“Maaf Pak,” ujar Moza sudah duduk berhadapan dengan Dewa di sofa. “Tadi saya salah tombol, saya pikir dicampur sudah netral,” seru Moza lagi. “Lagian sih Mas Joni pake suruh-suruh saya, ‘kan nggak biasa ngurusin kayak beginian.”
Dewa menatap tajam gadis di hadapannya sambil bersedekap. Masih terasa perih dan panas lidahnya, sudah pasti akan mengganggu selera makan untuk beberapa hari ke depan dan ini karena dia.
Otak berpikirlah, harus diberi sanksi apa gadis ini, batin Dewa.
“Kenapa kamu menyalahkan Joni. Jangan-jangan dalam hati kamu menyumpahiku."
“Nah, itu tahu. Ups, maksud saya ya begitu pak.”
“Sanksinya kamu harus jadi asisten saya, sekarang ….”
“Kok gitu sih Pak?” tanya Moza protes dengan keputusan Dewa.
Menjadi tim Joni dipantry saja sudah makan hati, apalagi harus sekian jam bersama Pak Bos Sadewa. Bisa-bisa dia kena darah tinggi lalu stroke.
Tidak bisa, ini tidak boleh terjadi. Aku harus cari cara agar dikembalikan ke habitat seharusnya.
“Sudahlah Pak, biarkan saya gabung dengan tim produksi atau tim kreatif. Ya pak ya,” tutur Moza dengan nada manja, bahkan sambil mengerjapkan matanya beberapa kali memainkan bulu mata lentiknya. berharap Dewa luluh dan dia bisa lenggang kangkung menuju tim produksi dan bisa dadah-dadah manja sampai Joni.
Apa itu barusan, dia menggodaku. Profesional sekali gayanya.
Belum sempat Dewa bicara, seseorang memasuki ruangan tanpa mengetuk pintu.
“Halo sayang.”
Moza dan Dewa refleks menoleh. Wanita berpenampilan cantik ala sosialita langsung duduk disamping Dewa, memeluk pria itu dan mencium pipinya.
“Ana, minggir lah. Aku sedang bekerja.”
Cih, bener-benar playboy. Kemarin Mahalina dan sekarang, siapa lagi perempuan ini, keluh Moza dalam hati.
Wanita bernama Ana menatap Moza yang sedang memandangnya, ia mengernyitkan dahi lalu menunjuk wajah Moza dengan jari yang kuku berwarna dengan hiasan entah apa terlihat bling-bling.
“Dia siapa?”
“Karyawanku, karyawan magang,” sahut Dewa.
“Kamu mengurusi karyawan magang? Apa tidak ada pekerjaan lain?”
“Semua yang berhubungan dengan urusan produksi dan para pekerjanya berada di ranah dan tanggung jawabku. Bahkan Mbak Lia, office girl yang minggu lalu mendadak kontraksi karena melahirkan lebih awal saja menjadi urusanku dan kamu bukan urusanku, cepat pergi sini. Temui Papi kamu,” usir Dewa dan Ana malah mencebik.
Ana adalah putri Fabian, lebih tua beberapa bulan dari Dewa. Sejak mereka remaja selalu mendekati dan berusaha posesif pada Dewa yang malah menganggap dia adik karena memang mereka bersaudara.
“Hei, wajahmu tidak asing. Mirip-mirip siapa ya,” gumam Ana sambil mengetuk jarinya di wajah.
“Mirip orang tua saya Mbak, masa mirip orang lain,” sahut Moza.
“Ah benar juga. Ya sudah aku ke ruangan Papi dulu, kamu baik-baik ya tampan. Jangan marah-marah terus, nanti mati muda,” ejek Ana dengan santai lalu meninggalkan Dewa yang berdecak mendengar doa buruk yang keluar dari mulut Ana sedangkan Moza terkekeh pelan.
“Senang kamu?”
“Iya Pak." Moza menjawab lalu terkekeh.
“Kamu!”
“Ada yang harus saya kerjakan lagi Pak?” tanya Moza.
Dewa mengarahkan tugas untuk Moza, di mana dia harus mengumpulkan beberapa lembar berkas yang akan dibawa menghadiri rapat beberapa saat lagi. juga file presentasi yang tadi sedang dicek oleh Dewa.
“Yang ini ya Pak,” ujar Moza sudah duduk di kursi kebesaran milik Dewa dan menatap layar laptop pria itu. Orang yang melihat dirinya ada di tempat itu mungkin akan beranggapan ia kurang ajar karena berani menduduki kursi panas milik Pak Bos.
Dewa hanya berdehem karena fokus dengan tabletnya. Moza membawa map berisi berkas dan sebuah flashdisk, lalu diberikan pada Dewa.
“Kenapa diberikan padaku?”
Moza tampak berpikir mendengar pertanyaan Dewa, bahkan mengulang kembali pertanyaan itu dalam benaknya. Untuk apa diberikan pada Dewa, apa seharusnya dia berikan pada Joni atau Ema saja.
“Lalu saya harus berikan ke siapa dong, masa saya kasih ke tukang parkir di bawah.”
“Hello, apa ada Moza di dalam?” Dewa bicara sambil mengetuk dahi gadis itu dengan pelan dan langsung ditepis oleh Moza. “Aku tadi sudah bilang, sebagai sanksi kamu harus jadi asisten aku. Jadi bawa berkas dan file tadi ke ruang rapat. Ketika aku presentasi kamu jadi operatornya, paham Moza!”
“Paham Pak Bos, yang tidak saya paham itu keputusan Bapak yang seenak udel tempatkan saya di pantry lalu sekarang jadi asisten.”
“Loh itu hak saja dong, yang jadi bos siapa?” tanya Dewa dengan posisi bersedekap.
“Ya bapak lah, masa lupa sih,” sahut Moza tidak kalah konyol.
“Tuh tahu, jadi hak saya dong mau tempatkan kamu di mana pun.”
Tidak ingin terus berdebat kusir, Moza pun meninggalkan Dewa menuju ruang rapat. Diikuti oleh pria itu dengan senyum kemenangan. Ternyata Ema sudah berada di ruang rapat, mendampingi sekretaris Fabian.
“Busyet, itu bibir cemberut aja,” cetus Ema dan hanya dijawab Moza dengan decakan. “Kenapa lagi sih?”
“Tuh, nyebelin banget tahu nggak sih,” ujar Moza lirih sambil menunjuk Dewa dengan wajahnya. pria it sedang bicara dengan dua orang lainnya di depan ruang rapat. Karena ruang tersebut didesain sebagiannya kaca jadi terlihat semua interaksi di luar sana.
“Jangan gitu, lo tahu nggak?”
“Nggak,” sahut Moza dengan cepat.
“Gue belum selesai ngomong. Jadi antara sebel sama benci itu jaraknya tipis banget sama cinta. Hati-hati nanti lo malah cinta sama Pak bos yang parahnya lo bucin sama dia,” tutur Ema sambil berbisik.
“Hah, aku cinta dan bucin sama dia? Sorry yee.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
mang tri
jd inget si gemoy 🙄
2024-07-29
0
레이디핏
Ngakak yeee😂😂😅
2024-06-14
0
Eva Karmita
sorry yeeeee .....✌️😂😂😂😂
2024-02-25
1