Jambi 27 Februari 2024
...****************...
Selamat membaca..
Ai Lin perlahan membalik badannya dan ekspresi mukanya langsung normal melihat siapa yang menegurnya tadi.
"Paman Yifan! Kenapa Paman bisa ada di Paviliun ku? " ucap Ai Lin sambil bertanya untuk mengalihkan perhatian sang Paman.
"Paman di minta ayahmu kesini, tapi rupanya Paman kecepatan datang makanya Paman ke sini untuk menemui mu! Eh, ngomong-ngomong apa maksud perkataan mu tadi Lin-Lin? " jawab Paman Yifan dengan tatapan mata penuh kecurigaan akan kejahilan Ai Lin.
"Hehehehe, Ai Lin tadi kabur dari kamar karena Shu Yan selalu meminta Ai Lin ini dan itu maka nya Ai Lin kabur ke taman ini agar tidak direcoki Shu Yan lagi! Masa Lin Lin di paksa menyulam dan merangkai bunga lagi, Lin Lin kan tidak suka melakukan pekerjaan yang terlalu feminim begitu! " sahut Ai Lin tidak sepenuhnya bohong dengan wajah cemberut.
"Hahahaha... Kau ini! Benar-benar beda dari gadis Bangsawan pada umumnya! " ucap Yifan dengan gemes mengacak surai hitam Ai Lin.
Tatapan matanya tiba-tiba berubah sendu tatkala mengingat masa lalu dan itu tak luput dari pandangan mata Ai Lin.
"Paman, kenapa wajah mu tiba-tiba sedih begitu? Apa Lin Lin boleh tau apa yang membuat Paman sedih? " tanya Ai Lin dengan lembut pada orang kepercayaan ayahnya itu.
"Maaf jika Paman membuat mu tidak nyaman Lin Lin! Paman hanya teringat akan masa lalu, seandainya mendiang istri Paman tidak meninggal mungkin anak kami akan sebesar dirimu meskipun usia kalian beda setahun! " jawab Yifan dengan mata menerawang melihat langit yang cerah dan biru.
"Kenapa istri dan anak Paman meninggal? " tanya Ai Lin ingin tahu.
"Istri Paman meninggal saat ia mengandung 5 bulan, ia terkena racun saat mengikuti perjamuan teh di istana Permaisuri! Saat ia pulang ke rumah ia langsung muntah darah dan tabib mengatakan jika ia terkena racun yang mematikan. Itu terlihat dari lebam di beberapa tempat yaitu leher, tangan, kaki dan dada nya! Meskipun sudah di beri penawar racun tapi hal itu tidak membuat kondisinya membaik, dan karena ia sedang hamil maka penyebaran racunnya sangat cepat hingga beberapa jam setelah muntah darah ia langsung meninggal dunia! " jawab Yifan dengan terisak sambil memegang dadanya yang terasa sakit dan sesak.
Ai Lin yang hanya mendengar cerita nya saja ikutan menangis karena merasakan kesedihan yang dirasakan Paman nya ini.
"Paman, Lin Lin sungguh tidak pandai menghibur orang yang sedang sedih, tapi Paman boleh kok menganggap Lin Lin sebagai anak Paman sendiri! Lin Lin memang tidak bisa menggantikan posisi anak Paman, tapi setidaknya Lin Lin bisa membuat Paman sedikit lega meluapkan kasih sayang yang tidak sempat Paman berikan pada calon anak Paman kepada Lin Lin! " ucap Ai Lin dengan tersenyum lembut.
"Ya ampun, Paman jadi terharu! Paman tidak menyangka anak yang selalu usil dan suka bikin pusing bisa berkata bijak seperti ini! " ucap Yifan dengan tersenyum lebar sambil mencubit gemes pipi chubby Ai Lin.
"Paman menyebalkan! Lin Lin sungguh-sungguh dianggap bercanda! " sahut Ai Lin merajuk.
"Hahahaha.. ! " Yifan tergelak melihat Ai Lin merajuk.
Suasana hangat itu menjadi hancur dengan kedatangan Pelayan Chu yang mengabarkan kejadian yang tidak di duga.
"Lin Lin akan ikut Paman ke istana! Lin Lin mau lihat keadaan ayah! " rengek Ai Lin dengan bersimbah air mata.
