“Hahaha, Sarah, kamu memang cuma manusia. Meskipun kamu sangat cantik, tapi dengan tubuhmu yang terlihat lemah begini, aku sama sekali tidak yakin, kalau kamu bisa menang dariku, bahkan melukai diriku, aku rasa kamu takkan mampu!” Edward tertawa sambil masih terus meremehkan Sarah.
“Dewi Starla, bagaimanakah kekuatan dan kemampuan tuan Edward?” Sarah mengabaikan perkataan meremehkan Edward, dia ingin mencari tahu kekuatan Edward yang sebenarnya dari Starla.
“Tenang saja Sarah, Edward ini hanya terkenal dengan omongannya yang besar, tapi sebenarnya kekuatan dan kemampuannya masih jauh di bawahku.” Starla berkata sambil melipat kedua tangannya, ekspresi Starla terlihat menyindir Edward.
Edward mendengus mendengar perkataan Starla, kemudian dia berkata, “Memang kekuatan dan kemampuanku masih jauh bila dibandingkan dengan Starla, tapi kalau hanya melawan manusia seperti Sarah, itu kecil dan sangat mudah untukku, hahaha!” Edward tertawa dengan penuh kesombongan.
“Baik mari kita buktikan saja, siapa yang lebih kuat dan berkemampuan, Tuan Edward yang terhormat!” Sarah menantang Edward dengan pandangan tajam.
“Oke, siapa takut!” Edward dengan sombongnya menerima tantangan Sarah.
“Starla, kamu saja yang jadi wasitnya, tapi awas jangan sampai berat sebelah, harus adil!” Edward memberikan perintah kepada Starla dengan lantang, wajah angkuhnya terlihat jelas. “Kalau aku menang, Sarah harus segera angkat kaki dari sini dan jangan pernah kembali ke sini lagi. Sebaliknya kalau aku yang kalah, maka Sarah boleh tetap berada di sini sesuka hatinya.”
Sarah berpikir sejenak lalu mengatakan, ”Deal, kita lihat saja nanti, siapa yang akan menang!”
Starla tersenyum senang, sambil bertepuk tangan Starla mengatakan, “Bagus! Aku suka kesepakatan ini, aku akan jadi wasit yang adil untuk kalian berdua!”
Sebagai wasit, Starla mengatur posisi masing-masing lawan. Sarah berada di sebelah kanan Starla dengan jarak kurang lebih satu meter, sedangkan Edward, Starla tempatkan di sebelah kiri Starla, dengan jarak yang sama. Dengan hitungan ketiga pertandingan antara Sarah dan Edward di mulai. Edward langsung menyerang Sarah dengan kekuatan bintang yang dia miliki. Sarah sebaliknya, dia lebih banyak menghindar dan sengaja membuat Edward kelelahan mengeluarkan seluruh kekuatannya.
Ronde demi ronde berlangsung. Edward terus saja menyerang Sarah. Sarah berkelit kesana kemari, dengan gesit dia menghindari setiap serangan yang dipancarkan Edward. Dari sekian banyak serangan yang dilakukan Edward, hanya sekali Edward berhasil mengenai lengan kanan Sarah, itupun hanya luka gores yang tidak terlalu dalam sehingga darah yang keluar tidak banyak.
Disaat Edward terlihat sudah kelelahan menyerang, Sarah baru berbalik menyerang Edward dengan gerakan-gerakan silat yang sudah dia kuasai, digabung dengan gerakan yang baru diajarkan Starla. Membuat Edward tercengang dan kebingungan bagaimana harus membalas serangan dari Sarah. Ditambah dia sudah menghabiskan semua kekuatan yang dia punya untuk menyerang Sarah.
Pertarungan sudah berlangsung sekitar setengah jam. Keringat mengucur deras baik dari Edward maupun Sarah. Napas keduanya terlihat ngos-ngosan. Namun yang lebih parah terlihat mengenaskan dan terluka dengan darah berwarna kebiruan yang mengalir di sudut bibir sebelah kanan, kedua lubang hidung juga berdarah, lebam-lebam di pipi, dagu dan dahi adalah Edward.
Melihat Edward sudah sempoyongan, kesakitan dan tak mampu lagi berkata-kata, Sarah melancarkan serangan pamungkasnya dengan meninju perut Edward menggunakan kekuatan bintang yang Sarah miliki. Membuat Edward yang sudah kehabisan tenaga dan kekuatan langsung terbang terpental sejauh sekitar tujuh meter dan mendarat ke tanah dengan bunyi gedebug keras. Edward langsung terkapar tak sadarkan diri.
“Dewi Starla, maafkan saya, sepertinya saya terlalu keras memukul Edward? Apakah dia mati?” Dengan napas tersengal-sengal, keringat mengucur dan raut wajah khawatir Sarah bertanya kepada Starla. Setelah membuat Edward terkapar, Sarah baru menyadari kalau dia sudah meninju Edward menggunakan kekuatan bintang dengan keras sehingga membuat Edward pingsan seketika.
“Hahaha! Akhirnya dia mampus juga, sudah lama aku ingin menghabisi dia tapi aku takut kalau aku yang melawan dia sendiri dianggap tidak adil, karena aku jauh lebih kuat darinya. Tapi karena yang melawan dia kamu Sarah, yang seorang manusia. Pasti para makhluk yang ada di sini akan tercengang. Ternyata seorang manusia yang dianggap jauh lebih rendah dan lemah dibanding makhluk bintang, malah sebaliknya, bisa mengalahkan Edward dengan mudahnya!” Sahut Starla sambil tertawa. Tampaknya Starla sudah begitu kesal dengan Edward. Wajar saja karena Edward sudah sering mengganggu latihan Starla dalam meningkatkan kekuatannya.
“Kamu hebat Sarah, aku kagum dengan kecepatan peningkatan kekuatanmu. Bahkan di luar ekspektasiku. Dengan kecerdasanmu, kamu bisa membuat lawanmu kelelahan terlebih dulu, setelah kelelahan baru kamu menyerang menggunakan kekuatanmu yang sebenarnya, membuat dia tercengang dan tidak mampu untuk melawanmu lagi!”
“Terima kasih Dewi Starla, tapi maaf sebelumnya, Dewi Starla kok malah kelihatan senang saudara sepupunya babak belur dan terkapar begitu?” Sarah menutup mulutnya, perasaannya berkecamuk antara kaget, lucu dan kasihan juga dengan kondisi Edward.
“Iya Sarah, belum pernah aku merasa sesenang ini, terima kasih Sarah karena kau sudah membuat Edward yang sombong dan sok jagoan itu langsung mampus terkapar. Aku yakin dia tidak akan lagi berani meremehkan kamu Sarah, Hahaha!” Starla tertawa lebar, dia merasa senang sekali dengan kekalahan dan terkaparnya Edward.
“Bagaimana kalau dia sampai meninggal Dewi? Apa yang akan dilakukan saudara-saudara Dewi Starla yang lain terhadap saya?” Sarah semakin khawatir dengan kondisi Edward dan dengan apa yang akan dilakukan saudara-saudara Starla yang lain apabila mengetahui Edward dikalahkan oleh Sarah.
“Sarah, kamu tenang saja, saudara-saudaraku yang lain juga banyak yang membenci dia, karena dia begitu sombong dan suka mengganggu, terutama kepadaku. Jadi aku sama sekali tidak akan sedih, malah sangat senang dengan kondisi dia yang mengenaskan ini!” Starla menjawab dengan santai.
Starla memang merasa sangat senang dengan kondisi Edward yang mengenaskan itu, namun tidak dengan Sarah. Dia sama sekali tidak bisa tenang, malah dia merasa bersalah karena sudah membuat Edward sampai terkapar. Sarah juga takut kalau Edward jadi meninggal gara-gara Sarah. Jadi Sarah segera ke tempat Edward terkapar. Memastikan kondisi Edward dan berusaha membangunkan Edward.
Sarah mencoba mendekatkan jarinya ke lubang hidung Edward. Syukurlah ternyata Edward masih bernapas. Sarah mencoba menyadarkan Edward dengan menggoyang-goyangkan badan Edward. Dia sudah tidak peduli dengan keringatnya yang mengucur deras sampai menetes-netes mengenai dada Edward.
“Tuan Edward! Bangun Tuan! Maafkan saya sudah membuat tuan jadi seperti ini! Saya mohon Tuan bangun!” Setelah berusaha menggoyang-goyangkan badan Edward tidak berhasil membuat Edward sadar, Sarah mencoba menepuk berkali-kali pipi Edward yang berkeringat sambil berteriak berusaha membangunkan Edward.
Sudah sekitar lima belas menit Sarah berusaha membangunkan Edward dengan berbagai cara. Namun Edward belum juga ada tanda-tanda untuk bangun. Sarah yang sudah sangat kelelahan, kepala pusing, pandangan berkunang-kunang, bermandikan keringat dengan napas tersengal-sengal mencoba untuk berteriak lebih keras lagi, “Tuan Edward, banguuun!”
Akankah Edward berhasil bangun dan kembali sadar? Atau sebaliknya? Bagaimana tanggapan saudara-saudara Starla saat mengetahui Edward dikalahkan secara telak oleh seorang manusia? Ikuti terus kisah yang semakin seru dan membuat penasaran ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments