik Surti yang melihat Sarah sudah sadar akhirnya bisa bernapas lega,  “Alhamdulillah Nyonya sadar juga, saya cemas banget Nyonya sampai 2 jam pingsan, belum sadar-sadar. Saya sampai bingung harus bagaimana supaya Nyonya bisa segera sadar.”

“Iya Bik maafin Sarah sudah membuat Bibik jadi cemas, mungkin karena Sarah lelah luar biasa setelah tadi melahirkan normal selama berjam-jam dengan menahan rasa sakit yang teramat sangat, juga sakitnya dijahit tanpa bius jadinya sampai pingsan.” Sarah jadi merasa bersalah sudah membuat khawatir Bik Surti, dia menjelaskan mengenai pingsannya sambil meminta maaf.

“Gak apa-apa Nyonya, yang terpenting Nyonya sekarang sudah sadar, saya  senang sekali.” Bik Surti dengan wajah sumringah dan mata berkaca-kaca. Tak lama kemudian terdengar suara tangisan Safira yang sepertinya sudah kehausan minta disusui.

“Oek…oek…oek.” Suara tangisan Safira semakin kencang terdengar.

“Bik, tolong bawa Safira ke saya ya, mau saya susui.” Sarah mengulurkan kedua tangannya mau mengambil Fira dari tangan Bik Surti.

“Iya Nya, saya akan bawa Safira, tunggu ya Nya.” Bik Surti dengan sigap langsung menuju ke ranjang bayi tempat Safira sedang menangis,”Iya Fira sayang, sabar ya, Bibik bawa Fira ke mamamu dulu.” Dengan hati-hati Bik Surti mengambil Safira, lalu menggendongnya menuju ke kasur tempat Sarah berbaring.

“Ini Nyonya, silakan disusui Safiranya.” Bik Surti menyerahkan Safira kepada Sarah. 

“Terima kasih Bik Surti.” Sarah mengambil Safira dari tangan Bik Surti dengan hati-hati lalu menggendong Safira, kemudian Sarah segera membuka tiga kancing depan daster pink-nya, mengeluarkan n***n sebelah kanan yang berukuran 34D dan mendekatkan mulut Safira ke n***n Sarah. Safira langsung menyedot n***n Sarah dengan kencangnya membuat Sarah meringis kesakitan. “Aduh… Fira sayang, pelan-pelan ya nak nyedotnya, sakit sayang…”

“Nyonya saya tak coba cari daun kelor dulu ya?, soalnya itu bagus untuk memperbanyak dan melancarkan ASI.”

Bik Surti merasa tidak tega melihat Sarah yang kesakitan karena pay***ranya disedot Fira dengan sangat kencang, lalu dia teringat daun kelor, yang bermanfaat untuk memperbanyak dan melancarkan ASI.

“Iya Bik, tolong carikan segera ya bik!, sakit banget n***n saya.” Sarah menahan rasa sakit karena Safira begitu bersemangat menyedot pay***ra Sarah. Membuat Sarah jadi berkeringat lagi. “Untuk uangnya, Bibik ambil dari dompet cokelat yang ada di tas hitam saya yang saya taruh di cantolan tempat tas ya bik, ambil 200.000.” Sarah sambil meringis kesakitan menunjuk ke arah cantolan tempat tas hitam digantung, yang berada di dekat pintu keluar kamar Sarah.

“Siap Nyonya,” ujar Bik Surti kemudian dia segera menuju ke arah tas hitam yang dimaksud Sarah. Setelah menemukan tasnya, dia segera membuka tas tersebut dan mengambil dompet panjang berwarna cokelat lalu membuka isinya, ia menemukan ada berlembar-lembar uang ratusan ribu di dompet Sarah, tapi dia mengambil 200.000 sesuai perintah Sarah. Dia menunjukkan uang 200.000 itu pada Sarah, begitu Sarah mengangguk, Bik Surti langsung bergegas keluar dari rumah Sarah.

Bik Surti kemudian segera mencari daun kelor di tukang sayur yang masih mangkal di dekat komplek rumah Sarah, di sekitaran taman hingga ke pasar. Ternyata bukan hal yang mudah untuk bisa memperoleh daun kelor. Setelah mencari cukup lama akhirnya dia menemukan ada penjual sayur yang menjual daun kelor di pasar. Langsung Bik Surti memborong semua daun kelor yang dijual, lalu buru-buru kembali ke rumah majikannya.

Sesampainya di rumah majikannya, Bik Surti segera ke kamar Sarah lalu mengetuk pintu kamar Sarah.

Tok…tok…tok

“Masuk Bik, gimana Bik? dapat daun kelornya?” tanya Sarah.

“Assalamualaikum Nyonya, alhamdulilah saya sudah beli daun kelornya, langsung saya borong semua Nyonya karena saya lihat abangnya jual daun kelornya gak banyak, terus ternyata cari daun kelor tidak semudah yang saya kira, Nya. Tadi saya cari sampai ke Pasar yang lumayan jauh dari rumah, baru ketemu, yang jual cuma satu pula, jadi langsung saya borong semua aja daun kelornya, ini masih ada uang sisanya yang belum terpakai.” Bik Surti menjelaskan dengan napas tersengal-sengal, sambil menyeka keringat di dahinya kemudian menyerahkan uang sisa yang masih ada di Bik Surti sekitar 110.000.

“Wa’allaikumsalam Bik, bagus Bik Surti, terima kasih banyak ya Bik, maaf jadi merepotkan Bibik sampai ngos-ngosan dan keringatan begini. Uang sisa belanja tadi buat Bibik semua saja” Sarah masih meringis kesakitan karena menyusui Safira yang semangat n***n, namun kini Fira sudah berpindah dari n***n sebelah kanan ke n***n sebelah kirinya. Keringat Sarah sudah mengucur hingga ke dada Sarah dan kepala serta badan Safira ikutan basah juga.

“Gak apa-apa Nyonya, Bibik malah senang bisa membantu melayani Nyonya yang begitu baik dan sangat cantik ini.  Apalagi melihat Nyonya dalam keadaan kesakitan seperti ini, Bibik tuh gak tega Nya. Keringat Bibik cuma segini, gak ada apa-apanya dibanding keringat Nyonya yang sudah mengucur begitu banyak, mungkin bisa dijadikan kolam kalau dikumpulkan hehehe,” ujar Bik Surti sambil bercanda.

“Bisa aja Bik Surti,” ujar Sarah tersenyum sambil menahan sakit di buah dadanya. “Terus daun kelornya ini cara konsumsinya bagaimana Bik?” Sarah penasaran cara mengkonsumsi daun kelor, karena selama ini dia tidak pernah mengkonsumsi daun kelor.

“Biasanya dibuat seperti memasak sayur bayam Nyonya, enak kok, saya buatkan dulu ya sebentar,” ijin Bik Surti.

“Iya Bik, silakan, ini Safira juga sepertinya sudah mulai mengantuk lagi, karena menyedot n***n saya sudah tidak sekencang tadi.” Sarah mengelus punggung Safira yang sudah basah terkena keringat Sarah.

“Syukurlah kalau begitu, tapi sebelumnya saya ijin menyeka keringat Nyonya dulu ya, kasihan Nyonya sampai gobyos.” Bik Surti segera mengambil beberapa lembar tisu di meja dekat kasur Sarah.

“Boleh Bik, terima kasih ya Bik,” ucap Sarah sambil tersenyum. Lalu Bik Surti menyeka keringat Sarah dibagian-bagian yang terlihat. 

Tiba-tiba Sarah teringat dengan suaminya yang lupa belum dia kabari. “Astaghfirullah, Bik Surti, saking fokusnya sama bayiku, aku sampai lupa belum menghubungi suamiku, Firansyah!” Sarah menepuk jidatnya karena melupakan suaminya. 

Wajar saja Sarah lupa karena suaminya, Firansyah terlalu sibuk bekerja di luar kota.  Mereka juga jarang kontak-kontakan. Belakangan ini Firansyah malah belum pernah pulang lagi ke rumah, alasannya masih sibuk kerja belum sempat pulang. Katanya kerja tapi sudah tiga bulan ini, Sarah tidak memperoleh nafkah dari Suaminya. Sarah pun lelah dengan alasan yang diutarakan oleh suaminya itu. Untungnya Sarah masih bisa mencari uang sendiri dengan membuat novel dan dari bisnis onlinenya. Tapi bagaimanapun Firansyah adalah ayah dari Safira, jadi sudah seharusnya dia tahu kalau anaknya ini sudah lahir dan mestinya dia bertanggung jawab paling tidak terhadap anaknya.

“Coba Nyonya hubungi tuan Firansyah, siapa tahu tuan sedang luang jadi bisa mengangkat telepon dari Nyonya,” Bik Surti mengusulkan kepada Sarah sambil membuang tisu-tisu yang sudah basah terkena keringat Sarah ke tempat Sampah di ujung kamar Sarah.

“Iya Bik, benar juga. Oiya Bik, minta tolong pindahkan Fira ke ranjangnya lagi ya, dia sudah tertidur pulas, sekalian tolong ambilkan handphone (hp) saya di meja itu,” Sarah pelan-pelan melepaskan mulut Fira dari pu***g pay***ranya, sambil menunjuk ke arah meja di sebelah kanan dekat kasurnya, karena tangan Sarah tidak sampai ke meja. Ukuran kasur di kamar Sarah Super King Size (seratus delapan puluh sentimeter kali dua ratus sentimeter). Posisi Sarah berada di sebelah kiri kasur. Selalu begitu, meskipun suaminya sudah lama tidak tidur di kasur itu bersamanya, Sarah selalu menyediakan tempat untuk suaminya di sebelah kanan kasur. 