"Tidak Lin Lin! Paman ke istana untuk membawa pulang ayahmu! Hanya kau yang bisa menyembuhkan ayahmu dan bukan istana tempat mu melakukan nya! Paman janji ayahmu akan bertahan hingga kau bertemu dengan nya! Pelayan Chu, kirim prajurit untuk mengabarkan kejadian ini pada Wang Lin dan sampaikan padanya agar mengunggu di rumah bersama Ai Lin! " jawab Yifan dengan tegas sambil memberikan perintah pada pelayan Chu.
Ai Lin terpaksa mengangguk karena membenarkan ucapan Paman nya, ia mengusap air matanya dan mengantarkan Paman Yifan hingga ke depan pintu utama.
Ai Lin sengaja tidak mengantar ke depan pintu gerbang karena tidak mau orang lain melihat keberadaan nya yang selama ini di sembunyikan ayahnya.
"Nona, tenangkan dirimu! Minumlah teh ini biar pikiran mu tenang dan bisa berpikir dengan dingin! " tegur Shu Yan yang melihat Nona Muda nya mondar-mandir di depan aula pertemuan.
Karena ingin melihat langsung keadaan ayahnya saat kembali nanti, Ai Lin menolak menunggu di Paviliun teratai.
Ia hilir mudik sambil melamun dan tidak menghiraukan teguran pelayan pribadi nya agar dirinya tenang.
"Jika ada Helena di sini aku tidak akan susah payah meracik penawar di setiap racun karena Helena paling suka bermain dengan racun akibat dulu terlalu lama bergaul dengan profesor Donnie Choi yang gila itu! Sayang nya aku selalu malas setiap di ajak Helena ke laboratorium nya profesor gila itu! " gumam Ai Lin merutuki kebodohannya saat menjadi Mia dulu.
Karena Ai Lin mengabaikan panggilan pelayan nya atau lebih tepatnya tidak mendengarkan panggilan tersebut, Shu Yan menepuk pelan bahu Ai Lin dan mengajak Nona Mudanya untuk duduk dulu.
"Kenapa kau malah menyuruhku minum teh di saat genting seperti ini Shu Yan?? " ucap Ai Lin dengan wajah cemberut karena tidak mau.
"Teh bisa membuat pikiran menjadi tenang dan rileks Nona! Nona harus berpikir dengan pikiran dingin karena ini bukan hal yang sepele! Keselamatan Tuan Menteri yang menjadi taruhan nya! Nona harus punya banyak tenaga dan energi agar bisa membantu merawat Tuan Menteri! " jawab Shu Yan yang benar-benar peduli pada keluarga Tuannya.
"Hah, kau benar! Jika pikiran ku positif maka hasilnya juga akan positif! Baiklah aku minum dulu teh nya! " sahut Ai Lin mengerti dan mengambil cangkir teh yang sudah di seduh Shu Yan.
Baru menelan tiga tegukan, terdengar suara yang memanggil namanya dengan lantang.
"Kakak! " teriak Ai Lin dari aula pertemuan sambil melambaikan tangan.
Wang Lin yang mendengar suara yang ia panggil tadi berlari-lari kecil menuju aula pertemuan.
"Apakah Paman Yifan sudah lama perginya? " tanya Wang Lin dengan deru napas yang tersendat-sendat karena kecapean.
"Sudah hampir satu jam kakak! Bagaimana cara kita mengabari kakak pertama? " jawab Ai Lin sambil bertanya dengan wajah sendu.
"Tidak usah khawatir, pasti Paman Yifan sudah menyuruh orang kepercayaan nya untuk mengabari kakak pertama! Oh ya, apakah nanti kau bisa menyembuhkan ayah dengan kekuatan mu? " sahut Wang Lin dengan menatap lekat wajah adik perempuan nya.
"Mudah-mudahan saja kakak! Aku takut gagal dan tidak bisa menyelamatkan ayah! A-aku takut kehilangan ayah kakak! " jawab Ai Lin dengan menangis terisak.
"Itu tidak akan terjadi Lin Lin! Ayah kita akan berumur panjang hingga kau menikah dan memberikan ayah cucu yang banyak! " sahut Wang Lin menghibur adiknya.
"Tuan Muda, Nona Muda! Kereta Tuan Menteri sudah kembali dan sekarang masih berjalan menuju gerbang depan! " teriak salah satu penjaga sambil berlari mendekati Wang Lin dan Ai Lin.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments