Jambi, 1 Maret 2024
****************
Selamat membaca...
Pei Lin sudah melakukan apa yang di katakan Ai Lin dengan menemui Kaisar dua hari yang lalu. Untuk sementara pekerjaan ayahnya sebagai Menteri Pertahanan akan di gantikan oleh wakilnya Guang Dong yang tidak lain adalah ipar Kaisar, adik dari Permaisuri.
Dua hari lagi semua anggota keluarga Zhao akan mengantarkan ayah mereka untuk tinggal di sana sampai ia pulih kembali.
Wang Lin sudah menyampaikan pesan yang di kirim Paman Yifan untuk Ketua Li kemarin dan hari ini Wang Lin dan Ai Lin akan pergi ke pasar untuk berbelanja membeli kebutuhan yang akan di bawa ke Perguruan Lotus putih.
"Kak, apa aku boleh membeli beberapa kain untuk membuat pakaian? " tanya Ai Lin saat mereka di atas kuda.
"Kau ingin membuat pakaian baru? Kenapa tidak langsung ke penjahit saja? Keluarga kita punya penjahit langganan yang bisa menjahit pakaian kita kapanpun kita mau! " tanya Wang Lin balik tanpa menjawab pertanyaan Ai Lin.
"Hais kakak ini! Aku bertanya kakak malah nanya balik! Aku ingin membuat pakaian sendiri untuk aku olahraga! Masa olahraga pakai pakaian yang ribet dan berlapis-lapis seperti ini! " sahut Ai Lin sama muka cemberut.
Wang Lin terkekeh sambil menarik tali kekang kuda nya agar berlari cepat.
"Kakak, tunggu aku! Hiya.... ! " teriak Ai Lin ikutan menarik tali kekang kudanya untuk mengejar kuda Wang Lin.
Mereka berdua saling kejar-kejaran dengan kuda mereka hingga tertawa bersama.
🌳🌳🌳
"Tuan muda, apa yang kita lakukan di pasar siang-siang begini? " tanya seorang pelayan pada Tuannya yang menjalankan kudanya dengan santai.
"Aku hanya ingin melihat-lihat saja Yu Ping, sudah lama juga aku tidak pernah keluar rumah dengan tampilan seperti ini! " jawab Tuan Muda itu dengan santai.
"Terserah Tuan Muda saja! " sahut pelayan itu dengan pasrah.
Pria dengan pakaian seorang bangsawan dengan memakai sebagian topeng pada wajahnya langsung turun dari kudanya saat memasuki keramaian pasar ibukota. Ia dan pelayan nya menitipkan kuda mereka di penitipan kuda untuk para Bangsawan dan masyarakat kelas menengah ke atas.
Ia berjalan dengan mata yang tajam melihat suasana pasar yang sangat ramai dengan berbagai macam orang yang berjualan di toko masing-masing.
Matanya tanpa sengaja tertuju pada seorang wanita yang memakai kain menutupi sebagian wajahnya dan hanya terlihat matanya saja.
Tawa wanita itu terdengar jelas di telinga nya yang peka dan sensitif akan suara tertentu walaupun ditengah keramaian.
"Kakak, ayo buruan kita ke toko kain! " ajar wanita itu sambil menarik tangan pria yang berdiri di samping nya.
"Zhao Wang Lin??? Kakak?? " beo pria itu dengan tatapan penasaran.
Tanpa sadar ia mengikuti sepasang kakak adik itu dari belakang hingga pelayan nya juga ikut-ikutan berjalan di belakang nya.
Ai Lin dan Wang Lin memasuki toko kain dan pria itu tetap mengikuti mereka dengan masuk juga ke dalam toko tersebut.
"Aku mau yang ini, ini, ini dan ini! " tunjuk Ai Lin pada beberapa kain yang terpajang setelah menyentuh dan mengamati bahan nya.
"Baik Nona, akan di kirimkan kemana kain-kain ini? " jawab pelayan toko dan bertanya lagi pada Ai Lin.
"Kirimkan ke kediaman Menteri Zhao! " jawab Wang Lin dengan cepat.
Pelayan toko tersebut terkejut dan langsung memberikan hormat karena yang datang bukan orang sembarangan.
"Tidak usah terlalu resmi begitu, kami kan bukan pangeran dan putri yang harus di sembah setiap bertemu! " ucap Ai Lin agak jengah dengan kelakuan orang-orang di zaman ini.
"Sudah, biarkan saja! Mereka melakukan itu karena menghormati nama ayah! Kalau kau tidak suka tidak usah di lihat ! " sahut Wang Lin sambil mengusap punggung adiknya.
"Ya sudah, ayo Kak kita ke restoran saja! Perutku sudah protes minta di isi! " ucap Ai Lin lagi sambil mengusap perutnya yang sudah keroncongan.
"Kau ini, makan saja yang kau pikirkan! " ucap Wang Lin geram dan mencubit pipi Ai Lin yang tertutupi dengan kain dengan gemes.
Entah kenapa hati pria yang membuntuti Ai Lin dan Wang Lin menjadi kesal dan marah saat melihat Wang Lin mencubit pipi adiknya. Ada rasa tidak suka dan tidak terima jika pipi perempuan itu di cubit laki-laki lain meskipun itu kakaknya sendiri.
Tangan pria itu terkepal erat saat Wang Lin melewatinya dengan tersenyum menatap perempuan yang memanggilnya kakak keluar dari toko.
"Kenapa dadaku panas saat melihat interaksi Zhao Wang Lin dengan perempuan yang di panggil adik itu! " gumam pria itu sambil memegang dadanya yang panas melihat pemandangan tersebut.
"Tuan Muda, anda tadi bicara apa? " tanya pelayan nya yang mendengar Tuan nya bicara sesuatu tapi ia tidak terlalu mendengar nya.
"Bukan apa-apa! Ayo kita ikuti lagi mereka! " jawab pria itu sambil berjalan keluar dari toko kain.
Aksi mereka dilihat oleh salah satu pelayan toko yang tadi menegur pria itu tapi di balas dengan tatapan tajam seperti mata pedang.
"Cih, dasar pria aneh! Masuk toko cuma mau lihat-lihat saja, di tanya malah marah! " gerutu pelayan itu dengan wajah kesal.
Pria itu ikut masuk ke dalam restoran yang di masuki Ai Lin dan kakaknya. Ia memesan meja yang berjarak dua meja dari meja yang di pesan Ai Lin, atau lebih tepatnya meja pria itu di belakang meja Ai Lin.
"Astaga Lin-Lin! Kenapa kau pesan makanan sebanyak ini? Kita berdua tidak akan sanggup menghabisi nya dalam sekali makan! " ucap Wang Lin frustasi saat melihat banyaknya makanan di atas meja.
"Aduh kakak, tidak usah frustasi begitu! Makanan ini pasti habis karena aku yang akan memakan nya! Kakak tenang saja, aku pesan karena aku tahu jika aku bisa menghabiskan nya! Lagipula aku sangat lapar setelah berjalan keliling pasar! " sahut Ai Lin santai sambil mencomot makanan di depan nya dengan tangan.
"Hei pakai sumpit mu! Jangan pakai tangan, tidak sopan! " seru Wang Lin geleng-geleng kepala melihat tingkah adiknya.
"Susah kakak pakai sumpit! Lebih enak pakai tangan, kan tangannya sudah aku cuci dengan bersih! " sahut Ai Lin masa bodo dan melanjutkan makannya.
Pria yang duduk di belakang meja Ai Lin tersenyum geli melihat pipi Ai Lin dari balik kain penutup wajahnya menggembung karena berisi banyak makanan. Ia bahkan tertawa kecil saat melihat Ai Lin memakan makanan nya dengan lahap pakai tangan yang sudah di cuci.
"Kakak, aku kebelakang dulu! Jangan di habiskan makanan nya! " ucap Ai Lin tiba-tiba berdiri dari kursi nya karena kebelet pipis.
Ia melewati meja pria yang membuntutinya dan pria itu terpaku saat mencium aroma dari pakaian Ai Lin yang menusuk hidungnya.
"Aroma ini??? Sepertinya aku pernah mencium aroma ini?? Tapi dimana?? " gumam pria itu dengan tubuh menegang sempurna nya.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Ahmad Bastari
yg menolongmu heii
2024-03-19
0
!M@m@#
lanjutkan thorr,semangat nulisnya /Determined//Determined/
2024-03-01
1
Uchi Hafiz
lanjut
2024-03-01
1