“Baik Nyonya, permisi ya Nya, saya pindahkan Fira dulu.” Melihat Sarah mengangguk, Bik Surti perlahan memindahkan Safira yang masih tertidur pulas dari dada Safira yang sudah penuh keringat ke ranjang bayi dekat kasur sebelah kiri. Tubuh Safira basah terkena keringat Sarah, “Kasihan Fira, sampai basah begini, Bibik keringkan dulu badanmu ya nak.” Bik Surti mengambil beberapa lembar tisu yang ada di meja sebelah kanan kasur, sekaligus mengambil hp-nya Sarah.

“Ini Nya, hp-nya, saya tak menyeka badan Fira dulu ya, sekaligus mengganti bajunya yang basah terkena keringat Nyonya.” Bik Surti memberikan hp lalu segera menyeka badan Fira yang basah terkena keringat Sarah.

“Iya Bik, terima kasih ya Bik, maaf jadi merepotkan.” Sarah mengambil hp-nya dari tangan Bik Surti.

“Sama-sama, Nya, sama sekali gak repot kok Nya” Bik Surti menyeka tubuh Fira yang basah sampai kering sambil tersenyum, lalu ia segera ke lemari baju Safira, mengambil baju bayi seadanya, kemudian ke ranjang Safira. Dengan lembut dan perlahan Bik Surti melepas baju dan dalaman Safira, setelah itu membalurkan minyak kayu putih ke dada, perut, punggung dan telapak kaki Safira. Terus memakaikan Safira baju yang baru diambil dari lemari Safira masih dengan perlahan, agar Fira tidak terbangun. 

Jadikah Bik Surti memasak daun kelor untuk Sarah? Apakah Sarah menyukai sayur daun kelor? Berhasilkah Sarah menelepon Firansyah suaminya? Ikuti terus kisah yang membuat penasaran ini.

Terpopuler

Comments

Dậu nè Phèo ơi

Dậu nè Phèo ơi

Apa yang terjadi selanjutnya? Aku jadi penasaran banget, thor cepat update!

2024-02-28

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 59
61 Bab 60
62 Bab 61
63 Bab 62
64 Bab 63
65 Bab 64
66 Bab 65
67 Bab 66
68 Bab 67
69 Bab 68
70 Bab 69
71 Bab 70
72 Pengumuman Bab 71-78
73 Bab 71
74 Bab 72
75 Bab 73
76 Bab 74
77 Bab 75
78 Bab 76
79 Bab 77
80 Bab 78
81 Bab 79
82 Pengumuman Bab 80-81
83 Bab 80
84 Bab 81
85 Bab 82
86 Pengumuman bab 83-85
87 Bab 83
88 Bab 84
89 Bab 85
90 *Pengumuman*
91 Bab 86
92 Bab 87
93 Bab 88
94 Bab 89
95 Bab 90
96 Bab 91
97 Bab 92
98 Bab 93
99 *Pengumuman Bab 94-95*
100 Bab 94
101 Bab 95
102 Bab 96
103 Bab 97
104 Bab 98
105 Bab 99
106 Bab 100
107 Bab 101
108 Bab 102
109 Bab 103
110 Bab 104
111 Bab 105
112 Bab 106
113 Bab 107
114 Bab 108
115 Bab 109
116 Bab 110
117 Bab 111
118 Bab 112
119 Bab 113
Episodes

Updated 119 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 59
61
Bab 60
62
Bab 61
63
Bab 62
64
Bab 63
65
Bab 64
66
Bab 65
67
Bab 66
68
Bab 67
69
Bab 68
70
Bab 69
71
Bab 70
72
Pengumuman Bab 71-78
73
Bab 71
74
Bab 72
75
Bab 73
76
Bab 74
77
Bab 75
78
Bab 76
79
Bab 77
80
Bab 78
81
Bab 79
82
Pengumuman Bab 80-81
83
Bab 80
84
Bab 81
85
Bab 82
86
Pengumuman bab 83-85
87
Bab 83
88
Bab 84
89
Bab 85
90
*Pengumuman*
91
Bab 86
92
Bab 87
93
Bab 88
94
Bab 89
95
Bab 90
96
Bab 91
97
Bab 92
98
Bab 93
99
*Pengumuman Bab 94-95*
100
Bab 94
101
Bab 95
102
Bab 96
103
Bab 97
104
Bab 98
105
Bab 99
106
Bab 100
107
Bab 101
108
Bab 102
109
Bab 103
110
Bab 104
111
Bab 105
112
Bab 106
113
Bab 107
114
Bab 108
115
Bab 109
116
Bab 110
117
Bab 111
118
Bab 112
119
Bab 113

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!